Kali Kedua

Kali Kedua
KEN-TERTUNDA


__ADS_3

Aku membawa Jane ke sebuah taman kota yang terlihat ramai. Sebenarnya aku ragu membawanya kesini, takut dia tidak menyukainya. Aku juga baru pertama mengajak seorang gadis ketempat seperti ini karena aku tidak tahu harus membawanya kemana lagi, walaupun aku pernah mempunyai kekasih dalam waktu lama namun aku tidak pernah melakukan hal seperti ini karena kesibukan dan hubungan jarak jauh kami dulu. Hal yang paling sering kami lakukan dulu hanyalah makan di tempat makan mewah.


Aku menanyakan kepada Jane apa dia pernah berkunjung ketempat seperti ini sebelumnya. Jane menganggukkan kepalanya, dia juga menyukai tempat ini dan mungkin juga suka bersamaku, aku terkekeh dalam hati karena pikiranku sendiri. Baguslah, berarti aku tidak terlalu salah dalam memilih tempat untuk kencan dadakan ini. Hei, kenapa aku menyebutnya sebagai kencan dadakan?


"Jane."


"Ya?" Jane menoleh ke arahku.


"Hmmm.. " Aku terdiam sejenak, berusaha merangkai kata-kata.


"Kenapa?" Dia bertanya lagi."


"Kau mau makan apa?" Oh, God, ingin rasanya aku menepuk dahiku sendiri. Aku menyusun kata di otakku untuk membuat pengakuan cinta, namun kata yang dapat keluar dari mulutku hanyalah itu, konyol.


"Aku mau sate ayam." Jane menunjuk salah satu gerobak dengan kepulan asap menyelimutinya tak jauh dari tempat duduk kami.


"Hei, apa kau suka sate?" Aku terkekeh.


"Ya." Jane mengangguk.


"Apa di Singapura juga ada sate?"


"Hei, tentu saja, apa kau tidak tahu?"


"Tidak." Aku menggeleng.


"Aku akan mengajakmu makan sate disana jika kau ke Singapura nantinya." Dia terkekeh.


"Baiklah."


"Jadi, apa kita akan makan sate itu?" Jane menunjuk kembali kearah gerobak sate tadi.


"Tunggulah disini, aku akan membelinya untukmu."


"Baiklah." Jane mengangguk.


"Apa kau mau kubelikan dengan gerobaknya sekalian? Atau dengan penjualnya juga?" Aku terkekeh.


"Kau konyol." Dia hanya tersenyum lebar.


Aku beranjak dari tempat duduk menuju gerobak penjual sate. Memesan dua porsi besar sate untukku dan Jane. Aku kembali dengan membawa dua piring sate, aku memberikan salah satunya kepada Jane. Kami menyantap sate dengan lahap, aku beberapa kali memandangi Jane yang sibuk menikmati satenya. Gadis ini memang berbeda, dia terlihat sangat tidak masalah makan seperti ini, terakhir kali aku pernah diajaknya makan di warung sederhana pinggir jalan.


Aku tahu asal usul keluarga Jane, dia jelas bukan dari keluarga sembarangan. Dia berasal dari keluarga konglomerat yang tersohor. Aku tidak memata-matainya, hanya saja aku mengetahuinya saat pertama kali disuruh Dafa untuk mencari informasi tentang Grace.


Gaya hidup gadis ini tidak seperti gadis konglomerat kebanyakan. Dia terlihat sederhana dan tentunya tidak sombong sama sekali. Aku sangat suka dengan sifatnya, aku suka senyumnya, aku suka saat dia tertawa. Hmmm sepertinya aku suka semua tentangnya. Tapi aku benar-benar tidak tahu bagaimana cara untuk mengungkapkannya.


"Jane." Aku menatap Jane.


"Ya?" Dia berpaling kearahku.


"Kau berlepotan." Aku terkekeh sambil membersihkan noda saus kacang di pipi dan bibirnya dengan tanganku.


"I, iya, terima kasih." Jane terlihat menundukkan wajahnya dan menatap piring sate yang tersisa sedikit lagi.


"Jane."


"Ya?"


"Tak apa." Aku menggeleng, ternyata aku tak punya nyali sama sekali untuk mengungkapkan perasaan. Sepertinya mentalku belum siap untuk mendengar sebuah kata penolakan, ya aku tahu Jane terlihat biasa saja padaku, aku tidak melihat rasa tertarik kepadaku dimatanya.


"Hei, apa yang kau sembunyikan? Apa masih ada saus di pipiku?" Dia mengusap-usap pipinya.


"Tidak, tidak." Aku terkekeh.


"Kau yakin?"


"Ya, tidak ada apa-apa disini." Aku menangkup kedua pipinya dengan tanganku. Mataku dan matanya betemu, sepersekian detik kemudian aku melepaskan tanganku dengan pelan. Aku merasa sedikit mati gaya, kenapa aku melakukan hal itu? Aku takut dia merasa tidak nyaman.


"Ken?"


"Ya?"


"Apa kau suka dengan malam hari?"


"Sebenarnya tidak terlalu."


"Kenapa?" Jane menatapku.


"Kadang aku merasa sedikit kesepian disaat malam hari." Aku terkekeh.


"Oh ya? Bolehkah aku bertanya hal pribadi padamu?"


"Silahkan." Aku mengangguk.


"Kemana kedua orang tuamu?"


"Mereka berada jauh di seberang pulau."


"Benarkah? Kenapa kau tidak ingin ikut bersama mereka jika kau kesepian?"


"Ada hal yang harus ku selesaikan disini."


"Apa?"


"Apa kau sungguh ingin tahu?"

__ADS_1


"Ya." Jane mengangguk.


"Aku harus memastikan Dafa mendapatkan kembali kebahagiaannya."


"Presdir?"


"Ya."


"Apa yang terjadi dengan presdir?"


"Dia kehilangan kekasihnya beberapa tahun yang lalu."


"Mmm, jadi benar yang di katakan oleh temanmu yang bernama Adel saat makan siang kemarin?"


"Ya." Aku mengangguk.


"Apa juga benar kekasih presdir mirip dengan Grace?"


"Ya." Aku mengangguk kembali.


"Ku kira temanmu saat itu hanya bercanda."


"Tidak, apa yang dikatakan Adel saat itu benar."


"Apa presdir masih mencarinya?"


"Tentu saja."


"Hmmm, aku penasaran bagaimana sosok gadis yang membuat presdir dingin itu jatuh hati."


"Ya." Aku mengangguk


Aku tidak memberitahukan Jane bahwa gadis itu adalah Grace, orang yang sangat dekat dengannya, biarlah Jane tahu sendiri nantinya. Aku takut membuat kekacauan jika aku berbicara lebih banyak, bagaimanapun Jane adalah sahabat Grace. Bisa saja mereka saling bercerita nantinya.


"Ken?"


"Ya?"


"Bagaimana denganmu?"


"Apa?"


"Apakah kau juga memiliki seseorang yang spesial di hidupmu."


"Dulu atau sekarang?"


"Keduanya." Dia tersenyum.


"Kedua orang tuaku dan adik-adikku."


"Dafa."


"Ternyata presdir masuk daftar orang spesial dihidupmu." Jane terkekeh.


"Ya, aku banyak berhutang budi padanya."


"Benarkah? Hutang budi seperti apa?"


"Dia menjagaku sejak kecil." Aku tersenyum mengingatnya.


"Kalian bersama sejak kecil?"


"Ya." Aku mengangguk.


"Hebat." Jane bertepuk tangan kecil.


"Kami sudah seperti saudara."


"Ya, aku merasakannya, ikatan kekeluargaan kalian saat bersama terlihat kuat." Jane menatapku.


"Apa kau percaya jika kubilang kami adalah saudara sepupu?"


"Tentu saja, kalian terlihat mirip."


"Kami memang saudara sepupu." Aku terkekeh.


"Jadi benar?"


"Ya." Aku terus mengangguk.


"Kalian luar biasa, aku dengan saudara sepupuku saja tidak seakrab itu." Jane terkekeh.


"Dengan Grace?"


"Kalau dengannya, aku memang sangat dekat." Jane tertawa.


"Jane?"


"Ya?"


"Bagaimana denganmu?"


"Apa?"


"Apa kau suka malam hari?" Aku menanyakan hal sama padanya.

__ADS_1


"Ya, aku suka."


"Kenapa?"


"Karena dimalam hari aku memiliki waktu untuk merindukan orang-orang yang kusayangi."


"Siapa saja yang kau rindukan?"


"Kedua orang tuaku."


"Apa kau merindukan mereka saat ini?"


"Tentu saja rindu, aku bahkan berencana untuk pulang ke Singapura akhir bulan ini."


"Ya, jika rindu, kunjungilah mereka." Aku tersenyum.


"Sebenarnya aku sedikit ragu untuk pulang kesana."


"Kenapa?"


"Kau tahu Liam, bukan?"


"Ya, ada apa dengannya?"


"Dia akan menikah awal bulan depan, tapi dia masih saja berusaha menghubungiku." Jane tersenyum masam.


"Apa kau masih menyimpan rasa untuknya Jane?"


"Tidak." Dia menggeleng.


"Kenapa dia terus menghubungimu?"


"Dia memintaku untuk kembali."


"Apa?" Aku sedikit merasa geram mendengarnya.


"Dia memang pria tidak tahu diri." Jane terkekeh.


"Kau tidak akan kembali padanya kan?"


"Tentu saja tidak." Jane tersenyum sangat masam.


"Apakah kau akan datang ke acara pernikahan mereka?"


"Entahlah, sebenarnya aku sangat malas untuk bertemu kembali dengannya."


"Apa kau terus menghindarinya selama ini?"


"Ya." Jane mengangguk.


"Apa kau sungguh tidak punya perasaan lagi untuknya, Jane?"


"Ya."


"Sedikitpun?"


"Tak tersisa sedikitpun."


"Jane, jika kau benar-benar tak memiliki perasaan apapun lagi terhadapnya, menurutku sebaiknya kau menghadiri acara pernikahannya. Tunjukkan bahwa kau sekarang baik-baik saja tanpanya, kau jangan terus lari menghindarinya. Jika kau terus menghindarinya, dia akan berpikir bahwa kau masih mencintainya."


"Hmmm, akan aku pikirkan." Dia mengangguk dan tersenyum.


"Lakukan yang terbaik untuk hidupmu, Jane. Jangan pernah menyakiti dirimu sendiri."


"Mmm, terima kasih Ken."


"Aku tahu hal ini mungkin masih terasa sulit untukmu."


"Dulu memang sangat sulit bagiku, tapi sekarang aku tak merasakan apapun lagi."


"Kau yakin?"


"Tentu saja." Jane tersenyum lebar.


"Aku tak ingin kau terluka kembali."


"Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku." Jane kembali tersenyum.


"Baiklah, apa kau sudah menghabiskan makananmu?"


"Sudah."


"Sebaiknya kita pulang, sudah semakin larut."


"Mmm, bagaimana dengan piringnya?" Jane menunjuk piring sate.


"Penjualnya akan mengambilnya kesini nanti."


"Oh begitukah?"


"Ya." Perkara piring satepun sangat diperhatikan oleh gadis ini, dia memang sangat unik.


Akhirnya aku mengantarkan kembali Jane ke apartemennya. Tak ada ungkapan perasaan sedikitpun yang terucap dari mulutku untuknya malam ini. Sepertinya aku harus lebih bersabar dengan hal itu, masih ada waktu untuk aku menyiapkan segalanya hingga aku benar-benar mengungkapkannya pada gadis ini. Aku tak peduli apakah nanti dia akan menerima atau menolak, aku hanya ingin mengungkapkan rasa yang mengganjal didadaku ini. Walaupun kemungkinan terburuk dia menolakku, setidaknya dia tahu bahwa aku adalah pria yang mencintainya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2