
Hari ini adalah hari yang melelahkan bagi Grace dan Jane karena mereka harus menyelesaikan beberapa laporan proyek yang menumpuk. Mereka memanfaatkan istirahat makan siang untuk meregangkan tubuh mereka sebentar. Grace dan Jane memilih bersantai di sebuah kafe sambil menikmati makan siang. Mereka menyantap hidangan sambil bercerita banyak hal, terkadang mereka tertawa kecil karena hal-hal lucu yang mereka bicarakan.
Grace dan Jane tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang mengawasi mereka. Laura terus mengawasi kedua gadis itu terutama Grace, dia ingin tahu siapa Grace sebenarnya. Laura memutuskan untuk menghampiri mereka, dia sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Hai." Laura menyapa Grace dan Jane dengan senyuman lebar sedikit dipaksakan.
Grace dan Jane terlihat bingung, Grace mengenali wanita ini sedangkan Jane tidak mengenalnya sama sekali. Laura tanpa permisi duduk di kursi samping Jane, dia menatap wajah Grace yang duduk diseberangnya. Grace kembali memasang wajahnya senormal mungkin, sedangkan Jane melongo, mulutnya sedikit terbuka menatap wanita yang duduk disampingnya tanpa tahu malu.
Wanita ini lagi, siapa sebenarnya dia?. Grace
"Apakah aku boleh duduk disini?" Wanita itu berkata kembali memecah keheningan diantara mereka.
"Kau sudah duduk disitu tanpa permisi tahu, kenapa bertanya lagi?." Jane berkata sambil mengunyah kentang gorengnya, wajahnya terlihat kesal.
"Kursi ini kosong, jadi tidak apakan?" Laura kembali memaksakan senyumnya tanpa memedulikan sindiran Jane.
"Terserahmu saja." Wajah Jane semakin kesal, wanita sok kenal ini membuat moodnya menjadi sedikit buruk.
"Oh ya, kau, siapa namamu? Kita pernah bertemu sebelumnya tapi aku tidak sempat menanyakan siapa namamu." Laura menunjuk-nunjuk ke arah Grace.
"Namaku Grace." Grace menjawab singkat.
"Grace apa kau mengenalnya?" Jane menunjuk hidung Laura dengan jari telunjuknya yang berlepotan saus, sangat dekat hingga Laura menjauhkan wajahnya dari Jane sambil memasang ekspresi jijik. Grace hanya mengulum senyum melihat tingkah Jane.
"Tidak, tapi aku pernah bertemu dengannya di kantor beberapa waktu yang lalu." Grace menjelaskan. Jane mengangguk-angguk tanda mengerti.
"Hmm, Grace apa hubunganmu dengan Dafa?" Laura langsung menanyakan tanpa basa basi.
Grace sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu dari mulut Laura. Tapi Grace menyembunyikan rasa terkejutnya, dia lebih memilih tetap memasang wajah tenang di hadapan Laura.
Sepertinya benar kata Ken, wanita ini benar-benar pengagum Dafa, lebih baik aku mengerjainya. Grace terkekeh dalam hati.
"Hmmm, aku teman dekatnya, sepertinya sebentar lagi kami akan menjadi sepasang kekasih." Grace tersenyum kepada Laura.
Jane membeku menatap Grace, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Grace. Grace yang mengerti akan kebingungan Jane menggerakkan bola matanya memberi isyarat bahwa sebenarnya yang dikatakannya tidak benar. Jane tidak mengerti tapi dia memilih untuk diam saja mendengarkan percakapan Grace dan Laura.
"A..apa? Sejak kapan kalian berhubungan?" Wajah Laura terlihat sangat kesal, Grace sangat senang melihatnya.
"Hmm, entahlah sejak kapan, tapi dia terlihat benar-benar menyukaiku, dia selalu memperhatikanku dan memperlakukanku seperti ratu." Grace tersenyum puas. Laura terlihat semakin geram.
__ADS_1
"Benarkah? apa kau tidak mengada-ada? Laura menatap tajam Grace.
"Buat apa aku mengada-ada?" Grace terus tersenyum.
"Sialan." Laura mengumpat pelan, namun Jane mendengarnya.
"Apa tadi kau bilang?" Jane menyorot mata Laura.
"Apa?" Laura balas menatap Jane.
"Tadi kau bilang apa? apa kau mengatakan sialan? siapa yang sialan?" Jane menyipit.
"Tidak." Laura menampik tuduhan Jane.
"Lalu kau siapa? kenapa kau begitu tertarik padaku?" Grace menatap Laura.
"Aku Laura, kekasih Dafa."
"Kekasih atau mantan kekasih?" Grace semakin mengembangkan senyumnya.
"Kekasih." Laura mendengus.
"Tapi dia benar-benar sedang mengejarku sekarang, dia tidak mengatakan kepadaku bahwa dia mempunyai kekasih." Grace sangat senang menggoda wanita ini.
"Oh benarkah? Apakah aku merebutnya darimu Laura? Apakah dia mencampakkanmu karena mengejarku? Maafkan aku Laura." Grace memasang tampang prihatin namun dalam hati dia cekikikan.
"Menjauhlah darinya, Grace. Dafa milikku." Wajah Laura terlihat sangat kesal.
"Aku bisa menjauhinya, Laura, tapi dia yang memintaku untuk terus di dekatnya, dia bilang bahwa dia tidak bisa jauh dariku." Grace terbahak dalam hati.
"Tidak mungkin." Mata Laura terlihat melotot.
"Dafa bahkan selalu mengatakan cinta kepadaku setiap hari, perasaannya terlihat sangat tulus kepadaku." Grace semakin terbahak dalam hati, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakannya sendiri.
"Cukup, Grace. Berhenti berkata seakan kau gadis yang paling di cintai Dafa." Laura tidak sadar menggebrak meja membuat beberapa mata refleks menatap ke arah mereka.
"Kenapa? Aku mengatakan yang sebenarnya, jika kau tidak percaya kau tanyakan saja pada Dafa." Grace tersenyum menang.
Laura kehilangan kata-katanya, wajahnya terlihat sangat kesal, dia bangkit dari duduknya, berjalan meninggalkan Grace dan Jane sambil menghentak-hentakkan kakinya. Mata Grace dan Jane menatap kepergian Laura hingga menghilang di balik pintu.
__ADS_1
Grace benar-benar cekikikan setelah kepergian Laura, dia tidak bisa lagi menahan tawa yang sedari tadi tertahan. Grace bahkan mengusap-usap air mata di sudut matanya masih sambil tertawa. Jane menatap bingung pada sahabatnya itu, apa sahabatnya ini sudah gila pikirnya.
"Jane, kau tahu?"
"Apa?"
"Wanita itu penggemar Dafa."
"Terus?"
"Aku tidak yakin jika dia kekasih Dafa, bagaimana menurutmu?." Grace menatap Jane
"Aku juga merasa begitu, menurutku dia bukan tipe yang disukai pria dingin dan cuek seperti Dafa." Jane mengangguk-angguk.
"Kita sepemikiran, Jane."
"Wajahnya memang cantik, tapi dilihat dari gaya bicara dan tingkahnya, sepertinya otaknya kosong." Jane terbahak mendengar ucapannya sendiri.
"Kata-katamu sangat menusuk, Jane. Mungkin dia akan membunuhmu jika mendengarnya." Grace ikut terbahak.
"Biarkan saja, wanita itu juga tidak tahu malu." Jane terus mengatai Laura.
"Kau lihat wajahnya tadi, Jane?"
"Ya, aku lihat wajahnya semerah tomat, sepertinya dia sangat kesal." Jane terkekeh..
"Aku sangat puas mengerjainya, semoga dia tidak menggangguku lagi." Grace tersenyum puas.
"Darimana kau mendapatkan ide untuk mengerjainya seperti itu, Grace, aktingmu benar-bagus?" Jane terkekeh.
"Entahlah, tiba-tiba pikiran itu muncul begitu saja." Grace kembali tertawa.
"Hei, kau bahkan menyebutkan bahwa kau dan Dafa akan segera menjadi sepasang kekasih, kukira itu sungguh-sungguh." Jane tertawa.
"Aku hanya bercanda,."
"Bagaimana jika itu benar terjadi?" Jane menggoda Grace.
"Jane, jangan mengada-ada, jika itu benar terjadi mungkin wanita tadi akan menerorku setiap hari." Grace dan Jane terbahak bersama-sama.
__ADS_1
Grace dan Jane segera menghabiskan makan siang mereka dan bergegas untuk kembali ke kantor. Banyak pekerjaan yang menunggu mereka kembali. Sepanjang jalan Grace dan Jane masih saja menertawakan Laura, mereka cekikikan membayangkan wajah kesal Laura saat meninggalkan mereka.
...****************...