Kali Kedua

Kali Kedua
YANG TIDAK DI SADARI


__ADS_3

Dafa tersenyum sendiri menatap layar tabletnya, dia sedang menonton video yang dikirimkan oleh Ken. Dafa tidak menyangka jika Grace seberani itu mengerjai Laura. Dafa hanya menggeleng-geleng melihatnya sambil tertawa. Gadis itu terkadang memang sedikit konyol, pikir Dafa. Namun didalam hati terdalam Dafa berharap ucapan Grace akan benar-benar terjadi.


"Kurasa Grace bisa mengatasinya, Daf. Kau tak perlu khawatir. Orang-orangku juga terus mengawasi mereka." Ken berucap.


"Ya, aku ingin melihat apa yang akan dilakukan Laura kembali setelah ini." Dafa tersenyum sinis.


"Mungkin dia sedang merencanakan sesuatu kembali. Kenapa dia begitu terobsesi kepadamu, Daf? Apa kau semenarik itu hah? Ken mencibir Dafa.


"Aku memang sangat menarik, Ken. Tapi hanya Grace yang bisa memilikiku." Dafa terkekeh.


"Apa kau seyakin itu, hah?"


"Tentu saja." Dafa tersenyum.


Ken hanya bergumam kecil mencibir Dafa yang selalu merasa percaya diri, dia memperhatikan Dafa yang kembali memutar video itu berulang-ulang. Entah sudah yang keberapa puluh kali dia mengulangnya. Dafa terlihat senang saat Grace mengucapkan kata-kata bahwa mereka akan menjadi sepasang kekasih walaupun Dafa tahu itu hanya bercanda.


Antara cinta dan kebodohan. Batin Ken mencibir.


"Ken."


"Apa?" Ken menoleh ke arah Dafa.


"Jangan sampai Grace terluka."


"Akan aku pastikan." Ken mengangguk.


Ken keluar dari ruangan Dafa, dia berjalan menuju ruangannya. Dia lupa bahwa banyak pekerjaan yang harus di kerjakannya. Ken sibuk dengan pekerjaannya hingga istirahat makan siang tiba. Ken meninggalkan pekerjaannya dan pergi keruangan Dafa.


"Daf, apa kau akan makan siang sekarang?"


"Ken aku sangat sibuk, bisakah kau membawakan makan siang keruanganku?."


"Hmmm baiklah." Ken keluar dari ruangan Dafa, dia menuju kantin perusahaan.


Ken memesan beberapa makanan di kantin, tiba-tiba matanya tidak sengaja menatap Jane yang sedang makan sendirian di sebuah meja sudut kantin. Awalnya dia akan ikut makan siang diruangan bersama Dafa, namun karena melihat Jane sedang sendirian dia mengurungkan niatnya. Ken membawa makanannya menuju meja yang ditempati Grace.


"Jane." Ken duduk di seberang Jane.


"Tu..tuan Ken." Jane sedikit terkejut.


"Kau sendirian?" Ken menatap kesekeliling mencari-cari sosok Grace.


"Ya." Jane mengunyah makanannya.


"Dimana Grace?"


"Sedang berada di kantor cabang."

__ADS_1


"Kenapa kau tidak ikut?"


"Sedang banyak kerjaan, tuan." Jane tersenyum.


"Begitukah?" Ken menyuap makanannya.


"Jane, ini untukmu." Ken memberikan sebuah gantungan kunci berbentuk kepala singa yang di belinya di Singapura.


"Untukku?" Jane menunjuk dirinya sendiri.


"Ya, oleh-oleh dariku, aku tidak sempat memberikannya kemarin." Ken tersenyum.


"Tuan, terkadang anda sedikit konyol." Jane terkekeh.


"Kenapa?" Ken mengernyitkan alisnya.


"Saya tinggal di Singapura, tuan. Anda memberikan oleh-oleh dari tempat tinggal saya." Jane mengecilkan tawanya, dia tidak ingin mendapatkan tatapan perhatian dari karyawan lain karena berakrab ria dengan sekretaris Ken jika dia tertawa terbahak-bahak.


"Oh Tuhan, aku lupa Jane." Ken memukul dahinya sendiri dengan telapak tangan.


"Tidak apa tuan, saya menyukainya, saya tidak punya yang seperti ini." Jane memutar-mutar gantungan kunci itu dengan tangannya.


"Baguslah kalau kau suka." Ken tersenyum kembali.


"Wah-wah ternyata menyala, indah sekali." Jane terkejut saat tidak sengaja menekan tombol di belakang kepala singa, singa itu seketika menyala dengan lampu berwarna warni.


Mereka tampak berbincang lama sambil menyantap makan siang hingga tandas. Jane pamit pergi karena dia ingin ke toilet. Ken menatap punggung Jane yang semakin menjauh, tanpa sadar dia tersenyum menatapnya. Tiba-tiba Ken tersentak dari lamunannya, dia melupakan sesuatu.


"Ken, kau lama sekali, apa kau sengaja membuat cacing peliharaanku kelaparan?." Dafa mendengus kesal.


"Maafkan aku Daf, tiba-tiba ada yang harus kuurus tadi." Ken menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Alasan kau saja, Ken." Dafa mencibir. Ken hanya cengengesan tidak bisa membantah.


"Makan sajalah dulu, aku akan kembali keruanganku." Secepat kilat Ken kembali keruangannya. Dia tidak ingin mendengar ocehan Dafa yang nantinya akan beranak pinak.


...----------------...


Ken merebahkan diri di sofa ruangannya, matanya menatap lurus ke langit-langit. Pikirannya melayang-layang kemana-mana, tiba-tiba rasa kesepian itu muncul kembali. Ken menarik nafasnya kasar, dia bangkit dan mengambil ponselnya, menghubungi seseorang.


"Halo, Ibu?"


"Keenan? Bagaiamana kabarmu sayang?" Terdengar suara lembut di seberang sana.


"Aku baik, bu. Bagaimana dengan ibu? apakah kaki ibu sudah sembuh sekarang?"


"Ya, kaki ibu sudah sembuh, ibu sangat sehat sekarang."

__ADS_1


"Apakah Ayah pergi dinas lagi?"


"Ya, dia pergi selama dua minggu." Ibunya menjawab.


"Kapan ayah pensiun ibu? sudah saatnya dia menemani ibu setiap saat tanpa harus pergi lagi." Ken menggoda ibunya.


"Beberapa tahun lagi, Ken. Ayahmu akan menjadi milik ibu seutuhnya." Ibunya terkekeh membalas candaan anaknya.


"Dimana Grey dan Gretta ibu? apakah mereka ada dirumah?" Ken menanyakan adik kembarnya.


"Mereka sedang les untuk ujian akhir sekolah, Ken."


"Oh baiklah, aku akan kembali bekerja ibu. Aku menyayangimu."


"Aku juga menyayangimu."


Ken menutup teleponnya, dia meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Ken kembali merebahkan dirinya, dia sudah menelepon ibunya namun rasa kesepian itu tidak hilang. Ken merasa heran, biasanya setelah menelepon keluarganya hatinya tidak merasa kesepian lagi. Dia merasa ada yang salah dengan dirinya akhir-akhir ini.


Ken bangkit dan berjalan menuju jendela, dia menatap gedung-gedung di sekitar kantornya. Ken terdiam lama, entah kemana pikirannya berlabuh, diapun juga tidak tahu. Ken tersadar dari lamunannya saat mendengar suara ketukan pintu diruangannya. Ken berjalan dan membuka pintu.


"Jane?" Ken terkejut melihat Jane berada di depan ruangannya.


"Maaf mengganggu, tuan."


"Tak apa, ada apa?"


"Saya diminta untuk menitipkan ini kepada tuan, katanya untuk diserahkan pada Tuan Dafa."


"Dari Grace?" Ken menatap tumpukan Dokumen yang di bawa Jane.


"Iya, tuan." Jane mengangguk.


"Apa Grace belum kembali?"


"Belum tuan, dia mengatakan masih ada yang harus diselesaikannya disana."


"Baiklah, aku akan memberikannya pada Dafa."


"Terima kasih tuan."


"Apa ada lagi yang ingin kau sampaikan pada Dafa.?" Ken menatap Jane yang masih berdiri di depannya.


"Tidak ada tuan."


"Apa kau ingin mampir keruanganku dulu." Ken tersenyum


"Tidak tuan, terima kasih. Saya akan kembali keruangan." Jane pamit dan berlalu meninggalkan Ken yang masih menatapnya dengan tersenyum.

__ADS_1


Ken terus tersenyum menatap Jane hingga menghilang dari pandangannya. Entah mengapa rasa kesepiannya menguap seketika, namun Ken tidak menyadarinya sama sekali. Dia masuk kembali ke ruangannya, mengambil ponsel dan keluar lagi. Dia berjalan menuju ruangan Dafa sambil membawa dokumen yang diberikan Jane. Ken tidak berhenti tersenyum hingga memasuki ruangan Dafa.


...****************...


__ADS_2