Kali Kedua

Kali Kedua
SAKIT


__ADS_3

Grace berusaha mengejar seorang pria di depannya, dia terus berlari di sebuah jalanan berbatu. Pria itu terus pergi tanpa menoleh sedikitpun pada Grace, dia tidak mendengarkan teriakan Grace sama sekali. Grace tidak putus asa, dia terus mengejar pria itu tidak peduli kakinya yang sudah mulai terasa sakit. Beberapa kali dia terjatuh dan terus kembali berdiri.


Grace kembali terjatuh, dia susah payah untuk berdiri lagi. Grace menatap kedepannya mencari sosok pria yang dikejarnya, dia tidak melihat pria itu dimanapun sekarang. Grace berteriak memanggilnya, Grace kehilangannya. Grace memeluk lututnya dan menangis sejadi-jadinya.


Grace membuka matanya, dia terbangun dari tidurnya. Grace merasa ada sesuatu yang hangat disudut matanya, dia menyeka dengan kedua tangannya. Dia bermimpi hal yang menyedihkan hingga membuatnya meneteskan air mata di dunia nyata. Grace menatap jam di atas meja, dia segera mandi dan bersiap-siap pergi ke kantor.


...----------------...


"Grace, apa kau baik-baik saja?" Jane menatap wajah Grace yang terlihat pucat.


"Aku baik-baik saja Jane."


"Kenapa wajahmu terlihat sangat pucat?" Jane menatap lebih dekat wajah Grace.


"Beberapa hari ini aku hanya kurang istirahat."


"Apa kau begadang?"


"Tidak, aku hanya sering terbangun karena mimpi buruk akhir-akhir ini." Grace menatap sekilas Jane.


"Benarkah? Kau mimpi apa?"


"Entahlah, tidak jelas, yang pasti mimpi buruk."


"Apa kau bermimpi hantu?" Jane terkekeh.


"Iya, dan hantunya adalah kau." Grace tertawa.


"Enak saja." Jane mendengus, Grace terbahak.


"Baiklah, aku akan mengantarkan berkas ini dahulu ke ruangan presdir."


"Baiklah."


"Apa kau mau ikut?"


"Tidak." Jane menggeleng.


Grace beranjak dan keluar dari ruangannya meninggalkan Jane. Grace berjalan pelan menuju ruangan Dafa, dia sedikit merasa lelah hari ini. Grace mengetuk pintu ruangan dan masuk kedalam ruangan Dafa


"Tuan."


"Ya?" Dafa langsung mengalihkan pandangannya dari tablet dan menatap Grace.


"Ini laporan proyek bulan ini, tuan." Grace menyerahkan tumpukan berkas ditangannya.


"Terima kasih, Grace. Aku akan mengeceknya nanti." Dafa tersenyum


"Baik, tuan." Grace mengangguk.

__ADS_1


"Grace, apa kau sedang sakit?" Dafa menatap wajah Grace.


"Tidak tuan, saya baik-baik saja."


"Kenapa wajahmu sangat pucat?"


"Hanya sedikit kurang istirahat, tuan." Grace tersenyum.


"Apa kau kelelahan? Apa pekerjaanmu terlalu berat?" Dafa terlihat khawatir.


"Tidak, tuan." Grace menggeleng.


"Kau istirahat saja setelah ini, Grace." Dafa menatap lembut mata Grace.


"Tidak apa-apa tuan, saya baik-baik saja, saya permisi dulu."


Grace berjalan menuju pintu keluar meninggalkan Dafa yang terus menatapnya. Dia merasa khawatir karena Grace terlihat sangat pucat dan lelah. Selama ini dia tidak pernah terlihat seperti itu, senyum cerianya juga tidak terlihat hari ini, hanya senyum kecil yang sedikit dipaksakan terlukis diwajahnya.


Bruggg.


Dafa langsung berlari menyambar tubuh Grace yang jatuh ke lantai, Grace tidak sadarkan diri. Dafa menggendong Grace dan merebahkan tubuhnya di sofa besar ruangannya. Dia segera memanggil Ken untuk membantunya membawa Grace kerumah sakit. Ken siap siaga dalam segala keadaan, secepat kilat mereka meluncur kerumah sakit.


...----------------...


Dafa terlihat sangat khawatir, dia berjalan mondar mandir di depan ruangan Grace menunggu dokter dan para perawat yang sedang memeriksa Grace. Ken hanya menunggu dan memperhatikan Dafa yang sama sekali tidak terlihat tenang. Jane juga sudah datang menyusul mereka, Ken menghubunginya setelah mereka tiba di rumah sakit.


"Ada apa dengan Grace?" Jane yang terlihat panik bertanya pelan dan refleks duduk di samping Ken.


"Apa dokter masih memeriksanya?"


"Ya." Ken mengangguk-angguk.


"Kenapa Tuan Dafa terlihat sangat khawatir?" Jane semakin memelankan suaranya takut didengar oleh Dafa yang sedang mondar mandir tak jauh dari tempat duduk mereka.


"Dia memang selalu seperti itu."


"Mmm." Jane tidak lagi bertanya karena takut dikira kepo.


Jane baru sadar dengan keadaannya, dia menggeser duduknya pelan agar terlihat tidak terlalu mencolok, saking paniknya tadi dia tidak sadar duduk terlalu dekat dengan Ken. Jane bahkan bisa mencium aroma parfum pria itu.


Oh Tuhan, pesona pria ini luar biasa. Aroma parfumnya saja sudah membuat jantungku bersenam ria. Jane


"Jane." Ken menoleh.


"Mmm, ya, ya?" Jane yang sedang menggeser duduknya sedikit terkesiap dan refleks menoleh ke arah Ken, mata mereka bertemu.


Oh God, apa ini? Apa dia pangeran dari negeri dongeng? Kenapa wajahnya sempurna sekali?. Batin Jane, dia tidak pernah melihat wajah Ken dalam jarak sedekat itu.


"Apa Grace punya riwayat sakit?" Ken mengernyitkan alisnya.

__ADS_1


"Dia pernah sakit dan kehilangan ingatannya, tapi aku tidak tahu dia sakit apa, katanya hanya demam." Jane berbicara setengah berbisik.


"Mmm, begitukah?" Ken mengangguk-angguk, dia juga sudah mendengar cerita itu dari Dafa.


Dokter sudah keluar dari ruangan rawat Grace, mereka segera menghampiri Dafa dan dokter itu.


"Bagaimana keadaan Grace, dok?" Dafa langsung bertanya.


"Dia sudah sadar sekarang, keadaanya sudah stabil, dia hanya kelelahan, sepertinya kurang istirahat dan mengalami sedikit stres." Dokter menjelaskan.


"Stres?" Dafa mengernyit


"Ya, sepertinya ada hal yang mengganggu pikirannya." Dokter.


"Bolehkah kami menjenguknya sekarang?" Jane menyela.


"Silahkan, tapi usahakan untuk tidak mengganggu pasien, dia harus banyak istirahat. Pastikan dia tidak memikirkan hal-hal berat untuk sementara waktu." Dokter menjelaskan, kemudian dia pamit meninggalkan tiga orang yang dengan segera memasuki ruangan itu.


"Grace." Jane memanggil pelan Grace yang sedang berbaring. Grace sedikit terkejut karena melihat kemunculan Dafa dan Ken dibelakang Jane.


"Hei, kenapa kalian semua berkumpul disini?" Grace tersenyum lemah.


"Kau kenapa bisa pingsan? sudah kubilang tadi wajahmu sangat pucat." Jane langsung bertanya tanpa menjawab pertanyaan Grace.


"Entahlah, aku hanya merasa sedikit lelah." Jane menatap ketiga orang itu bergantian.


"Kau harus istirahat Grace, kata dokter kau sedang stres, aku takut nanti kau jadi gila." Jane terkekeh menggoda sahabatnya.


"Jika aku gila, aku akan mengganggumu sampai kau juga ikut gila." Grace tertawa lemah.


"Kau selalu saja begitu." Jane mengerucutkan bibirnya.


"Grace, apa aku perlu memberitahu orang tuamu?" Dafa yang sedari tadi diam membuka mulutnya.


"Tidak perlu, Daf. Aku baik-baik saja, aku juga tidak ingin mereka khawatir." Jane menatap Dafa yang juga menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh Grace.


"Baiklah, kau harus istirahat. Aku harus kembali ke kantor, sepulang kerja aku akan kembali kesini secepat kilat." Jane menepuk-nepuk punggung tangan Grace.


"Aku akan mengirimkan beberapa pengawal dan pelayan untuk menjagamu sebelum Jane kembali kesini." Dafa tersenyum ke arah Grace.


"Tidak perlu, Daf. Aku tidak apa-apa, kau tidak perlu melakukannya."


"Jangan menolak, Grace." Dafa kembali menatap Grace.


"Mmm, baiklah." Grace tidak bisa membantah lagi.


"Ken hubungi orang-orangmu untuk segera kesini." Dafa beralih menatap Ken sekilas.


"Baik." Ken segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.

__ADS_1


Mereka bertiga akhirnya keluar dari ruangan Grace dan kembali ke kantor. Dafa sebenarnya saat ingin berada disana menemani Grace, tapi dia berpikir bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat. Dafa takut jika Grace merasa tidak nyaman, selain itu Grace juga harus istirahat.


...****************...


__ADS_2