Kali Kedua

Kali Kedua
LAURA KEMBALI


__ADS_3

Grace sedang memarkirkan mobilnya di depan sebuah minimarket. Grace membeli beberapa botol yogurt untuk diberikannya pada Dafa, sekarang dia sudah tahu kesukaan Dafa. Grace tersenyum sambil menenteng kantong belanja di tangannya, dia berjalan keluar dari minimarket dengan santai.


Baru saja Grace membuka pintu mobil, tiba-tiba datang seorang wanita yang mencekal pergelangan tangannya. Grace terkesiap dan langsung menoleh kearah wanita itu. Grace berbalik, dia mengenalinya, wanita itu yang entah kenapa menyukai Dafa setengah mati.


"Grace."


"Ya?"


"Mari bicara."


"Aku tidak bisa bicara sekarang, aku harus ke kantor."


"Sebentar saja."


"Baklah, katakan sekarang apa yang ingin kau katakan."


"Apa kau sungguh sudah berkencan dengan Dafa?"


"Mmm, ya." Grace tersenyum senang.


"Keterlaluan."


"Kenapa? Ada masalah apa denganmu?"


"Bukankah aku sudah mengatakan bahwa Dafa milikku."


"Benarkah? Aku lupa." Grace berlagak sedang mengingat-ingat.


"Jangan pura-pura, ku yakin kau mengingatnya."


"Oh ya ya aku ingat, tapi sayangnya Dafa mengatakan padaku bahwa dia hanya milikku." Grace tersenyum.


"Kenapa kau sangat tidak bisa di ajak bicara?"


"Tidak bisa? Bukankah sejak tadi aku bicara denganmu?"


"Grace, aku benar-benar mencintai Dafa, apa kau tidak mengerti?"


"Laura, kita bicara nanti, aku sudah hampir terlambat." Grace masuk kedalam mobil.


"Grace tunggu."


"Aku harus pergi." Grace menghidupkan mesin mobil.


"Temui aku di mall sepulang kau kerja, resto X. Aku akan bercerita banyak tentang Dafa kepadamu."


"Baiklah." Grace menjawab tanpa tahu dia akan datang atau tidak. Grace segera berlalu melajukan mobilnya menuju kantor.


Laura menatap kepergian Grace dengan kesal, dia tak menyangka bahwa Dafa benar-benar meninggalkannya dan memilih bersama dengan Grace. Laura mengetahui hubungan Dafa dan Grace melalui asistennya yang selalu dimintanya untuk mencari tahu kabar terbaru Dafa. Laura mengepalkan jari-jarinya, sekarang dia merasa sangat kesal sekaligus terluka.


...****************...


Grace tiba dikantor, dia berjalan tergesa-gesa menuju ruangannya. Sudah banyak pekerjaan yang menunggunya hari ini. Sebelum masuk keruangannya, Grace masuk terlebih dahulu ke ruangan Jane, sekedar menyapa.

__ADS_1


"Pagi Jane." Grace menyembulkan kepala di pintu ruangan Jane.


"Hei pagi Grace, apa kau baru tiba?"


"Ya, aku hampir terlambat." Grace terkekeh.


"Masuklah, apa ada masalah?"


"Tak ada, hanya bangun sedikit kesiangan." Grace berbohong, dia tidak mengatakan kepada Jane bahwa dia bertemu Laura. Jane juga belum tahu bahwa dia sudah menjadi kekasih Dafa.


"Benarkah? Tidak biasanya, apa kau begadang tadi malam? Apa kau sakit?"


"Aku tidak sakit, hanya sedikit begadang. Aku akan keruanganku sekarang, bye Jane." Grace menutup pintu tanpa sempat Jane menjawab, Grace tidak ingin Jane terus bertanya dan semakin cerewet.


Grace masuk keruangannya dan mulai mengerjakan beberapa laporan yang harus selesai hari itu. Entah kenapa Grace tidak bisa fokus, dia sedikit memikirkan tentang Laura. Grace belum mengetahui pasti siapa sebenarnya Laura dan apa hubungannya dengan Dafa sehingga Laura benar-benar mencintai Dafa. Grace hanya tahu bahwa Laura adalah penggemar Dafa seperti apa yang dikatakan oleh Ken.


"Apa mungkin hanya penggemar? Wanita itu bahkan sangat posesif." Grace berbicara sendiri sambil mngerucutkan bibirnya, entah kenapa dia mulai merasa kesal pada wanita yang terus mengejar Dafa itu.


Grace memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa pening, otaknya terus berputar menebak-nebak tentang hubungan Laura dengan Dafa. Semua kemungkinan tentang Dafa dan Laura bermunculan dikepalanya. Grace mengacak rambutnya pelan karena kesal, sejurus kemudian dia segera merapikan rambutnya kembali.


"Apa mungkin mereka benar-benar sepasang kekasih dulunya? Apa Sekretaris Ken membohongiku waktu itu?"


"Atau mungkin mereka memang sangat dekat namun salah satunya berselingkuh dan akhirnya berpisah?"


"Bisa juga itu adalah cerita cinta segitiga antara Dafa, Laura dan sekretaris Ken, bukankah saat itu Ken dan Laura terlihat bermusuhan?"


"Sepertinya kemungkinan ketiga masuk akal, mereka terlibat cinta segitiga. Bisa saja Dafa dan Ken menjauhi Laura karena tidak ingin bertengkar dan merusak persahabatan mereka. Ah sepertinya aku harus mencari informasi tentang cinta segitiga mereka."


"Huh, aku cemburu padamu Daf jika kau benar-benar pernah mencintai Laura."


"Apa kau berbohong dengan ceritamu kemarin?"


Grace menjatuhkan kepalanya ke atas meja bertumpu dengan kedua lengan yang disilangkan. Dia terus berbicara kepada dirinya sendiri, Grace terlihat muram. Segala hal buruk kini mulai bermunculan dikepalanya tentang Dafa.


"Ah, apa aku terlalu berpikir berlebihan?"


Grace beranjak dari duduknya, mengambil air mineral dan berjalan menuju jendela ruangannya. Grace menatap lama hiruk pikuk keadaan kota dibawah sana walaupun pikirannya sama sekali tidak tertuju kesana. Grace beberapa kali meneguk air mineral ditangannya sekedar membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa terus mengering.


"Sepertinya aku harus benar-benar menyetujui untuk bertemu Laura hari ini. Baiklah, aku akan ke resto X sepulang bekerja nanti."


Grace memutuskan untuk keluar dari ruangannya dan pergi keruangan Jane. Dia ingin menemui Jane walau hanya sekedar untuk mengganggu Jane. Grace memang selalu seperti itu, akan ada saatnya gadis itu mengeluarkan sifat usilnya.


Ceklek.


"Jane, apa kau sibuk?" Wajah Grace kembali menyembul di pintu ruangan Jane.


"Ya sedikit, ada apa Grace?"


"Aku hanya ingin berkunjung." Grace masuk dan duduk di sofa."


"Apa kau tidak ada kerjaan?"


"Sudah hampir selesai, tapi tiba-tiba aku merasa suntuk."

__ADS_1


"Ternyata kau juga bisa merasa suntuk." Jane terkekeh, berbicara santai tapi tetap fokus pada layar monitor.


"Tentu saja." Grace duduk menyandarkan dirinya di sofa, sedetik kemudian bangkit lagi dan menoleh pada sandaran sofa.


Jane yang melirik dari sudut matanya akhirnya menghentikan aktivitasnya dan menoleh pada Grace. Entah kenapa hari ini Grace tampak berbeda dari biasa pikir Jane. Biasanya Grace selalu tenang hampir sepanjang hari, namun hari sekarang gadis itu seperti sibuk sendiri, bisa dikatakan terlihat sedikit kepanikan di wajahnya.


"Ada apa?" Jane menatap tingkah aneh Grace yang mengendus-endus sandaran sofa.


"Sepertinya aku mencium aroma parfum yang sangat familiar disini."


"Aroma parfum?"


"Ya."


"Apa aroma parfumku?" Jane kebingungan, entah kenapa tiba-tiba Grace membahas hal yang sangat tidak penting.


"Bukan, kau kemarilah kesini Jane."


"Baiklah." Jane beranjak menghampiri Grace dengan malas.


Jane bergabung dengan Grace, mengendus-endus sandaran sofa. Mereka terlihat seperti orang yang benar-benar kurang kerjaan. Jane akhirnya menyadari jika itu adalah aroma parfum milik sekretaris Ken yang baru saja berkunjung keruangannya beberapa saat yang lalu.


"Aromanya sangat familiar bukan?"


"Benarkah?" Jane pura-pura tidak tahu.


Jane belum bisa mengatakan bahwa itu aroma parfum milik sekretaris Ken. Jane belum mampu mengatakan bahwa Ken adalah kekasihnya sekarang. Sebenarnya dia ingin mengatakannya, namun Grace tak ada bertanya sama sekali sehingga Jane memilih untuk tak memberitahukan sebelum Grace menanyakan. Akan sangat aneh jika dia tiba-tiba mengatakan bahwa dia dan sekretaris Ken sudah berkencan.


"Ini tentu bukan aroma parfum milik Dafa." Grace menatap Jane.


"Benarkah?" Hanya kata itu yang keluar dari mulit Jane sejak tadi.


"Bukankah ini aroma parfum sekretaris Ken? Ah ya aku baru ingat, kadang-kadang aku mencium aroma ini saat bersama Dafa dan tentunya ada sekretaris Ken dibelakangnya."


"Benarkah?" Sekali lagi Jane mengatakan kata itu.


"Ya, apa sekretaris Ken mengunjungimu?"


"Mengunjungi? Ah ya aku baru ingat haha, beberapa saat yang lalu dia kesini mengambil beberapa dokumen." Jane terlihat salah tingkah, dia berbohong. Sekretaris Ken tidak mengambil dokumen, dia hanya berkunjung, duduk disofa dan memandangi Jane yang sedang sibuk bekerja. Terkadang sekretaris Ken memang terlihat sangat kurang kerjaan.


"Oh ya? Baiklah, aku akan kembali keruanganku dan menyelesaikan pekerjaanku." Grace beranjak pergi meninggalkan ruangan Jane dengan mengulum senyum.


Grace kembali masuk keruangan dan duduk dikursi kerjanya. Dia terkekeh mengingat tingkah Jane beberapa menit yang lalu. Entah kenapa Grace terlihat senang kembali, rasa suntuknya menguap begitu saja.


"Jane, kau pikir aku tidak tahu tentang hubunganmu dengan sekretaris Ken? Ah aku penasaran, apa kalian sudah berkencan sekarang? Sekretaris Ken terlihat sangat memperjuangkanmu, bahkan dia pergi ke Singapura hanya untuk menyusulmu datang ke pernikahan Liam. Aku tidak menyangka jika sekretaris yang dulu terlihat dingin akhirnya tertarik denganmu, Jane."


Grace tersenyum sendiri memikirkan tentang hubungan sekretaris Ken dengan Jane. Dia berharap Jane mendapatkan kebahagiaannya kembali setelah hubungan percintaan menyakitkan yang pernah dijalaninya. Grace tersentak dari lamunannya saat mendengar dering singkat diponselnya.


"Huh, kenapa aku menghayalakan kisah cinta orang lain." Grace terkekeh memukul pelan dahinya sendiri dengan telapak tangan.


Grace meraih ponselnya, dia melihat pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Grace mengernyitkan dahinya sejenak sambil membuka pesan itu. Grace membaca isi pesan yang akhirnya dia tahu dari siapa.


Grace, jangan lupa sepulang kerja di resto X.

__ADS_1


Grace tak membalas pesan itu, tapi dia memutuskan untuk datang. Grace memilih untuk mendengarkan cerita dari Laura hari ini. Menurut Grace tak ada salahnya mendengarkan dari sudut pandang Laura.


...****************...


__ADS_2