Kali Kedua

Kali Kedua
KEN


__ADS_3

Hari ini benar-benar melelahkan, banyak hal yang harus kukerjakan sendirian. Presdir sedang mabuk cinta sehingga dia meninggalkan pekerjaannya demi mengurus wanita yang sedang dikejar-kejarnya. Rasanya sepi juga saat tidak ada Dafa, pekerjaanku sudah selesai dan aku bingung akan melakukan apa setelah ini. Dafa sudah melarangku agar tidak kerumah sakit, jadi aku benar-benar tidak bisa kesana. Huh bisa-bisanya dia menumbalkan aku demi bisa


mencuri waktu dengan Grace.


Aku seperti mendapatkan ide cemerlang saat mengingat Jane, aku berjalan menuju ruangan Jane. Siapa tahu dia juga sedang merasa kesepian karena Grace sedang tidak ada. Aku mengetuk ruangan dan masuk kedalam, Jane sepertinya terkejut melihatku datang tiba-tiba keruangannya.


“Jane.” Aku menyapanya, dia terlihat sibuk dengan pekerjaannya.


“Tu..tuan Ken.”


“Hei kenapa kau selalu terkejut setiap aku datang?” Aku terkekeh melihat ekspresi wajahnya.


“Maaf, tuan.”


“Maaf untuk apa?


Eh iya, untuk apa ya? Jane


“Mmm, untuk apa saja.” Jane tersenyum kaku.


“Baiklah, aku memaafkan untuk apa saja.” Aku tertawa.


“Apa ada yang tuan perlukan?”


“Tidak, aku hanya ingin berkunjung.” Aku duduk di sofa tanpa permisi.


Apa? Berkunjung katanya? Untuk apa? Jane


“Mmm, iya.” Jane kehabisan kata-kata.


“Jane apa kau senang berada disini?” Aku menatapnya sekilas.


Sebenarnya senang, tapi apa ya, aku hanya sering merasa gugup saat melihatmu. Jane


“Ya, tuan.”


“Jane, apakah sehabis pulang kerja kau sibuk?”


“Saya akan kerumah sakit menjenguk Grace, tuan.”


“Hmm, begitukah?”


“Ya.”


“Aku akan ikut denganmu.” Dengan ini aku ada alasan untuk kerumah sakit jika Dafa menanyaiku, aku terkekeh dalam hati.


“Mmm, baiklah tuan.”


“Jane, kita sedang berdua sekarang, kau tidak perlu memanggilku tuan, panggil saja namaku, berbicaralah santai denganku.” Aku tidak terlalu suka jika Jane berbicara formal terhadapku, rasanya terdengar seperti sangat tidak akrab di telingaku.


“Baik, Ken.” Jane terlihat sungkan.


“Jane kenapa kau selalu terlihat sungkan kepadaku?”


“Tidak, Ken. Aku hanya.” Jane terdiam.


“Apa karena malam itu?” Aku menyela kata-katanya.


“I..iya.” Akhirnya dia mengatakannya.


“Kenapa? Kau kan tidak melakukan apapun.”

__ADS_1


“Aku hanya merasa malu, aku pasti bertingkah bodoh di depanmu saat mabuk.”


“Hei, apa kau sangat memikirkan hal itu?” Aku tertawa.


“Ya, aku selalu menebak-nebak tentang apa yang kulakukan malam itu.”


“Apa kau mau tahu? Apa perlu aku memberi tahumu?”


“Ya.” Jane mengangguk.


“Hmmm, malam itu kau hanya mengumpat dan memaki-maki aku.” Aku terkekeh mengingat kembali tingkahnya malam itu.


“Benarkah?” Jane membulatkan matanya.


“Ya, kau menyebutku dengan nama.. siapa ya? Liam oh ya Liam.” Aku berhasil mengingat nama itu.


“Maafkan aku, Ken. Aku benar-benar tidak sadar saat itu.” Jane memegang pelipisnya


“Ya, aku tahu, apakah dia kekasihmu?”


“Sudah tidak lagi.” Jane tersenyum masam.


“Ah sudah kuduga, kau terlihat sangat kesal saat itu.” Aku terkekeh


Aku tidak hanya kesal, aku membencinya. Jane


“Apa aku benar-benar terlihat bodoh saat itu?”


“Tidak, kau hanya terlihat seperti melampiaskan perasaanmu padaku.”


“Maafkan kekonyolanku, Ken. Terima kasih sudah peduli padaku saat itu,”


“Tidak masalah.” Aku mengangguk.


“Apa pria itu sangat menyakitimu?”


“Hmmm entahlah, aku tidak tahu apakah aku terluka karena dia, atau karena pengharapanku sendiri, atau mungkin keduanya.” Jane sudah tidak terlihat canggung lagi padaku.


“Tapi kau hebat, bisa sekuat ini.” Aku tersenyum


“Aku tertatih-tatih menguatkan diri.” Jane terkekeh.


“Jadilah selalu bahagia Jane, pria itu pasti menyesal meninggalkanmu.” Tiba-tiba kata-kata bijak itu keluar sendiri dari mulutku.


“Aku akan selalu bahagia.” Dia tersenyum.


“Bagus, jadilah wanita yang kuat.” Aku tertawa.


“Apa aku harus ikut beladiri, agar menjadi kuat?”


“Maksudku hatimu, Jane. Kuatkan hatimu.” Aku tertawa.


“Oh.” Dia juga ikut tertawa.


“Apa pekerjaanmu masih banyak, Jane?.”


“Tidak, sudah hampir selesai, sedikit lagi.” Dia merapikan kertas-kertas yang berserakan dimejanya.


“Baiklah.”


“Apa kau tidak ada kerjaan, Ken. Kau santai-santai saja sejak tadi.” Dia terkekeh.

__ADS_1


“Ya, aku sudah menyelesaikan semuanya.” Aku mengangguk.


“Kau hebat, pantas saja tuan Dafa memilihmu sebagai sekretarisnya.” Dia tersenyum, aku hanya sedikit merasa terbang dipuji seperti itu.


“Sudah waktunya pulang, apa kau sudah selesai.” Aku menatap jane yang masih sibuk membereskan pekerjaannya.


“Sedikit lagi.” Dia menyahut.


Aku berdiri menghampirinya dan ikut membereskan dokumen-dokumen yang berserakan di meja. Aku membantunya menyusun lembaran-lembaran kertas yang ternyata sangat banyak. Sepertinya Jane juga mengerjakan banyak pekerjaan hari ini karena Grace sedang sakit. Lebih dari setengah jam kami membereskan dokumen-dokumen itu hingga semuanya tersusun rapi.


“Terima kasih, Ken. Maaf aku merepotkanmu.”


“Tak apa, ayo kita berangkat kerumah sakit.”


Aku dan Jane pergi kerumah sakit menggunakan mobil sendiri-sendiri, hari sudah sangat sore saat kami sampai dirumah sakit. Jane berjalan cepat menuju ruangan Grace, aku hanya mengikutinya di belakang. Saat membuka pintu, ruangan itu sudah kosong tanpa ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Jane menghampiri seorang perawat dan menanyakannya.


“Sus, kemana pasien diruangan ini?”


“Sudah pulang, nona.” Perawat itu menjawab dengan ramah.


“Oh baiklah, terima kasih, Sus.”


“Sama-sama, nona.” Perawat itu mengangguk dan berlalu dari hadapan kami.


"Apa kata perawat?" Aku bertanya saat Jane menghampiriku kembali.


"Grace sudah pulang." Jane menatapku


"Hmm, apa dia sudah sehat?"


"Kemungkinan begitu?"


"Apa kau khawatir?"


"Ya, dia belum menghubungiku." Jane melirik ponsel ditangannya.


"Mungkin dia sedang sibuk, atau mungkin sedang istirahat." Aku pura-pura menebak. Padahal aku yakin Grace pasti sedang bersama Dafa, tapi aku tidak mengatakannya pada Jane. Belum saatnya gadis ini tahu tentang hubungan Grace dan Dafa sebenarnya.


"Ya, sepertinya begitu." Jane mengangguk.


"Kau bisa menjenguknya di apartemen nanti."


"Ya aku akan ketempatnya sepulang dari sini." Jane kembali mengangguk.


"Jane."


"Ya."


"Apa kau lapar?"


"Mmm, sangat." Jane tersenyum lebar.


"Aku juga." Aku terkekeh.


"Ayo kita makan sebentar." Jane menatapku kembali.


"Baiklah, kau mau makan apa?" Aku bertanya


"Ayo ikut aku, ada tempat makan enak di dekat sini." Jane menarik tanganku tiba-tiba, membuatku merasa sedikit terkejut.


Asal tahu saja, tanganku tidak pernah di genggam oleh siapapun setelah sekian lama, wajar aku merasa terkejut. Setelah putus dengan tunanganku, aku tidak pernah berhubungan dengan siapapun. Bukan karena aku belum bisa move on, tapi karena aku belum menemukan seseorang yang tepat. Bisa dibayangkan keadaan tanganku ini mungkin sudah berdebu dan karatan, tidak mengherankan juga jika ada laba-laba yang bersarang disana.

__ADS_1


Dan sekarang gadis ini seenaknya menggenggam tanganku tanpa memikirkan apapun. Apa dia tahu bagaimana perasaanku saat ini? Rasanya sedikit aneh saat tanganku kembali di genggam seorang wanita. Entah kenapa aku merasakan sedikit getaran di dadaku. Apa ada listrik disekitar sini? kenapa rasanya seperti kesetrum? Apa ini namanya ya? Apa ya? Tidak mungkin perasaan suka yang datang tiba-tiba kan?.


...****************...


__ADS_2