
"Jadi pingin di peluk juga" Gumam Gio, tanpa sadar tangannya sudah melingkar di lengan Rafi yang berada tepat di sampingnya.
"Lepas atau aku tonjok nih !" geram Rafi
"Hiss jahatnya !"
"Jadi kangen pacar" Ucap Dion
"Emang punya ?" tanya Rafi ragu
"Ya, ada lah, emangnya kalian, Jomblo !" jawab Dion meledek
Jawaban itu membuat Gio, dan Rafi mendengus sebal. Sedangkan Ibram, hanya diam melihat Yudha dan Nara sedang berpelukan, kejadian ini semakin membuat Ibram yakin jika Yudha sudah melibatkan hatinya saat bersama Nara.
"Ehh.." Ucap Nara seketika melepas pelukannya. Tersadar bahwa dirinya menjadi tontonan saat ini, membuatnya salah tingkah, dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, begitupun Yudha melakukan hal yang sama.
"Gak apa-apa Ra, anggap aja kita ga ada !" Ucap Rafi
"Iya, kalo nggak, anggap aja kita nyamuk !" timpal Dion
" ngung...ngung...ngung... ngung " gumam Gio, sontak saja kelakuan absurdnya itu membuat semua orang melihatnya dengan tatapan heran.
"Ngapain ?" tanya Yudha heran
"Aku sedang mendalami peranku sebagai nyamuk !" jawab Gio, lalu dia melanjutkan lagi gumamannya " ngung.....ngung...ngung "
"Dasar gila !" sentak Rafi seraya berjalan menuju tempat alat musiknya, dan mulai memainkan gitar
"Makan obatmu dengan benar nanti !" timpal Ibram, yang akhirnya membuka suara setelah sejak tadi bungkam, dia juga mengikuti Rafi dan duduk di belakang drumnya.
"Aku tidak menyangka sudah separah ini ternyata !" Ucap Dion menepuk bahu Gio, dan ikut bergabung bersama kedua sahabatnya.
Sedangkan Gio, dia cuek saja di perlakukan seperti itu oleh semua sahabatnya. Seperti sudah terbiasa, dia terus saja bergumam seperti nyamuk dan ikut bergabung bersama semua sahabatnya, tanpa menghentikan gumamannya.
"Teman-temanmu lucu sekali Ay, apalagi Gio" ucap Nara dengan mata yang berlinang karena tertawa terbahak melihat tingkah Gio
"Dia bukan lucu sayang, tapi gila !" jawab Yudha "Ayo kita duduk, apa kamu tidak lelah terus berdiri ?" timpal Yudha, dan langsung di jawab anggukan oleh Nara, tanpa berkata apapun, Nara, Yudha, dan Dicky duduk di sofa yang tersedia disana.
"Maaf ya, minumannya jatuh, aku akan beli lagi sekarang" ujar Yudha seraya beranjak, namun segera di hentikan oleh Nara.
"Gak usah Ay, aku belum mau minum, aku juga minta maaf karena sempat curiga tadi"
"Gak apa-apa sayang, aku ngerti" ucap Yudha, dengan tangan yang mengelus puncak kepala Nara dengan sayang, dan di balas senyuman oleh Nara.
Hatinya yang tadi sempat merasa sesak karena cemburu, kini kembali berbunga dengan sikap Yudha yang lembut, dan menatapnya dengan penuh cinta, namun seketika Nara menoleh ke arah Dicky yang sedari tadi diam, tidak seperti biasanya yang selalu cerewet.
"Ky...." panggil Nara dengan suara pelan, namun tidak ada jawaban dari Dicky, lelaki itu terlihat gelisah, jarinya saling bertaut, dia menghentakkan kedua kakinya dengan cepat, seperti sedang menggigil. Membuat Nara heran dengan tingkah sahabatnya.
"Dicky....!!!" panggil Nara untuk kesekian kalinya, dengan suara sedikit berteriak, dan itu berhasil membuat Dicky tersentak dan membuyarkan lamunannya yang entah apa.
"Eh...iya, kenapa Ra ?" tanya Dicky gelagapan
"Kamu yang kenapa ? dari tadi bengong terus !" jawab Nara
__ADS_1
"Iya Ky, kamu kenapa ?" timpal Yudha
Aku begini karena kamu, kakak ipar tidak tahu diri !. batin Dicky melihat ke arah Yudha dengan tatapan tajam
Hey, kenapa menatapku seperti itu ? kalo tidak ingat kau menyelamatkan ku tadi, aku sudah mengulitimu hidup-hidup !. batin Yudha
"Kenapa Kalian sangat aneh hari ini ?" tanya Nara heran melihat Dicky dan Yudha saling tatap, dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Sayang aku haus, ayo antar aku beli minum" Ucap Yudha tiba-tiba
"Tapi____"
"Ayo...." ajak Yudha cepat, tidak ingin mendapat penolakan, akhirnya Nara pun beranjak dari duduk dan mengikuti Yudha keluar.
Sedangkan Dicky, hanya bisa mendesah pelan saat melihat punggung Nara dan Yudha perlahan menjauh dari pandangannya, dan saat dia akan mengalihkan pandangannya, dia di buat terkejut karena kini di depannya sudah ada Ibram yang menatapnya dengan serius, wajahnya seakan di penuhi tanda tanya.
"K-kau membuatku kaget kak ! Untung saja jantungku tidak copot !" ucap Dicky seraya mengelus dadanya beberapa kali, nafasnya tidak teratur, menandakan dia benar-benar kaget.
"Katakan !" ucap Ibram dingin
"Apa maksud kakak ?"
" Apa tujuanmu kesini, tidak mungkin kan kamu kesini tidak sengaja, pasti ada maksud lain" jawab Ibram enteng, dia menyandarkan tubuhnya pada sofa, membuatnya sedikit santai, namun tidak mengalihkan pandangannya pada Dicky.
Dih, kok dia bisa tahu si, aku ada maksud tertentu kesini.
"Cepat katakan !" Ucapnya lagi membuat Dicky gelagapan
"I-ini...soal kak Lily Kak" ucap Dicky ragu
"Kak Lily....dia..."
"Haaii.....makanan datang" Ucapan riang Nara menghentikan percakapan Dicky dan Ibram, Nara terlihat membawa dua mangkuk mie instan di tangannya, di ikuti Yudha yang membawa hal sama, lalu di belakangnya terlihat ibu-ibu yang membawa nampan besar, berisi mangkuk mie instan, dan beberapa minuman yang jumlahnya sama dengan jumlah mangkuk, setelah menata makanan dan minuman di meja, tanpa disuruh, Gio, Rafi dan Dion menghampiri meja dan menatap lapar mie instan tersebut.
"Ayo, kakak-kakak, makan dulu" Ucap Nara mempersilahkan
"Wah, enak nih jadi laper" Ucap Gio seraya mengambil satu mangkuk mie, dan mulai menyendokan mie ke dalam mulutnya.
"Bukannya nyamuk itu makannya darah ya, bukan mie" cibir Rafi saat melihat Gio dengan lahap makan mie, padahal asapnya terlihat masih mengepul karena panas, Rafi pun mengambil mie bagiannya.
"Sirik aja !" jawab Gio dengan mie yang memenuhi mulutnya
"Berisik" timpal Dion, yang berhasil menghentikan perdebatan tidak penting kedua sahabatnya, setelah mengatakan itu dia kembali memakan mie nya tanpa rasa bersalah.
Mereka pun menikmati makan siang mereka dengan ceria. Ibram dengan kediamannya, Gio, Rafi, dan Dion yang kembali berdebat, sedangkan Dicky makan dengan rasa gelisah dan bersalah yang membuatnya kehilangan rasa laparnya. dan rasa bersalah itu semakin besar tatkala saat dia melihat Nara dan Yudha bercanda satu sama lain. Nara terus saja tersenyum saat menatap Yudha, dia terlihat sangat bahagia berada di samping Yudha.
Maafkan aku Ra, harusnya aku tidak membiarkan dia hadir di hidupmu, semoga kamu tidak membenciku nanti saat tahu tentang Kak Lily dan Kak Yudha. batin Dicky
"Ay...aku pulang dulu ya" ujar Nara setelah beberapa saat selesai menyantap makannya.
"Kenapa buru-buru, sebentar lagi ya, aku kan sudah janji akan menemanimu sepanjang hari" Ucap Yudha penuh harap
"Tapi aku ngantuk Ay, mau tidur siang" ucap Nara manja
__ADS_1
"Tidur saja disini, aku temani" aja Yudha
Dasar bucin ! batin Gio
"Gak enak kalo tidur disini Ay, nanti aku ganggu kalian latihan"
"Gak ganggu kok, iya kan bro ?" Ucap Yudha sambil menatap semua orang, memaksa untuk menyetujui pernyataannya
"Tapi Ay___"
"Udahlah Yud, biarin Nara pergi" Ucap Ibram tiba-tiba, membuat semua mata menoleh padanya, karena tidak biasanya Ibram memberikan pendapat, terlebih pendapatnya itu bukan yang di harapkan untuk Yudha, tatapan tajam Yudha langsung menusuk ke arah Ibram, membuat Gio, Rafi, Dion, bergidik ngeri, sedangkan Ibram bersikap biasa saja di tatap seperti itu.
Tatapannya lebih mengerikan di banding, tatapan Suzana saat meminta sate ! batin Gio
Sepertinya ini cara Ibram untuk mengusir Nara, aku juga penasaran apa yang ingin di katakan Dicky tadi !. batin Dion
"Mungkin Nara ingin istirahat dengan nyaman, disini banyak laki-laki, mungkin dia merasa risih jika tidur disini" timpal Ibram lagi
"Benar Ay, aku ingin pulang dan tidur, kepalaku sedikit pusing" Ucap Nara dengan wajah yang sedikit pucat
"Baiklah, ayo aku antar" Ucap Yudha mengalah
"Gak usah Ay, aku bis___"
"Aku antar, atau jangan pulang !" kini ucapannya lebih terdengar seperti perintah daripada permintaan.
Dasar Posesif !. batin semua orang
"Baiklah" jawab Nara pasrah, Nara pun berpamitan dengan semua teman Yudha, dan bergegas untuk pulang.
Sesaat setelah Yudha pergi, Gio, Ibram, Rafi dan Dion langsung menghampiri Dicky, dan mendesak Dicky untuk bicara tentang Lily, namun Dicky bungkam, dia hanya berkata "Tunggu Kak Yudha kembali"
Setelah hampir 1 jam menunggu, akhirnya Yudha datang dengan wajah cemas dan bingung, dia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa dengan kasar, lalu dia menutup matanya. Melihat Yudha telah kembali, membuat semua orang langsung menatap Dicky, untuk menyuruh Dicky segera berbicara.
"Kak..." ucap Dicky ragu, membuat Yudha membuka matanya, namun pandangannya masih lurus ke depan, namun sejurus kemudian dia langsung menatap Dicky dengan tatapan mengerikan.
Hey, kenapa menatapku seperti itu, bahkan aku belum mengatakan tujuanku datang kesini untuk apa !
"Apa yang coba kau dan Nara sembunyikan dariku ?" tanya Yudha, membuat Dicky mengernyitkan dahinya, heran.
"Apa maksud Kakak ?"
"Aku tadi mengantarkan Nara pulang, wajahnya sangat pucat, pak Bram sangat khawatir, lalu dia memberikan Nara obat, aku ingin bertanya pada Nara, tapi setelah dia minum obat, dia langsung terlelap tidur, saat aku tanya pada Pak Bram, beliau tidak menjawab" Jawab Yudha frustasi, sesekali dia menjambak rambutnya "Perasaanku tidak enak, aku takut" timpalnya lagi
"Aku tidak tahu tentang itu kak" jawab Dicky jujur "lagi pula ada hal yang lebih penting yang ingin aku sampaikan "Ucap Dicky tegas
"Aku tidak ingin mendengar apapun yang tidak berhubungan dengan Nara, pergilah" Ucap Yudha seraya kembali bersandar dan menutup kedua matanya, dia masih khawatir pada Nara.
"Meskipun ini tentang Kak Lily" pernyataan Dicky sukses membuat Yudha membulatkan matanya dengan sempurna. Lalu dia kembali menatap Dicky.
"Kak Lily akan datang dalam waktu dekat, dia ingin memberi kejutan untukmu, aku tahu ini dari Alana" Dicky menatap Yudha yang tak bergeming, lalu melanjutkan kembali ucapannya "Jadi aku harap, Kakak jangan dulu menemui Nara, aku tidak ingin Kak Lily melihat kebersamaan kalian, dan itu akan menyakiti Nara yang tidak tahu apa-apa" Dicky pun beranjak menuju pintu, namun sebelum melangkah keluar, Dicky kembali menoleh.
"Dan jika kak Lily melihat kalian sedang bersama, saat itu aku tidak bisa lagi jadi penyelamat kakak, itulah tujuanku yang sebenarnya saat datang kesini" Dicky pun pergi meninggalkan Yudha yang masih tak bergeming, dia terlalu terkejut mendengar berita ini.
__ADS_1
Sedangkan sahabatnya yang lain, hanya bisa diam dan saling menatap satu sama lain, tidak tahu harus memberikan nasihat apa.
Bersambung