
"Untung saja kau tidak bertemu dengan ayahnya." Ken terkekeh.
"Aku juga belum siap jika bertemu dengan ayahnya." Dafa merenung.
"Mungkin kau akan di terkamnya." Ken tertawa.
"Mungkin." Dafa menjawab singkat.
"Kuyakin tuan Wira pasti tahu kau pernah melakukan kesalahan pada anaknya." Ken melirik Dafa sekilas.
"Ya, jika dia tidak tahu dia tidak mungkin membohongi Grace. Grace bahkan tidak mengenalku sama sekali, ayahnya pasti tidak menceritakan apapun tentangku kepada Grace." Dafa masih merenung.
"Mungkin tuan Wiranata tidak ingin Grace terluka lagi karenamu." Ken memberitahu.
"Ya, tapi mengapa dia mengirim Grace kembali ke hadapanku? apa dia ingin membuat aku tersiksa dengan keadaan Grace yang sama sekali tidak mengenalku. Sedangkan aku benar-benar masih sangat mencintainya.
"Kemungkinan begitu." Ken mengangguk-anggukan kepalanya.
"Beberapa waktu terakhir ini saja aku sudah merasa sedikit tersiksa, aku memendam perasaanku padanya, dia berada didekatku tapi sama sekali tidak mengingatku, itu menyakitkan Ken."
"Ya aku tahu, kau harus lebih bersabar Daf."
"Ya hanya itu yang bisa kulakukan sekarang." Dafa menghembuskan nafasnya kasar.
Mobil memasuki parkiran hotel, Ken memarkirkan mobil dengan rapi. Mereka melangkahkan kaki memasuki hotel dan menuju kamar mereka masing-masing yang telah dipesan sebelumnya.
...----------------...
Ken merendam tubuhnya dalam bathtub, badannya seharian ini terasa remuk karena terus mengikuti langkah Dafa untuk menguntit Grace dengan alasan perjalanan bisnis. Ken menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat tingkah konyol Dafa.
Cinta memang membodohkan. Batin Ken
Ken memejamkan matanya menikmati wangi lembut aromaterapi yang memenuhi kamar mandi. Pikirannya melayang-layang, dia merasakan kesepian kembali. Di benaknya terlintas wajah ibunya, ayahnya, dan dua adik kembarnya yang sudah beranjak remaja. Ken tersenyum mengingat mereka, dia sangat merindukan keluarganya. Sekilas Ken melihat sosok Jane tersenyum ke arahnya, Ken terkejut dan langsung membuka matanya.
Oh sial, kenapa tiba-tiba wajah Jane muncul di kepalaku. Ken memukul-mukul pelan kepalanya.
__ADS_1
Ken segera mengakhiri kegiatan berendamnya dan keluar dari kamar mandi. Ken mengambil beberapa roti yang tadi dibelinya di supermarket, dia juga membuat susu coklat hangat. Perutnya terasa lapar sejak tadi. Ken menikmati makan malam sederhananya sambil menonton televisi.
Ken sudah mulai mengantuk, dia beranjak dari sofa dan naik ke atas tempat tidur. Dia menarik selimut dan memejamkan mata. Beberapa menit kemudian dia membuka matanya lagi dengan cepat. Saat dia memejamkan mata dia melihat sosok wajah-wajah menyeramkan. Ken memang sedikit sulit tidur sendirian di tempat baru, trauma masa kecilnya dengan sosok-sosok menyeramkan masih sering membuatnya ketakutan walaupun tidak separah dulu.
Ken kecil pernah melihat peristiwa pembunuhan berdarah di depan matanya sendiri. Dia tidak bisa melupakan sama sekali peristiwa itu membuat trauma itu masih membayanginya hingga sekarang. Walaupun sekarang dia sudah dapat mengendalikan perasaannya lebih baik, tapi terkadang bayangan peristiwa itu masih sering menghantuinya di saat-saat tertentu.
Ken melompat turun dari tempat tidurnya, dia mengambil ponsel dan keluar dari kamar. Tujuannya tentu saja kamar Dafa, tanpa permisi Ken langsung masuk ke kamar Dafa yang kebetulan belum di kunci. Tentu saja penghuni kamar langsung menghardiknya.
"Oh Ken, kenapa kau selalu menyelinap ke kamarku?"
"Hantu itu kembali datang, aku takut, aku akan tidur disini saja." Ken terkekeh.
"Hei jadi untuk apa kau memesan dua kamar." Dafa terlihat kesal.
"Aku kan tidak tahu kalau hantu itu akan datang disini." Ken mengangkat kedua bahunya.
"Baiklah, tapi kau tidur di sofa saja." Dafa menunjuk sofa besar di depan televisi.
"Oh ayolah Daf, biarkan aku tidur di kasur."
"Nanti kau mengompol."
"Habis aku juga merasa trauma saat kau mengompol di kasurku dulu." Dafa terbahak. Ken tidak menjawab, dia hanya bergumam pelan mengumpat dan mengutuki Dafa.
Dafa mengetahui semua tentang Ken, Ken mempunyai trauma berat dimasa kecilnya. Saat kecil dia bahkan tidak bisa memejamkan matanya sama sekali jika bayangan-bayangan menyeramkan itu muncul di kepalanya. Itulah penyebab Ken sering dititipkan di rumah Dafa agar dia mempunyai teman setiap saat. Setidaknya hal itu membuatnya sedikit merasa tenang, Ken kecil hampir setiap malam menginap di kamar Dafa, dia sama sekali tidak berani tidur sendirian.
Ken kecil menjalani terapi psikologis beberapa tahun, saat remaja dia juga menjalani terapi kembali bertahun-tahun. Dafa benar-benar lega karena saat dewasa Ken sudah dapat mengendalikan traumanya dengan baik walaupun tidak sepenuhnya. Ken masih ketakutan di saat-saat tertentu, walaupun tidak parah tetapi sukses akan membuatnya begadang semalaman, misalnya saja saat seperti ini, Ken akan susah tidur di tempat yang baru di datanginya, dan dia pasti akan menginap di kamar Dafa.
"Ken." Dafa memanggil Ken.
"Apa?" Ken sibuk memainkan ponselnya.
"Bagaimana jika aku menikah dengan Grace?"
"Memangnya kenapa?" Ken balik bertanya.
__ADS_1
"Kau akan tidur dengan siapa nanti? Kau kan tidak mungkin ikut tidur bersamaku lagi." Dafa terkekeh.
"Benar juga, harus kemana aku?" Ken menaruh ponselnya dan menatap Dafa.
"Mulai sekarang kau harus belajar tidur sendirian Ken." Dafa terbahak.
"Hei aku memang selalu tidur sendirian dirumahku." Ken tidak mau kalah.
"Tapi kau tidak berani jika tidak dirumahmu." Wajah Dafa berubah serius.
"Kalau begitu kau jangan menikah dulu sebelum aku menikah." Ken tersenyum licik.
"Kenapa?" Dafa mengernyit.
"Biarkan aku yang menikah duluan, agar aku punya teman tidur dan tidak lagi tidur denganmu." Ken tersenyum karena menemukan ide yang sangat cemerlang.
"Tidak mau." Dafa tidak mau kalah.
"Sesekali mengalahlah untukku Daf."
"Baiklah, jika kau lebih dulu mendapatkan kekasih sebelum aku mendapatkan Grace kembali, aku akan mengizinkan kau menikah lebih dulu dariku. Carilah kekasih dalam waktu dekat ini." Dafa terkekeh.
"Apa kau pikir secepat dan semudah itu mencari kekasih." Wajah Ken berubah masam
"Ken, apa kau belum bisa move on dari cinta pertama yang menghianatimu?" Dafa mencibir dengan menekankan kata terakhir.
"Hei, jangan sebut tentangnya lagi, aku sudah menghapusnya di kehidupanku." Ken terlihat kesal.
"Ya, ya baiklah. Kau harus segera mencari kekasih Ken, aku akan berhenti meledekmu jika kau sudah tidak lagi jomblo." Dafa terbahak.
"Diamlah Daf, kau bahkan juga belum mendapatkan Grace kembali." Ken balik mencibir Dafa.
"Sebentar lagi aku akan mendapatkannya kembali, Ken." Dafa tersenyum cerah, dikepalanya melintas wajah Grace yang sedang tersenyum.
"Cih, kau begitu percaya diri." Ken bergumam pelan.
__ADS_1
Malam semakin larut, tidak terasa mereka berdua telah terlelap. Ken tidak lagi ketakutan, merasa aman karena dia tidak sendiri. Ken tertidur sangat pulas, tidak ada lagi bayangan-bayangan menyeramkan yang menghantuinya.
...****************...