
"Ken, sepertinya sudah waktunya kau bertindak kembali." Dafa berucap tanpa mengalihkan pandangan pada layar tablet ditangannya. Dia sedang menonton rekaman pertemuan Grace dengan Laura.
"Ya." Ken mengangguk.
"Wanita ini semakin menjadi-jadi."
"Padahal aku sudah berbaik hati padanya, tapi sepertinya wanita itu memang sangat terobsesi kepadamu."
"Aku tidak mengerti kenapa dia benar-benar ambisius, padahal sangat jelas aku tidak pernah berkencan dengannya."
"Entahlah." Ken mengangkat kedua bahunya.
"Sepertinya otak wanita itu kurang setengah."
"Mungkin saja dia tidak punya otak." Ken terkekeh.
"Aku tidak suka jika dia sudah melibatkan Grace, apalagi jika mengusik kehidupan Grace."
"Ya, sepertinya wanita itu akan melakukan apa saja demi tujuannya."
"Hmmm jika dia terus mengganggu Grace, pastikan lakukan cara terakhir."
"Oke." Ken mengangguk.
"Baiklah, kembalilah bekerja."
Ken hanya mengangguk dan segera keluar dari ruangan Dafa. Dia kembali keruangannya, tidak bekerja namun duduk dan menyandarkan tubuh disofa. Ken diam dan menatap langit-langit ruangan dan melamun, kebiasaannya yang hampir dilakukan setiap hari.
"Semua pekerjaan untuk hari ini dan lusa sudah ku selesaikan, aku punya sedikit waktu bersantai. Aku hanya perlu memikirkan tentang Laura dan Grace sekarang." Ken berbicara pada dirinya sendiri.
Ken beranjak dari duduknya dan berjalan ke depan jendela kaca besar yang menampakkan pemandangan riuhnya aktivitas manusia diperkotaan. Ken teringat tentang Jane, ucapan gadis itu kemarin saat berjalan-jalan dengannya.
"Selesaikan saja dulu tugasmu pada tuan Dafa, baru pikirkan tentang hubungan kita."
Ken telah menceritakan semua tentangnya pada Jane, dia telah mempercayai gadis itu seratus persen. Tak ada seorangpun yang mengetahui tentang kehidupannya selain keluarga, Dafa, Andres dan dirinya sendiri. Kini bertambah satu orang yang diberikannya kepercayaan penuh, bukan hanya memegang rahasia kehidupannya namun juga memegang hatinya.
Ken harus menyelesaikan semua hal yang berhubungan dengan Dafa terlebih dahulu. Dia harus memastikan kebahagiaan Dafa sepenuhnya sebelum dia mengejar kebahagiaannya sendiri. Ken ingin menepati janjinya untuk berada disamping Dafa hingga pria itu benar-benar mendapatkan apa yang menjadi tujuannya.
Dulu setelah Ken memutuskan berpisah dengan mantan kekasihnya, dia tidak lagi memikirkan tentang perasaannya sendiri. Tak terpikirkan olehnya untuk mencari kekasih baru, dia fokus pada Dafa untuk membantunya di perusahaan dan membantu Dafa mencari kekasihnya yang hilang.
Ken tidak pernah menyangka jika dia akan jatuh cinta kembali, dan dia jatuh cinta disaat yang belum tepat. Walaupun saat ini Dafa dan Grace sudah bertemu, namun Dafa belum sepenuhnya bersama Grace yang berarti banyak hal yang masih harus dilakukan oleh Ken.
Ken bangun dari tidurannya saat mendengar dering ponsel miliknya. Dia menatap layar ponselnya, nomor tanpa nama tertera disana. Ken mengernyitkan keningnya dan dengan ragu dia menekan tombol terima.
"Halo." Suara lembut seorang wanita terdengar di seberang sana.
Ken terdiam, dia mendengar kembali suara yang sudah sangat lama tidak didengarnya.
"Halo? Ken? Ini benar nomor Ken?"
"Ya." Ken akhirnya menjawab.
"Syukurlah, ku kira aku salah memasukkan nomor." Wanita itu terdengar terkekeh.
"Ya." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Ken.
"Kau masih mengingatku bukan? Apa kau masih mengenali suaraku?"
"Ya."
"Hei, kenapa hanya kata itu yang keluar dari mulutmu."
"Hmmm, Nayra ada apa menghubungiku?"
"Aku ingin minta bantuanmu, Ken."
"Apa itu?"
__ADS_1
"Sekitar dua minggu lagi aku akan pergi ke kota yang sama denganmu."
"Lalu?"
"Ada panggilan pekerjaan disana, tapi aku sama sekali tidak mengenal kota itu. Bisakah kau membantuku untuk mencari tempat tinggal?"
"Baiklah."
"Mmm apa kau sedang sibuk?"
"Sedikit."
"Baiklah, aku akan menghubungimu kembali nanti Ken."
"Ya."
"Terima kasih." Nayra memutuskan sambungan telepon.
Ken menaruh ponselnya ke atas meja, dia kembali terdiam. Pikirannya kembali berputar dengan cepat, Ken memegang pelipisnya. Rasa pening menghampiri kepalanya tiba-tiba.
"Masalah apa lagi ini?" Ken menghembuskan napasnya pelan.
Nayra, wanita yang dulu pernah sangat dicintainya. Cinta pertama Ken yang pernah mengisi penuh hatinya, sekaligus wanita pertama yang menyakitinya. Ken tidak lagi mencintai Nayra, namun dia juga tidak bisa membencinya. Bagaimanapun tersakitinya Ken dimasalalu, tapi dia tidak pernah menaruh dendam pada wanita itu.
Ken bahkan tidak bisa menolak untuk diminta bantuan oleh Nayra, bukan karena dia masih mencintainya namun karena sifat peduli Ken kepada siapapun yang memang melekat dalam dirinya. Ken memang tidak pernah bisa mengabaikan siapapun yang meminta bantuannya asalkan untuk tujuan yang baik.
Satu hal yang membuat Ken merasa bimbang saat ini, sekarang dia sudah bersama dengan Jane. Jika Nayra kembali datang, sedikit banyak mungkin akan membuat kesalah pahaman antara dia dengan Jane. Apalagi Nayra membutuhkan pertolongannya dan Ken tidak bisa menolaknya.
"God, apa yang harus kulakukan?"
Ken meraih ponselnya, beranjak dari duduknya dan berjalan kembali menuju jendela. Dia menghubungi ibunya, mungkin mendengar suara ibu bisa menenangkan perasaannya saat ini.
"Halo, Ibu?"
"Ya sayang, ada apa?"
"Ibu?"
"Ya."
"Masalah pekerjaan?"
"Ya." Ken berbohong.
"Apa kau kelelahan."
"Hanya sedikit pusing." Ken terkekeh.
"Ken, beristirahatlah sebentar jika kau lelah."
"Hmmm, ibu?"
"Ya?"
"Apakah menurut ibu masalalu bisa menghancurkan masa depan?"
"Masalalu bagaimana maksudmu?"
"Hmm misalnya seseorang yang pernah hadir dimasalalu ibu tiba-tiba kembali datang saat ibu sudah bersama dengan ayah."
"Oh, jika itu masalahnya maka hanya akan ada tiga kemungkinan. Kemungkinan pertama, kita menerima kembali masalalu dan akan kehilangan masadepan. Kedua, kita menolak masalalu dan fokus pada masadepan. Ketiga, kita berdamai dengan masalalu dan tetap bisa fokus dengan masadepan."
"Lalu, ibu akan memilih yang mana?"
"Tentu saja ibu akan memilih kemungkinan kedua atau ketiga."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Karena jika ibu memilih kemungkinan pertama maka ibu akan kehilangan ayah, orang yang mendampingi ibu saat ini. Kemungkinan kedua adalah hal paling aman untuk kehidupan kedepan, karena jika orang dimasalalu itu toxic maka ibu tentu akan menolaknya karena ibu tidak ingin menghancurkan masa depan."
"Lalu, kenapa ibu juga bisa memilih kemungkinan ketiga?"
"Berdamai dengan masalalu bisa menjadi pilihan, namun kau juga harus mendapat dukungan dari pasangan yang saat ini mendampingimu."
"Kenapa?"
"Jika seseorang dimasalalu hadir hanya untuk menyapa tanpa ada niat untuk kembali ataupun untuk menganggu maka kau bisa berdamai dengannya. Namun kembali lagi dengan pasanganmu, apakah dia bisa menerimanya? Jika dia bisa menerima maka kau bisa berdamai dengan masalalumu, namun jika pasanganmu tertekan dan tidak bisa menerima maka lepaskan masalalu, tolak dan pilih kemungkinan kedua."
"Begitukah?"
"Ya, pada akhirnya hal itu tergantung dari dirimu sendiri. Ada hal yang harus kau putuskan dari awal jika masalalu kembali menyapamu."
"Apa itu?"
"Memutuskan bagaimana kau akan menyikapinya, penerimaan yang berlebihan mungkin bisa membuat pengharapan bagi salah satu pihak. Namun penolakan berlebihan juga akan menyakiti."
"Lalu apa yang harus kita lakukan."
"Bersikaplah biasa, jangan membuat seseorang merasa berharap kembali jika kau juga tidak mengharapkannya kembali."
"Baiklah, terima kasih ibu."
"Dan tentunya jangan pernah berbohong tentang Nayra kepada Jane jika dia menanyakannya."
"Ibu tahu?"
"Ibu selalu tahu tentangmu Keenan. Ibu juga tahu bahwa Nayra akan pergi ke kota tempatmu sekarang." Ibu tersenyum walau tak terlihat oleh anaknya.
"Darimana ibu tahu?"
"Walaupun kalian sudah berpisah, namun kau tahu bukan jika ayahmu berteman baik dengan ayah Nayra. Ayahnya mengatakan jika Nayra akan bekerja disana."
"Aku sedikit khawatir ibu, Nayra baru saja menghubungiku dan meminta bantuanku."
"Apa yang kau khawatirkan?"
"Jane."
"Apa yang kau khawatirkan tentang Jane?"
"Aku takut dia salah paham jika Nayra kembali ke kehidupanku."
"Kau bisa menjelaskan padanya apa yang terjadi sebenarnya jika dia bertanya nantinya."
"Jane terlalu baik hati, dia adalah gadis yang akan merelakan kebahagiaannya demi kebahagiaan orang lain. Aku takut dia mengira bahwa aku akan bahagia jika bertemu dengan Nayra kembali." Aku takut dia meninggalkanku." Ken akhirnya meluapkan segala perasaannya.
"Keenan, jika kau bisa berbicara dengan baik pada Jane, ibu yakin dia pasti akan mengerti."
"Baiklah ibu, aku berharap tidak ada masalah kedepannya."
"Ya sayang, ibu akan selalu mendoakan untuk kebaikanmu."
"Terima kasih ibu."
"Baiklah, kembalilah bekerja, ibu yakin kau tidak pusing karena pekerjaan, tapi karena perasaan." Terdengar tawa kecil ibu diseberang.
"Rasanya sudah berkurang ibu setelah mendengar suara ibu." Ken tersenyum.
"Ya, ya, jangan ragu bercerita pada ibu jika kau ada masalah."
"Ya ibu."
"Apapun yang terjadi, tetaplah jadi pria baik kesayangan ibu."
"Baik ibu." Ken terkekeh, ibu mematikan sambungan telepon.
__ADS_1
Ken menatap kembali keluar jendela, memikirkan kemungkinan mana yang akan dia ambil tentang Nayra. Bagaimanapun dia harus mengambil keputusan terbaik, Ken harus bersiap dari sekarang karena menyangkut hubungannya dengan Jane.
...****************...