Kali Kedua

Kali Kedua
Tertidur


__ADS_3

Tak lama setelah pernyataan cinta dan panggilan khusus untuk Yudha tercipta, suara Vespa pak Bram terdengar memasuki halaman rumah.


Tak lama terlihat pria paruh baya itu masuk dengan tangan menenteng beberapa kantong plastik hitam di kedua tangannya, melihat itu Nara dan Yudha bangkit dari duduknya, lalu secara bergantian mencium tangan pak Bram.


Pak Bram menghela nafas kecil, dan tersenyum tipis melihat Yudha, ada sedikit gelengan kepala dengan senyum yang terus mengembang. Bahkan saat dia ikut duduk di depan Yudha dan Nara.


Apa mereka tidak bosan selalu bertemu seperti ini ? hah dasar anak muda kasmaran !!. batin pak Bram


"Ayah dari mana,?" tanya Nara


"Abis keliling aja, nyari tukang sayur, soalnya mang Agus gak dagang hari ini, jadi ayah nyari tukang sayur yang lain" jawab pak Bram seraya menyimpan kantong belanjaannya di atas meja.


"Yudha ambilin minum ya Ayah !."


"Eh gak usah Yud, nanti ayah am___" tak ingin mendengar penolakan, Yudha langsung bergegas pergi ke dapur, dengan langkah yang ringan dan cepat, seperti di rumahnya sendiri, membuat pak Bram terkekeh geli.


"Ayah kenapa,?" tanya Nara heran, melihat tawa kecil sang ayah menatap kepergian Yudha


"Ra....apa kita salah rumah,?" tanya balik pak Bram


"Maksudnya ayah,?" tanya Nara sambil mengernyit heran


"Ck...lihat dia, santai sekali masuk dapur orang, seperti dirumahnya sendiri !" seru pak Bram, yang kini tawa kecilnya terdengar lebih jelas


"Ayah !!" protes Nara dengan wajah bersemu merah, sedangkan Pak Bram makin tergelak melihat ekspresi anaknya. Namun gelak itu terhenti seketika saat sosok yang sedang jadi topik pembicaraan datang.


Yudha datang dengan secangkir teh hangat, minuman kesukaan Pak Bram, bahkan cangkir yang di gunakannya pun adalah cangkir favorit Pak Bram.


Dih bahkan anak ini sudah hafal cangkir dan minuman kesukaanku !


"Silahkan Ayah !" perkataan Yudha membuyarkan lamunan Bram, dia mengangguk lalu meminum teh yang di buat Yudha.


"Apa kalian sudah makan ?" Tanya pak Bram sesaat setelah menghabiskan beberapa teguk teh hangat di cangkirnya. "Pasti belum ya, kan Ayah baru pulang belanja hihi" Dasar Pak Bram, nanya sendiri, jawab sendiri. "Coba kamu masak ini semua Ra !" timpalnya lagi seraya menyodorkan semua bungkusan belanjaannya.


"Siap Yah" ujar Nara riang, namun ada sedikit ke khawatiran di mata Nara, mengingat kakinya masih sedikit sakit, tapi jika Pak Bram tahu, lelaki paruh baya itu akan marah besar mengetahui anak kesayangannya terluka, dan pasti dia akan menyalahkan Yudha.


"Tapi Ra...!", Ucap Yudha mencoba menghentikan Nara yang akan bangkit dari duduknya, sedangkan Nara hanya menggeleng cepat dan memberikan isyarat mata agar Yudha tidak mengatakan pada Pak Bram soal kakinya.


"Kalian kenapa,?" tanya Bram heran, melihat tingkah kedua manusia di hadapannya.


"Gak apa-apa Yah, aku bawa semua belanjaannya ke dapur ya, biar bisa langsung di masak Nara" Ujar Yudha, langsung bangkit, dan berlari ke dapur dengan kedua tangan menenteng kantong belanjaan, Membuat pak Bram kembali terheran-heran.


Apa seperti ini tingkah anak jaman sekarang, yang sedang jatuh cinta ??. batin Pak Bram


"Ayah, mending sekarang mandi, biar nanti pas masakan Nara selesai, ayah udah wangi.!" bujuk Nara


"Iyalah, mending ayah mandi, daripada lihat kalian, bikin pusing " Ujar Pak Bram berlalu pergi, Nara menghembuskan nafas lega melihat kepergian ayahnya, tak lama Yudha pun kembali dari dapur.


"Mana Ayah ?" tanya Yudha celingukan


"Ayah mandi, kakak jangan kasih tahu ayah, kalo kakiku sakit ya, nanti dia heboh sendiri"


"Maaf ya Ra, ini semua salah aku, coba tadi aku gak pura-pura jatuh,!" ujar Yudha keceplosan


" Apa ? jadi tadi cuma pura-pura ?" tanya Nara gusar

__ADS_1


" Eh...." Yudha gelagapan


"Aakkkhhhhh" jerit Yudha terdengar nyaring, saat Nara mencubit kencang perutnya.


" Jangan bohong lagi, aku panik tahu tadi Ay !" ujar Nara kesal


" Iya-iya maaf ya sayang, hehe "


" Udah ah, aku mau masak dulu " ujar Nara memalingkan wajahnya karena malu, pipinya sudah merona karena di panggil sayang.


" Biar ku bantu "


" Akkhhh " Jerit Nara kaget, saat tiba-tiba Yudha menggendongnya ala brydalstyle, dengan otomatis Nara melingkarkan tangannya di leher Yudha, namun sebelum sampai di dapur, Yudha memutar tubuhnya beberapa kali, membuat Nara tertawa.


" Udah Ay, pusing nih " keluh Nara, membuat Yudha langsung berhenti memutar tubuhnya, namun tidak menurunkan Nara dari gendongannya.


Cup


Tiba-tiba Yudha mendaratkan ciuman hangat di kening Nara, membuat Nara terkejut, dan tak bisa berkata apa-apa.


" Sudah gak pusing kan ?" tanya Yudha lembut, Nara hanya mengangguk dengan mata yang tak berkedip


" Apa acara memasaknya sudah bisa di mulai ?" tanya Yudha, yang seketika membuyarkan lamunan Nara, yang masih kaget karena ciuman tiba-tiba tadi. Tanpa sadar kini mereka sudah di dapur.


" Eh.... " Ucap Nara kembali kaget saat Yudha tiba-tiba menurunkannya


" Sepertinya ada yang keenakan di gendong tadi !" ledek Yudha


" Ihh kakak !" ujar Nara kesal.


" Kakak...eh hehe maaf ya keceplosan "


" Panggil yang benar !" ucap Yudha tegas, sedangkan Nara memutar bola matanya jengah.


" Ay.....Ay aku mau masak dulu ya, silahkan tunggu di ruang tengah " mohon Nara


" Tidak..! aku akan membantu " ujar Yudha, langsung mengeluarkan semua bahan masakan, dan mulai memotong sayuran yang ada disana. Nara hanya bisa pasrah, dan mulai memasak. Sesekali terdengar canda tawa di acara masak tersebut. Nara dan Yudha, saling menjahili satu sama lain. Tak lama semua makanan sudah matang, dan sudah tertata rapih di meja makan.


Nara pun memanggil Pak Bram, setelah membaca doa yang di pimpin oleh Yudha, atas permintaan pak Bram, acara makan pun di mulai, pembicaraan kecil terjadi di sela-sela acara makan pagi menuju siang ini. Setelah selesai, Pak Bram mengajak Yudha, untuk duduk di teras depan, tak lupa membawa minuman hangat, keduanya melangkah menuju teras, dan duduk menikmati hujan yang tiba-tiba turun hari itu, dengan intensitas cukup deras, membawa hawa dingin yang menusuk. Sedangkan Nara di perintahkan oleh Bram untuk membersihkan bekas memasak dan makan mereka tadi.


" Nara adalah anak perempuan ayah satu-satunya " ucap Pak Bram memulai percakapan. " Dia sangat manja, karena di limpahi kasih sayang dari semua kakak lelakinya " timpalnya lagi. Yudha hanya terdiam mendengarkan, sesekali meminum minuman hangatnya untuk mengusir dingin yang datang.


Terdengar suara hembusan nafas berat dari lelaki paruh baya tersebut, pandangan yang tadi melihat lurus ke depan, kini beralih menatap Yudha yang berada di sampingnya.


" Yud...." panggil pak Bram dengan suara lirih


Deg !!!


Membuat yang di panggil langsung menoleh, Yudha langsung terpaku pada mata pak Bram, mata yang sama dengan milik Nara, mata yang membuat Yudha tidak bisa berhenti memandang gadis itu, mata yang selalu memancarkan kebahagiaan, mata yang selalu Yudha rindukan saat mereka berpisah.


" I-iya Ayah ?" jawab Yudha terbata


" Berjanjilah untuk menjaga Nara, jika Ayah tidak ada nanti " Ucap Pak Bram dengan mata berkaca-kaca, sorot mata memohon terlihat begitu jelas di mata pria paruh baya itu


" Ayah..jangan bicara seperti itu " ujar Yudha tulus, dia merasakan ada benda tak kasat mata menghujam jantungnya, menyisakan rasa sesak, saat melihat pak Bram saat ini

__ADS_1


" Berjanjilah Yudha, berjanjilah !"


" Iya, Yudha janji akan selalu menjaga Nara ayah, Yudha janji " ucap Yudha yakin


" Ayah percaya padamu " tutur Pak Bram sambil tersenyum melihat hujan


Sedangkan Yudha hanya diam, tiba-tiba rasa bersalah menghujam dadanya, rasa bersalah terhadap Pak Bram yang sudah berharap lebih padanya, rasa bersalah terhadap Nara karena telah menjadikan gadis itu orang ketiga dalam hubungannya bersama Lily, dan rasa bersalah terhadap Lily, karena kini dia menyadari bahwa kali ini dia sudah melibatkan hatinya dalam permainan ini, dan dia sudah sangat jatuh hati pada gadis kecil bernama Tanara Anggia.


hening


hening


hening


" Yud, bisakah kamu lihat Nara ke belakang ? dia lama sekali membersihkan dapur, jangan-jangan dia tidur !" ujar Bram membuyarkan lamunan Yudha


" Biar Yudha lihat yah !" ucap Yudha, langsung beranjak meninggalkan Pak Bram sendiri, lelaki paruh baya itu pun mengangguk sebagai tanda setuju, dan membiarkan Yudha berlalu dari hadapannya.


Yudha pun mengedarkan pandangannya, ke seluruh bagian dapur yang kini sudah terlihat bersih, berbeda dengan terakhir kali Yudha meninggalkan tempat itu. dapur yang sedikit kacau karena ulahnya dengan Nara tadi, kini sudah kembali rapih dan bersih seperti semula.


Lalu pandangannya terhenti di meja makan, Nara terlihat sedang tidur dengan menggunakan tangan sebagai bantalan, sepertinya gadis itu kelelahan.


Perlahan Yudha menghampiri Nara, perlahan dia menarik salah satu kursi yang berada tepat di samping Nara, lalu mendudukan tubuhnya di kursi tersebut, secara perlahan Yudha menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah Nara, kini dia bisa melihat wajah cantik kekasih kecilnya itu terlihat tenang dalam tidurnya, tanpa sadar terulas senyum di bibirnya.


" Aku akan selalu menjagamu Ra, sampai aku mati " Ujar Yudha tulus, dengan tangan mengelus lembut kepala Nara, membuat gadis itu makin terlelap dalam tidurnya " Aku sangat mencintaimu, Tanara Anggia " ujarnya lagi, tanpa sadar, rasa kantuk pun menyerang nya, tak butuh waktu lama dia pun ikut tertidur, dengan satu tangan jadi bantalan, dan tangan yang lainnya masih berada di atas kepala Nara.


Sementara itu, di luar Pak Bram mulai merasa bosan menunggu Nara dan Yudha datang menghampirinya.


Apa mereka sama-sama ketiduran ?


Akhirnya Pak Bram pun memutuskan untuk masuk, dan langsung menuju dapur, alangkah terkejutnya pak Bram, saat melihat kedua sejoli itu tertidur di meja makan, karena tak tega Pak Bram pun pergi ke kamarnya untuk membawa dua selimut tipis, untuk menyelimuti dua sejoli tersebut.


Pak Bram menyelimuti Nara terlebih dulu, setelah itu menyelimuti Yudha, ada rasa bahagia di hati lelaki itu saat melihat kebersamaan Yudha dan Nara.


Semoga kalian selalu bahagia, dan selalu bersama, hingga akhir. batin Bram tulus terlihat tetesan kristal meluncur membasahi pipinya. Dengan cepat dia menghapus air matanya, dan pergi meninggalkan dua orang yang tertidur itu menuju kamar, karena dia pun merasa ngantuk saat itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


Selamat membaca, semoga suka, jgn lupa vote, like, dan komennya ya, terimakasih


__ADS_2