
"Galeh."
"Apa kau sungguh menyukaiku?"
"Ya."
"Lalu, kenapa menyakitiku?"
"Aku tak bermaksud menyakitimu sama sekali."
"Tapi kau sudah menyakitiku."
"Maaf."
"Sudahlah, kau sudah menghancurkan seluruh hatiku."
"Maaf, walaupun sekarang hampir semuanya berubah tentangku, tapi ada satu hal yang tak bisa kurubah."
"Apa?"
"Aku masih saja culun, tak punya nyali sama sekali untuk mengungkapkan perasaan."
"Galeh, ikuti aku." Laura berdiri dari duduknya dan menghampiri salah satu pelayan.
Laura meminta salah satu ruangan makan VIP hanya untuk dia dan Galeh. Pelayan kemudian membawa mereka ke sebuah ruangan tertutup. Ruangan itu terisi dengan satu meja kecil tanpa kursi. Pelayan mempersilahkan mereka berdua untuk masuk, setelah itu dia pergi meninggalkan Laura dan Galeh.
"Kenapa mengajakku ketempat ini? terlihat seperti bilik asmara, apa kau ingin macam-macam terhadapku? Laura kau....."
Belum sempat Galeh menyelesaiakan ucapannya, Laura mendekatinya dan menyerang Galeh. Dia memukuli Galeh tanpa ampun, Galeh hanya melindungi diri sebisanya menggunakan kedua lengannya tanpa berniat membalas perlakuan Laura. Laura terus memukuli Galeh hingga akhirnya dia kelelahan, keduanya terlihat mengambil nafas dengan tersengal-sengal.
Laura berhenti, dia duduk bersandar dan menangis sejadi-jadinya. Galeh di seberangnya hanya menatap Laura, membiarkan wanita itu menumpahkan segala kesedihannya. Galeh sadar betapa kuatnya wanita itu di depan media yang dia lihat selama ini, namun di dunia nyata dia benar-benar terlihat rapuh.
Galeh mendekati Laura, duduk disampingnya dan ikut bersandar di dinding. Di raihnya kepala Laura yang masih terus terisak dan dibawanya bersandar ke bahunya. Dibiarkannya Laura menangis di bahunya, Laura menangis semakin keras di bahu Galeh. Sepertinya Laura benar-benar terluka oleh keadaan.
"Laura." Galeh berucap saat Laura mulai tenang, Laura tak menjawab hanya suara isakan kecil yang tersisa.
"Maaf karena meninggalkanmu."
"Kepergianmu adalah awal kehancuran kehidupanku." Laura mengangkat kepalanya dari bahu Galeh dan bersandar kembali ke dinding.
"Maaf."
"Kenapa pergi dan baru kembali sekarang saat aku benar-benar kacau dan terluka?"
"Maaf."
"Berikan alasan."
"Maaf."
"Galeh, berhenti minta maaf!"
"Maaf."
"Jika kau masih hidup kenapa harus bersembunyi? Kenapa tidak menemuiku?"
"Laura, aku sempat berpikir bahwa aku hanya menghambat karirmu."
"Lalu?"
"Aku tak ingin menjadi beban di kehidupanmu."
"Hanya itu?"
"Mmmm." Galeh mengangguk.
"Kau keterlaluan, kau membuatku berkunjung setiap waktu ke kuburan fiksimu hanya karena alasan konyol itu? Cih, kau bodoh sekali."
"Laura, aku tak pernah berniat untuk menemuimu kembali. Waktu itu aku hanya ingin melihatmu bahagia dari kejauhan."
"Lalu kenapa menemuiku hah?"
"Aku mengetahui kau menyukai pengusaha muda itu, aku tak ingin kau terluka hingga akhirnya aku menyamar menjadi dirinya."
__ADS_1
"Kau seharusnya membiarkanku terluka di awal daripada harus terluka diakhir seperti ini." Laura mengacak-acak rambutnya.
"Maaf."
"Aku mengejar Dafa karena aku yakin dia adalah kekasihku, aku memperjuangkannya walaupun dia tidak mengakuiku karena aku yakin sekali bahwa kami pernah saling mencintai. Tapi ternyata aku memang sangat bodoh, tak menyangka jika orang itu adalah kau, bukan Dafa."
"Sejak aku mengetahui kau menyukai Dafa, aku mencari tahu tentang pria itu, dia memiliki seseorang yang juga diperjuangkannya. Aku sangat yakin dia tidak akan tertarik denganmu."
"Galeh, kenapa masih mengurusi kehidupanku jika kau ingin menghilang dari hidupku?"
"Aku mencoba menahan perasaan untuk tak ikut campur tentang hidupmu, tapi ternyata rasa takut kau terluka mengalahkan semuanya. Aku memutuskan untuk menjadi pria itu, berharap bisa membuatmu bahagia."
"Percuma Galeh, bangkai yang kau simpan pasti akan tercium baunya."
"Ya, aku salah."
"Lalu kenapa kau menghilang setelah menemuiku waktu itu."
"Sekretaris Dafa sudah mengetahui tentangku waktu itu, aku yang pengecut malah bersembunyi."
"Cih, pengecut yang menyamar jadi pahlawan untukku."
"Maaf, aku benar-benar bodoh."
"Ternyata sekretaris sialan itu memang hebat, pantas saja dia terlihat selalu tenang menghadapiku, ternyata dia sudah mengetahui tentangmu."
"Maafkan aku sudah membuat segalanya semakin rumit, tapi aku tak pernah berniat mengusik kehidupanmu sama sekali."
"Sudahlah, aku bosan mendengar kata maafmu."
"Laura, boleh aku kembali?"
"Kembali bagaimana?"
"Kembali ke kehidupanmu, menjadi sahabatmu."
"Pergi kau!"
"Ku mohon."
"Aku takkan mengulangi kesalahanku."
"Pergilah, aku tak butuh kau."
"Baiklah, aku akan pergi setelah mengntarkanmu pulang."
"Tak perlu, aku bisa pulang sendiri."
"Aku tidak akan pergi sebelum mengantarmu pulang."
"Kau cerewet sekali!" Laura berucap sedikit berteriak.
"Kau juga."
"Ku bilang pergi, ya pergi!"
"Ara, ayo pulang."
Laura terdiam, sangat lama dia tak mendengar seseorang memanggilnya dengan sebutan Ara, hanya Galeh yang memanggilnya seperti itu. Matanya kembali berkaca-kaca menatap jemarinya sendiri. Air mata kembali tumpah, dia kembali terisak memeluk lutut. Seberapapun besar rasa kesalnya kepada pria disampingnya itu, dalam lubuk hatinya dia sangat merindukannya.
"Jangan menangis, ayo pulang."
"Kau jahat sekali!"
"Sahabat kecilku yang cantik, ayo pulang."
"Galeh, pergilah."
"Sudah kubilang aku tidak akan pergi sebelum mengantarmu pulang."
"Baiklah." Akhirnya Laura mengangguk.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, tak ada yang berbicara sedikitpun. Galeh menyetir sambil sesekali menatap Laura yang terus melamun menatap lurus ke arah jalanan. Entah apa yang dipikirkan oleh Laura, Galeh membiarkan Laura larut dalam pikirannya sendiri.
__ADS_1
Tak terasa mereka telah sampai, Galeh memarkirkan mobil di pekarangan rumah Laura. Galeh bergegas keluar dan membukakan pintu untuk Laura. Laura berjalan memasuki rumah, Galeh mengikutinya dibelakang.
Laura menghempaskan dirinya di sofa ruang tamu, bersandar dan memejamkan mata. Galeh duduk diseberangnya, menatap sekitar rumah yang selalu sepi sejak dulu. Hampir tak ada yang berubah sejak kepergiannya.
Laura hidup sendiri sejak dulu, memisahkan diri dengan orang tua dan keluarga yang tak pernah mendukung karirnya. Sejak awal kedua orang tua Laura menginginkan anaknya menjadi penerus bisnis keluarga, bukan menjadi seorang model. Mereka terus berkonflik hingga akhirnya Laura memutuskan untuk pergi dari rumah. Sejak saat itu hanya Galeh tempatnya bersandar, hanya Galeh yang selalu ada.
Kepergian Galeh benar-benar menghantam mentalnya, dia terpuruk, Laura seperti kehilangan pijakan. Galeh adalah pria yang selalu menenangkannya setiap ada masalah menghampirinya. Beban hidup yang tak dirasakannya lagi saat bersama Galeh seketika muncul menyerangnya dari setiap sisi. Dengan tertatih, Laura berusaha menyelesaikan setiap masalahnya sendiri saat itu tanpa bantuan Galeh.
"Galeh."
"Ya?"
"Siapa sebenarnya yang mencelakaimu? Kuyakin kau tahu, tapi kau tak ingin memberitahuku."
"Hmmm, kau tak perlu tahu, semua sudah berlalu."
"Aku perlu tahu."
"Laura, kau tak...."
"Katakan." Laura memotong ucapan Galeh.
"Aku tak yakin kau akan percaya."
"Katakan saja, percaya atau tidak itu urusanku."
"Pria yang sangat dekat denganmu saat itu."
Laura mengernyitkan dahinya, mencoba mengingat-ingat tentang siapa yang dekat dengannya waktu itu. Tidak dipungkiri bahwa sangat banyak pria yang mendekati Laura waktu itu, tak hanya satu dua saja tapi lebih dari itu.
"Bian."
"Ya." Galeh mengangguk.
"Ternyata pria brengsek itu."
"Sudahlah, bukankah sekarang dia sudah menebus kesalahannya di penjara."
"Dia dipenjara karena memakai obat-obatan terlarang dan kasus aborsi mantan pacarnya, bukan karena percobaan pembunuhan terhadapmu. Kau seharusnya melaporkannya."
"Tak banyak bukti, Ra. Orang suruhannya juga tewas dalam kecelakaan itu sehingga bukti yang kudapat tidak akan kuat."
"Baiklah, jika itu keinginanmu."
"Ra...."
"Galeh, sekarang pergilah. Tak ada apapun lagi diantara kita, anggap saja persahabatan kita usai semenjak Galeh yang ku kenal tewas dalam kecelakaan itu."
"Ra...."
"Aku sudah mengikhlaskan kepergianmu beberapa waktu yang lalu, sekarang pergilah dari hidupku, jangan susahkan dirimu lagi demi aku."
"Aku tak pernah merasa kesusahan karenamu, akulah yang merasa menghambat jalan hidupmu."
"Pergilah."
Galeh beranjak dan keluar dari rumah Laura tanpa berkata apapun lagi. Pria itu melajukan mobilnya dan menjauh dari kediaman Laura. Laura kembali meneteskan air mata, egonya yang sangat sulit diturunkan membuat pria yang dirindukannya itu akhirnya kembali pergi. Laura menaikkan kedua kakinya ke sofa dan memeluk kedua lututnya erat. Setelah kepergian Galeh, Laura terus menangis sesenggukan, tubuhnya bergetar. Entah berapa lama sudah dia menangisi nasib hidupnya hari ini.
"Ra."
Laura seketika mendongak, mengusap kedua matanya memastikan apa yang dilihatnya. Galeh berdiri didepannya menenteng kantong-kantong belanja yang entah apa isinya. Galeh tersenyum, dia menaruh kantong-kantong ke atas meja dan kemudian berlutut di depan Laura.
"Galeh, kenapa kembali?" Laura berucap lirih.
"Ra, seberapa keraspun kau menyuruhku pergi, aku takkan pernah pergi lagi." Galeh menggenggam tangan Laura dan mengusap sudut mata Laura.
"Dasar keras kepala." Laura sebenarnya sangat senang dengan kembalinya Galeh.
"Kau juga."
"Lalu apa itu?" Laura menatap kantong belanja di atas meja.
"Aku membelikan makanan, aku tahu kau lapar, ayo makan."
__ADS_1
Galeh dan Laura akhirnya makan bersama, Laura tak lagi menyuruh Galeh pergi, dia sadar jika dia hanya perlu Galeh ada disisinya. Laura tak ingin kehilangan Galeh kedua kalinya, Galeh yang sedikit berbeda namun sifatnya sama sekali tak berubah. Pria gagah yang tak lagi terlihat culun itu tetap Galeh yang dulu, satu-satunya orang yang siap berdiri melindunginya dalam keadaan apapun.
...****************...