
"Ky.... laper nih !" rengek Gio yang tengah duduk di sofa dekat ranjang, di kamar Dicky. Malam tadi Gio menginap di rumah Dicky, karena ibu Dicky harus pergi ke rumah saudaranya yang tengah sakit, tidak ingin sendiri, makanya Dicky meminta Gio untuk menginap, mengingat Lily sudah datang dan tak mungkin Dicky meminta Yudha untuk menemaninya.
Rumah Yudha dan Lily sangat berdekatan, hanya butuh lima langkah untuk berjalan dari rumah Yudha ke rumah Lily, jadi jika Lily sudah kembali, selama 24 jam akan terpantau oleh Lily.
"Ky ih... laper !" rengek Gio lagi. Dicky hanya mendengus kecil, seraya membereskan kamarnya yang nampak berantakan, dan penuh dengan bungkusan bekas Snack yang di makan Gio semalam.
"Padahal semelem udah makan sebanyak ini, sekarang udah laper lagi ?" tanya Dicky di sertai gelengan kepala, dan masih memunguti sampah.
"Inikan bekas malem Ky, beda lagi lah sama pagi !"
"Pergi aja ke warung Deket rumah sana ! Kakak kan tau sendiri ibu gak ada, jadi gak ada yang masak !" ketus Dicky
"Ish... Yaudah aku ke warung dulu, beli sarapan" Ujar Gio sambil berlalu pergi menuju pintu.
Gak bisa masak buat sarapan, seenggaknya ngasih uang ke buat beli, nyesel udah nemenin ! gerutu Gio dalam hati
"Eh tunggu Kak !" Ujar Dicky tiba-tiba, menghentikan langkah Gio yang sudah hampir sampai di bibir pintu, dia pun tersenyum senang karena mengira Dicky akan memberikan uang untuk membeli sarapan. Gio pun berbalik dengan senyum penuh arti, dan terkesan menyeramkan.
Apa-apaan tuh senyumnya begitu. Batin Dicky yang di sertai tubuhnya yang bergidik secara refleks seperti sudah buang air kecil.
"Beliin aku sarapan juga ya Kak" ucap Dicky
"Oke" setelah mengatakan itu Gio masih belum beranjak, bahkan pintu kamar belum dia buka, sedangkan Dicky sekarang beralih membereskan sofa bekas tidur Gio, melipat selimut yang masih teronggok di ujung sofa.
"Kenapa masih disini ? cepet sana !" Ucap Dicky saat melihat Gio belum beranjak
"Duitnya ?" tanya Gio
"Ya duit kakak lah !"
"Kok gitu ? harusnya pake duit kamu lah, orang yang minta aku nginep disini kan kamu, jadi ya urusan perutku tanggung jawab kamu lah"
Tanpa berkata apapun Dicky menghampiri Gio, tak lupa dia berjongkok untuk mengambil kantong plastik hitam yang penuh dengan bekas bungkusan makanan Snack tadi, lalu melemparkannya tepat di dada Gio, yang langsung refleks di tangkap Gio dengan gelagapan.
"Duit aku udah abis, buat beli semua makanan itu !" ucap Dicky sambil menatap sebal pada Gio, sedangkan Gio hanya nyengir kuda dan menggaruk lehernya yang tidak gatal, lalu meringis melihat betapa banyak bungkusan Snack bekas makannya semalam.
"Hehe sorry, yaudah kakak beli sarapan dulu" Ujar Gio langsung bergegas pergi dengan tangan masih memeluk kantong sampah, melihat itu Dicky membiarkannya dan kembali membersihkan kamarnya.
Gio berlari kecil keluar dari rumah Dicky sambil membawa sekantong sampah tanpa sadar, dia baru menyadari membawa tumpukan sampah saat sudah sampai di teras depan, saat hendak akan memakai sandal.
"Ngapain aku bawain beginian ishh" Ucap Gio seraya meletakan kantong plastik tersebut bersandar di beton pagar, lalu dia pun memakai sandal dan bersiap untuk pergi ke warung yang persis ada di sebelah rumah Dicky, namun baru saja dia berjalan, dia tiba-tiba melihat Nara sedang berbincang bersama seorang pemuda yang sangat dia kenal, mereka berdua berbincang terhalang oleh pagar yang tertutup, karena rasa penasaran dan lapar yang datang bersamaan, Gio langsung berlari menuju warung, namun bukan segera membeli makanan, dia malah bersembunyi di balik kerupuk yang tergantung paling di depan di warung, berharap bisa mendengar percakapan dua orang itu.
"Duh... mereka ngomongin apa sih, gak kedengaran" gumam Gio, sayup-sayup dia mendengar nama Lily dan Yudha disebut oleh pemuda tersebut. " Ngapain si Ikbal ngomongin Lily sama Yudha ke Nara, ****** bakal ada perang nih" gumamnya lagi seraya mengibaskan sedikit kerupuk yang bergelantungan menutupi wajahnya.
Kriuk....kriuk...kriuk
"Si*lan ni perut, gak bisa di ajak kompromi !" gerutu Gio sambil memegangi perutnya.
"Mau sampai kapan kamu berdiri disitu ? rusak kerupuk dagangan saya, mending kalo di beli !" Ucap ketus Bu Ning, sang pemilik warung dari arah belakang, membuat Gio gelagapan dan segera menghampiri Bu Ning.
"Hehe maaf Bu, saya kesini mau beli__"
__ADS_1
"Kerupuk !" potong Bu Ning cepat
"Bukan, bukan, tapi saya mau beli...... roti !" Ucap Gio setelah matanya mengitari warung, mencari makanan yang bisa mengganjal perut, dan sesuai dengan jumlah uangnya yang tipis.
"Tadi kan yang di acak-acak itu kerupuk, kenapa yang di beli roti" gerutu Bu Ning
"Tapi saya maunya roti Bu"
"Terus, tadi ngapain ubek-ubek kerupuk di depan ?" tanya Bu Ning dengan nada masih ketus
Gio hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu memaksakan senyumannya pada Bu Ning
Masa aku harus bilang, kalo aku lagi ngintip orang yang ngobrol sama Bu Ning, kan gak mungkin. batin Gio
Gio pun kembali menatap ke arah rumah Nara, Ikbal sudah tidak ada disana, namun Nara masih mematung di tempat yang sama, seperti sedang memikirkan sesuatu. Dan itu sukses membuat perasaan Gio tidak enak, terlebih tadi dia mendengar nama Lily dan Yudha di sebut-sebut oleh Ikbal, dan itu pertanda tidak baik. Sebagai sahabat Gio berinisiatif untuk memberi tahukan semua ini pada Yudha.
"Rotinya dua Bu, ini ambil aja kembaliannya" Ujar Gio memberikan uang satu lembar, lalu menyambar dua roti yang tertata rapi di meja.
"Boro-boro kembalian, pas begini !" gumam Bu Ning, seraya berlalu ke belakang, sedangkan Gio langsung membuka roti dan memakannya karena rasa lapar yang tak tertahankan, sejenak dia melupakan masalah Nara dan Ikbal. Dia memakan rotinya sambil terus berjalan ke rumah Dicky, namun saat hampir sampai di teras depan, sebuah suara menghentikan langkah dan gerakan mulut Gio yang sedang mengunyah, padahal mulutnya masih penuh.
"Kak Gio !" teriak Nara, sebelum menoleh Gio berusaha memaksakan senyumannya, dan perlahan berbalik.
"Ada apa Ra ?" tanya Gio dengan mulut penuh dengan roti, dia berusaha mengunyah dengan susah payah untuk menyamarkan kegugupannya, namun dia tidak bisa menelan roti tersebut.
"Nara boleh tanya sesuatu sama Kak Gio ?" Tanya Nara, Gio hanya mengangguk karena mulutnya sedang mengunyah.
" Siapa itu Lily ?" tanya Nara polos
Gio langsung terbatuk mendengar pertanyaan Nara, semua roti yang hampir masuk tenggorokannya keluar begitu saja, menyisakan rasa sakit di kerongkongan.
Si*lan, Ikbal bener-bener ngomong soal Lily dan Yudha, aku harus jawab apa ??!!. batin Gio
Nara menatap Gio khawatir, pemuda itu terbatuk hingga mengeluarkan semua roti yang ada di mulutnya, Nara berusaha membatunya dengan menepuk pundak Gio beberapa kali.
"Kakak gak apa-apa kan ? maaf ya harusnya Nara gak nanya-nanya Kakak, kan kakak lagi makan " Ucap Nara merasa bersalah.
Gio terus terbatuk, lalu menggelengkan kepalanya pada Nara, berusaha memberi tahu kalo dia tidak apa-apa.
Bukan kamu yang salah, tapi pertanyaan kamu Ra. batin Gio
"Lho, Kak Gio kenapa ?" tanya Dicky tiba-tiba sudah muncul di teras depan rumahnya, tak jauh dari tempat Gio berdiri, "Ayok masuk !" ajaknya, dan langsung di balas anggukan oleh Gio, dia langsung menarik tangan Dicky dan membawanya masuk menjauhi Nara, sedangkan Nara masih merasa khawatir dan merasa bersalah, ikut masuk dan duduk di ruang tamu sendiri, sepertinya Gio dan Dicky langsung ke dapur, begitu pikir Nara.
Sementara di dapur
"Akkhhh legaaaa" ujar Gio setelah minum air putih beberapa teguk, dia mengusap sisa buliran air di dekat bibirnya, kini tenggorokannya terasa lega, dia meletakan gelas kosong bekas minum ke tangan Dicky yang berada tepat di depannya, dia beranjak bermaksud keluar dari dapur menuju ruang tamu, namun belum dua langkah melangkah, matanya melihat Nara yang tengah duduk dengan gelisah, seketika dia teringat akan pertanyaan Nara yang membuatnya tersedak roti, sejurus kemudian dia kembali menghampiri Dicky, menampilkan wajah tegang.
"Ky.. gawat, Nara tadi nanya soal Lily dan Yudha, aku harus jawab apa ? mana dia nunggu di ruang tamu lagi" Ujar Gio, seraya sesekali memandang Nara dari kejauhan
"Tenang Kak, slow aja, mending sekarang kita samperin Nara, kasian dia sendirian" jawab Dicky tenang
"Sudah gila ya ! kalo dia nanya soal Lily dan Yudha gimana ?"
__ADS_1
"Tinggal jawab aja ! apa susahnya"
"Ky...jangan main-main deh, bisa perang dunia kedua ini !"
"Tenang aja Kak, aku jamin, gak bakal ada apa-apa, dan kakak gak perlu jawab pertanyaan Nara"
"Beneran ?"
"Iya ih, bawel bener !" Ujar Dicky acuh, dia melangkah meninggalkan Gio, untuk menghampiri Nara di ruang tamu, tanpa banyak berkata Gio pun mengikuti Dicky ke ruang tamu, menghampiri Nara dan duduk di depan Nara, sedangkan Dicky duduk tepat di samping Nara. Suasana hening, tak ada yang bersuara, membuat Gio semakin gelisah dalam diamnya.
"Kak Gio" Ucap Nara ragu, memecah keheningan.
"Eh.. iya..kenapa Ra ?" jawab Gio gelagapan
"Jadi...siapa itu Lily ?" tanya Nara lagi, nafas Gio kembali tercekat dengan pertanyaan itu, beberapa kali dia mengusap pahanya, untuk mengusir canggung, dia menatap Dicky mencoba meminta bantuan, namun Dicky tak bergeming, dia hanya tersenyum meledek, menyebalkan !
"Kak...?"
"Eh...iya...itu..."
"Sayang !!!" Ujar Yudha dari balik pintu, membuat semua orang terkejut sekaligus senang dengan kehadirannya, nafasnya terengah-engah, sepertinya dia habis berlari, tanpa banyak berkata dia langsung masuk menghampiri Nara, secara otomatis Dicky berpindah tempat duduk, agar Yudha bisa duduk di samping Nara.
"Ayy kemana aja, aku kangen !" Ucap Nara
"Maaf sayang, ponselku di pinjam Lana, kartunya di lepas, makanya nomorku susah di hubungi" dalih Yudha, dia mengelus pipi Nara, memberikan rasa nyaman, namun seketika mata Nara melihat inisial yang berada di gantungan kalung Yudha, bertuliskan " YL", mengingatkannya akan perkataan Ikbal soal Lily, namun saat dia akan bertanya langsung pada Yudha, seketika ada rasa takut menghampirinya, takut jika semua omongan Ikbal benar, akhirnya Nara hanya bisa diam dengan raut wajah yang sulit di tebak.
"Kenapa ?" tanya Yudha
"Apa kamu mencintaiku Ay ?" tanya Nara tiba-tiba
"Tentu saja !" Jawab Yudha yakin "Lalu bagaimana denganmu ?" tanya Yudha balik, membuat Nara menghela nafas berat sebelum menjawab.
"Aku juga mencintaimu, apapun yang terjadi, tak peduli apapun kata orang tentangmu, selama kamu mencintaiku, aku akan selalu bersamamu" Ucap Nara lirih, dengan mata berkaca-kaca.
Ada rasa haru dan bahagia dalam hatinya, sedalam itu kah Nara mencintainya, ? tanpa berkata Yudha langsung memeluk Nara, mengabaikan dua makhluk yang terlihat namun tak di anggap sedang duduk diam dalam pikiran masing-masing.
"Aku mencintaimu Ra, selama kamu mencintaiku" Ujar Yudha tanpa melepas pelukannya.
Dasar buaya, tapi gak apa-apa lah, yang penting aku selamat. batin Gio
Maafkan aku Ra, jangan sampai kamu membenciku jika tahu yang sebenarnya. batin Dicky lirih, sedangkan Nara dan Yudha masih berpelukan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung