Kali Kedua

Kali Kedua
JANE-PERASAAN UNTUK SEKRETARIS KEN


__ADS_3

Aku baru saja turun dari lantai apartemen Grace, tadi aku mengunjunginya sehabis pulang bekerja. Kami membuat kue bersama hingga tak terasa malam sudah tiba. Aku kembali ke apartemenku, membersihkan diri dan mengganti baju yang penuh dengan noda tepung. Grace memang selalu usil, jika ada kesempatan dia akan melempariku dengan tepung yang tentunya aku juga membalas perbuatannya, alhasil beginilah jadinya.


Aku selesai mandi dan memakai piyama tidur, malam memang belum larut tapi aku tak ada kegiatan apapun sehingga aku memutuskan untuk merebahkan diriku saja di kasur. Menikmati kesendirian sambil menghayalkan masa depan yang indah, kadang aku tersenyum sendiri dengan hayalanku. Menurutku menghayal sesuatu yang indah adalah salah satu cara untuk menghibur diri.


Aku sedikit merindukan kedua orang tuaku, sudah beberapa bulan aku tidak pulang ke Singapura. Tempat ini menyenangkan, tak ada hal yang menggangguku sehingga rasanya tenang berada disini. Tapi rasa rindu juga membuatku ingin pulang, bertemu kedua orang tuaku dan bercerita banyak hal pada mereka. Aku memutuskan untuk berencana pulang ke Singapura sebentar akhir bulan nanti.


Aku turun dari tempat tidur dan duduk di sofa, aku menghidupkan televisi namun tak ada yang menarik sama sekali. Aku uring-uringan malam ini, rasanya ingin kembali ke apartemen Grace saja. Aku memutuskan untuk menelepon Grace untuk menanyakan apakah dia sudah tidur atau belum.


"Halo, Grace."


"Ya, Jane?"


"Apa kau sudah mau tidur?"


"Sebentar lagi." Dia terdengar menguap beberapa kali, sepertinya dia sudah mengantuk padahal belum terlalu malam.


"Mmm, tidurlah Grace."


"Ya."


Aku menutup sambungan telepon, anak itu memang terkadang sering tidur cepat jika tidak ada kegiatan. Berbeda denganku, aku lebih banyak begadang dimalam hari libur. Besoknya barulah aku akan tidur hampir seharian. Semua orang memang memiliki cara masing-masing untuk menikmati hari libur dan itulah caraku.


Aku kembali merebahkan diri ketempat tidur, tiba-tiba sosok Ken muncul di kepalaku. Aku tersenyum mengingat senyum cerianya kepadaku. Pria itu adalah salah satu orang yang membuat hari-hariku terasa menyenanglkan hanya karna senyumannya. Aku merasakan hal yang aneh didadaku sejak awal mengenalnya, perasaan yang selalu ku abaikan karena kukira bukan perasaan apapun.


Ternyata semakin hari aku merasakan hal itu, semakin aneh dan tak terkendali. Aku selalu berusaha untuk bersikap biasa saja selama ini. Tapi jantungku memang tidak bisa di ajak berdamai saat bertemu dengan pria itu. Huh, sepertinya aku jatuh hati kepadanya, hanya saja aku selalu berusaha menekan perasaanku agar tak terlihat sama sekali. Oh Jane, kenapa kau harus jatuh hati kepada pria sesempurna dia? Apa kau tidak takut terluka kembali? Aku berdebat dengan pikiranku sendiri.


Seakan tidak kapok patah hati, hatiku sepertinya bersikeras untuk jatuh cinta pada sekretaris itu. Sekretaris tampan yang bahkan tidak mungkin tertarik kepadaku. Wahai hati, bijaklah dalam memilih karena jika kau terluka lagi aku tidak akan memaafkanmu, awas saja.


Aku tersadar saat ponselku berdering, aku menatap nama yang tertera di layar ponsel. Nama seseorang yang baru saja ku pikirkan, sekretaris Ken. Aku perlahan menyentuh tombol terima, dan menaruh ponsel ketelingaku.

__ADS_1


Dia menanyakan keberadaanku, entah kenapa aku juga tidak tahu. Aku hanya menjawab bahwa aku sedang berada di apartemen. Pria itu memang terkadang selalu aneh, terakhir kali dia meneleponku hanya untuk mengucapkan selamat tidur.


"Keluarlah ke balkon."


Ken menyuruhku keluar ke balkon dan dengan konyolnya aku menuruti apa yang dikatakannya. Aku beranjak dari kasur dan membuka pintu balkon, angin malam langsung menyapa lembut wajahku. Aku berdiri di balkon dan menatap langit yang penuh dengan bintang.


"Ken, aku sudah menuruti kata-katamu. Sekarang aku harus apa? Apa kau menyuruhku melihat bintang?" Aku berucap di telepon.


"Jangan memandangi langit, tengoklah ke bawah arah jam tujuh."


Seketika aku menengok kebawah tepat di arah jam tujuh yang dikatakan oleh Ken. Aku melongo melihat pria tampan itu berada di depan bangunan apartemenku sedang berdiri di samping mobilnya dan melambai-lambaikan tangannya ke arahku. Aku mengambil kesadaranku dan refleks tersenyum kearahnya, entahlah aku juga tidak tahu kenapa aku tersenyum kepadanya. Ken terlihat membalas senyumku, dia tersenyum sangat manis ke arahku. Sejenak aku berpikir, kenapa dia berada disini? Hei, apakah pria ini tahu bahwa aku sedang memikirkannya tadi?


Ku akui aku merasa sangat senang melihatnya malam ini, dia terlihat bersinar diantara lampu taman yang bersinar temaram.


"Tunggu disana." Aku mengeraskan suaraku ditelepon dan menutupnya.


Aku bergegas masuk kembali kedalam dan mengunci pintu balkon. Aku mengganti baju dengan cepat dan mematut diri dicermin sebentar. Sekitar hampir lima belas menit berlalu, aku dengan cepat keluar dari apartemen dan masuk ke lift untuk turun ke lantai dasar. Aku tidak ingin membuat Ken menunggu terlalu lama.


"Ken, sedang apa kau disini?" Aku berharap mendapatkan jawaban yang menyenangkan darinya.


"Aku menunggumu." Dia tersenyum setelah mengatakan kata itu, oh God jantungku berdebar semakin cepat.


"Kenapa?" Aku berusaha berbicara setenang mungkin, menyembunyikan rasa girangku.


"Tak apa, apa kau sibuk malam ini?"


"Tidak." Aku menggeleng, sebenarnya aku sibuk, sibuk memikirkanmu wahai tuan sekretaris.


"Maukah kau berjalan-jalan sebentar denganku?"

__ADS_1


"Mau." Aku mengangguk dengan cepat. Hei, kenapa aku sangat konyol? Kenapa aku langsung mengatakan mau? Kenapa aku tidak bertanya terlebih dahulu akan berjalan kemana? Pasti sangat nampak kelihatan bahwa aku sangat ingin berjalan-jalan dengannya.


Nasi sudah menjadi bubur, biarlah aku terlihat konyol di depannya. Bukankah sudah dari awal aku selalu melakukan hal konyol di depannya. Ken menarik tanganku dan membukakan pintu mobil untukku, bibirnya tak berhenti tersenyum.


Aku menurut saja, aku masuk dan duduk di kursi samping kemudi. Ken segera masuk dan duduk di kursi kemudi, dia kemudian melajukan mobilnya meninggalkan apartemen. Entah mau kemana dia membawaku aku juga tidak tahu.


Ken memarkirkan mobilnya di sebuah taman yang terlihat masih sangat ramai. Dia mengajakku turun, dan mulai berbaur dengan orang-orang yang sedang beraktivitas disini. Entah hanya sekedar untuk jalan-jalan dan bersantai ataupun untuk mencari rejeki. Ken mengajakku duduk di sebuah kursi taman yang agak jauh dari kerumunan orang-orang.


"Jane."


"Ya?"


"Apa kau pernah berjalan-jalan ketempat seperti ini?"


"Kadang-kadang." Aku mengangguk.


"Apa kau senang?" Ken bertanya padaku, senang apa maksudnya? Senang berada disini atau senang bersamanya?


"Ya." Aku mengangguk saja, jawaban paling aman.


"Jane."


"Ya?"


"Hmmm.." Ken terdiam sejenak.


"Kenapa?" Aku penasaran.


"Kau mau makan apa?"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2