
Dafa tersenyum sendiri menatap gadis yang sedang berjalan didepannya sambil menarik koper. Ken disamping Dafa terlihat bergumam kecil mencibir Dafa, dia tidak habis pikir melihat kebucinan Dafa pada cinta masalalunya, walaupun masih belum berbalas. Ken tidak pernah melihat Dafa seperti ini sebelumnya, kekuatan cinta memang dapat merubah segalanya pikir Ken.
Grace berjalan pelan di depan mereka, dia tidak terlalu memperhatikan sekitar. Dia mencari-cari sosok Jane yang menjemputnya. Matanya terus menyapu kesetiap sudut tempat itu.
"Grace." Jane berteriak sambil melambaikan tangannya
"Jane". Grace berjalan cepat menghampiri Jane.
"Kenapa rasanya lama sekali kau pergi?"
"Hei aku hanya pergi selama 4 hari, apa kau merindukanku?" Grace terkekeh.
"Tentu saja, aku benar-benar tidak punya teman saat kau pergi." Jane mengerucutkan mulutnya.
"Siapa suruh kau tidak mau ikut denganku." Grace terkekeh.
Dafa dan Ken yang berada dibelakang Grace hanya diam menyaksikan drama pertemuan dua gadis cantik itu.
"Ehmm." Dafa dan Ken berdehem karena sedari tadi dilupakan.
"Kalian pulang bersama?" Jane kelihatan bingung, dia baru saja menyadari kehadiran dua pria ini.
"Ya, kami kebetulan bertemu." Grace tersenyum.
"Oh, begitukah?" Jane mengangguk.
"Ayo kita pulang, kalian bisa ikut dengan kami." Grace menatap Dafa dan Ken.
"Mmm baiklah." Dafa mengangguk.
Mereka berjalan menuju tempat Jane memarkirkan mobilnya.
"Jane, biar aku yang menyetir." Ken menawarkan diri.
"Tidak perlu Ken, kalian pasti lelah, biar aku saja." Jane tersenyum.
"Tak apa, biar aku saja." Ken tanpa permisi langsung duduk di kursi kemudi. Mau tidak mau Jane menurut saja.
"Aku sangat lapar, bagaimana kalau kita makan lebih dulu." Grace berbicara dari kursi belakang.
"Aku juga merasa lapar." Dafa yang duduk di sebelah Grace menimpali.
Jarak diantara Dafa dan Grace seperti sudah lenyap, tidak terlihat kecanggungan di antara mereka. Mereka terlihat berbincang akrab sepanjang jalan, entah apa yang mereka bicarakan terkadang terdengar suara tawa Grace dari kursi belakang.
Berbeda dengan Ken dan Jane, Ken tidak punya topik pembicaraan sedangkan Jane terus menerus merasa canggung jika berada didekat Ken. Tidak ada pembicaraan diantara mereka, mata Ken fokus ke jalanan, Jane memilih untuk memandang keluar jendela. Sampai akhirnya mobil berhenti di sebuah rumah makan besar.
__ADS_1
Mereka memilih sebuah tempat duduk untuk empat orang. Pelayan datang membawakan beberapa buku menu. Mereka berempat memilih-milih menu makanan yang semuanya terlihat menggugah selera.
"Grace, lihat makanan kesukaanmu, cumi lada hitam." Dafa menunjukkan sebuah foto di buku menu kepada Grace.
"Kau tahu makanan kesukaanku?" Grace menatap Dafa.
Mam.pus keceplosan. Batin Ken, dia menatap Dafa sekilas menyembunyikan sedikit senyumnya.
"Mmm, aku melihatmu memesan makanan itu saat makan bersamaku waktu itu. Aku pikir itu makanan kesukaanmu." Dafa berhasil memutar otak mencari alasan.
"Oh, kau benar, aku sangat suka cumi. Grace tersenyum lebar.
Untung otakmu masih berfungsi. Ken
Jane hanya menatap bingung pada mereka, dia memilih pura-pura tidak memperhatikan. Jane pura-pura terus membolak-balik buku menu di tangannya.
Apa yang terjadi di Singapura hingga mereka sedekat ini?. Jane
...----------------...
Ken memarkirkan mobilnya di parkiran kantor, mereka semua turun dan berjalan memasuki kantor. Grace dan Jane menuju ruangan mereka masing masing. Mereka kembali melakukan kesibukan masing-masing.
Dafa memasuki ruangannya diikuti Ken. Dafa langsung duduk di kursi kerjanya, banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya sekarang. Ken duduk di sofa kebangsaannya dan mulai membuka tabletnya, dia terlihat sibuk mengerjakan sesuatu.
"Selesai!." Ken berteriak pelan sambil menaikkan kepalan tangannya ke udara.
"Apa kau sudah selesai Daf? aku ingin segera pulang." Ken memukul-mukul pelan pinggangnya yang terasa pegal.
"Sedikit lagi."
"Kita baru sampai dari perjalanan dinas fiksimu, dan sekarang langsung mengerjakan banyak pekerjaan. Rasanya tubuhku lelah sekali." Ken mengeluh.
"Berhenti mengeluh, Ken."
"Huh." Ken mendengus.
Dafa kembali fokus dengan pekerjaannya, Ken memilih merebahkan dirinya di sofa dan larut dalam pikirannya. Dia menjadikan tangannya sendiri sebagai bantal dan memejamkan matanya sebentar.
"Sh.it." Ken setengah berteriak, dia bangkit dari tidurannya dan langsung memegang pelipisnya yang terasa sedikit berdenyut.
Kenapa wajah Jane lagi-lagi muncul setiap aku melamun. Batin Ken
"Ada apa, Ken? Dari tadi kau terus mengejutkanku." Dafa terlihat merapikan berkas-berkas di mejanya.
"Tak apa."
__ADS_1
"Ayo pulang." Dafa berjalan keluar dari ruangan, Ken mengikuti dibelakangnya.
...----------------...
Mobil mereka melaju membelah jalanan, hari sudah mulai gelap. Langit berwarna jingga tanda perpisahan dari sang matahari untuk hari ini. Ken melirik sekilas Dafa yang sedang memandang ke luar jendela.
"Daf."
"Mmm?"
"Bagaimana Grace?" Ken bertanya
"Dia masih sama." Dafa tidak mengalihkan pandangannya.
"Tapi dia terlihat senang bersamamu."
"Ya, dia tidak merasa canggung lagi di dekatku, tapi hanya itu."
"Itu sudah sangat baik, setidaknya dia senang bersamamu."
"Apa yang harus kulakukan lagi, Ken?"
"Kau hanya perlu mengikuti kata hatimu Daf, tapi jangan sampai kau melakukan hal bodoh seperti dulu lagi."
"Hal itu tidak akan terjadi lagi."
"Baguslah." Ken mengangguk-angguk.
"Ken."
"Ya?"
"Bagaimana Laura? Apa kau membereskannya setelah kejadian di kantor kemarin?." Dafa menatap ke arah Ken.
"Ternyata kau tahu, Daf." Ken sedikit terkekeh.
"Kau pikir aku tidak tahu?"
"Ya."
"Gadis itu sepertinya tidak akan menyerah jika tidak kau sendiri yang melakukannya, Daf."
"Aku tidak habis pikir dengannya."
"Ya, dia sangat ambisius."
__ADS_1
...****************...