Kali Kedua

Kali Kedua
DAFA-KESALAHAN DI MASALALU (4)


__ADS_3

Sudah lebih satu bulan berlalu sejak perceraian kedua orang tuaku dan setengah bulan sejak kepergian ibuku, segalanya bagai mimpi bagiku. Kilas kehidupan menyenangkan dimasalalu langsung berubah begitu cepat menjadi kesedihan. Waktu satu bulan ini seakan menghajarku habis-habisan, melukaiku dan merebut hal-hal berharga dalam hidupku. Aku sempat terpuruk, tapi aku terus berusaha bangkit. Ada Andres yang sampai saat ini menyemangati diriku, dia hampir tak beranjak dari sampingku selama satu bulan ini.


Aku akhirnya bisa menguasai diriku kembali, bangkit dari jeratan kesedihan yang mengekangku. Aku bahkan merubah semua dekorasi rumah yang kutempati saat ini, agar aku tidak terlalu mengingat peristiwa-peristiwa menyenangkan yang berubah menjadi menyedihkan saat itu di rumah ini. Aku mengumpulkan semua barang-barang milik ayah dan ibu, aku meletakkannya di sebuah ruangan besar dirumah, jika aku merindukan mereka aku akan berada diruangan itu seharian.


Saat ini aku mulai menata kembali kehidupanku, aku menyelesaikan semua masalahku dan kembali menjadi Dafa yang dulu. Tapi ada satu hal yang tidak bisa ku selesaikan, masalahku dengan Defina. Sudah lebih satu bulan ini aku mengacuhkannya.


Aku sangat menyayanginya, tapi setelah perceraian kedua orang tuaku, entah kenapa hatiku menyalahkannya atas semua yang terjadi. Aku menghabiskan waktu bersamanya setiap hari, berada disampingnya sepanjang hari sehingga aku tidak menyadari keadaan orang tuaku. Aku tidak menyadari masalah yang dihadapi oleh kedua orang tuaku hingga akhirnya mereka bercerai.


Sekali lagi aku sangat menyayanginya, namun hatiku benar-benar menyalahkannya. Aku tidak sadar telah mengingkari janjiku pada ayah untuk tidak membenci dan menyalahkan siapapun. Aku memutuskan untuk tidak lagi menemuinya. Aku tahu aku egois, memutuskan segalanya secara sepihak, tapi inilah pilihanku. Aku memilih untuk meninggalkannya dan menekan rasa sayangku yang aku sendiri tidak yakin akan hilang begitu saja.


Setiap hari Defina selalu mengirimiku pesan dan terkadang menelepon, namun aku sama sekali tidak menghiraukannya. Bahkan setiap hari dia selalu datang kerumahku, mengetuk pintu dan menggantungkan sebotol yogurt kesukaanku di gagang pintu, tapi aku tidak pernah membukakan pintu sekalipun untuknya. Hampir setiap hari juga dia duduk di taman dekat gerbang kampusku hanya untuk menunggu dan menemuiku tapi juga sama sekali tak kuhiraukan.


Defina tidak akan pernah melihatku meskipun aku lewat didepannya karena sekarang aku kembali mengendarai mobil ke kampus, mobil baru yang tidak akan di kenalinya. Defina tidak pernah menyerah, dia selalu melakukan hal yang sama setiap hari. Aku selalu mengamatinya dari jendela kamarku di lantai dua. Melihat dia pulang dengan raut wajah lelahnya setelah menggantung kantong belanja kecil berisi sebotol yogurt di gagang pintu, aku selalu mengambil kantong belanja tersebut setelah dia pergi dari rumahku.


Aku merasakan sesak didadaku setiap melihat kedatangannya. Terkadang aku ingin membukakan pintu untuknya dan menghambur memeluknya erat-erat. Namun ego masih duduk di kedudukan tertinggi di dalam diriku membuatku selalu mengurungkan niatku itu.


Tepat hari ini satu tahun setelah kejadian menyedihkan saat itu. Hari ini adalah hari kelulusanku, ayah menepati janjinya untuk datang ke acara wisudaku. Setelah acara selesai kami merayakannya dengan makan bersama dan pergi kemakam ibu. Hari beranjak sore, awan mendung menghiasi langit. Aku dan ayah pulang kerumah, namun ayah pergi lagi untuk menemui salah seorang rekan bisnisnya.


Meskipun bertahun berlalu, Defina tidak berhenti datang kerumahku melakukan hal yang sama setiap hari hingga saat ini. Hari sudah sangat sore, sebentar lagi petang. Langit sudah menggelap karena hujan turun dengan sangat lebat. Aku memandangi hujan lewat jendela kamarku, tiba-tiba terdengar suara motor berhenti didepan rumahku. Aku melihat Defina kembali datang, dia bahkan masih memakai pakaian wisudanya.


Defina berlari ke arah pintu rumahku, menggantungkan sesuatu disana yang kutahu pastilah sebotol yogurt. Tubuhnya basah kuyup karena kehujanan, tiba-tiba hatiku terasa sangat sakit melihatnya. Rasanya aku ingin turun dan membukakan pintu, memberikan selimut hangat untuk tubuhnya yang terlihat menggigil kedinginan. Tapi sekali lagi ego terus mengalahkanku membuatku tak bergeming dari tempatku berdiri.


Setelah menggantungkan kantong belanja, Defina langsung bergegas naik ke motornya dan pergi meninggalkan rumahku. Mungkin dia akan segera pulang karena hari sudah semakin gelap. Setelah Defina pergi aku bergegas menyalakan lampu kamar dan turun ke bawah mengambil kantong belanja yang tergantung di gagang pintu. Aku memeluknya seakan-akan itu adalah Defina.


Aku baru sadar jika aku sudah sangat keterlaluan padanya. Aku menyesal telah meninggalkannya tanpa kejelasan sama sekali. Sekarang aku sadar betapa tulusnya perasaan Defina kepadaku. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk membukakan pintu untuknya saat dia datang besok. Aku akan menemuinya dan meminta maaf atas semua kesalahanku.


Namun apa yang terjadi tidak seperti yang kuharapkan. Esok hari dia tidak datang kerumahku, kutunggu dia selama satu minggu namun tidak juga datang. Aku terus menunggunya hingga setengah bulan berlalu, tapi dia tetap tidak datang. Pesan-pesan yang dulu selalu dikirimkannya setiap hari juga sudah tidak ada.


Aku memutuskan untuk mendatangi rumahnya, rumah besar itu terlihat sangat sepi. Aku mengetuk-ngetuk pintu rumahnya namun tak ada seorangpun yang membukakan pintu. Aku berinisiatif untuk menanyakannya kepada tetangga Defina yang kebetulan kulihat sedang berada di depan rumahnya mengurus burung peliharaannya.


"Permisi pak."


"Ya, ada apa Nak?" Bapak yang sudah berumur itu menghentikan aktivitasnya.


"Saya ingin bertanya, apakah bapak tahu yang tinggal dirumah seberang sekarang kemana?" Aku menunjuk rumah Defina.

__ADS_1


"Oh mereka sepertinya sudah pindah nak, beberapa minggu yang lalu."


"Benarkah?" Aku sedikit terkejut."


"Apakah bapak tahu mereka pindah kemana?"


"Bapak tidak tahu sama sekali nak."


"Oh baiklah, terima kasih pak." Aku berlalu dari tempat itu.


Aku terus mencari keberadaan Defina, aku kembali kerumahnya beberapa kali tapi sama seklai tidak ada hasilnya. Rumah itu terlihat selalu sepi, tak ada tanda bahwa penghuni rumah itu kembali. Terakhir kali aku kesana, akhirnya aku bertemu seorang pelayan dirumah itu.


"Permisi, pak."


"Ya, tuan?"


"Apakah bapak pelayan disini?"


"Betul tuan."


"Saya tidak tahu, tuan." pelayan itu menggeleng.


"Betulkah?"


"Ya, saya dan istri hanya disuruh merawat dan membersihkan rumah ini. Saya bahkan tidak pernah bertemu pemilik rumah ini tuan."


"Terus siapa yang menyuruh bapak?"


"Pak Rudy, dia pengurus RW disini."


"Bolehkan saya minta alamat pak Rudy?"


"Tentu saja, tuan."


Pelayan itu memberikan alamat pak Rudy kepadaku. Aku bergegas menuju alamat itu, sekitar lima menit aku sudah berada di depan rumah bercat hijau. Hanya ini harapan terakhirku untuk mencari keberadaan Defina.

__ADS_1


"Permisi bu." Aku menyapa seorang wanita paruh baya.


"Ya, ada apa nak?"


"Benar ini rumah pak Rudy, bu?"


"Benar, nak."


"Apa Bapak ada bu?"


"Ada nak, sebentar ibu panggilkan, silahkan duduk dulu." Ibu itu mempersilahkan aku duduk dikursi teras.


Aku duduk di kursi yang di tunjuk oleh ibu tadi, tidak lama keluarlah laki-laki paruh baya yang kutebak adalah pak Rudy. Aku segera berdiri dan menyapa bapak tersebut. Dia tersenyum dan duduk di kursi disampingku.


"Maaf pak telah mengganggu waktu bapak, saya Dafa pak." Aku memperkenalkan diri.


"Tidak apa-apa nak, saya Rudy. Ada keperluan apa menemui saya? Sepertinya nak Dafa ini bukan warga sekitar sini." Dia menatapku


"Iya pak, saya memang bukan warga sini. Saya teman anaknya pak Wira yang tinggal di rumah besar berwarna coklat disana." Aku menunjuk arah jalan yang kulewati tadi.


"Oh iya, teman Defina ya?"


"Iya pak. Apa bapak tahu kemana mereka pindah?"


"Hmm, saya tidak tahu nak, kemarin saya hanya diberitahu oleh kepala pelayan dirumah itu bahwa keluarga pak Wira sedang pergi karena ada urusan mendesak. Beberapa bulan kemudian kepala pelayan itu datang kembali memberitahu saya bahwa keluarga pak Wira memutuskan untuk pindah. Pelayan itu meminta saya untuk mencarikan orang yang bisa dipercaya untuk mengurus rumah itu, saya mempercayakan tugas itu pada pak Dody dan istrinya karena saya tahu mereka orang yang jujur. Saya juga tidak sempat menanyakan kemana keluarga pak Wira pindah jadi saya tidak tahu sama sekali."


"Apa bapak punya nomor kepala pelayan itu?"


"Maaf nak Dafa, saya juga tidak punya."


"Baiklah pak, terima kasih banyak."


"Sama-sama."


Aku pamit dan segera pulang kerumah. Pupus sudah harapanku mencari informasi disana. Bagaimana bisa sampai tidak ada yang mengetahui kemana keluarga Defina pindah. Aku tidak berputus asa setelah itu, aku masih terus mencari Defina kemana-mana namun aku benar-benar tidak menemukannya sama sekali.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2