Kali Kedua

Kali Kedua
JANE-KELUARGA HANGAT


__ADS_3

Aku menginjakkan kaki kembali ke tempat ini tempat kelahiranku setelah beberapa bulan berlalu. Aku disambut hangat oleh kedua orang tuaku, mereka sepertinya sangat merindukanku sama halnya seperti aku merindukan mereka.


“Jane” Ibu memelukku.


“Ibu.” Aku membalas pelukannya.


“Kenapa kau baru pulang sekarang?”


“Banyak yang harus kukerjakan disana ibu.” Aku mencari alasan.


“Benarkah?” ayah mengernyitkan dahinya seakan tak percaya.


“Benar ayah.” Aku tersenyum.


“Apa jangan-jangan kau sibuk berpacaran disana?”


“Ya ampun ayah, anakmu ini masih sendiri saat ini, aku tidak punya kekasih.”


“Aku tak yakin.” Dia tertawa.


“Sudah, sudah. Nanti saja berdebatnya dilanjutkan.” Ibu menengahi


“Ayah yang mulai bu.” Aku tertawa, ayah tak menjawab lagi. Ayah adalah tipe suami yang takut istri, jadi apapun yang dikatakan ibu selama itu benar dia


tidak akan berani membantah.


“Baiklah, kau istirahat dulu.” Ibu menuntunku menuju kamar.


“Mana Darren?”


“Dia belum pulang, mungkin sebentar lagi.” Ibu tersenyum.


“Kemana dia?”


“Menjemput calon istrinya, dia akan membawanya makan malam dengan kita malam ini.” Ayah terkekeh.


“Apa? Kapan Darren akan menikah? Kenapa aku baru tahu sekarang?”


“Dia sengaja tidak memberitahukanmu, katanya ingin memberikanmu kejutan.” Ibu menjelaskan.


“Siapa gadis itu ibu?”

__ADS_1


“Nanti malam kau akan bertemu dengannya.” Ibu tersenyum.


“Baiklah.” Aku mengerucutkan bibirku karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.


“Istirahatlah dulu, keluarlah saat makan malam nanti.” Ibu mengusap bahuku.


“Mmm.” Aku mengangguk dan masuk ke kamarku.


Aku segera mandi dan beristirahat sebentar sambil menunggu waktu makan malam tiba. Aku sangat penasaran dengan sosok yang akan menjadi istri Darren. Kenapa aku baru tahu sekarang jika Darren akan segera menikah, pria itu sangat pintar menyembunyikannya dariku. Darren adalah kakakku satu-satunya, aku dan dia tak terlihat seperti saudara. Kami lebih banyak bertengkar daripada berdamai dan akur.


Dia terlihat tidak terlalu peduli pada kehidupanku, tapi sebenarnya aku tahu dia sangat menyayangiku. Aku tahu Darren lah yang selalu melindungiku saat Liam selalu mencariku waktu itu. Darren tahu semuanya tentangku tanpa kuberitahu sekalipun karena sebenarnya dia sangat peduli padaku. Darren selalu menjadi tameng untukku bahkan tanpa kuketahui.


Terakhir kali aku melihatnya adu pukul dengan Liam karena pria itu terus mencariku, aku tak mengatakan


bahwa aku melihat kejadian itu kepadanya. Dia juga tidak mengatakan bahwa dia telah memukul Liam hanya untuk melindungiku. Aku ingat saat itu dia hanya mengatakan bahwa dia berkelahi dengan temannya.


Aku tidak pernah menceritakan masalahku dengan Liam kepadanya, namun Darren benar-benar tahu entahlah mungkin saja dia belajar ilmu meramal. Malam ini aku akan bertemu dengan calon istrinya, aku sangat penasaran, wanita mana yang tertarik dengan sosok Darren yang selalu terlihat dingin dan tak pernah kulihat menggandeng seorang wanita selama ini.


Setengah jam lagi waktu makan malam, aku sudah tidak sabar menunggunya. Aku merasa uring-uringan karena tidak ada yang bisa kukerjakan selain menonton televisi. Rasa penasaran benar-benar menguasaiku saat ini, aku merutuki Darren yang telah menyembunyikan segalanya dariku. Aku akan mengutuknya saat bertemu dengannya nanti.


Akhirnya waktu makan malam telah tiba, aku keluar dari kamar dan masuk keruang makan. Ada ayah dan ibuku yang sudah duduk disana, belum ada tanda-tanda kehadiran Darren dan kekasihnya. Aku mengambil tempat duduk disamping ibu, ibu terlihat sedang berbincang dengan ayah yang duduk disampingnya.


“Apa Darren belum juga tiba?” Aku bertanya pada ibu.


“Kau terlihat tidak sabar Jane, apa kau sangat penasaran dengan calon kakak iparmu?” Ayah terkekeh.


“Tentu saja, bisa-bisanya dia menyembunyikannya dariku.” Aku memasang wajah kesal


Sesaat kemudian muncul dua orang yang ditunggu-tunggu. Darren terlihat tersenyum cerah sambil menggandeng seorang wanita cantik, dia berjalan pelan kearah kami. Wanita itu juga tersenyum walaupun terlihat sedikit agak canggung, namun tidak mengurangi kecantikannya. Aku terpana, bisa-bisanya Darren memikat gadis secantik itu, aku jadi semakin penasaran dengan kisah percintaannya.


“Hai, bocah tengil.” Darren duduk dikursi depanku, dia mempersilahkan kekasihnya duduk disampingnya.


“Huh.” Aku hanya mendengus.


“Hei, apa itu? Kenapa kau menunjukkan wajah kesal kepadaku?” Dia tertawa.


“Kau yang membuatku kesal terlebih dahulu.” Aku menatapnya.


“Aku membuatmu kesal? Aku bahkan belum melakukan apapun.” Dia semakin tertawa.


“Kenapa kau tidak mengatakan padaku bahwa kau akan menikah?”

__ADS_1


“Ini kejutan, Jane. Apa kau tidak ingin kejutan?”


“Tidak!”


“Sudah, jangan berdebat di meja makan.” Ibu menengahi.


“Ya, Apa kalian tidak malu bertengkar di depan Kaitlin?” Ayah menimpali.


Aku seketika menoleh pada wanita itu, dia tersenyum kepadaku dan aku membalas senyumannya. Aku hampir lupa dengan kehadirannya karena sibuk berdebat dengan Darren. Wanita cantik ini ternyata bernama Kaitlin, Nama yang cantik secantik orangnya.


“Jane, ini Kaitlin, calon istriku.” Darren merangkul bahu gadis itu.


“Ya.” Aku mengangguk-angguk.


“Kau bisa memanggilnya Kai.” Darren tersenyum cerah, dia terlihat sangat bahagia, wanita itu juga terus tersenyum.


“Kakak ipar, namaku Jane.” Aku tersenyum kepadanya.


“Ya Jane, senang bertemu denganmu.” Suaranya sangat lembut.


“Oh ya kakak ipar, sejak kapan kalian berhubungan?" Aku yang merasa kepo langsung ceplas ceplos.


“Mmm, sudah sekitar 2 tahun.” Dia tersenyum.


“Apa? Hei Darren, kenapa kau menyembunyikan kakak ipar dariku selama itu?” Aku melotot ke arah Darren.


“Tenanglah, Jane. Sudah kukatakan ini kejutan.” Dia hanya tertawa.


“Ayah, ibu, apakah kalian tahu hubungan mereka selama ini?” Aku berpaling menatap ayah dan ibuku.


“Ya.” Mereka menjawab bersama-sama.


“Kenapa kalian jahat sekali kepadaku?” Aku memasang wajah menyedihkan.


“Sudahlah, Jane. Sekarang kau sudah bertemu dengan Kai.” Ibu tersenyum mengusap bahuku.


“Ya, ayo kita makan malam terlebih dahulu.” Ayah menimpali, dia sepertinya sudah lapar.


Aku tak menjawab lagi, kami memulai makan malam dengan tenang. Makan malam kali ini terasa sangat menyenangkan bagiku. Sudah beberapa bulan aku makan malam sendirian walau beberapa kali aku makan bersama Grace atau bersama Ken. Aku merindukan makan malam bersama keluarga seperti ini, sekarang anggota keluargaku akan bertambah satu lagi, calon istri Darren.


Selesai makan malam kami berkumpul di ruang keluarga sambil berbincang hangat. Kai ternyata sudah sangat dekat dengan kedua orang tuaku, dalam sekejap aku dan dia juga sudah akrab. Menurutku Kai gadis yang sangat lembut dalam segala hal, bukan hanya cara bicaranya tapi juga gaya tubuh dan pembawaannya. Dia pandai membawa diri dan menyesuaikan keadaan, aku bahkan sangat senang berbicara dengannya.

__ADS_1


Malam sudah semakin larut, semua orang sudah mulai mengantuk. Ayah dan ibu memutuskan untuk tidur, Darren mengantar Kai ke kamar tamu, dia akan menginap disini malam ini. Aku beranjak dari ruang keluarga menuju kolam renang, aku duduk di tepi kolam renang, tempat favoritku dirumah ini. Aku menatap lampu-lampu temaram yang ada disana, aku sangat merindukan rumah ini.


...****************...


__ADS_2