Kali Kedua

Kali Kedua
Hasutan Ikbal


__ADS_3

"Ay, kamu dimana" gumam Nara, dengan tangan yang terus menggenggam ponsel, sesekali dia menempelkan benda kotak itu di telinganya, setelah beberapa saat menunggu, dia nampak menghembuskan nafas berat dengan raut wajah menunjukkan rasa kecewa.


Pasalnya sejak kemarin nomor Yudha sulit sekali di hubungi, membuat Nara bingung dan perasaannya jadi tidak enak.


"Apa nomor Yudha belum bisa di hubungi Ra ?" suara bariton Pak Bram membuyarkan lamunan Nara, saking terlalu memikirkan Yudha, Nara tidak sadar jika Pak Bram sekarang sudah ada di kamarnya, dan duduk di pinggiran ranjang, sedangkan Nara melanjutkan kembali acara mondar-mandir nya seperti setrikaan rusak.


"Belum bisa Yah, dari semalem gak ngasih kabar" jawab Nara gusar


"Mungkin dia sedang sibuk bersama teman-temannya" ujar Pak Bram sambil melirik Nara yang masih menampilkan wajah gusar," Bukannya semalam kamu bilang jika teman-teman Yudha sedang berada disini " timpalnya lagi


" Iya mungkin, tapi___"


"Sudah jangan di pikirkan, mending kita sarapan, kamu juga harus mikirin kesehatan kamu Ra, wajah kamu masih pucat" ujar Pak Bram khawatir.


"Tapi Ayah, Kak Yudha gak biasanya seperti ini"


"Udahlah Ra, biarkan dia dengan teman-temannya, hitung-hitung biar kalian bisa merasakan apa itu rindu, apa kalian tidak bosan setiap saat bertemu ? karena sebenarnya jika terlalu sering bertemu, akan menciptakan rasa bosan dalam hubungan, itu tidak baik" Ujar Pak Bram lembut, meskipun jauh di lubuk hatinya, lelaki tua itu juga merasa ada kejanggalan pada Yudha, namun dia berusaha tidak menunjukkannya pada Nara, dan menambah kegusaran Nara.


"Tapi ayah !" rengek Nara


"Assalamualaikum !" tiba-tiba ada suara seorang pemuda di luar, membuat Nara langsung reflek menoleh ke arah luar jendela, berhubung jendela tertutup kain tipis, membuat Nara tak bisa melihat dengan jelas siapakah orang yang mengucapkan salam, hanya sekelebat bayangannya saja yang terlihat.


"Ayah, sepertinya itu kak Yudha" Ucap Nara riang, dengan semangat dia keluar dari kamar untuk membuka pintu rumah


"Tunggu Ra, itu bukan Yudha, tap___" ucapan Pak Bram terhenti, karena Nara terlanjur keluar dari kamar, meninggalkannya begitu saja tanpa menggubris perkataannya.


Dasar anak itu !. batin Pak Bram


Dengan langkah cepat, dan senyuman yang tersungging di bibirnya, Nara membuka pintu dan berjalan menuju pagar untuk menghampiri seseorang yg ada di balik pagar tersebut, namun langkahnya berangsur memelan bahkan nyaris berhenti, saat dia sadar bahwa orang yang tengah berdiri di baik pagar itu bukan Yudha, melainkan.....


"Mas Ikbal" ujar Nara pelan, dengan ekspresi kecewa, karena ternyata yang datang bukan orang yang dia harapkan.


"Hai Ra, lama ya gak ketemu" Ucap Ikbal ramah, dengan senyum seribu Watt mengalahkan sinar matahari pagi ini.


"Silahkan masuk Mas" ujar Nara sesaat setelah membuka pagar, Ikbal pun masuk dengan senyuman yang masih bertahan sejak tadi, dengan tangan yang menjunjung sebuah rantang susun, yang berisikan makanan.


Sedangkan Nara, kini terlihat kembali murung, tidak ada lagi senyuman saat ini di wajahnya, hanya ada raut kecewa yang tergambar jelas di matanya.


"Silahkan duduk Mas" ujar Nara dingin, dia mempersilahkan Ikbal duduk di kursi yang berada di teras depan, Ikbal pun langsung duduk dengan manis sambil meletakan rantang susun di meja yang berada di samping kursi yang di dudukinya.


"Mas mau ketemu ayah kan ? Nara panggil dulu ya" Ujar Nara, dia pun lantas melangkah pergi untuk memanggil Pak Bram.


"Kamu berharap Yudha yang datang ya, bukan mas" ucap Ikbal sinis, membuat Nara langsung menghentikan langkahnya, kemudian berbalik menatap Ikbal yang kini sedang menampilkan senyum sinis.


"Jadi benar, kamu ada hubungan sama Yudha" tanya Ikbal


"Bukan urusan Mas" jawab Nara ketus, dia berniat kembali melangkah untuk menemui Pak Bram, namun perkataan Ikbal kembali menghentikan langkahnya.


"Sebaiknya kamu akhiri hubungan kamu dengan Yudha Ra, dia bukan pria baik" Ujar Ikbal dengan nada sarkastik, membuat api dalam dada Nara berkobar, dia mengepalkan tangannya menahan amarah, nafasnya naik turun, menandakan emosinya sedang tidak stabil.


"Maksud Mas apa ?" tanya Nara dengan suara bergetar menahan marah, sedangkan Ikbal hanya tersenyum ringan melihat Nara seperti itu.


"Mas bakal jelasin, tapi kamu harus duduk, gak sopan tahu, di ajak ngobrol malah berdiri" ujar Ikbal, tanpa banyak protes, Nara pun duduk, tanpa merubah ekspresi wajahnya.


"Dari mana mas tahu, aku dan kak Yudha menjalin hubungan ?"


"Mas sering melihat kalian berdua jalan bersama, mesra sekali, bikin iri, sepertinya kamu sudah benar-benar melupakan mas" Ucap Ikbal dengan nada meledek


"Itu kan yang mas mau, lagi pula kita sebentar lagi bakal jadi saudara, jadi memang lebih baik seperti ini kan, lagi pula ku bahagia bersama Kak Yudha" jawab Nara yakin, sedangkan Ikbal hanya terkekeh geli mendengar ucapan Nara, membuat Nara murka.


"Kenapa Mas malah tertawa ?"

__ADS_1


"Gak apa-apa, hanya saja mas merasa lucu dengan hubungan kalian"


"Apanya yang lucu ?"


"Ya lucu saja, hubungan macam apa yang sedang kalian bangun, pasangan aneh!"


"Maksud mas apa ?" tanya Nara gusar


"Kalian pasangan aneh !, yang lelaki sudah punya pacar, yang perempuan hanya menjadikan lelaki itu pelampiasan karena tidak bisa mendapatkan ku"


"Jaga ucapan mas ! aku dan Kak Yudha saling mencintai, jangan bicara sembarangan !" pekik Nara


"Benarkah ?" tanya Ikbal meledek


"Tentu saja, aku bersama Kak Yudha karena aku mencintainya, tidak ada hubungannya dengan perasaanku pada mas, aku mengenal kak Yudha, jauh setelah kedekatan kita berakhir !"


"Ya ya ya aku percaya, tapi bagaimana dengan Yudha, apa dia juga mencintaimu, seperti kamu mencintainya ?"


"Tentu saja !"


"Yakin ?"


"Iya !"


"Tapi aku tidak yakin !"


"Kenapa ?" tanya Nara heran


"Apa dia sekarang sudah menghubungimu ?" Nara diam


"Apa nomornya bisa di hubungi ?"


Nara masih diam


Nara masih diam


Dan kediaman Nara membuat Nara tersenyum senang, pasalnya Ikbal tahu soal kedatangan Lily, dia melihat kemarin Lily berjalan melewati rumahnya, tepat setelah Yudha mengantarkan Nara pulang, dan sore hari saat Ikbal akan pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat ashar, dia kembali melihat Yudha berjalan mesra dengan Lily. Sudah bisa di pastikan bahwa kedatangan Lily akan membuat Yudha lebih mementingkan Lily dan mendiamkan Nara.


Suasana tiba-tiba menjadi hening, tak terdengar jawaban dari Nara, ataupun pertanyaan dari Ikbal.


"Jangan menunggu dan berharap Yudha akan menemuimu Ra" ucap Ikbal lirih memecahkan keheningan


"Kenapa ?"


"Karena dia tidak akan datang, kekasihnya sudah kembali, dan Yudha tidak membutuhkanmu lagi !"


"Kekasih siapa yang kembali ? Kak Yudha hanya milikku dan begitu pun sebaliknya !"


"Kamu yakin ?"


"Iya !"


"Kalo begitu, hubungi dia sekarang, dan suruh dia kesini !"


"Oke" ucap Nara, dia pun langsung mencoba menghubungi nomor ponsel Yudha, namun nihil, hasilnya masih sama seperti tadi, nomor Yudha tidak bisa di hubungi. Dengan pikiran gusar dan kacau, Nara terus melakukan panggilan, namun hasilnya masih sama.


Saat Nara sedang mengetik sebuah pesan, tiba-tiba Ikbal mengambil ponsel Nara, dan menyimpannya di meja begitu saja.


"Udahlah Ra, sekarang dia sedang bersama kekasihnya, mau sampai jari kamu copot pun, tidak akan ada hasilnya" Ucap Ikbal


"Jauhi dia Ra, dia bukan pria baik, dia suka mabuk, tidak bekerja, dan yang paling penting dia milik Lily Ra, semua orang tahu itu !" timpal Ikbal lagi

__ADS_1


Perkataan Ikbal sukses membuat nafas Nara tercekat, tak ada kata yang mampu Nara ucapkan, ingatannya tiba-tiba kembali pada foto yang Nara lihat di studio milik Yudha, foto mesra Yudha bersama seorang gadis yang duduk di pangkuannya, namun baik Dicky atau sahabat Yudha yang lain bilang itu adalah Alana, adik Yudha, tidak mungkin kan Dicky membohongi sahabatnya sendiri.


"Tidak mungkin" Ucap Nara dengan mata merah menahan tangis, dadanya tiba-tiba sesak


"Terserah kalo kamu gak percaya, yang penting mas udah ngasih tahu yang sesungguhnya"


"Tapi___" ucapan Nara terhenti, ketika suara ayahnya tiba-tiba terdengar menghampiri mereka.


"Eh...nak Ikbal" Ucap Pak Bram sambil tersenyum ramah


"Iya pak, Assalamualaikum" ujar Ikbal seraya bangkit dari duduknya, lalu mencium tangan Pak Bram


"Gimana kabarnya ?" tanya Pak Bram


"Baik kok Pak, Alhamdulillah" jawab Ikbal, dia pun berjongkok untuk mengambil rantang susun, lalu di berikan pada Bram "Ini dari mamah, katanya untuk sarapan" timpal Ikbal lagi, Pak Bram pun menerima dengan senang, dan pipi yang merona malu.


"Bilang makasih ya sama mamah" ujar Pak Bram


"Sepertinya Pak Bram bisa langsung menyampaikannya lewat telpon" goda Ikbal membuat pipi Pak Bram makin merona


"Ya sudah kita sarapan bareng yuk !" ajak Pak Bram


"Gak usah Pak, Ikbal mau pamit pulang, kasihan mamah sendiri dirumah"


"Ya sudah kalau begitu, sekali lagi terimakasih ya" ucap Pak Bram, Ikbal hanya mengangguk dan mencium kembali tangan pak Bram. lalu Pak Bram pun menyuruh Nara untuk mengantarkan Ikbal sampai ke depan, Nara pun menurutinya.


"Tunggu Ra " ucap Ikbal, sesaat setelah Nara mengunci pintu pagar, dan Ikbal sudah berada di luar.


"Ada apa lagi Mas ?"


"Maaf jika mas terlalu ikut campur, mas hanya peduli sama kamu, agar kamu lebih yakin jika yang mas katakan adalah kebenaran, coba kamu lihat inisial yang ada di liontin kalung dan cincin yang selalu dipakai Yudha, itu adalah inisial mereka berdua " Ucap Ikbal seraya pergi meninggalkan Nara yang terlihat bingung.


Nara masih berdiri mematung di depan pagar, mengingat semua ucapan Ikbal, dan foto yang ada di studio Yudha, tiba-tiba perasaan ragu menghampirinya, apakah benar Yudha punya kekasih lain ? apa benar bahwa dia bukan satu-satunya di hati Yudha. Nara pun menggelengkan kepalanya untuk membuang pikiran aneh itu, dia percaya Yudha tidak mungkin membohonginya, Nara percaya akan cinta Yudha padanya.


Nara pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah, namun sebelum berbalik, Nara melihat sosok yang dia kenali, dan tanpa menunggu dia pun membuka kunci pagar dan berlari menghampiri orang tersebut.


"Kak Gio" teriak Nara, membuat yang punya nama berbalik, lalu tersenyum menatapnya, Nara pun menghampiri Gio.


"Ada apa Ra ?" tanya Gio dengan mulut penuh dengan roti, sepertinya dia sedang sarapan sambil jalan


"Nara boleh tanya sesuatu sama Kak Gio ?" Tanya Nara, Gio hanya mengangguk karena mulutnya sedang mengunyah.


"Siapa itu Lily ?" tanya Nara polos


Uhuk...uhukk...uhuk..


Gio langsung terbatuk mendengar pertanyaan Nara, semua roti yang hampir masuk tenggorokannya keluar begitu saja, menyisakan rasa sakit di kerongkongan.


Si*lan, Ikbal bener-bener ngomongin soal Yudha dan Lily, mati aku !


aku harus jawab apa. batin Gio


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2