Kali Kedua

Kali Kedua
KEN-MISI MEMPERJUANGKAN PERASAAN (3)


__ADS_3

"Ayo kembali ke dalam gedung." Ayah Jane mengajak kami untuk kembali ke dalam. Kami semua berjalan mengikutinya.


Kali ini aku tidak lagi duduk sendirian, aku duduk satu meja bersama keluarga Jane. Keluarga ini terlihat hangat, mereka bahkan tidak mengabaikanku sama sekali. Aku seperti diterima di keluarga ini walaupun sebenarnya aku bukan kekasih Jane sungguhan. Mereka mengajakku berbicara dengan santai sehingga aku merasa nyaman berkumpul dengan mereka.


Acara pernikahan masih berlangsung, suasana masih sangat ramai. Jane meminta izin kepada keluarganya untuk keluar dari gedung sebentar, tentu saja dengan mengajakku. Jane membawaku ke taman tempat aku menelepon Jane tadi, kami duduk di salah satu kursi disana.


"Kenapa kau mengajakku keluar, Jane?"


"Di dalam sangat ramai." Jane terkekeh.


"Hanya itu?"


"Tentu saja tidak, aku hanya ingin berbicara denganmu." Jane tersenyum ke arahku, aku merasa tersipu-sipu menerima senyumannya.


"Apa yang ingin kau bicarakan?"


Jane terdiam sebentar, dia tidak menjawab pertanyaanku. Matanya memandang ke langit, aku mengikuti arah pandangannya. Begitu banyak bintang malam ini, takkan bisa terhitung jumlahnya. Jane terlihat menarik napasnya pelan dan tersenyum ke arahku.


"Ken?"


"Ya?"


"Bagaimana bisa kau berada disini?"


"Aku menyusulmu."


"Kenapa?"


"Aku mengkhawatirkanmu, aku yang memberi saran agar kau menghadiri pesta pernikahan Liam, ternyata aku sangat khawatir dengan keadaanmu." Sebenarnya aku juga merindukannya.


"Terima kasih Ken, kau selalu mengkhawatirkan aku." Jane tersenyum.


"Ya, maaf aku sudah mengatakan kepada semua orang bahwa aku kekasihmu."


"Tak apa, kau sudah membelaku tadi."


"Apa keluargamu tidak apa-apa? Apa ayahmu galak Jane?"


"Ken, ayahku sangat galak." Jane tertawa.


"Sungguh?"


"Ya, kau tahu tadi dia hampir memakanmu?"


"Benarkah? Aku tidak tahu, haruskah aku pergi sekarang agar tidak bertemu ayahmu lagi?" Aku merasa sedikit takut.


"Tidak perlu, aku hanya bercanda." Jane tertawa.


"Kau sungguh bercanda?"


"Ya." Jane mengangguk masih sambil tertawa.


"Untunglah." Aku mengelus dadaku..


"Ken, akhirnya kau menyaksikan drama percintaanku yang rumit." Jane terkekeh.


"Ya, bagaimana perasaanmu sekarang?"


"Aku baik-baik saja."


"Jane, kuharap kau selalu bahagia." Aku menatap wajah cantik Jane.


"Aku juga berharap begitu untukmu." Jane balas menatapku.


"Hmmm, sebaiknya kita kembali kedalam." Aku mengajak Jane, takut orang tuanya mengira aku menculik anak mereka.


"Baiklah." Jane mengangguk.


Aku dan Jane berjalan kembali memasuki gedung, kami berjalan pelan menuju meja. Jane tiba-tiba menggenggam pergelangan tanganku dan menghentikan langkahnya, refleks aku juga menghentikan langkahku. Jane menyuruhku untuk melihat ke arah meja yang ditempati kedua orang tuanya, hanya berjarak beberapa meter lagi dari tempat kami berdiri.

__ADS_1


Aku melihat kedua orang tua Liam disana, mereka berdiri membelakangi kami. Kelihatannya mereka berbicara banyak kepada kedua orang tua Jane. Jane menyuruhku untuk diam dan mendengarkan percakapan mereka. Aku menajamkan pendengaranku agar bisa mendengar jelas diantara suara-suara bising yang memenuhi ruangan.


"Tuan Austin, maafkan atas kekacauan yang tuan saksikan tadi." Ibu Liam berbicara dengan sangat lembut.


"Ya tuan, keributan tadi terjadi begitu saja." Ayah Liam menimpali.


"Hmmm, kalian tidak perlu minta maaf kepadaku. Minta maaflah pada gadis yang tadi kalian sebut ******." Austin tersenyum tipis.


"Maksud tuan?" Kedua orang tua Liam terlihat bingung.


"Jane, kemarilah." Ayah Jane menatap ke arah kami.


Jane berjalan menghampiri mereka, aku mengikutinya di belakang. Jane berdiri di samping ayahnya, aku tentu saja berdiri di samping Jane. Kedua orang tua Liam semakin heran dengan apa yang mereka lihat.


"Gadis ini?" Ibu Liam menunjuk Jane.


"Dia putriku, kau telah mengatakan hal yang sangat tidak pantas kepadanya tadi." Austin merangkul bahu Jane.


"Ba..bagaimana mungkin?" Kedua orang tua Liam jelas terlihat frustasi.


"Ya, sepertinya kalian memperlakukan putriku dengan buruk." Ibu Jane menimpali, dia menatap kedua orang tua Liam dengan tatapan tidak suka.


"Panggilkan Liam kesini." Austin berkata dengan tenang, sepertinya sikap Jane yang selalu tenang menurun dari ayahnya.


Kedua orang tua Liam menurut, mereka pergi meninggalkan kami beberapa saat dan kembali dengan membawa Liam. Wajah mereka semua berubah seperti takut dan khawatir. Aku mengulum senyum melihat raut wajah mereka, rasakan dasar para penjilat. Aku tanpa sadar memaki mereka dalam hati.


"Bagaimana Liam? Apa kau tidak ingin minta maaf kepada putriku?" Austin menatap Liam.


"Ma..maafkan aku Jane, maafkan aku tuan Austin." Liam menunduk, tidak berani menatap kearah kami.


"Ya tuan, maafkan kami yang telah menghina Jane, kami sungguh tidak tahu menahu bahwa Jane adalah putri tuan." Ibu Liam masih saja mencari alasan.


"Tanpa kalian minta maaf pun aku sudah memaafkan kalian." Jane berucap dengan sangat tenang, ah aku semakin mencintai gadis ini.


"Terima kasih." Kedua orang tua Liam berusaha memaksakan senyum.


"Ya, Jane." Liam menatap Jane dan mengangguk dengan terpaksa. Aku masih melihat cinta di mata Liam untuk Jane. Huh rasanya aku ingin mencolok kedua matanya.


"Kau dengar Liam? Jangan pernah mencoba untuk menganggu Jane lagi." Ayah Jane menatap tajam ke arah Liam.


"Ya, tuan." Liam kembali mengangguk.


"Baiklah, kembalilah kalian." Ayah Jane mengusir mereka semua. Mereka akhirnya pergi meninggalkan kami tentunya dengan segala kegundahan hati.


Kami akhirnya memutuskan untuk pulang. Aku, Jane dan keluarganya keluar dari gedung menuju tempat mobil diparkirkan. Aku mengantar mereka semua terlebih dahulu menuju menuju mobil mereka.


"Ken, apa kau ikut dengan kami?" Kakak Jane bertanya kepadaku.


"Tidak kakak ipar, aku membawa mobil sendiri."


"Oh, baiklah." Dia mengangguk dan mengajak kekasihnya masuk ke mobil.


"Mmm ayah mertua, bolehkah aku membawa Jane sebentar?" Aku memberanikan diri bertanya.


"Kemana?" Ayah Jane menatapku dengan tajam, mati aku.


"Jalan-jalan sebentar, aku berjanji akan mengembalikannya tanpa kurang suatu apapun." Entah apa yang kukatakan ini aku juga tidak paham.


"Bagaimana Jane? Apa kau mau ikut dengan pria ini?" Austin bertanya pada Jane.


"Ya, ayah." Jane mengangguk, aku bersorak dalam hati.


"Baiklah, siapa tadi namamu?" Ayah Jane menyipitkan matanya.


"Ken." Aku menjawab.


"Ya, Ken ingat! kembalikan anakku tanpa kurang suatu apapun seperti yang kau katakan tadi."


"Baik ayah mertua." Aku mengangguk-angguk.

__ADS_1


Akhirnya keluarga Jane pergi meninggalkan kami, aku mengajak Jane untuk menuju mobilku. Aku membawa Jane mengelilingi kota walaupun dia yang menunjukkan jalannya karena aku sama sekali tidak familiar dengan kota ini. Banyak hal yang kami lakukan hari ini, Jane bahkan mengajakku makan sate disini. Dia menepati janjinya untuk membawaku makan sate di negeri kelahirannya.


Malam telah tiba, tak terasa sudah seharian kami berjalan-jalan. Jane mengajakku untuk pergi ke mall, aku menurut saja. Kami berjalan-jalan disana, membeli beberapa pernak-pernik lucu yang Jane suka. Jane terlihat sangat senang saat melihat benda-benda kecil yang tersusun rapi di tempatnya. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.


"Ken, aku sangat suka ini, ini juga, wah ini juga." Jane terlihat membulatkan matanya yang terlihat berbinar-binar.


"Itu berarti kau suka semuanya." Aku terkekeh.


"Ya, hampir semuanya." Jane mengangguk.


Aku membiarkan Jane melakukan apa yang dia inginkan, dia terlihat sangat ceria hari ini. Aku hanya mengamati tingkahnya yang menggemaskan, terkadang dia menoleh ke arahku dan tersenyum. Aku tidak menyangka bisa bersamanya seperti ini, dengan menatapnya saja aku sudah sangat bahagia.


"Ken lihat ini! Ambillah, aku memberikannya untukmu." Jane memberikan aku sebuah gantungan kunci berbentuk bintang.


"Bintang?"


"Ya, aku juga membeli satu untukku." Dia menunjukkan miliknya.


"Ini menyala?" Aku menekan tombol yang ada pada benda itu dan benda itu seketika menyala.


"Ya, aku berharap kau selalu bersinar seperti bintang ini." Dia terkekeh.


"Aku memang selalu bersinar." Aku tertawa.


"Huh, membanggakan diri sendiri." Jane ikut tertawa.


"Jane, aku juga berharap kau selalu bersinar." Aku juga berharap dia menyinari hatiku.


"Ya, kita akan bersinar bersama-sama." Jane terkekeh, aku tersenyum karena kata-katanya.


"Baiklah, apa masih ada yang ingin kau cari? Malam sudah semakin larut, sebaiknya kita cepat pulang, aku takut dimarahi ayahmu." Aku terkekeh.


"Ya, ayahku akan benar-benar memakanmu nanti." Jane tertawa.


"Aku takut sekali." Aku memasang wajah pura-pura takut, Jane hanya tertawa melihatku.


"Baiklah, ayo kita pulang."


Aku dan Jane segera keluar dari mall tersebut menuju tempat parkir mobil. Kami segera meluncur menuju rumah Jane. Kami masih saja bercanda sepanjang perjalanan pulang, hari ini benar-benar menyenangkan. Tidak lama kami tiba dirumah Jane, aku menghentikan mobilku di depan rumahnya.


"Ken, apa kau ingin mampir?"


"Tidak, aku akan kembali ke hotel."


"Baiklah, hati-hati dijalan." Jane meraih handle pintu mobil.


"Jane?"


"Ya?" Jane menoleh ke arahku.


"Aku akan pulang besok, kau kapan kembali?" Aku menatapnya.


"Aku juga akan pulang besok." Dia tersenyum.


"Maukah pulang bersamaku?"


"Mau." Jane mengangguk dengan cepat.


"Baiklah, kita akan pulang bersama." Aku tersenyum menatapnya.


"Ya." Jane mengangguk dia kembali meraih handle pintu mobil


"Jane." Aku meraih jemarinya.


"Ya?" Jane kembali menoleh ke arahku.


"Jadi kekasihku ya!"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2