
Aku keluar dari lift dan berjalan pelan menuju apartemen milik Jane, aku tersenyum menatap buket bunga mawar di tanganku yang akan kuberikan pada Jane. Aku terkejut dan refleks bersembunyi di samping tembok saat melihat Andres berjalan ke arah yang berlawanan denganku. Dia tampak tersenyum-senyum tidak karuan seperti orang gila.
"Sedang apa Andres disini malam-malam?" Aku berbicara dengan diriku sendiri.
Aku keluar dari persembunyian saat Andres menghilang dibalik pintu lift. Aku berjalan cepat menuju apartemen Jane, aku takut Andres baru saja dari sana. Sesampainya di depan pintu apartemen Jane, aku memencet bel berkali-kali, aku tidak sabar bertemu dengannya.
"Ken?" Pintu terbuka memperlihatkan wajah cantik gadisku ini.
"Jane, ini untukmu." Aku memberikan buket bunga mawar kepada Jane.
"Untukku?" Jane sedikit kebingungan tapi sedetik kemudian dia tersenyum dan menerima bunga dariku.
"Ya."
"Terima kasih."
"Jane, boleh aku masuk?"
"Ya, ya." Jane mempersilahkan aku masuk.
Aku masuk kedalam apartemen Jane, Jane mempersilahkan aku duduk di sofa ruang tamu sambil menaruh buket bunga di atas lemari kaca ruang tamu. Mataku langsung tertuju pada buket bunga mawar yang lebih besar dari punyaku tergeletak di sofa di seberangku. Aku mulai menduga-duga bahwa Andres sungguh kesini tadi.
"Jane?"
"Ya?" Jane yang duduk di ujung sofa menoleh ke arahku.
"Kenapa kau duduk dengan jarak sejauh itu denganku?"
"Eh? Hehe." Jane menggaruk kepalanya dan tertawa canggung.
"Duduklah disampingku."
"I..iya." Jane terbata, dia menggeser duduknya sedikit kearahku.
"Hei, masih sangat jauh dariku."
"Benarkah?" Jane tersenyum kaku.
"Kenapa kau masih saja canggung kepadaku?" Aku tersenyum menatapnya.
"Mmm, anu."
"Apa?"
"Aku tidak pernah membawa seorang pria masuk ke kediamanku sebelumnya."
"Sungguh?"
"Iya." Jane mengangguk-angguk.
"Jadi aku pria yang pertama datang kesini?" Aku merasa riang, berarti Andres tidak kesini tadi.
"Iya." Jane kembali mengangguk.
"Baiklah." Aku menggeser dudukku hingga berdempetan dengan Jane.
"Ken?"
"Karena kau tidak mau mendekat padaku, jadi aku saja yang mendekat padamu."
"Tapi." Jane meringis.
"Kenapa kau meringis?"
"Kau menginjak kakiku." Jane menunjuk kakinya.
"Ya ampun, maaf Jane aku tidak merasa karena masih pakai sepatu. Hehe."
"Sakit tahu." Jane mengusap-usap punggung kakinya.
"Maaf, apa perlu aku obati?"
__ADS_1
"Tidak usah, sudah tidak sakit." Jane mengibas-ngibaskan kedua tangannya di depanku.
"Baiklah."
"Ken, apa kau mau minum sesuatu?"
"Tidak, kau tidak perlu repot-repot."
"Tak apa, aku ambilkan ya." Jane beranjak dari duduknya tapi aku menahan lengannya.
"Jane, jangan kemana-mana, disini saja." Aku memeluk lengan Jane.
"Hei, kenapa manja sekali?" Jane tertawa dan duduk kembali.
"Jangan kemana-mana yaaaa."
"Padahal aku hanya ingin kedapur." Jane terkekeh.
"Jane, aku rindu."
"Rindu? kita baru sehari tidak bertemu."
"Hari ini hari libur, tapi kau tidak menjawab teleponku sama sekali."
"Kau tahu Ken, jika hari libur aku selalu tidur sampai siang hari." Jane tertawa.
"Kau membuatku khawatir."
"Khawatir tentang apa?"
"Aku takut kau jalan dengan pria lain."
"Hei, mana mungkin." Jane menatapku.
"Jane, jangan sesekali pergi dengan pria lain."
"Tidak akan, aku bahkan tidak punya kenalan pria manapun disini selain kau, tuan Dafa dan beberapa orang kantor lainnya." Jane terkekeh.
"Tapi kenapa kau bisa kenal dengan Andres?"
"Ya." Aku mengangguk.
"Aku hanya bertemu tidak sengaja dengannya di mall waktu itu, aku tidak sengaja menabraknya."
"Dia pria buaya, kau jangan mau dekat-dekat dengannya." Aku tidak sengaja memfitnah Andres, padahal pria itu tidak pernah pacaran sama sekali, dia bahkan tidak memperdulikan wanita-wanita yang mendekatinya. Maafkan aku Andres, haha.
"Benarkah tuan Andres seperti itu?"
"Ya, dia mencampakkan wanita-wanita yang mendekatinya."
"Wah, apa karena dia tampan?"
"Tampan? Jane, tega sekali kau mengatakan dia tampan didepanku." Aku mendengus.
"Memang benar." Jane mengatakannya tanpa berdosa.
"Jahat sekali."
"Tapi kau lebih tampan, hehe." Jane terkekeh, dia tidak lagi canggung seperti tadi.
"Kau menggodaku? Apa mau kubalas?" Aku mendekatkan wajahku ke wajah Jane bergaya seakan ingin menciumnya.
"Hei, tidak-tidak." Jane panik.
"Bercanda." Aku tertawa melihat tingkah panik Jane.
"Ken, dasar!" Jane memukul bahuku.
"Hmmm, Jane itu bunga dari siapa?" Aku menunjuk buket bunga tadi.
"Hah? Bunga? Mata Jane mengikuti arah tanganku."
__ADS_1
"Iya, itu."
"Aku menemukannya di depan pintu, seseorang memencet bell apartemenku dan saat aku membuka pintu ada bunga itu di depan."
"Kapan?"
"Tidak lama sebelum kau datang?"
"Sudah kuduga."
"Apa?"
"Tidak apa-apa." Aku keceplosan tadi.
"Aku kira darimu."
"Tidak, apa tidak ada nama pengirimnya?"
"Tidak ada." Jane menggeleng.
"Sepertinya dari penggemarmu." Aku terkekeh.
"Penggemar? Apa aku punya?"
"Mungkin saja." Aku menatap Jane.
"Mmm, siapa penggemarku?"
"Aku tidak tahu." Aku mengangkat bahuku.
"Ken, apa mungkin itu bunga salah alamat."
"Mungkin juga." Aku mengangguk walaupun aku yakin bahwa bunga itu dari Andres, tapi darimana dia tahu alamat Jane?
"Hmmm, biarlah tak ada nama atau petunjuk apapun disana, aku juga tidak tahu harus mengembalikannya kemana." Jane menatap bunga itu.
"Ya, biarkan saja." Aku menimpali.
"Ken, apa kau lapar?"
"Ya." Aku mengangguk, perutku memang terasa keroncongan.
"Ayo makan diluar."
"Ayo."
"Aku ganti baju dulu, kau tunggu disini ya." Jane beranjak dari duduknya dan pergi kekamarnya.
"Ya."
Aku menatap kembali pada buket bunga besar didepanku itu, entah kenapa rasanya familiar sekali rangkaian buket bunga itu dimataku. Aku beralih menatap buket bunga di atas lemari kaca yang diletakkan Jane tadi. Aku menatap bergantian pada buket bungaku dan bunga yang ada diatas sofa.
"Kenapa mirip sekali? Hanya saja punyaku lebih kecil." Aku berkata lirih.
Aku berdiri dari duduk dan berjalan menuju bunga yang ku berikan pada Jane, aku melihat tag mewah tergantung pada gagang buket itu yang bertuliskan "K'FLOWERS". Jelas saja itu nama toko milikku sendiri, haha. Aku beranjak mendekati buket bunga di sofa dan mengangkatnya. Aku mengamati buket itu, tak ada tag apapun disana. Aku mengamati lebih teliti dan aku menemukan sesuatu terselip di antara rimbunnya buket bunga mawar itu.
"K'Flowers? Pantas saja sangat mirip dengan bunga yang ku berikan, ternyata dia membeli bunga itu di toko milikku." Aku menggenggam tag kecil itu dan memasukkannya ke kantong agar Jane tidak menemukannya, takut dia menemukannya dan mengembalikan bunga itu ke toko dan menemukan siapa pengirimnya. Bagaimanapun aku harus menghalangi Andres untuk mendekati Jane, sekali lagi maafkan aku Andres.
"Ken?"
"Jane?" Aku berbalik kearah Jane dengan masih menggenggam gagang buket bunga itu.
"Ada apa dengan bunganya?"
"Aku mencari-cari nama pengirimnya." Aku menatap buket bunga Andres ditanganku.
"Apakah ada? Aku tidak menemukannya tadi." Jane ikut menatap bunga ditanganku.
"Memang tak ada." Aku tersenyum dan meletakkan bunga itu kembali ketempatnya.
"Benar kan?"
__ADS_1
"Ya, ayo kita pergi." Aku menggandeng tangan Jane dan kami pergi meninggalkan apartemen.
...****************...