Kali Kedua

Kali Kedua
JANE-KENALAN BARU


__ADS_3

Hari ini aku tergesa-gesa dalam segala hal, dari berangkat ke kantor hingga jam pulang kantor hampir tiba. Entah kenapa hari ini aku sangat sibuk, Grace sedang berada di kantor cabang untuk mengurus sesuatu. Aku bergegas merapikan beberapa dokumen terakhir sebelum pulang bekerja. Sepulang bekerja aku harus singgah ke pusat perbelanjaan, banyak yang harus ku beli hari ini.


Aku melajukan mobilku meninggalkan kantor menuju pusat perbelanjaan. Aku berjalan cepat dan masuk ke sebuah supermarket. Aku ingin membeli segala kebutuhan untuk kelangsungan hidupku yang sudah semakin menipis. Biasanya aku berbelanja bersama Grace, tapi Grace juga sangat sibuk dikantor cabang hari ini sehingga tidak bisa menemaniku.


Aku berjalan sendirian menyusuri mall yang sangat luas ini. Aku memasuki beberapa toko baju, namun tak ada yang menarik minatku. Aku kembali melihat-lihat pakaian-pakaian yang ada di etalase, sama saja tak menarik minatku. Aku menghembuskan nafasku kasar, ini gara-gara Grace tidak ikut. Biasanya Grace yang memberikan rekomendasi pakaian-pakaian yang cocok untukku.


Aku memutuskan untuk membeli bahan-bahan makanan terlebih dahulu, setelah kurasa cukup barulah aku membeli bahan perlengkapan yang lain. Aku membawa troli yang penuh ke kasir dan membayarnya. Aku berjalan pelan meninggalkan supermarket menuju parkiran mobil. Tanganku penuh dengan kantong belanja yang sangat banyak, beberapa kali aku berhenti sejenak karena barang-barang ini terasa berat.


Aku menyeret kakiku dengan pelan agar kantong-kantong belanja ini tidak jatuh dari tanganku. Lenganku terasa pegal, aku merutuki mall ini karena terlalu luas, dari supermarket ke parkiran terasa sangat jauh karena aku membawa banyak sekali barang. Aku menatap pintu keluar yang sudah terjangkau oleh mataku, sebentar lagi sampai ke tempat parkir.


Tiba-tiba aku tidak sengaja menabrak seseorang sehingga membuat barang belanjaanku dan barang belanjaannya jatuh berhamburan. Aku memukul-mukul dahiku dengan telapak tangan karena kecerobohan yang ku buat. Aku harus memungut dan merapikan kembali barang-barangku yang berjatuhan. Pria itu juga memunguti barang-barangnya dengan cepat.


"Maafkan aku." Aku menatap pria itu sekilas sambil memunguti barang-barangku.


"Tak apa, bukan salahmu." Dia juga terus memunguti barang-barangnya.


"Aku tergesa-gesa."


"Ya, lain kali berhati-hatilah." Dia tersenyum.


"Mmm." Aku mengangguk dan membalas senyumannya.


Akhirnya semuanya sudah rapi kembali, aku dan pria iti menenteng kembali belanjaan-belanjaan kami. Aku meminta maaf sekali lagi dan berpamitan padanya. Dia hanya mengangguk dan tersenyum ke arahku.


Aku kembali berjalan pelan menuju area parkir mobilku. Jarak yang sudah dekat terasa masih jauh, aku merutuki diriku kenapa aku tidak membawa troli saja sampai ke mobil tadi. Kenapa aku memilih untuk merepotkan diri sendiri. Nasi sudah menjadi bubur, tak ada gunanya aku menyesali kecerobohanku sendiri. Aku menertawakan diriku sendiri hingga akhirnya sampai di depan mobilku, aku mengelus-elus pelan dadaku karena merasa lega.


Aku menyusun-nyusun barang-barangku dengan rapi di bagasi, namun aku mendengar suara seseorang di belakangku. Aku menoleh ke arah sumber suara itu, ternyata pria yang ku tabrak tadi berjalan cepat menghampiriku. Dia terlihat melambai-lambaikan tangannya ke arahku.


"Nona, tunggu." Dia sudah berada di depanku.


"Ada apa?" Aku mengernyitkan kedua alisku.


"Ini sepertinya barangmu." Dia menyodorkan satu kantong belanja kepadaku.


"Barangku?"


"Ya, sepertinya tertukar dengan barangku." Pria itu menunjuk-nunjuk kantong belanja di bagasi mobilku yang masih terbuka.


"Benarkah?" Aku membuka isi kantong belanja yang diberikan oleh pria tersebut, benar saja ini barangku, wajahku seketika merona malu.


"Ya." Pria itu mengangguk.


"Oh, God. Maafkan aku." Aku menepuk-nepuk dahiku melihat isi kantong belanja itu.


"Benar milikmu bukan?"


"Ya." Aku mengangguk.

__ADS_1


"Aku merapikan kembali barangku, namun aku menemukannya. Aku tidak tahu apa itu tapi aku berpikir sepertinya milikmu."


"Ya, terima kasih." Aku bersyukur dia tidak mengetahui barang apa itu. Jika dia tahu, aku akan sangat malu. Dari sekian banyak barang, kenapa harus pembalut yang tertukar sih.


"Sama-sama." Pria itu mengangguk.


"Mmm, yang mana barangmu?" Aku menunjukkan kantong-kantong belanja dalam bagasi. Aku tak mengenalinya karena sangat banyak barang disitu.


"Ini dia!" Pria itu mengambil satu kantong belanja dan membuka isinya.


"Apa benar barangmu?" Aku ikut melongok kedalam kantong belanja.


"Ya." Dia mengangguk.


"Apakah isinya kemeja?"


"Ya." Dia mengangguk kembali.


"Baiklah, maafkan aku sudah membuatmu repot."


"Tidak apa-apa, ini bukan hanya salahmu." Dia tersenyum.


"Aku memang sering ceroboh." Aku terkekeh.


"Mungkin kau hanya kebanyakan muatan tadi." Pria itu terkekeh.


"Ternyata kau tidak selamat." Dia tertawa


"Ya." Aku mengangguk, tanpa sengaja aku memandangi wajahnya, sangat tampan.


"Siapa namamu?" Dia memandangi name tag yang lupa aku lepas.


"Ini." Aku mengangkat name tag dan memperlihatkannya pada pria itu.


"Jane?"


"Ya." Aku mengangguk.


"Hei, nama perusahaan di name tag dan pin mu berbeda." Dia tersenyum.


"Oh, ini? Ini pin dari kantor yang sedang bekerja sama dengan perusahaan kami." Aku menunjuk pin milik Date Group.


"Oh, kau bekerja di Eiregin Corp?"


"Ya, aku mengangguk."


"Tunggu dulu, bukankah perusahaan induknya berada di Singapura? Setahuku ada satu perusahaan cabangnya disini."

__ADS_1


"Kau ternyata mengetahuinya." Aku terkekeh.


"Ya, perusahaan itu sangat terkenal."


"Benarkah?"


"Tentu saja, apa kau bekerja di kantor cabang disini?." Pria itu tersenyum manis.


"Tidak." Aku menggeleng.


"Jadi?"


"Aku bekerja di Singapura." Aku tersenyum.


"Wah, kau sangat hebat." Dia bertepuk tangan kecil.


"Hei, kenapa kau bertepuk tangan seperti itu?" Aku terkekeh.


"Karena kau hebat." Dia tertawa.


"Biasa saja." Aku tersenyum.


"Apa kau baru saja merendahkan diri?" Dia kembali terkekeh.


"Tidak, haruskah aku meninggikan diri agar setara tiang listrik?" Aku terkekeh.


"Hei, bukan itu yang ku maksud." Pria itu tertawa.


"Ku kira begitu." Aku ikut tertawa.


"Jane, lihat hari sudah mulai gelap. Sebaiknya kau segera pulang." Pria itu memanggil namaku untuk pertama kali.


"Ya, aku harus segera pergi." Aku mengangguk dan menutup pintu bagasi.


"Baiklah." Dia tersenyum.


"Terima kasih."


"Ya."


Aku masuk kedalam mobilku, bersiap untuk meninggalkan tempat itu. Pria itu terlihat masih berdiri ditempatnya melambaikan tangannya seakan kami sudah sangat akrab, padahal baru pertama kali bertemu. Mobilku berjalan pelan, namun aku merasa ada sesuatu yang terlupa. Aku menghentikan mobilku dan membuka kaca jendela. Aku menyembulkan kepalaku, aku melihatnya masih berada disana.


"Hei, siapa namamu?" Aku berteriak kepada pria itu.


"Andres." Dia balas berteriak dan tersenyum.


Aku melambaikan tangan dan kembali melajukan mobilku. Hari sudah semakin gelap aku ingin segera sampai ke apartemen. Aku ingin berendam air hangat dan segera istirahat.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2