
“Apakah kau benar-benar akan menginap disini?” Grace menatap Dafa disampingnya yang sedang fokus menonton televisi.
“Mmm.” Dafa mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.
“Tunggu sebentar, aku ingin mengambil sesuatu.” Grace masuk ke kamarnya dan kembali lagi membawa lembaran kertas ditangannya.
“Aku menjalani operasi pada umur 21 tahun, berarti sekitar 4 tahun yang lalu.” Grace membaca tulisan-tulisan dikertas tersebut.
Empat tahun yang lalu kau menjalani operasi? Apa kau sudah menderita sakit saat masih bersamaku Grace? Kenapa kau tidak pernah memberitahuku. Dafa
“Terus?” Dafa menatap Grace, dia tidak lagi memperhatikan televisi.
“Aku koma beberapa bulan dan bangun dalam keadaan tidak mengingat apapun.” Grace terus menatap lembaran kertas.
“Apa kau benar-benar tidak ingat sama sekali saat bangun Grace?”
“Ya, aku merasa seperti bangun ditempat baru yang tidak kukenali sama sekali.”
“Apa kau mengenali orang tuamu?”
“Tidak. Kau tahu aku bahkan kesulitan untuk berbicara saat itu.”
“Benarkah?” Dafa memandangi Grace, dia memutar tubuhnya dan duduk menghadapi Grace.
“Ya, tapi itu hanya sementara, tidak sampai sebulan aku sudah dapat berbicara dengan normal kembali.” Grace tersenyum
“Hmm, kau sudah melalui hari yang berat.” Dafa menepuk-nepuk bahu Grace.
“Aku di operasi di rumah sakit Singapura, dokter yang menangani adalah dokter Nathanael.” Grace membaca kembali lembaran kertas ditangannya.
“Apa kau mengenal dokter itu?” Dafa bertanya.
“Ya, dia dokter keluarga kami sampai saat ini.”
“Apa dia juga tidak memberitahumu tentang sakitmu?”
“Tidak, mungkin dilarang oleh orang tuaku, aku akan bertanya padanya nanti.”
“Mmm, baiklah.” Dafa mengangguk-angguk.
“Grace. bagaimana kau menjalani
kehidupanmu setelah mengalami amnesia?”
“Sepi, aku tidak punya kenalan seorangpun.” Grace terkekeh.
“Apa sekarang kau masih merasa sepi?” Dafa menatap dala wajah gadis didepannya.
__ADS_1
“Tidak, sekarang banyak yang berdiri disampingku dan mencintaiku.” Grace tersenyum membalas tatapan Dafa.
Termasuk aku yang sangat mencintaimu. Dafa
“Apa kau ingin mengingat kembali memori masalalumu, Grace?”
“Mmm, aku mau.” Grace mengangguk.
“Bagaimana jika didalam memori lamamu terdapat kesedihan?”
“Tidak masalah, aku pasti bisa menghadapinya, kesedihan tidak akan membunuhku kan?.” Grace terkekeh.
Maafkan aku yang telah menggoreskan luka pada memori masalalumu, Grace. Dafa
“Baiklah, aku akan membantumu untuk mengembalikan memorimu.”
“Bagaimana caranya?”
“Bagaimanapun caranya.” Dafa tersenyum lembut, ingin rasanya dia membelai rambut gadis didepannya dan membawanya kepelukannya.
“Kau yakin?” Grace mengernyit.
“Kau yang harus yakin.” Dafa terkekeh.
“Baiklah, aku akan mencobanya.” Grace mengangguk-angguk.
“Grace.”
“Apa hal yang pertama akan kau lakukan jika memorimu kembali?”
“Entahlah, mungkin aku akan mengungkapkan perasaan cinta pada seseorang yang aku sukai di masalalu.” Grace terkekeh.
“Apa kau yakin punya seseorang yang kau suka dimasalalu?” Dafa balas terkekeh.
“Hei aku gadis normal, aku yakin aku pernah jatuh cinta dimasalalu.”
Ya, kau pernah sangat jatuh cinta padaku Grace.
“Bagaimana jika orang yang kau cinta pernah menyakitimu dimasalalu?”
“Mmm, bukankah kita diberi sifat untuk selalu memaafkan?” Grace menatap wajah Dafa.
“Semudah itu kah hatimu untuk memaafkan?”
“Tidak juga, mungkin akan ada sedikit luka tapi itulah yang terbaik. Tanpa luka seseorang tidak akan bisa bertambah kuat.” Grace terkekeh.
“Baiklah, sekarang kau istirahatlah, malam sudah semakin larut.” Dafa bangun dari duduknya dan menarik tangan Grace agar mengikutinya.
__ADS_1
Hei, mau kau bawa kemana aku?. Grace
Dafa menarik tangan Grace pelan agar segera bangkit dar duduknya, Dafa membawanya masuk kedalam kamar. Grace menurut saja apa yang dilakukan Dafa, karena dia yakin mendebat Dafa hanyalah buang-buang tenaga.Dafa membetulkan bantal, menyuruh Grace berbaring dan menyelimutinya. Dafa mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur yang bersinar temaram, lalu menarik kursi rias dan menaruhnya di samping tempat tidur Grace, dia duduk dan menatap Grace yang juga sedang menatapnya.
“Tidurlah.” Dafa tersenyum menatap Grace
“Bagaimana denganmu?” Grace balas menatap Dafa
“Aku akan tidur setelah kau tidur.”
“Baiklah.”
“Apa kau tidak memberiku pesan untuk tidak mengganggumu lagi?” Dafa terkekeh.
“Tidak.” Grace merasa malu karena teringat semalam dia memeluk Dafa dengan seenaknya.
Grace memejamkan matanya, tapi dia belum terlalu mengantuk. Pikirannya melayang entah kemana, dia merasa menjalani hari ini dan hari sebelumnya seperti mimpi. Bagaimana bisa dia bisa sedekat ini dengan pria yang sekarang menjaganya disini hanya dalam waktu beberapa bulan. Pikirannya terus bertanya-tanya meminta jawaban.
Ada apa denganku? Kenapa rasanya sangat tenang berada didekat pria ini? Dia yang dari awal membuatku senang berada didekatnya dengan caranya sendiri, dia yang tidak pernah memberi alasan kenapa melakukannya.
Apa yang kau mau dariku, Dafa? Kenapa kau begitu membuatku merasa spesial, membuatku merasa di istimewakan. Apa yang harus aku lakukan? Bisakah aku mengembalikan jantungku agar tidak lagi berdetak jika didekatmu?
Bagaimana bisa kau melakukannya dengan secepat ini, membuatku merasakan hal berbeda yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Oh Tuhan, bisakah aku mengendalikannya, perasaan yang seharusnya tidak datang secepat ini. Grace berdebat dengan pikirannya sendiri hingga akhirnya dia terlelap.
Dafa menatap wajah polos Grace yang telah terlelap, dia juga sudah merasa sangat mengantuk. Dafa beranjak menuju sofa besar didekat jendela dan membaringkan tubuhnya yang terasa sedikit lelah.
Dafa menatap langit-langit kamar sambil tersenyum mengingat hari ini yang telah dilaluinya bersama Grace. Dafa merubah posisi tidurnya menyamping menatap gadis yang terlelap seperti putri tidur tidak jauh dari tempatnya. Rasanya dia tidak ingin tidur malam ini, dia ingin memandangi gadis itu saja semalaman.
Dafa bangkit dari tempatnya menuju tempat tidur Grace, dia duduk kembali dikursi dan menggenggam tangan gadis itu, dia menempelkan jemari gadis itu di pipinya. Menepuk-nepuknya dengan pelan dan lembut, takut membangunkan Grace. Dafa membawa jemari Grace ke dadanya, menaruhnya lama disana.
Grace kau tahu? Jantungku kembali berdetak saat kau kembali, saat pertama kali aku melihatmu di ruang rapat, detak jantungku hanya untukmu. Jantungku tidak pernah berhianat, dia tidak pernah berdetak untuk wanita manapun selain dirimu.
Grace ku mohon apapun yang terjadi di depan nanti jangan pernah lepaskan tanganku karena aku tidak akan melepaskanmu lagi.
Grace ku mohon seberat apapun jalan kita nanti, tetaplah disampingku, aku akan menjagamu seperti menjaga nyawaku sendiri.
Grace jadilah wanitaku, pilihlah aku kembali dikehidupanmu, aku tak akan berbuat bodoh lagi.
Grace maafkan aku yang pernah melepaskan genggamanku, aku salah telah menuruti egoku dulu.
Grace berjanjilah untuk selalu bahagia setelah segala hal sulit yang kita lalui dimasalalu.
Dafa melepaskan genggamannya dan menaruh tangan Grace ke tempat semula. Dia membelai rambut Grace, menyelipkannya ke telinga gadis itu. Dafa tidak bisa menahan perasaannya lagi, dia mencium pelan kening Grace.
Maafkan aku mencuri ciuman keningmu diam-diam, Grace.
“Selamat tidur, cinta.” Dafa berbisik lirih disamping Grace.
__ADS_1
Dafa beranjak kembali menuju sofa, dia membaringkan tubuhnya dan terlelap begitu saja. Grace terlelap sangat tenang malam itu, tidak ada mimpi buruk yang menghampirinya. Dia merasa tidur sangat nyenyak tanpa terganggu hingga pagi datang menyapanya kembali.
...****************...