
Seperti rencana sebelumnya, seusai menentukan organisasi kelas, pak Toto mempersilahkan semua murid untuk pulang lebih awal, karena kegiatan belajar mengajar baru akan di laksanakan secara normal esok hari, jadi hari ini hanya diisi kegiatan membuat organisasi kelas dan bersih-bersih ruanga kelas.
Nara dan Winda bergegas menaiki angkutan umum yang sudah terparkir manis di depan gerbang sekolah. Dalam waktu beberapa menit angkot itu sudah penuh dengan remaja perempuan maupun laki-laki, dan perjalanan pun di mulai, selama perjalanan semua penumpang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, ada yang mengobrol dengan teman di sebelahnya, ada yang membaca buku, ada juga yang sibuk dengan handphone tanpa kameranya. Ya peraturan sekolah memperbolehkan semua siswa membawa handphone dengan syarat tanpa kamera.
Perjalanan terus berlanjut, beberapa kali angkot tersebut berhenti, dan menurunkan beberapa penumpang yang sudah sampai di tujuannya, sampai akhirnya tinggal tersisa Nara dan Winda yang masih duduk manis di kursi penumpang, akhirnya angkot tersebut masuk ke sebuah jalan raya yang cukup padat.
" Berhenti di depan Bang ! " ujar Winda ketika angkot tersebut hendak masuk ke pertigaan jalan, dengan cepat angkot itu berhenti, lalu mereka pun turun.
" Berdua ya Bang " ucap Nara sambil menyodorkan uang kertas 5 ribu rupiah, tanpa berkata apapun supir angkot tersebut menerima uang tersebut dan memberikan kembalian dua keping koin berwarna gold pecahan 5 ratus rupiah pada Nara.
Mereka pun berjalan menuju toko buku terbesar di kota tersebut, jarak toko buku dengan pemberhentian angkot tadi tidak terlalu jauh, membuat mereka memutuskan untuk berjalan kaki untuk sampai ke sana, di sepanjang trotoar jalan, banyak sekali pedagang berbagai makanan kecil, seperti roti, kue tradisional, berbagai minuman, bahkan mainan anak kecil.
Akhirnya sampai juga di toko buku tujuan, dan mereka langsung menuju rak dimana banyak buku diary dengan berbagai ukuran, gambar dan warna. Tapi sepertinya belum ada yang menarik perhatian Nara, terlihat dari ekspresinya yang masih bingung.
" Cari diary yang kayak gimana sih Ra, ini banyak pilihannya, cepetan pilih ! " Seru Winda kesal
" Bentar dong Win, aku nyari yang sreg di hati gitu, yang bagus, unik " jawab Nara tanpa mengalihkan pandangan dari deretan buku cantik di depannya.
" Kamu nyari buku apa nyari pacar sih, pake acara sreg di hati segala, aku udah laper nih mau bakso ! " gerutu Winda di ikuti hentakan di kakinya
" Bisa diem ga kamu Win ! " mendelik kesal dengan tatapan mata yang mengerikan " atau aku batalin traktir bakso dan jus nya ! " ancam Nara yang membuat Winda kelagapan.
" Hehe... jangan marah gitu dong Ra, iya- iya silahkan pilih dengan tenang Ra, aku bakal sabar nunggu " ujar Winda dengan senyum yang di paksakan. " sini aku pegangin tasnya biar gak berat, biar sahabat aku ini bisa fokus " rayu Winda sambil mengambil tas selempang di bahu Nara.
" Nah gitu dong, itu baru sahabat yang baik ! " ujar Nara dengan seringai kecil di bibirnya
" Sabar Win, demi bakso dan jus gratis " batin Winda
Nara masih terus memilih sampai akhirnya dia menemukan sebuah diary berwarna baby pink dengan simbol hati berwarna merah di tengahnya, dengan mata berbinar Nara mencoba meraihnya, saat sedikit lagi tangannya menyentuh buku tersebut, tiba-tiba niatnya di urungkan ketika dia merasa ada getaran yang berasal dari rok sekolahnya. Lalu dia mengambil handphone nya tersebut, lalu melihat nama yang terpampang di layar panggilannya, tanpa rasa ragu dia menekan tombol merah dan meletakan kembali benda kotak tersebut dalam saku kecil tasnya yang sedang di pegang Winda. Lalu dia melanjutkan niatnya mengambil buku diary dan sekarang sudah ada di tangannya.
" Siapa yang telpon Ra ? ko ga di angkat ? " Tanya Winda penasaran
" Bukan orang penting, udah yuk aku udah dapet nih " jawab Nara riang sambil menunjukan buku pilihannya
" Ahh... akhirnya, yuk bayar, aku udah gak sabar nih laper "
" Hmm inget aja tuh sama bakso gratisan ! "
" Hehe yaudah yuk ke kasir Ra " ajak Winda tak sabar sambil menggandeng tangan Nara
antrian kasih cukup panjang, dan membuat mereka harus sedikit menunggu, sebenarnya disini ada 4 kasir dan semuanya penuh, hanya kasir ini yang antriannya tidak terlalu panjang.
__ADS_1
" Ra... ini hp kamu geter terus, siapa sih yang telpon " tanya Winda penasaran, karena tidak biasanya sahabatnya itu mengabaikan panggilan, terlebih panggilan itu trs terjadi meskipun sudah di tolak, bukankah itu pertanda panggilan penting. " Penting kali Ra, nelpon trs nih "
" Udah aku bilang, ga penting Win " jawab Nara dingin, sambil memberikan buku diary yang dia pilih pada petugas kasir
Winda langsung diam melihat ekspresi dingin sahabatnya itu, dan membuat rasa penasarannya semakin tidak bisa di bendung.
" Aku liat ya, siapa yang telpon " pinta Winda
" Bodo amat ! " jawab Nara sambil berlalu pergi meninggalkan kasir setelah melakukan pembayaran
" Idihh.... kenapa tuh bocah, gak biasanya mukanya angker begitu " batin Winda heran " Eh tunggu dong Ra" ujar Winda berlari kecil mengikuti Nara yang pergi dengan menahan kesal, sambil berlari Winda pun mengeluarkan handphone Nara yang terus bergetar dalam tas yang sedang di pegang Winda, lalu dia melihat nama yang berkali-kali menghubungi Nara.
" Ikbal " gumam Winda
" Ra.... ini Ikbal telpon udah 30 kali " ujar Winda sambil memegang benda kotak itu dan terus mengejar Nara, dan kini mereka sudah berjalan beriringan.
" Biarin ajalah Win, gak penting juga " jawab Nara cuek
" Dih biasanya juga kalo Ikbal nelpon suka seneng, lha sekarang di biarin gitu aja, ada apa ? "
" Dia udah gak penting Ra, kita udah berakhir " ujar Nara malas
" Maksudnya ? bukannya kalian Deket banget ya, kayak udah pacaran ? " tanya Winda penasaran.
" Justru karena itu Win, aku udah mutusin buat jauhin dia, toh buat apa terus Deket tapi gak ada kepastian status diantara kami " ujar Nara menjawab rasa penasaran Winda.
" Yakin mau menjauh ? bukannya kamu suka banget sama dia ya, sampe2 selama ini yang lebih nunjukin perhatian itu kamu ke dia, kalo dia cenderung biasa aja sama kamu "
" Sangat yakin Win " jawab Nara tanpa keraguan, " lagi pula saat sekarang aku jauhin dia, aku ngerasa tenang, dan gak sedikit pun aku merasa kehilangan, aku jadi lebih bahagia karena tidak harus memikirkan orang yang ga mikirin aku "
" Ya tapi sepertinya dia yang kehilangan " cibir Winda sambil memperlihatkan handphone Nara kembali bergetar dan menampilkan nama pemanggil yang sama
" Biarin lah, biar dia tau rasanya di abaikan dan berjuang sendiri itu seperti apa ! " ujar Nara tersenyum puas
" Kamu bener gak ada rasa ke dia, sayang gitu misalnya "
" Dulu aku ngerasa kalo yang aku rasain ke dia itu sayang, tapi setelah semakin mengenal, aku sadar kalau perasaanku itu hanya sebatas kagum, dan semakin hari rasa kagum itu terkikis jadi kecewa karena dia ga sebaik yang aku pikir "
" Beneran ? kamu jauhin dia bukan karena ayah kamu suka sama mamahnya Ikbal kan ? " tanya Winda sambil menatap wajah sahabatnya untuk mencari kebenaran.
" Yaelah beneran Win, lagian ayah aku sama mamahnya Ikbal itu deket sebelum aku kenal Ikbal, kalo misalkan Ikbal jadi kakak tiri ku nanti, aku terima " ujar Nara yakin
__ADS_1
" Baguslah kalo gitu, aku juga seneng kamu jauhin Ikbal, aku ngerasa ada yang gak beres sama dia "
" Emang dia gak beres Win " ucap Nara keceplosan
" Emang gak beres gimana ? "
" Udah ah, aku gak mau buka aib orang, yang jelas aku sama dia gak ada rasa apapun "
" Ih emang dia gak beres gimana sih, penasaran aku ! " ujar Winda
" Udahlah gak usah di bahas, mau jadi makan bakso gak nih, keburu sore loh, nanti aku di cariin ibu " ajak Nara lekas berdiri
" Eh iya, ayo makan bakso terus pulang, ibu aku juga udah kirim SMS dari tadi, nyuruh pulang "
" Ya udah ayok " ajak Nara menarik tangan Winda dan mulai berjalan
" Eh tapi tunggu dulu Ra..'" ucap Winda menghentikan langkahnya
" Apalagi ? " tanya Nara kesal
" Hehe...itu nanti bungkusan baksonya buat mamah sama adek aku ya, biar mereka ga marah, please ! " pinta Winda dengan mengatupkan dua tangan di dada
" Iyaaa oke aku beliin.. puasss !! "jawab Nara memutar matanya jengah
" Yeay asyik "
Akhirnya mereka pergi ke tempat bakso langganan mereka, dan memesan bakso dan jus favorit mereka.
Dan jangan lupakan beberapa bungkus bakso pesanan Winda untuk sogokan agar ibunya tidak marah karena pulang terlambat, Nara pun membungkus 2 porsi bakso untuk di makan bersama ibunya di rumah nanti, karena kebetulan bakso ini adalah favorit ibunya Nara.
Akhirnya setelah beberapa jam di toko buku, beberapa menit curhat di pinggir jalan, dan mengisi perut di kedai bakso, mereka memutuskan pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat...
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung
Selamat membaca ya, semoga suka