
" Ay....." Panggil Nara lirih, Yudha pun menoleh, namun tatapannya nampak tidak bersahabat, terkesan menakutkan, bahkan tatapan Yudha kali ini terasa menikam jantungnya, menimbulkan rasa nyeri, lalu dia beralih menatap Ikbal yang sedang tersenyum menyeringai melihat keterkejutannya saat ini.
Ada apa ini sebenarnya.!!!!!!!!
Suasana hening dan terasa mencekam saat itu, dengan perlahan Nara berjalan menghampiri Yudha, pandangannya masih sama, tidak bersahabat.!
" Ay.." Panggil Nara lirih, tangannya mencoba menggapai lengan Yudha, namun secepat kilat Yudha menepis kasar tangan Nara, membuat gadis itu terlonjak kaget, seraya menatap tangannya yang di tepis Yudha, tubuhnya gemetar, antara syok dan takut. Pasalnya Yudha tidak pernah sekalipun kasar terhadapnya selama ini, sedangkan Yudha mengalihkan pandangannya ke arah lain.
" Hay Ra! Sombong amat, kamu gak mau nyapa mas, disini bukan cuma ada Yudha lho..!" Ucap Ikbal santai dengan wajah yang terlihat menyebalkan di mata Nara.
Nara tidak bergeming, dia kembali menatap tangannya yang di tepis Yudha tadi, sekilas dia melirik Yudha yang masih tak bergeming dari posisinya. Lalu dia kembali melihat tangannya, tiba-tiba pandangannya terlihat buram karena air mata sudah memenuhi kelopak matanya, bersiap untuk meluncur bebas, namun masih tertahan.
" Ah sepertinya aku harus pergi, tidak enak rasanya jika aku berada diantara dua orang yang mendadak bisu!" Setelah mengucapkan itu, Ikbal pun berdiri, dengan santainya dia berjalan menuju pintu, dan pergi begitu saja. Kini tinggal Nara dan Yudha yang masih diam membisu.
" Ay.." Kini Nara sudah duduk di samping Yudha.
" Lepaskan..!!" Ujar Yudha dingin dengan suara meninggi, saat Nara berhasil memegang tangannya, dengan secepat kilat dia tepis kembali.
" Ada apa sebenarnya ini Ay..?" Tanya Nara mulai terisak, namun sekuat tenaga dia tahan.
Yudha menghembuskan nafas kasar, matanya menatap lurus ke depan, seolah enggan menatap gadis yang kini ada di sampingnya tengah menahan tangis.
" Apa kamu mengenal dia?" Tanya Yudha akhirnya mengeluarkan suara.
" Siapa?"
" Ikbal..!"
" Iya, aku mengenalnya," Jawab Nara yakin, toh memang dia mengenal Ikbal kan.
Namun sepertinya jawaban Nara itu, di terima lain oleh Yudha, terlihat saat ini dia tersenyum kecil, namun raut wajahnya terlihat kesal. Tiba-tiba dia bangkit dari duduk, membuat Nara kaget dan ikut berdiri. Nara meraih lengan Yudha, mencegah lelaki itu pergi meninggalkannya.
" Mau kemana Ay,?" Tanya Nara
" Pergi!" Jawab Yudha dingin, namun kini dia membiarkan Nara memegang tangannya.
" Kemana,?"
" Bukan urusanmu.!"
" Ada apa sebenarnya Ay,?"
" Tidak ada.!"
__ADS_1
" Bohong.!"
" Aku harus pergi." Ucap Yudha seraya mengibaskan kembali tangannya, agar Nara melepaskan genggamannya, namun gadis itu tak bergeming membuat Yudha mendesah kesal.
" Apa yang Ikbal katakan padamu Ay,?" Tanya Nara yang mulai merasa ada sesuatu yang Ikbal katakan dan membuat Yudha bersikap seperti ini terhadapnya.
Mendengar pertanyaan Nara, Yudha hanya tersenyum sinis sambil menatap ke arah Nara, membuat Nara merasakan takut, dan yakin jika ini ada hubungannya dengan perkataan Ikbal yang entah apa.
" Aku harus pergi." Ucap Yudha, dia melepaskan tangan Nara yang memegang lengannya, lalu pergi begitu saja, meninggalkan Nara yang masih diam mematung. Semua terasa mengejutkan untuknya. Belum habis pikirannya tentang adanya seorang gadis bernama Lily yang di katakan Ikbal adalah kekasih Yudha, sekarang dia kembali di hadapkan perubahan sikap Yudha secara tiba-tiba bersikap dingin dan kasar kepadanya.
Ada apa ini.? Batin Nara lirih
" Ra...." Panggil Dicky pelan, entah sejak kapan sahabat Nara itu ada di sampingnya, begitupun dengan Gio yang berada setia di samping Dicky. Awalnya saat melihat Yudha keluar sendiri dari rumah Dicky, Gio berinisiatif untuk mengikuti Yudha yang sepertinya akan pergi ke studio musik mereka, terlihat dia mengambil arah yang berlawanan dengan rumahnya, namun saat dia melihat sorot mata Yudha yang tidak bersahabat, membuat Gio mengurungkan niatnya untuk mengikuti sahabatnya tersebut.
Dan sekarang disinilah dia, kembali masuk dalam rumah Dicky, menampakan Nara yang tengah berdiri mematung, raut wajahnya memperlihatkan keterkejutan, dan sepertinya dia sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri, terlihat dari dia tidak merespon panggilan Dicky, bahkan mungkin Nara tidak menyadari keberadaan Gio dan Dicky di sampingnya kini.
" Ra..!!" Panggil Dicky lagi, kini dengan suara lebih tinggi dari sebelumnya, di sertai guncangan di pundak Nara, dan itu berhasil menyadarkan Nara, namun tak serta Merta membuat gadis itu bersuara, kini gadis itu sibuk mengusap ujung matanya yang sudah menganak sungai di sudut matanya.
" Ada apa Ra..?" Tanya Dicky " Terus kenapa Kak Yudha pergi begitu saja seperti tadi, kalian baik-baik aja kan,?" Timpalnya lagi
" Apa aku terlihat baik-baik saja saat ini Ky?" Tanya balik Nara dengan suara lirih, membuat Dicky terdiam. Sudah jelas terlihat jika ada yang tidak beres dengan Yudha dan Nara saat ini, terlihat dari Yudha pergi begitu saja, dan sikap Nara yang seperti ini. Sekarang Dicky bingung harus berkata apa saat ini.
" Untuk apa tadi Ikbal kesini Ky,?" Tanya Nara, beberapa saat setelah suasana hening tercipta. Kini mereka sudah duduk di kursi masing-masing. Sedangkan Gio terlihat sedang mengirimkan sebuah pesan lewat ponselnya, entah pada siapa.
" Aku gak tahu Ra, belum lama setelah kamu pergi, dia datang dan menyuruh aku dan kak Gio keluar, memangnya ada apa ?"
" Aku gak tahu Ra, mereka berbicara cukup pelan tadi,!" Jawab Dicky
Sedangkan Gio hanya diam, dia terlalu bingung dengan keadaan yang berubah terlalu cepat ini, belum selesai rasa penasarannya tentang maksud Ikbal membeberkan kenyataan tentang Lily dan Yudha, sekarang kembali di kejutkan dengan Ikbal yang tiba-tiba ingin berbicara berdua dengan Yudha, yang berakhir dengan perubahan suasana hati Yudha yang jadi buruk.
" Aku harus pulang.!" Ucap Nara tiba-tiba, seraya beranjak dan pergi begitu saja, tak peduli dengan panggilan Dicky yang meneriaki namanya berulang kali, dia tetap berjalan sampai akhirnya menghilang di balik pintu rumahnya.
" Kita harus gimana ini kak? aku bingung!" Ucap Dicky sesaat setelah Nara pergi.
" Sekarang kita harus pergi ke studio Ky, aku baru saja dapat pesan dari Ibram, jika Yudha sedang membuat kekacauan disana." Jawab Gio sambil berdiri dari duduk, dan menyimpan ponselnya ke saku celana.
" Apa? Ya Tuhan ada apa ini, ah ini semua karena Ikbal si*l*n !" Pekik Dicky frustasi, sambil menjambak rambutnya sendiri.
" Ayo kita harus cepat pergi Ky.!" Ajak Gio yang di balas anggukan oleh Dicky, sebelum pergi Dicky mengunci pintu rumahnya, mengingat tidak ada siapapun dirumahnya, mereka pun bergegas pergi menuju studio musiknya.
Tepat saat mereka melewati rumah Nara, terdengar teriakan frustasi Nara yang di sertai tangis dan suara benda jatuh berhamburan, membuat langkah Dicky dan Gio berhenti, serentak mereka melihat kearah yang asal suara, yaitu kamar Nara, jendela yang terbuka, hanya tertutup gorden putih transparan membuat mereka bisa melihat jelas apa yang sedang terjadi.
Nara menangis kencang, seraya menjatuhkan barang-barang yang ada di dekatnya, lalu samar-samar terdengar suara pak Bram memanggil dan mengetuk pintu, membuat Dicky dan Gio meringis mendengarnya.
__ADS_1
" Kita harus liat Nara dulu kak!" Ujar Dicky, Gio mengangguk dan mulai berjalan, namun langkahnya terhenti karena suara ponsel yang menunjukkan sebuah panggilan. Ternyata itu dari Ibram, perasaan sedang ada hal yang tidak beres menghampiri Gio, membuat langkahnya terhenti, dia langsung menarik baju Dicky yang berada di depannya, sontak saja langsung menghentikan gerakan tangan Dicky yang akan membuka pagar.
" Ada apa lagi?" Tanya Dicky geram
" Kita harus cepat pergi ke studio, Ibram sudah beberapa kali menghubungiku!"
" Tapi bagaimana dengan Nara, pak Bram pasti khawatir!"
" Pak Bram pasti bisa mengatasi Nara, tapi Ibram tidak bisa menghadapi amarah Yudha sendirian!" Ucap Gio tegas seraya mengguncang tubuh Dicky, membuat tubuh kecil itu bergerak maju mundur. Untuk kesekian kalinya, ponsel Gio kembali berdering, panggilan dari orang yang sama, dan kini Gio mengangkatnya.
" Ya Ib___"
" Hey br*ngs*k cepat kemari, kamu mau keyboard kesayanganmu jadi korban amarah Yudha hah !"
" I-iya aku kesana sekarang !" Ujar Gio langsung menutup panggilannya, dan menarik tangan Dicky untuk mengikutinya.
Dicky menatap nanar jendela kamar Nara yang dia lewati, masih terdengar suara tangisan lirih Nara, membuatnya tiba-tiba merasa bersalah, dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun melihat kejadian ini, Dicky semakin yakin jika perasaan Nara pada Yudha bukan main-main. Perubahan sikap Yudha saja sudah membuat Nara sesedih ini, lalu apa yang akan terjadi jika Nara tahu keadaan yang sebenarnya jika sampai kapanpun Yudha tidak akan pernah jadi miliknya seutuhnya.
" Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika kamu tahu yang sebenarnya tentang Kak Yudha dan Kak Lily Ra, maafkan aku!" batin Dicky
" Ehh....tunggu bentar Ky.!" Ucap Gio tiba-tiba menghentikan langkahnya, membuat Dicky tersadar dari lamunannya.
" Apa sih, katanya tadi cepet-cepet.!"
" Kita harus balik lagi ke rumah kamu sebentar!" Ujar Gio mantap
" Buat apa? jangan aneh-aneh deh Kak, suasana lagi genting gini."
" Ini Ky...." Ucap Gio ragu, seraya menatap kedua kakinya, Dicky mengikuti arah tatapan Gio, dan sontak saja hal yang dia lihat membuatnya mendengus kesal
" A-aku salah pakai sendal Ky, malah pake sendal mamah kamu..hehe" Ucap Gio cengengesan.
" Astaga Kak, kenapa ceroboh sekali, bis___" Ucapan Dicky terhenti, karena tiba-tiba ponselnya yang kini berdering, ada nama Rafi tertera disana. Sekarang Dicky yang panik, karena jika Rafi ikut menghubunginya, berarti keadaan Yudha sudah sangat kacau.
" Udahlah Kak, gak ada waktu!" Ujar Dicky langsung menarik Gio untuk mengikutinya, mengabaikan panggilan dari Rafi yang kembali menghubunginya, ataupun ocehan Gio yang mengatakan sakit saat berlari, karena sandal mamahnya Dicky cukup tinggi dan sempit.
Tak butuh waktu lama, mereka sampai di studio musik, belum sampai di pintu, mereka langsung di sambut dengan lemparan bantal sofa yang berasal dari dalam, dan langsung mengenai wajah Gio, dan terdengar teriakan dari orang yang ada di dalam, menandakan suasana disana tidak kondusif.
Brug....Brug
" Aaakkkkkhhhhhh si*lan!." teriak Yudha
" Sudah cukup Yud....Cukup !." Ibram ikut berteriak.
__ADS_1
Membuat Gio dan Dicky saling memandang, menelan ludah kasar.
Bersambung