
Seminggu berlalu, tidak ada yang berubah dirumah ini kecuali ketidakhadiran ibu. Ayah menjalani hari-harinya seperti biasa, pergi bekerja lalu pulang kerumah. Begitu siklus kehidupannya, terkadang kami mengobrol sebentar saat makan malam. Dia benar-benar berusaha untuk selalu tegar walau aku tahu bagaimana perasaannya saat ini.
Setelah perpisahan dengan ibu, wajahnya tidak seceria dulu walaupun dia selalu berusaha menyembunyikannya di depanku. Ibu tidak pulang, dia tinggal di butik hingga selama proses perceraian. Hanya sekali dia kesini mengambil beberapa barang penting miliknya, itupun saat ayah sudah pergi bekerja.
Mereka sudah seperti orang asing, mereka tidak lagi saling bertemu kecuali di persidangan, itupun tak saling menyapa. Setelah persidangan terakhir berakhir, mereka resmi bercerai. Ayah terlihat ingin menyapa ibu, mungkin untuk mengucapkan kata perpisahan yang terakhir, tapi ibu terlebih dahulu menghindar sehingga membuat ayah mengurungkan niatnya. Hingga akhirnya tak sekalipun mereka berbicara sampai saat ini.
Aku mengetuk pintu ruang kerja ayah, dia menyahut dari dalam dan mempersilahkan aku masuk. Dia terlihat sibuk dengan pekerjaannya saat itu, dokumen-dokumen bertumpuk di mejanya. Aku duduk di sofa dan memandanginya yang sedang bekerja.
"Ada apa, Dafa?" Dia menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arahku.
"Ayah, aku sudah memutuskan."
"Ya, apa keputusanmu, Dafa?"
"Aku tidak akan ikut kalian berdua."
"Jadi?"
"Aku ingin tinggal disini saja."
"Benarkah? Apa kau tidak apa-apa sendirian?" Ayah menatapku.
"Ayah, aku bukan anak kecil lagi." Aku terkekeh walaupun aku merasa sedih.
"Dafa, apapun keputusanmu ayah tidak akan memaksakan apa-apa." Dia tersenyum.
"Mmm, bagaimana dengan ayah? apa ayah tidak ingin tetap berada disini?" Aku masih sedikit berharap ayah memilih untuk tetap tinggal.
"Dafa, seandainya tidak ada kenangan apapun disini, ayah dengan senang hati akan tetap tinggal." Wajahnya terlihat sendu kembali.
"Ya, aku mengerti." Aku mengangguk.
"Terlepas dari segala yang terjadi, perasaan ayah tak berubah sedikitpun kepada ibumu. Itulah yang membuat segalanya terasa berat buat ayah."
"Ayah."
"Hanya dengan pergi ayah bisa sedikit melupakan apa yang telah terangkai dengan ibumu." Ayah menyandarkan tubuhnya ke kursi kerjanya. Matanya menatap langit-langit ruangan.
"Baiklah, ayah. Lakukanlah hal yang bisa membuat ayah bahagia kembali."
__ADS_1
"Maafkan ayah harus meninggalkanmu, Dafa."
"Tak apa, ayah."
"Ayah akan menyerahkan salah satu anak perusahaan ayah disini untuk kau urus."
"Benarkah?"
"Ya, siapkan dirimu, selesaikan kuliahmu dengan baik. Jika kau berhasil mengelola anak perusahaan itu, kau akan mendapatkan perusahaan induk dikota ini."
"Apakah aku pantas?"
"Kau sangat pantas, selama ini kau tidak pernah mengecewakan ayah. Ayah percaya padamu."
"Terima kasih, ayah. Aku akan berusaha dan melakukan yang terbaik."
"Bagus, jadilah anak yang kuat. Kau anak ayah satu-satunya, hanya kau lah harapan ayah."
"Baik ayah, lalu bagaimana dengan ayah?"
"Ayah akan mengurus perusahaan induk di Thailand."
"Ya, ayah akan melakukannya, kau juga harus sering-sering mengunjungi ayah." Dia terkekeh.
"Tentu."
"Kabari jika kuliahmu selesai, Dafa. Saat kau di wisuda ayah pasti akan datang."
"Apa ayah akan berjanji?"
"Ya." Dia mengangguk.
Aku mengobrol banyak dengan ayah malam itu, dia benar-benar sosok yang sangat kuat dan bertanggung jawab. Kali ini aku mengetahui segala hal tentangnya yang selama ini selalu di sembunyikannya terhadapku. Pria ini selalu berusaha yang terbaik untukku dan ibu walaupun semuanya harus berakhir dengan menyedihkan. Hari ini aku menyadari dengan sepenuhnya bahwa dia adalah sosok ayah sempurna untukku.
Setengah bulan berlalu sejak perceraian itu, ayah sudah berangkat ke Thailand. Aku melepas kepergiannya dengan berat, akhirnya orang yang selalu kulihat setiap hari satu-persatu meninggalkanku. Aku sudah pernah merasakan kehilangan sebelumnya, Ken yang sudah ku anggap saudara harus pergi jauh meninggalkaku. Sekarang ayah dan ibuku juga pergi meninggalkanku, haruskah aku sendirian secepat ini?
Dua hari setelah kepergian ayah ke negara asalnya, aku mengunjungi ibu ke butik miliknya. Aku melihat pria yang di cintainya juga berada disana, mereka sedang berkemas karena ibu akan segera kembali ke pulau XX, tempat tinggal asal ibu dan juga pria itu. Aku berusaha menerima semuanya walau sangat berat, aku melihat ibu sangat bahagia dengan pria itu. Aku mulai membuka hati menerima kenyataan, bagaimanapun aku ingin ibu bahagia.
Namun hal yang sangat menyakitkan terjadi, ibu dan pria itu mengalami kecelakaan saat menuju bandara. Mereka sempat di larikan kerumah sakit, namun nyawa mereka tidak tertolong. Aku yang tidak pernah meneteskan air mata untuk hal apapun seketika jatuh lunglai, air mataku tumpah begitu saja mendengar kabar itu. Aku berlari cepat di koridor rumah sakit, aku beberapa kali terjatuh karena menginjak lantai yang basah tapi aku sama sekali tidak peduli. Aku ingin bertemu dengan ibu.
__ADS_1
Aku melihat ibu terbaring kaku, sempat aku berpikir ini semua mimpi. Tapi ini sangat jelas kenyataan, yang terbaring di depan mataku benar-benar ibu. Aku tidak bisa menahan perasaanku, aku menangis tanpa tahu malu, aku merasa tak bisa kehilangannya secepat ini.
Andres berhasil menenangkanku, Andres adalah keponakan Brian yang ditugaskan membantuku mengurus perusahaan oleh ayah. Setelah merasa sedikit tenang aku segera menghubungi ayah, ayah sangat terkejut dengan kabar yang ku sampaikan. Ayah bersedia terbang kesini untuk melihat ibu terakhir kali.
Ayah telah berada disampingku dalam waktu kurang dari 24 jam, dia membantu pemakaman ibu hingga selesai. Ibu dimakamkan di kota tempat tinggal kami, sedangkan kekasihnya dipulangkan untuk dimakamkan di tempat asalnya di pulau XX. Di pulau XX sudah tidak ada lagi keluarga dekat kami, kakek dan nenekku sudah lama meninggal. Sedangkan saudara dari ibuku juga tidak lagi tinggal disana sehingga ayah dan aku memutuskan pemakaman ibu di sini saja. Hal itu juga memudahkan aku untuk mengunjungi makamnya.
Setelah pemakaman selesai ayah tak langsung pulang, dia berada sangat lama di makam ibu. Hari sudah sangat sore, aku mengajaknya untuk pulang. Dengan berat dia beranjak meninggalkan makam ibu. Tak ada percakapan apapun selama di perjalanan pulang. Aku dan ayah larut dalam duka yang sama sekali tidak kami sangka. Aku dan ayah terus diam hingga tak terasa kami sudah sampai dirumah.
Suasana makan malam saat ini sangat berbeda dengan biasanya. Aku dan ayah masih terus diam, aku melihat makanan ayah hampir tak tersentuh sama sekali, sepertinya dia kehilangan selera makannya. Ayah seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya. Akupun sebenarnya juga kehilangan selera makanku, tapi bagaimanapun aku harus tetap mengisi energi dalam tubuhku, jadi aku memaksakan untuk menghabiskan makananku.
"Dafa." Akhirnya ayah membuka mulutnya.
"Ya?" Aku menatap wajahnya yang terlihat lelah, matanya sayu dan terlihat sembab.
"Apakah ini kesalahan ayah?" dia bertanya padaku.
"Tidak ayah, kau tidak bersalah." Kali ini ayah tak berhasil menyembunyikan kerapuhannya.
"Dafa, ayah merasa menyesali semuanya, jika ayah tak melepaskan ibumu, mungkin ini tidak akan terjadi."
"Ayah, kau tidak bersalah, ibu yang sudah memilih jalan untuk kebahagiaannya sendiri."
"Aku berharap dia bahagia setelah tidak bersamaku lagi, tapi yang terjadi adalah sebaliknya."
"Ibu sudah bahagia disana ayah, semuanya bukan salah ayah, bukan salah siapapun. Ini sudah ketentuan dari Tuhan."
"Dafa, aku lebih memilih melihatnya pergi bersama dengan pria itu daripada melihatnya pergi dengan cara seperti ini. Seharusnya ayah tak melepaskan ibumu."
"Ayah, kita tidak bisa mengulang apa yang telah terjadi."
"Ini salah ayah, Dafa." Ayah memegang pelipisnya.
"Ikhlaskan ibu, ayah. Ibu sudah tenang disana. berjanjilah agar tidak membenci siapapun termasuk diri ayah sendiri." Aku berucap padanya seperti dia mengucapkan kata agar aku tak membenci siapapun saat itu.
Akhirnya aku dan ayah beristirahat walaupun aku hampir tidak bisa tidur semalaman. Aku sebenarnya tak kalah sedih dibanding ayah, namun aku berusaha kuat agar kami tidak sama-sama terpuruk. Salah satu diantara kami harus menjadi penyemangat untuk yang lainnya walaupun sangat sulit untuk berpura-pura tegar.
Ayah tidak segera pulang ke negaranya, setiap hari dia mengunjungi ke makam ibu selama seminggu. Ayah membawakan karangan bunga dan menaruhnya setiap hari di makam ibu. Aku menatap wajah sendunya setiap pulang kerumah, dia seakan tak bisa melupakan ibu sama sekali. Sebesar itukah cinta ayah pada ibu walaupun tak berbalas?
Ayah akhirnya harus pulang ke negaranya, dia sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaannya disana. Ayah seakan tak rela meninggalkan ibu, dia berpesan padaku untuk selalu menaruh karangan bunga di makam ibu. Aku mengantar ayah ke bandara, aku melambai padanya. Sekarang hanya ayah yang tersisa, rasa sedih kembali menghinggapi hatiku. Andres di sampingku mengusap-usap bahuku seakan mengerti kesedihanku, dia mengajakku untuk segera pulang.
__ADS_1
...****************...