Kali Kedua

Kali Kedua
Hari Patah Hati


__ADS_3

Beberapa bulan telah berlalu, ulangan tengah semester pun sudah selesai, kegiatan belajar pun sudah berhenti, namun siswa/siswi masih harus datang ke sekolah, untuk sekedar memperbaiki nilai yang kurang saat ulangan.


Pagi ini Nara sudah terlihat rapih dengan baju olahraga berwarna hitam dan abu-abu tua, di padu padankan dengan kerudung hitam polos yang sudah rapih membungkus kepalanya, cukup lama dia memandang pantulan wajahnya di cermin, tidak lupa dia menambahkan sedikit bedak bayi di wajahnya.


" Ra.... udah siap belum, ojegnya udah nunggu di depan tuh ! " Ujar mamah


" Iya mah ! " jawabnya sambil menyambar tas selempang di atas meja, dia pun bergegas pergi menghampiri mamah yang sedang menonton acara gosip di pagi hari, untuk berpamitan


" Nara berangkat dulu ya mah " ujarnya sambil menggapai tangan ibunya untuk bersalaman.


" Iya " jawab ibu Nara dengan mata masih fokus dengan televisi


" Mamah ! "


" Apaan ? "


" Mamah ih "


" Apaan sih ! " masih fokus ke televisi


" Aku mau berangkat ini ! " mulai kesal


" Ya udah sana ! "


" Tapi mah..."


" Apaan ? " langsung melihat Nara dengan tatapan jengah, merasa terganggu " mau sarapan ? kan biasanya juga gak sarapan di rumah "


" Bukan mau sarapan mah, tapi__ " ucapan Nara terputus saat melihat ibunya merogoh saku celana kulotnya.


" Mau ini ? " tanya mamah sambil menyodorkan uang pecahan 50 ribu pada Nara, dan di terima dengan mata berbinar


" Wihh.... tumben gede, kesambet apaan mah, biasanya juga ngasih yang nol nya cuman 3 ? " tanyanya heran sekaligus senang


" Enak aja kesambet, ini sekalian buat ongkos kamu pergi ke rumah ayah kamu " jawab mamah sambil kembali fokus pada televisi


" Eh iya lupa, aku kan mau ke rumah ayah, tapi ini kurang mah, orang naik bis ke rumah ayah itu ongkosnya hampir 30 ribu " ujar Nara berbohong


" Jangan bohong anak nakal, kamu kan kesana pake seragam sekolah, paling ongkosnya 10 ribu, udah sana kasian ojegnya udah nungguin ! "


" Ya udah aku pergi ya mah, sampai jumpa 2 minggu lagi ya, awas lho jangan kangen ! "


" Ih amit-amit, udah sana pergi ! ujar mamah sinis


" Hahaha " Nara pun pergi, seketika itu juga wajah sinis ibu Nara menghilang, berganti jadi muram, setitik air matanya jatuh melihat anaknya pergi, hatinya tidak rela, tapi dia tidak bisa egois, Ayah Nara pun berhak menghabiskan waktu bersama anaknya, sesuai perjanjian, setiap libur sekolah Nara akan tinggal di rumah ayahnya sampai liburan berakhir.


Sesampainya di sekolah, Nara bergegas melihat Mading untuk melihat daftar nama siswa yang harus melakukan remedial untuk memperbaiki nilainya yang kurang, di rasa tidak namanya disana, Nara bergegas menuju kelas untuk mencari Winda, namun ternyata Winda tidak ada kelas.


" Kemana tuh anak ? " gumamnya dengan mengedarkan pandangan ke halaman depan, namun tetap tidak dia temukan, " Coba telepon deh " ujarnya sambil mengetuk toot di benda kotak tersebut, dan melakukan panggilan. tiga nada terdengar sebelum akhirnya tersambung.


" Ada apa Ra.... " Jawab Winda dengan suara serak khas menangis


" Kamu nangis Win ? kenapa ? dimana kamu ? kamu sekolah kan ? " Cecar Nara khawatir


" Aku di belakang kelas, kamu kesini, nanti aku jelasin ". tanpa menjawab Nara langsung mematikan panggilan, dan berlari menuju tempat dimana Winda berada, tak beberapa lama Nara sampai di tempat yang di sebutkan Winda tadi, dari jauh Nara sudah bisa melihat sahabatnya itu tengah duduk, membenamkan wajahnya pada lutut, Winda sedang menangis, terlihat dari pundaknya yang naik turun, Nara pun mendekat perlahan.


" Kamu kenapa Win ? " tanya Nara sambil mengelus punggung sahabatnya itu, Winda pun mengangkat kepalanya dan langsung memeluk Nara sangat erat, dan menangis di bahu Nara, di rasa sudah cukup tenang, Nara pun melepaskan pelukan Winda untuk meminta penjelasan.

__ADS_1


" Ayo cerita ! " lugas Nara


" Aku udah nembak kak Alvin Ra.. " ujar Winda dengan suara serak


" What ? terus gimana ? " tanya Nara penasaran


" Ya aku di tolak Ra ! kalo di terima aku ga bakal nangis gini...huaaaa " kembali nangis


" Ya udah sih Win, yang penting udah utarain, terus udah tahu perasaan dia ke kita gimana, jadi kita udah tahu mau ngapain selanjutnya kan ? "


" Tapi sakit Ra, kamu tahu sendiri kan aku sama dia udah Deket banget, kayak pacaran, aku pikir dia juga suka sama aku, tapi dia cuma anggep aku adek...huaaaa " nangis lagi


" Lah kamu kan emang adeknya, ya meskipun cuma adek kelas sih, kamu masih SMP terus dia udah SMA " ledek Nara


" Ra.....kamu ih, gak pernah rasain sih gimana rasanya udah Deket tapi cuma di anggep adek ! " rajuk Winda.


" Pernah Win, kamu lupa gimana dulu aku deket sama Ikbal, aku nembak dia tapi dia cuma anggep aku adek ! " ujar Nara dengan mata menerawang dan tersenyum


" Ehh.... iya Ikbal, dia masih suka telepon kamu sekarang ? penasaran Winda tanpa sadar lupa kesedihannya sendiri.


" Masih... nih " jawab Nara sambil memperlihatkan layar handphone yang berkedip beberapa kali.


" Buset udah beberapa bulan masih gitu, kamu gak pernah angkat sama sekali ? " tanya Winda tak percaya


" Pernah aku angkat, tapi cuma ngomong bentar gak kayak dulu "


" Kenapa ? "


" Ya mau ngomongin apa, lagian aku udah bener-bener biasa aja sama dia, rasa suka dan kagum itu terbang gitu aja, berubah jadi ielfel "


" Ya karena ternyata kepribadiannya gak sebaik yang aku pikir, dan itu bikin pandangan aku ke dia berubah, tapi itu bikin aku sadar kalo selama ini aku hanya sebatas kagum, bukan sayang, karena kalo sayang aku bakal terima apapun dia, tapi ini nggak "


" Terus kedepannya kamu mau gimana ? "


" Ya gini aja, jalanin hidup seperti dulu belum kenal dia, dan setelah di jalani semua baik-baik aja "


" Apa aku bisa lupain dia kayak kamu ke Ikbal Ra.. ? " tanya Winda putus asa


" Bisa Win, insyaallah, ya udah aku mau pergi dulu, mau ke rumah ayah " Ujar Nara bangkit dari duduknya


" Sekarang Ra..? masih pagi ini " ucap Winda melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 9 pagi


" Ya mumpung masih pagi, biar gak panas "


" Ciee bakal ketemu Ikbal dong " goda Winda " Ikbal tahu ga kamu mau kesana " tanyanya lagi


" Tahu, aku udah bilang " jawab Nara sambil berlalu pergi di ikuti Winda


" Kalo dia ngajak ketemuan, kamu mau ? "


" Mau aja, sekalian bilang biar dia gak ganggu aku terus, seperlunya aja gitu "


" Kamu yakin mau ketemu dia ? "


" Yakinlah, biar pasti juga, aku gak mau jadi pengecut kalau menghindar terus ! " ujarnya yakin.


Tak terasa mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah, setelah berpamitan satu sama lain, Nara dan Winda naik angkot yang berbeda, karena Nara harus pergi ke halte bus untuk pergi ke rumah ayah Nara, sesampainya di halte, tidak butuh waktu lama Nara naik bus yang baru saja datang dan dia duduk di dekat jendela.

__ADS_1


Setelah hampir 1 jam lebih perjalanan, akhirnya Nara sampai di kota tempat tinggal ayahnya, dia turun dan langsung berjalan meninggalkan bus yang tidak bisa masuk ke wilayah perumahan tersebut, sesekali Nara merenggangkan ototnya yang terasa pegal karena terlalu lama duduk.


" Nara....!! tunggu !! " panggilan dari suara yang tidak asing, menghentikan langkahnya, !Nara pun menengok ke belakang, dan benar saja itu adalah Ikbal.


" Kamu baru nyampe ya ? " tanya Ikbal yang kini sudah ikut berjalan di samping Nara


" Iya, baru aja "


" Ra.... sampai kapan kamu mau menghindar dari mas ? " tanyanya memelas


" Nara gak menghindar dari mas, buktinya sekarang Nara masih manggil kamu mas seperti permintaan kamu dulu " ucap Nara santai


" Apa kamu udah gak sayang lagi sama mas ? "


" Sayang ko, tapi seperti adik ke kakak, gak lebih dan sepertinya gak pernah lebih "


" Tapi dulu kamu pernah nembak mas, apa kamu marah karena dulu mas pernah tolak cinta kamu "


" Itu kan dulu mas, lagipula sekarang Nara sadar kalau Nara dulu hanya kagum sama mas, tidak lebih "


" Apa ini semua karena hubungan orang tua kita yang semakin dekat ? "


" Nggak mas, ini gak ada hubungannya sama mereka, lagipula kalau karena mereka, dulu Nara gak bakal ngejar-ngejar mas, ini murni karena Nara sadar kalau Nara hanya kagum sama mas gak lebih ! " tegas Nara penuh keyakinan.


Terlihat raut kecewa di wajah Ikbal, namun segera dia tepis dengan senyum yang di paksakan.


" Baiklah Ra, mas terima, semoga kita masih bisa berteman " ujar Ikbal


" Iya mas itu pasti, tapi Nara mohon mas jangan terlalu sering menghubungi Nara, hubungi Nara sewajarnya aja, lebih baik mas coba buka hati buat perempuan lain yang pernah mas ceritain ke Nara dulu, kan kata mas banyak " ujar Nara tulus


" Iya Ra, mas akan coba " jawab Ikbal kecewa


" Ya udah mas Nara masuk dulu, ini udah sampe " ujar Nara tidak terasa sudah ada di halaman rumah ayahnya.


" Eh... iya Ra, semoga kita bisa ketemu lagi " ujar Ikbal penuh harap, tapi Nara hanya diam dan itu membuat Ikbal kecewa, dia pun tertunduk dan berjalan perlahan menjauhi Nara.


" Eh tunggu Mas ! " mendengar itu Ikbal langsung tersenyum mengangkat wajahnya, dan segera berbalik ke arah Nara " Jangan merasa jadi orang paling baik mas, karena di atas langit masih ada langit, jangan ganggu Nara lagi, hidup seperti biasa, semoga bahagia " ujar Nara langsung berbalik untuk membuka pagar rumah dan hilang begitu saja dari pandangan Ikbal tanpa memberikan kesempatan Ikbal untuk menjawab, dia hanya diam mematung disana.


sementara Nara masuk dan langsung di sambut oleh sang Ayah yang sudah menunggu di depan pintu, Nara di sambut dengan pelukan hangat sang ayah, mereka pun masuk langsung menuju ruang makan, dan menyantap makanan bersama.


sesudah makan, Nara pamit untuk pergi ke kamar pada ayahnya, untuk merebahkan tubuhnya di kasur empuk sambil menunggu Azan Dzuhur yang akan berkumandang 1 jam lagi. saat sudah merebahkan tubuhnya Nara teringat sesuatu, dia langsung meraih tas dan membukanya untuk mengambil buku ini diary yang dia beli bersama Winda dulu, dia memeluk diary itu sambil tersenyum.


" Kamu akan jadi saksi kisah baruku nanti, semoga kisahku nanti akan terjalin indah " ujar Nara sambil memeluk diary itu dan kembali merebahkan tubuhnya sambil memejamkan mata dengan senyum masih terbingkai di bibirnya. Ada rasa lega di hatinya setelah bicara dengan Ikbal tadi, tak terasa dia pun tertidur, dan bermimpi hal yang sama, mimpi yang akhir-akhir ini sering datang di setiap tidurnya.


.


.


.


.


.


Bersambung.... !!!


Dukung aku dengan like dan vote nya ya guys, di tunggu juga komentar nya biar aku semangat ! Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2