
Seorang pria berjalan memasuki kantor Date Group. Pria muda itu terlihat tampan dan penuh wibawa, karyawan kantor langsung memberikan hormat saat berpapasan dengannya. Dia berjalan pelan menuju sebuah ruangan diikuti oleh seorang asistennya. Pria itu mengetuk pintu dan langsung masuk ke ruangan, si empu ruangan bukannya menyambut dengan hormat, tetapi langsung menoleh dan menghardiknya
"Hei, kenapa kau masuk seenaknya keruanganku."
"Aku sudah mengetuk pintu, apa kau tidak mendengarnya hah?"
"Benarkah? Aku tidak mendengarnya."
"Apa sekarang kau tuli, Ken?" Pria itu terkekeh.
"Kurang ajar."
"Mengumpatlah sesukamu." Pria itu hanya tertawa.
"Apa yang kau lakukan di jam kerja begini? Apa kau tidak punya kerjaan, hah?"
"Aku hanya ingin mengunjungimu dan Bos besarmu." Dia terkekeh.
"Aku tak perlu kunjunganmu, tahu." Ken mendengus.
"Apa benar begitu, Ken?" Pria itu mendekati Ken dan merangkul bahunya.
"Huh, menjauh dariku."
"Bukankah kau merindukanku?" Pria itu tertawa.
"Kubilang menjauh, aku geli kau rangkul begitu." Ken berusaha melepaskan tangan pria itu.
Pria itu hanya tertawa melihat tingkah Ken, dia melepaskan rangkulannya dan berjalan menuju sofa. Dia menghempaskan tubuhnya di sofa empuk ruangan Ken. Dia menatap kembali ke arah Ken yang sekarang sibuk memandangi layar tabletnya.
"Ken, kau ingat perjanjian kita beberapa tahun lalu?"
"Perjanjian apa?"
"Dasar pikun."
"Hei, kau mengataiku pikun?"
"Ya, apa lagi?"
"Cih, aku tidak pikun."
"Jadi, apa kau mengingatnya sekarang."
"Ya." Ken mengangguk dengan kesal.
"Apa kau sudah mendapatkan kekasih sekarang?"
"Sebentar lagi."
"Wah, kau mulai bergerak rupanya."
"Bagaimana denganmu?" Ken menatap pria itu.
"Sepertinya aku baru saja menemukan gadis impianku." Dia tersenyum.
"Benarkah?" Ken melongo.
"Ya, itulah alasanku datang kesini."
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Sepertinya gadis itu berada di kantor ini."
"Apa? Apa kau menyukai seseorang di kantor ini?" Ken terlihat terkejut.
"Mungkin." Pria itu terkekeh.
"Hei, cepat beritahu aku, siapa gadis itu?" Ken sangat penasaran.
"Nanti kau akan tahu sendiri." Pria itu terkekeh dan beranjak dari duduknya keluar dari ruangan Ken.
"Hei, hei, Andres kurang ajar. Kau membuatku penasaran." Ken berjalan cepat menyusul Andres yang sudah masuk ke ruangan Dafa.
Dafa terkejut melihat orang-orang penting di hidupnya tiba-tiba berkumpul di ruangannya. Dia menghentikan aktivitasnya dan memandang bingung ke arah dua pria dewasa yang terlihat kekanakan itu. Baru kali ini setelah beberapa bulan berlalu mereka berkumpul kembali.
"Hei, Andres, kau belum memberitahuku." Ken terlihat sewot.
"Apa?" Andres pura-pura tidak tahu.
"Andres sialan." Ken kembali mengumpat.
"Hei, hal apa yang sedang kalian perdebatkan itu?" Dafa mulai membuka mulutnya.
"Dia membuat suasana hatiku buruk." Ken menunjuk ke arah Andres.
"Andres, apa yang kau lakukan disini?"
"Aku hanya ingin mengunjungi kalian." Andres tersenyum lebar.
"Bohong, kau tahu Daf? Dia sedang ingin mengencani gadis di kantor ini." Ken langsung menyela.
"Hei, aku tidak bilang begitu." Andres membalas Ken.
"Sudah, sudah, kenapa kalian selalu bertengkar hah?" Dafa menatap dua orang konyol di depannya.
"Huh." Ken mendengus dan hanya di sambut Andres dengan tawa.
"Jadi, benarkah apa yang dikatakan Ken, Dres?"
"Aku hanya mengatakan menyukai seorang gadis yang bekerja disini, bukan ingin mengencaninya seperti kata Ken."
"Kau menyukainya, kau pasti ingin mengencaninya bukan." Ken menatap Andres.
"Ya, itukan nanti." Andres terkekeh.
"Sama saja." Ken mendengus.
"Ken, biarkan saja dia menyukai seseorang. Apa masalahmu dengan itu?" Dafa menatap Ken.
"Aku hanya penasaran, dia tidak memberitahuku tentang siapa gadis itu." Ken terlihat kesal.
"Itu urusannya, Ken. Untuk apa kau penasaran tentang hubungan percintaan Andres?"
"Ya, apa kau iri denganku, Ken?" Andres terbahak.
"Tentu saja tidak." Ken mendengus.
"Cukup, sudah waktunya istirahat makan siang. Ayo kita makan bersama di resto Adel." Andres dan Ken hanya mengangguk.
"Ken ajak Grace dan asistennya juga."
"Baiklah." Ken menghubungi seseorang dan berbicara banyak di telepon, tidak lama dia menutupnya.
__ADS_1
"Bagaimana?" Dafa menatap Ken.
"Mereka setuju."
"Siapa mereka?" Andres bertanya
"Rekan bisnis." Ken menjawab singkat.
"Oh." Andres hanya mengangguk.
Mereka berjalan menuju ruangan Grace, Ken mengetuk pintu ruangan Grace. Grace muncul dengan senyuman manisnya, Andres melongo melihatnya. Ken menepuk bahu Andres agar kesadarannya kembali. Andres terlihat bingung namun dia berusaha menyembunyikannya.
"Grace, ini Andres." Ken mengenalkan Andres dengan Grace.
"Grace." Grace mengulurkan tangannya.
"Andres." Andres menjabat tangan Grace sambil terus menatap wajah Grace.
"Dres, jangan lama-lama jika berjabat tangan." Dafa menyahut.
"Oh, maaf." Andres melepaskan jabatannya dengan pelan.
"Tidak apa-apa." Grace tersenyum.
"Andres adalah pimpinan di kantor cabang Date Group." Ken menjelaskan.
"Oh, senang bertemu dengan anda." Grace tersenyum
"Ya, aku juga." Andres membalas senyum Grace. Dafa hanya memperhatikan percakapan mereka dengan wajah sedikit kesal.
"Dimana Jane?" Ken bertanya pada Grace.
"Jane?" Andres bertanya, nama itu yang sedang berada di otaknya saat ini.
"Dia asistenku, sepertinya masih berada diruangannya." Grace menunjuk ruangan Jane di sebelah ruangannya.
Ceklek, pintu ruangan Jane terbuka. Gadis itu keluar dari ruangannya dengan raut wajh terkejut karena sudah banyak orang yang berkumpul di depan ruangan Grace. Orang-orang itu sedang menatapnya sekarang. Yang lebih membuatnya bingung, dia melihat seseorang yang baru ditemuinya beberapa hari kemarin. Jane berjalan pelan menghampiri kumpulan orang-orang itu.
"Jane?" Andres langsung membuka mulutnya dan tersenyum menatap Jane.
"Andres?" Jane membalas senyumannya.
"Hei, sejak kapan kalian saling mengenal?" Ken terlihat bingung.
"Kami bertemu beberapa hari yang lalu." Andres menjawab.
"Apa?" Ken terlihat terkejut.
"Kenapa?" Andres tersenyum menggoda Ken.
"Tidak apa." Ken berusaha menyembunyikan rasa dongkolnya terhadap Andres.
"Ayo kita berangkat." Dafa mengajak semua orang untuk mengakhiri berdebatan dan segera pergi menuju resto Adel.
Mereka pergi menggunakan dua mobil, Grace dan Jane menumpang di mobil Dafa. Sedangkan Andres memakai mobil sendiri bersama asistennya karena Andres akan segera kembali ke kantor cabang setelah makan siang berakhir. Mereka mengendarai mobil beriringan menuju ke tempat makan siang.
Ken tidak banyak bicara selama perjalanan, otaknya sedang berpikir dan menebak-nebak. Apakah gadis yang disukai oleh Andres adalah Jane? Ken mempunyai firasat bahwa gadis itu benar-benar Jane. Selama ini Andres tidak pernah beramah-tamah ria dengan gadis manapun. Andres selalu terlihat dingin dengan gadis manapun, namun kali ini berbeda. Andres tersenyum cerah saat bertemu dengan Jane. Entah kenapa Ken terus memikirkan hal itu sehingga membuat kepalanya sedikit berdenyut.
Tidak lama mereka telah sampai di resto besar berlantai dua. Mereka memasuki resto dan duduk berkumpul bersama di sebuah meja besar. Grace tidak berhenti mengagumi resto ini sejak pertama kali kesini. Ini adalah kali kedua dia diajak mengunjungi resto tersebut.
...****************...
__ADS_1