Kali Kedua

Kali Kedua
Selalu Denganmu


__ADS_3

Seperti hari-hari sebelumnya, Yudha sering ke rumah Nara, dan sesering itu juga Yudha menginap di rumah Dicky, hingga hampir setiap malam Dicky terpaksa tidur di sofa, dan membiarkan sang calon kakak ipar tidur nyenyak di kasur empuknya.


"Ahhh nyamannya...!!" ucapnya seraya memejamkan mata, dan sedikit menggoyangkan tubuhnya, memberikan sapaan kerinduan raganya terhadap kasur empuk yang hanya bisa di tidurinya siang hari saat Yudha tidak ada. " Sepertinya kak Yudha gak nginep malam ini." waktu sudah menunjukkan pukul 20.45, namun Yudha belum menunjukkan batang hidungnya, membuat Dicky berpikir kalau hari ini Yudha tidak akan datang, dan dia bisa tidur dengan nyenyak malam ini, Dicky terus tersenyum meskipun matanya terpejam, dia meraih guling yang ada di sisinya dan memeluknya sangat erat dan nyaman. Perlahan kesadarannya mulai menghilang, nafas dari hidungnya berangsur terdengar teratur, hening kedamaian mulai bersiap membawa Dicky ke dunia mimpi yang indah.


" Asslamualaikum tante, aku mau nginep lagi ya ! "


Duarrrrr....


Mata Dicky membulat secara sempurna seketika, terdengar suara Yudha berada di luar, membuyarkan mimpi indah yang belum sempat Dicky mulai.


Hiks.... hiks...Tuhan...baru beberapa menit aku merasakan kenyamanan, kenapa dia datang lagi....haaaaaaa


Tak lama terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat, secepat kilat Dicky menarik selimut yang masih terlipat rapih di bawah kakinya, dengan tergesa Dicky menutupi seluruh tubuhnya, hanya jambul rambutnya yang sedikit menyembul ke atas.


Ceklek...


Pintu kamar pun terbuka, " Udah tidur Ky.?" tanya Yudha sesaat setelah pintu terbuka, tak ada jawaban dari Dicky, namun Yudha tetap masuk dan kembali menutup pintu kamar Dicky. Dia pun meletakan gitar dan tas kecil berisi baju ganti di pojok kamar.


Hahaha maaf ya kak, untuk malam ini biarkan aku tidur di kasur, rasanya pegal sekali harus tidur meringkuk di sofa tiap malam !. batin Dicky sambil cekikikan, mulutnya memang tidak bersuara, namun pundaknya yang naik turun, membuat Yudha yang sedang duduk di sofa bisa melihat gerakan itu, dengan seringai tipis Yudha tersenyum penuh arti, dia bangkit dari duduknya, lalu duduk di bibir ranjang, dia pun mengetik sesuatu di ponselnya, lalu melakukan sebuah panggilan.


" Hallo Lan,?"


Mau apa dia menghubungi kekasihku !!!


" Kamu menyayangi kakak kan ? dan pasti kamu akan marah jika ada orang yang menyinggung kakak "


Sialan, dia mengadu, Alana kan sangat menyayangi kakaknya yang tidak tahu malu ini !


" Kalau begitu, jika misalkan pacarmu kurang ngajar pada kakak, apa yang akan kamu lakukan,?"


Dasar kakak ipar jahat !


" Benarkah ? Kau akan membuangnya begitu saja ? "


Duarrrrr...... Apa ? tidak, tidak Alana, jangan lakukan itu.


Dicky pun refleks bangun, lalu turun dari ranjang dan langsung berlutut di hadapan Yudha.


" Maaf Kak, aku tidak tahu kakak datang, aku ketiduran tadi, maaf, maaf " Ujar Dicky ketakutan mengatupkan kedua tangannya di depan dada


Cih, sudah ku duga kau pura-pura tidur tadi !


" Maaf ? hmm tidak semudah itu " ketus Yudha


" Tolong maafkan aku kak, aku kira kakak tidak akan datang, makanya aku tadi tidur di kasur "


" Jadi kamu tidak mengharapkan aku datang begitu, kurang ngajar ! "


" Bukan seperti itu Kak, bukan !"


Dih aku salah ngomong apa ya ? aduh Alana aku mohon jangan buang aku....huhuhu


" Alah gak usah ngeles, awas aku mau pergi, dan mengatakan pada Alana agar dia membuangmu ! " Yudha bangkit, lalu berjalan menuju pintu, yang langsung di hadang oleh Dicky


" Aku mohon jangan lakukan itu Kak, please, ayo mending sekarang kakak tidur, ayok !" ajak Dicky sambil memegang lengan Yudha


" Lepasin !" dengan kasar Yudha menepis tangan Dicky, lalu mencoba meraih kenop pintu, namun lagi-lagi Dicky menahan tangan Yudha, dan langsung menampar-namparkan tangan Yudha pada pipinya.


" Kakak boleh tampar aku, mukul aku, tapi jangan suruh Alana buang aku ! " mohon Dicky dengan mata berkaca-kaca


Kena kau ! ini balasan karena menipuku tadi, senang juga rasanya bisa balik menipumu, aku tidak benar-benar menelpon Alana tadi..hahaha


" Baiklah, tapi ada syaratnya !" Ujar Yudha dengan senyuman licik


deg, senyumannya membuatku merasakan akan ada hal mengerikan yang terjadi " Apa kak ?" tanyanya pasrah


" Masakan aku mie goreng, aku lapar !"

__ADS_1


" Tapi stok mie di rumah habis Kak !"


" Jadi, aku harus menyuruh Alana malam ini ke warung hanya untuk membeli mie instan begitu ? kamu memang tidak berguna !"


" Tidak, tidak baiklah aku yang pergi "


" Ya sana pergi, pakai dulu uangmu ! "


Apa ! sudah nyuruh, pakai uang ku pula, dasar tidak tahu malu !


" Kenapa diam ? tidak mau ? ya sudah aku pergi "


" Tidak, tidak, aku akan pergi !" jawab Dicky cepat, langsung membuka pintu dan pergi ke luar, dengan hati yang terus menggerutu, sedangkan di kamar, Yudha tergelak dan langsung membaringkan tubuhnya, dan memejamkan mata.


*******************


Pagi telah datang, seperti biasa Nara sudah siap untuk pergi jogging, tinggal memasang sepatu di kedua kakinya.


" Jogging lagi Ra,?" suara bariton sang Ayah memecah keheningan pagi itu, ayah terlihat membawa alat penyiram bunga di tangannya.


" Iya Yah, biar tetap sehat ! " jawab Nara tanpa mengalihkan pandangannya dari tali sepatunya yang belum terpasang


" Sama siapa,?" tanya Ayah lagi, yang kini sudah mulai menghujani air untuk tanamannya.


" Ya sendi___ "


" Selamat pagi Ayah ! Nara ! " suara riang seorang pemuda memotong perkataan Nara


" Kak Yudha !"


" Nak Yudha !" jawab Ayah dan Nara bersamaan


Dengan wajah riang, Yudha membuka pagar begitu saja, langsung masuk menghampiri Ayah dan mencium tangannya, setelah itu menghampiri Nara yang sudah selesai mengikat tali sepatu, dan berdiri dengan tatapan bingung.


" Ayo Ra ! udah siap kan,?" tanya Yudha dengan wajah ceria dan senyuman 100 watt di wajahnya


" Kakak mau ikut aku jogging,?" tanya Nara yang masih bingung, pasalnya Yudha itu paling malas di ajak olahraga


" Kita berangkat dulu ya Ayah, Assalamualaikum." pamit Nara tergesa karena tangannya sudah di tarik Yudha


" Ya Waalaikumsalam, hati-hati, Yudha jaga Nara yah !"


" Siap Ayah !" teriak Yudha semangat.


Mereka pun berlari kecil bersama, sesekali suara tawa keduanya menghiasi pagi itu, keceriaan dan sifat jail Nara mampu menghangatkan sikap dingin Yudha, membuatnya berubah dari sosok serius, menjadi sosok ceria dan terkadang jahil.


" Kita balapan yuk Kak ! "


" Nggak ah, nanti kamu nangis lagi karena kalah !"


" Dih bilang aja takut !"


" Siapa yang takut ?"


" Kakak !"


" Ya udah ayo kita balapan, tapi kalo kalah jangan nangis ya ! "


" Oke, siapa takut !"


Mereka pun mulai memasang kuda-kuda untuk berlari, Nara mulai menghitung dari 1, 2, dan sebelum angka 3 terucap tiba-tiba


" Kak, ada ulat bulu di baju kakak !"


" Mana, mana, mana " tanya Yudha panik


" Tigaaaa " Ucap Nara langsung berlari " wlee kejar aku Kak ! " timpal Nara lagi sambil terus berlari.

__ADS_1


" Hey dasar curang ! awas ya !" ujar Yudha mulai berlari mengejar Nara, namun belum jauh berlari Yudha sudah merasa lelah, laju larinya kian melambat.


Sial, gara-gara jarang olahraga ni badan, sekalinya lari gak kuat lama. batin Yudha


Nafas Yudha sudah terengah-engah karena kelelahan, sementara Nara masih terus berlari seraya sesekali menjulurkan lidahnya untuk meledek Yudha. harga diri sebagai seorang lelaki dewasa terluka saat itu, tapi dia juga tidak memaksakan tubuhnya untuk terus berlari, tiba-tiba sebuah ide cemerlang terbesit di benaknya.


" Awww, aduhh sakit " teriak Yudha yang langsung menghentikan laju kaki Nara, dan langsung terkejut saat menoleh, melihat tubuh Yudha sudah tersungkur di jalan, sementara tangannya memegangi pergelangan kakinya sambil mengerang kesakitan.


Dengan panik, Nara berlari sekuat tenaga untuk menghampiri Yudha, karena terlalu cepat berlari dan dalam kondisi panik, Nara tidak melihat apa yang dia pijak, dia menginjak sebuah batu dan membuatnya keseleo dan tubuhnya hampir oleng, namun karena rasa khawatirnya, dia mengabaikan rasa sakit itu, dan terus saja berlari dengan langkah tertatih.


" Kakak kenapa,? mana yang sakit? kenapa kakak gak hati-hati ?" cecar Nara dengan wajah panik, tangannya terus menyusuri kaki Yudha mancari asal rasa sakit yang di rasakan lelaki itu.


" Ini....disini " jawab Yudha dengan suara yang memelas, Nara pun mengelus perlahan bagian kaki yang di sentuh Yudha.


Hati Yudha terasa hangat dan bahagia melihat pemandangan wajah Nara yang terlihat sangat khawatir, rasa di cintai menjalar di seluruh hatinya.


" Maaf ya Kak, ini pasti gara-gara aku " ucap Nara sedih, buliran kristal lolos dari matanya, membasahi kedua pipinya yang chubby, melihat itu, Yudha merasa bersalah, niatnya yang hanya ingin mempermainkan Nara, di tanggapi serius oleh kekasih kecilnya ini.


" Kok nangis, ini udah gak sakit kok " ucap Yudha, langsung berdiri, menggerakan kakinya beberapa kali.


" Alhamdulillah, aku takut kakak kenapa-kenapa " Ucapnya dengan mata berbinar, dengan cepat dia mengusap pipinya, dan mencoba bangun dari duduknya, namun tiba-tiba kakinya terasa sakit, membuat tubuhnya gontai.


" Kamu kenapa Ra ? tanya Yudha panik


" Kaki Nara sakit Kak, mungkin keseleo sedikit tadi pas nyamperin kakak tadi " jawab Nara sambil meringis menahan sakit " tapi gak apa-apa kok kak, nanti di pijit ayah juga sembuh" timpalnya lagi


" Ayo sini, aku gendong " ajak Yudha memberikan punggungnya agar Nara bisa naik.


" Tapi kan kaki kakak juga sakit "


" Gak apa-apa, kaki kakak sudah sembuh, ayo cepet naik, nanti ayah khawatir kita belum pulang "


Nara terdiam, dia bingung harus menurut atau tidak, terlebih setahunya kaki Yudha juga sedang sakit, namun mendengar kata "Ayah" keraguan Nara sinar begitu saja, tanpa terduga Yudha menarik tangan Nara, dan melingkarkannya di leher Yudha, dengan hati-hati, Nara sedikit bangkit, lalu menjatuhkan tubuhnya di punggung. setelah terasa seimbang, Yudha bangkit dan mulai berjalan, suasana hening, tak ada percakapan apapun dari keduanya, jarak mereka sangat dekat, membuat Nara bisa mencium aroma maskulin dari tubuh Yudha, membuat jantungnya berdetak sangat cepat, meskipun mereka sering berdekatan seperti ini, namun tetap saja kedekatan itu membuat jantung Nara selalu berdetak lebih cepat.


Kenapa jantungku selalu seperti ini, Kak Yudha denger gak ya?


Aaaaaaaaa malu !


" Ra...." suara Yudha membuyarkan lamunan Nara


" I-iya kenapa Kak, aku berat ya, maaf ya "


" Bukan itu, aku hanya ingin bertanya "


" Tanya apa kak?"


" Apa kamu bahagia selama di sisiku " tanya Yudha serius, entah apa yang di pikirkan lelaki itu, hingga dia menanyakan hal itu, sedangkan yang di tanya malah cekikikan di belakang.


" Kenapa malah ketawa ?" Yudha mulai gusar


" Apa pernah kakak melihatku tidak bahagia saat kita bersama,?" hening, Yudha tidak menjawab " Semenjak kita pacaran, setiap waktu kakak selalu bersamaku, dan itu membuatku sangat bahagia, tapi bagaimana dengan kakak sendiri ?"


" Asal bersamamu, dan selalu denganmu, aku bahagia Ra " ucap Yudha tulus


" Jangan tinggalin Nara Kak,"


" Aku akan selalu bersamamu Ra, sampai aku mati " Nara hanya tersenyum, dia semakin mengeratkan pelukannya, dan memajukan wajahnya ke depan, membuat pipi keduanya menempel, Yudha sedikit menoleh membuat bibirnya mengecup singkat pipi Nara, membuat pipi itu merona karena malu dan bahagia, Yudha terus berjalan dengan senyum yang terus tersungging di bibir keduanya.


Namun tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang terlihat menahan amarah, matanya memerah, tangannya terkepal di balik gorden yang menjadi penghalang kaca sebuah rumah.


Bersambung


.


.


.

__ADS_1


selamat membaca, jangan lupa vote, like dan komennya ya guys, terimakasih


semoga suka


__ADS_2