Kali Kedua

Kali Kedua
BIARLAH BERLALU, ITU MASALALU


__ADS_3

Malam itu Dafa dan Grace sedang berada di taman hiburan. Mereka berdua duduk berhadapan, sedang menikmati keindahan sekitar dari atas bianglala yang berputar pelan. Grace kelihatan sangat senang sekali, dia tidak berhenti tersenyum.


"Daf, kenapa hari ini sepi sekali? Biasanya banyak yang mengantre untuk naik bianglala, tapi sekarang hanya kita berdua disini."


"Entahlah, mungkin orang-orang sedang sibuk." Dafa mengulum senyum.


"Kurasa tidak, bukankah ini akhir pekan? Setidaknya akan ada banyak orang yang datang."


"Mungkin hari ini mereka lebih suka pergi ke alun-alun kota." Dafa menjawab sekenanya.


"Benarkah?"


"Sepertinya, coba kau lihat kesana." Dafa menunjuk ke arah alun-alun yang lumayan jauh namun masih bisa terlihat kerlip lampu dan keramaian.


"Benar juga, sepertinya disana sangat ramai." Grace mengangguk-angguk.


Tanpa sepengetahuan Grace, Dafa meminta untuk menutup taman bermain itu untuk hari ini. Dia ingin menikmati waktu berdua saja bersama Grace disana. Dafa tidak mengatakannya pada Grace karena sangat jelas Grace tidak akan menyetujui hal itu.


"Hei, wahananya berhenti. Apa terjadi masalah dibawah sana?" Grace tampak sedikit panik, wahana bianglala berhenti berputar dan berhenti di ketinggian.


"Grace, tenanglah tak apa." Dafa tersenyum.


"Sungguh? Aku takut tidak bisa turun." Grace celingak celinguk menatap ke bawah mencari-cari sang operator wahana.


"Grace." Dafa meraih jemari Grace dan menggenggamnya membuat Grace terhenti dari kepanikannya.


"Ya?" Grace menatap Dafa.


"Apa kau sungguh mencintaiku?"


"Hei, kenapa bertanya disaat seperti ini? Kau bertanya seakan kita terjebak dan hidup kita akan berakhir disini" Grace terkekeh.


"Grace, jawab saja." Dafa tersenyum.


"Aku sangat mencintaimu." Grace ikut menggenggam tangan Dafa dengan satu tangannya yang lain.


"Grace aku ingin bercerita padamu, sedikit tentang masalalu kita."


"Ya, aku akan sangat senang mendengarnya." Grace tersenyum.


"Grace, jika masalalu tentang kita menyakitkan, apakah


kau masih ingin bersamaku?"


"Daf, aku masih tidak tahu apa yang terjadi antara kita di masalalu. Tapi aku akan berusaha menerimanya jika itu adalah hal yang tidak menyenangkan."


"Grace maafkan aku, aku sungguh bersalah padamu."


"Daf ceritakanlah, aku tidak mengerti jika kau tidak menceritakannya, aku tidak tahu kau minta maaf untuk apa."


"Grace, kau sungguh tidak akan meninggalkanku jika kau mengetahuinya?"


"Ya, aku tidak akan meninggalkanmu."


"Grace, aku tak sanggup jika harus kehilanganmu kembali, tapi aku juga tidak ingin menyembunyikan masalalu kita darimu."


"Ya, ceritalah Daf, aku akan mendengarkannya."


Dafa menceritakan apa yang dilakukannya dimasalalu terhadap Grace. Dafa menceritakan hal yang sesungguhnya terjadi, tak dikurangi dan tak di tambah-tambah. Grace mendengarkannya dengan tenang tanpa menyela sedikitpun perkataan Dafa.

__ADS_1


"Grace, akulah yang meninggalkanmu dulu, aku sangat labil, tidak berpikir dan sangat tidak dewasa."


"Ya, aku mengerti."


"Grace, dulu kau berjuang keras untuk hubungan kita namun aku terus menghindarimu."


"Lalu?"


"Aku menyadari kau sangat berarti setelah kau benar-benar pergi dan menghilang."


"Apa saat aku pindah ke Singapura?"


"Ya, saat itu aku tidak tahu kau pergi kemana, beberapa kali aku mengunjungi rumahmu namun kau dan orang tuamu sudah tidak tinggal disana."


"Daf, saat aku pergi apa kau terluka?"


"Sangat."


"Saat ini kau sungguh mencintaiku?"


"Ya." Dafa mengangguk. "Aku berjuang untuk mencarimu kembali saat itu tapi sama sekali tak menemukanmu."


"Terima kasih sudah berjuang untukku Daf."


"Perjuanganku tidak sebanding dengan kesalahan yang kulakukan padamu, maafkan aku Grace."


"Daf, apapun yang terjadi dimasalalu aku tak ingin lagi mempermasalahkannya. Masalah keluargamu pasti sangat berat dan membuatmu terpuruk, kau kehilangan orang-orang yang kau sayangi. Aku berharap diriku dimasalalu tidak pernah membuatmu terluka." Grace tersenyum.


"Grace, kau sungguh tidak pernah membuatku terluka, dimasalalu maupun dimasa sekarang."


"Syukurlah, aku akan merasa bersalah jika aku yang menyakitimu."


"Aku lah yang membuatmu terluka. Grace, kau sungguh tidak membenciku? Kau tidak marah padaku setelah mendengar apa yang kuceritakan."


"Grace, kenapa kau sangat baik hati?"


"Jangan memujiku." Grace terkekeh.


"Kau sangat menerimanya dengan lapang dada, padahal kau bisa memukulku sekarang."


"Daf, mungkin jika aku masih Grace yang dulu bisa saja aku kesal padamu karena meninggalkanku tanpa kepastian seperti itu. Tapi sedewasa ini aku tidak ingin membuat rumit keadaan hanya karena masalalu yang sudah berlalu. Sekarang kau kekasihku dan aku hanya ingin bahagia bersamamu."


"Grace, terima kasih."


"Aku juga berterima kasih karena kau sudah jujur padaku."


"Mmm, Grace."


"Ya?"


"Maukah hidup denganku?"


"Ya." Grace mengangguk, tersenyum cerah.


"Aku akan menebus semua kesalahanku, aku takkan menyakitimu lagi."


"Ya." Grace kembali mengangguk.


"Grace, ayo menikah." Dafa mengeluarkan kotak kecil berisi cincin.

__ADS_1


"Kau melamarku?" Grace terkekeh.


"Ya."


"Baiklah, aku mau." Grace menyodorkan jemarinya.


Dafa memasang cincin kejari manis Grace, dia sangat senang Grace menerimanya tanpa basa basi. Grace memang berbeda, gadis itu tidak cerewet namun selalu tenang dan lembut. Dafa terus tersenyum melihat cincin itu telah tertaut di jari gadis yang sangat di cintainya.


"Mmm, Dafa."


"Ya?"


"Ada satu hal yang harus kau lakukan."


"Apa itu?"


"Menemui kedua orang tuaku."


"Kedua orang tua?"


"Ya, terutama ayah."


"Ayah?" Dafa langsung membeku teringat dengan Wira, ayah Grace.


"Kenapa kau terkejut begitu?" Grace terkekeh.


"Tak apa, sudah lama aku tidak bertemu dengan ayahmu."


"Apa kau mengenal ayahku."


"Tentu saja, apa ayahmu tidak mengatakannya?"


"Dia tidak mengatakan apapun, tapi dia mengenalmu."


"Grace, aku sedikit khawatir dengan ayahmu." Dafa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kenapa?"


"Sepertinya dia tidak menyukaiku, kemungkinan dia tahu tentang apa yang ku perbuat padamu dulu."


"Kau jangan khawatir, ayahku tidak akan berbuat jahat padamu."


"Grace, bagaimana jika ayahmu tidak menerimaku dan dia tidak merestui hubungan kita?" Wajah Dafa mulai suram.


"Hei, kenapa tidak percaya diri seperti itu? Anggaplah itu tantangan terakhir untukmu, jika kau berhasil mengambil hati ayahku maka kita bisa secepatnya menikah. Jika tidak, maka kita tidak bisa menikah." Grace tertawa kecil.


"Grace jangan membuatku semakin takut."


"Kau terlalu berpikir berlebihan Daf, aku yakin ayahku akan menerimamu."


"Baiklah, aku akan melakukannya."


"Aku yakin kau bisa menghadapi ayahku, Daf."


"Baiklah, aku akan segera menemui kedua orang tuamu, bagaimanapun aku harus mendapatkan restu dari mereka."


"Ya, harus." Grace tersenyum.


Dafa dan Grace akhirnya diam, mereka menikmati suasana diketinggian sambil terus berpegangan tangan. Tak ada lagi kata terucap, mereka hanya saling merasakan debaran jantung yang tak pernah mau berhenti sedetikpun setiap mereka berdekatan. Dafa tak lagi mencemaskan masalalu, dia telah mengatakan semuanya pada Grace. Dafa telah mengakui semua kesalahannya dan berusaha untuk menebusnya.

__ADS_1


Grace dengan segala kerendahan hati menerima semua yang terjadi dimasalalu walaupun dia sama sekali belum mengingatnya. Dia memilih mendengarkan dan mempercayai apa yang dikatakan oleh Dafa. Grace tak ingin membuat rumit hubungan yang baru saja mereka bangun, yang dia tahu Dafa mencintainya dan diapun mencintai Dafa.


...****************...


__ADS_2