
"Ken." Jane menggawil lengan Ken.
"Ya?" Ken masih fokus dengan jalanan.
"Kita mau kemana?"
"Kencan."
"Kencan?" Jane mengulum senyum mendengar kata kencan dari mulut Ken.
"Ya, beberapa hari ini aku sangat sibuk sehingga kita jarang bertemu dikantor."
"Hei jarang apanya? walaupun kau sibuk, tapi hampir setiap hari kau melihatku dikantor."
"Hanya melihatmu, tapi tidak bicara."
"Apa tidak cukup hanya melihat?"
"Tidak."
"Berlebihan." Jane tersenyum, memalingkan wajahnya ke jendela mobil menatap lampu-lampu jalanan.
"Sepertinya aku sangat merindukanmu."
"Aku juga." Jane terlihat malu-malu mengatakannya.
"Kenapa kau masih malu-malu begitu padaku?" Ken menatap sekilas pada Jane.
"Ken, terima kasih."
"Untuk apa?"
"Semuanya."
"Aku yang seharusnya berterima kasih."
"Kenapa?"
"Kau sudah mau menerimaku menjadi kekasihmu." Ken tersenyum.
Siapa yang bisa menolak pesonamu wahai sekretaris Ken? Batin Jane.
"Apa kau benar-benar menyayangiku?"
"Tentu saja." Ken mengangguk.
Tidak lama mereka sampai di sebuah pusat perbelanjaan besar. Ken mengajak Jane untuk keluar dari mobil dan masuk ke dalam mall. Ken terus menggandeng tangan Jane, menggenggam erat jari-jari gadis itu seakan tidak ingin terlepas sama sekali.
"Apa yang akan kita lakukan disini?"
"Ayo ikut aku."
"Kemana?"
"Ikut saja."
Ken menuntun tangan Jane menuju suatu tempat, mereka menaiki lift hingga sampai ke lantai teratas. Ken terus menggenggam tangan Jane hingga mereka sampai di depan sebuah hotel besar dan mewah dilantai teratas mall. Ken tersenyum sedangkan Jane tampak terperangah.
"Ayo masuk."
"Hotel?" Jane membeku ditempatnya.
"Ya." Ken mengangguk.
"Ken?"
"Apa?"
"Aku tidak mau."
"Tidak mau?" Ken mengernyitkan kedua alisnya.
"Aku mau pulang saja." Jane berbalik ingin meninggalkan Ken.
"Jane, kenapa?" Ken memegang lembut lengan Jane.
"Aku bukan gadis seperti itu, Ken." Jane terlihat bersedih.
"Apa maksudmu?"
"Kupikir kau benar-benar tulus."
"Jane, ada apa?"
"Aku bukan wanita murahan Ken."
"Wanita murahan? Apa maksudmu?"
"Jangan pura-pura bodoh, dasar pria mesum."
"A..apa? Aku mesum?"
"Ya, kita bahkan baru pacaran satu minggu dan kau sudah membawaku ketempat ini." Mata Jane tampak berkaca-kaca.
__ADS_1
"Oh Tuhan, apa yang sedang kau pikirkan Jane?" Ken tergelak.
"Ke..kenapa kau tertawa?"
"Sepertinya kau mempunyai otak kotor disini." Ken tertawa, dia menjitak pelan dahi Jane.
"Awww." Jane menjerit mengusap-usap dahinya.
"Itu hukuman karena kau telah berpikir macam-macam."
"Jadi apa sebenarnya yang akan kita lakukan disini?"
"Ikutlah, kau akan tahu nanti."
"Tapi kau sungguh tidak akan macam-macam padaku kan?" Jane menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Hei, aku tidak akan melakukan hal bodoh terhadapmu." Ken terkekeh.
Akhirnya Jane mengikuti Ken masuk kedalam, mereka disambut hangat oleh para pelayan hotel. Mereka di arahkan menuju sebuah balkon luas yang sudah dihias sedemikian rupa. Ditengah-tengah sudah terdapat meja dengan dua kursi untuk ditempati oleh Ken dan Jane.
"Ken, ini indah sekali." Mata Jane membulat menatap pemandangan indah di depannya.
"Kau suka?"
"Ya." Jane mengangguk senang.
"Duduklah." Ken menarik kursi untuk Jane.
"Terima kasih."
Ken tampak sangat senang malam ini, dia terus memandangi gadis cantik di depannya. Larut dalam perasaan cintanya sendiri, Ken terus tersenyum bahkan tanpa dia sadari. Jane di depannya hanya bisa tersenyum melihat tingkah Ken.
"Ken, jangan memandangiku terus."
"Apa salahnya aku terus memandangi wajah kekasihku." Ucapan Ken sekali lagi membuat wajah Jane merona.
"Mmm Ken, maafkan aku sudah berpikiran buruk terhadapmu tadi."
"Tak apa, aku mengerti." Ken mengangguk.
"Mmm, ya." Jane mengangguk malu.
"Jane, maukah kuperkenalkan pada keluargaku?"
"Mmm, apa kau yakin akan memperkenalkan aku pada keluargamu sekarang?"
"Ya, memangnya kenapa?"
"Jane, hubungan kita memang baru sebentar. Tapi entah kenapa aku selalu merasa yakin padamu."
"Kau benar-benar yakin padaku?"
"Ya, Jane."
"Mmm, terima kasih."
"Hei, jangan terus berterima kasih, aku akan menelepon keluargaku sekarang." Ken mengeluarkan ponselnya dan menelepon ibunya.
"Keenan?" Wajah ibu Ken terlihat jelas dilayar ponsel.
"Halo, ibu." Ken tersenyum senang.
"Apa kabarmu sayang?"
"Baik ibu, bagaimana dengan ibu?"
"Ibu juga baik."
"Dimana Ayah?"
"Dia masih diluar kota, lusa baru kembali."
"Mmm, baiklah."
"Ken, Kenapa kau terlihat sangat senang saat ini?"
"Ibu, aku ingin memperkenalkan seseorang pada ibu."
"Oh ya? Siapa itu?" Ibu Ken terlihat penasaran.
"Lihatlah ibu." Ken menarik kursinya kesamping Jane sehingga wajah Jane juga terlihat di layar.
"Hei, siapa gadis cantik itu?" Ibu Ken tersenyum.
"Namanya Jane, dia kekasihku, ibu." Ken kembali tersenyum senang."
"Benarkah? Kau benar-benar sudah memiliki kekasih Ken?" Ibu Ken tampak sangat senang.
"Ya, ibu."
"Berikan ponselmu pada Jane, ibu ingin berbicara dengannya."
"Baiklah ibu."
__ADS_1
"Hai, Jane." Ibu Ken tersenyum cerah.
"Halo, ibu." Jane terlihat malu-malu. Dia mendengar samar suara bisik-bisik disamping ibu Jane.
"Apa kau benar-benar kekasih Ken?"
"Benar ibu?"
"Kau cantik sekali." Ibu Ken tersenyum.
"Terima kasih ibu." Jane tersenyum.
"Ibu, siapa disamping ibu? Kenapa ribut sekali?" Ken menyela pembicaraan mereka.
Seketika muncul wajah Grey dan Gretta di layar, ponsel ibu telah berpindah tangan, dua bocah yang terlihat sangat mirip itu tersenyum tanpa dosa. Mereka sedari tadi penasaran dengan Jane, karenanya mereka berdesakan ingin melihat Jane.
"Kak Ken, calon kakak ipar cantik sekali." Gretta tersenyum.
"Tentu saja dia sangat cantik."
"Kakak ipar, bagaimana bisa kau jatuh cinta dengan kak Ken, dia kan tidak romantis." Grey tampak tertawa meledek Ken.
"Dia memang tidak romantis, tapi dia pria idaman." Jane tersenyum malu-malu mengatakannya.
"Wah kakak ipar, apa kau sungguh menganggap kak Ken pria idaman?" Grey membulatkan matanya.
"Hei, kau sudah dengar bukan? Jika Jane sudah mengatakannya, berarti itu adalah hal yang benar." Ken memasang tampang kesal kepada kedua adik kembarnya itu.
"Ya, ya, baiklah." Grey mengalah.
"Kak Jane, nanti sekali-sekali pergi kesini ya?" Gretta tersenyum senang.
"Baiklah." Jane mengangguk dan tersenyum. "Mmm siapa nama kalian berdua?"
"Oh ya, kami lupa memperkenalkan diri, namaku Gretta kak."
"Dan aku Grey." Grey menyahut.
"Kalian sangat lucu dan menggemaskan." Jane tersenyum.
"Benarkah? Apa kami terlihat seperti itu?" Grey membulatkan matanya.
"Ya." Jane mengangguk.
"Kak Ken bahkan selalu mengatakan kami usil dan cerewet." Gretta menjawab.
"Hei, kalian memang seperti itu." Ken menjawab.
"Sudah, sudah, sini kembalikan ponsel ibu." Suara ibu terdengar diseberang sana, seketika wajah Grey dan Gretta menghilang dari layar digantikan dengan wajah ibu.
"Jane, maafkan adik-adik Ken ya, mereka memang selalu cerewet." Ibu Ken terkekeh yang di sambut bisikan-bisikan protes dari kedua bocah itu.
"Tak apa ibu." Jane tersenyum.
"Jane, nanti kita ketemu ya." Ibu Ken balas tersenyum
"Baiklah, ibu." Jane mengangguk.
"Ibu, aku dan Jane akan kesana nanti."
"Ya, ibu tunggu kalian."
"Baiklah ibu, kami akan melanjutkan makan malam." Ken tersenyum.
"Ya, selamat malam Ken, selamat malam Jane."
"Selamat malam ibu." Jane tersenyum.
"Selamat malam ibu." Ken melambaikan tangannya.
"Selamat malam kakak ipar." Wajah Grey dan Gretta kembali muncul.
"Ya, selamat malam Grey dan Gretta." Jane terkekeh melihat tingkah mereka.
"Hei, sana pergi tidur kalian." Ken berucap.
"Ya, ya." Grey dan Gretta tampak cemberut dan menghilang dari layar.
Ken mematikan sambungan telepon dan menaruh ponselnya. Ken menyentuh jemari Jane dan menggenggamnya. Dia menaruh jemari Jane di atas meja sambil terus menggenggamnya erat.
"Jane, itulah keluargaku."
"Ya, mereka sangat hangat." Jane tersenyum.
"Jane, teruslah berada disampingku."
"Ya." Jane mengangguk.
Mereka meneruskan makan malam hingga selesai sambil menikmati pemandangan kerlap kerlip lampu perkotaan dari atas sana. Jane terus gemerlap lampu didepannya, hal itu menenangkan hati. Berbeda dengan Ken, dia lebih banyak memandangi wajah Jane daripada memandangi cahaya lampu.
Jane, kau lebih gemerlapan dari semua itu. Ken
...****************...
__ADS_1