Kali Kedua

Kali Kedua
KEN-MISI MEMPERJUANGKAN PERASAAN (2)


__ADS_3

Aku menatap gedung mewah tempat pernikahan Liam. Aku diminta untuk menunjukkan undangan syarat masuk kedalam gedung tersebut. Aku dengan bangganya menunjukkan undangan vip yang diberikan oleh Grace.


"Grace? Apakah nama tuan Grace?"


"Mmm, bukan, itu nama saudaraku. Dia tidak bisa menghadirinya karena ada kesibukan jadi aku yang mewakilkannya." Aku sudah berkeringat dingin, takut tidak diperbolehkan masuk.


"Benarkah?"


"Ya, apa perlu aku meneleponnya untuk membuktikan?" Aku menunjukkan ponselku.


"Tidak perlu tuan, silahkan masuk, saya akan mengantarkan tuan ke dalam."


Penjaga itu mengantarkan aku ke salah satu meja vip yang terasa sangat nyaman, aku duduk sendirian disini. Aku mulai celingukan mencari sosok Jane di antara kerumunan orang-orang yang sama sekali tidak ku kenal. Mataku menyapu seluruh meja yang ditempati orang-orang dan berhenti di salah satu meja yang tidak jauh dari panggung. Aku tersenyum melihatnya, gadis itu duduk manis disana bersama beberapa orang yang tidak ku kenali. Aku hanya ingin memandangnya saja dari sini, aku tidak peduli dengan pesta atau apapun itu.


Acara di mulai dan aku melihat kedua mempelai berjalan di panggung panjang menuju ke altar. Aku mengalihkan pandanganku kepada Jane, dia terlihat tersenyum tulus tanpa di buat-buat. Aku akhirnya yakin bahwa Jane benar-benar tidak memiliki perasaan apapun lagi pada pria itu, entah kenapa aku merasa sangat senang.


Aku beralih menatap Liam, aku melihat Liam menatap kesuatu arah. Aku mengikuti arah pandangannya yang ternyata tepat berhenti di Jane, aku merasa kesal melihatnya. Pria itu masih saja menatap Jane dengan tatapan pengharapan, huh awas saja kau nanti.


Kedua mempelai itu akhirnya mengikatkan janji suci, acara berjalan sangat lancar hingga waktu istirahat untuk para pengantin itu tiba. Tak ada yang bisa aku lakukan, aku melirik ke arah Jane sebentar, dia terlihat berbincang dengan orang-orang yang berada pada meja yang sama dengannya. Aku tidak ingin menghampiri Jane karena aku tidak ingin dia tahu bahwa aku ada disini. Aku memutuskan untuk keluar dari ruangan dan duduk di sebuah kursi taman yang berada di bawah pohon dengan cahaya penerangan temaram cenderung gelap. Aku mengambil ponselku dan menelepon Jane.


"Halo.” Suara lembut terdengar diseberang sana.


“Jane?” Aku merasa sangat senang mendengar suaranya


“Ada apa Ken?”


“Kau sedang apa?”


“Aku sedang berada di acara pernikahan Liam.”


“Kenapa terdengar sepi?” Aku bertanya karena tidak mendengar suara ribut seperti di dalam ruangan tadi.

__ADS_1


“Aku sedang berada di luar gedung.” Jane menjawab, Aku segera mencari-cari dimana Jane berada, kupikir dia pasti berada disekitar sini.


“Kenapa?” Aku tersenyum menemukannya diseberang sana, sedikit jauh dari tempatku berada. Jane terlihat sedang duduk di sebuah kursi di samping gedung.


“Di dalam sangat bising.”


“Jane!" Aku mendengar suara seorang pria di telepon, aku melihat Liam mendekati Jane. Pria itu tiba-tiba menarik lengan Jane hingga ponselnya terjatuh.


"Kurang ajar." Aku berbisik lirih.


Aku mendengar semua percakapan diantara mereka karena sambungan teleponku dengan Jane belum terputus. Pria itu benar-benar menyebalkan, dia terus memohon untuk kembali kepada Jane. Aku mengepalkan kedua tanganku, aku sudah tidak tahan lagi mendengarnya. Akhirnya aku beranjak dari tempat duduk dan menghampiri mereka.


"Jane." Aku memanggil Jane, seketika mereka berdua menatap ke arahku dengan rasa terkejut.


Aku mendekati Jane dan merangkul pinggangnya, aku mengatakan bahwa aku adalah kekasih Jane. Aku juga mengatakan bahwa kami akan segera menikah dalam waktu dekat. Kuharap Jane mengerti apa yang aku lakukan ini, entah kenapa ide konyol ini muncul begitu saja di kepalaku. Liam tentu saja sangat terkejut dengan apa yang di saksikannya, dia bahkan hampir tak bisa berkata-kata lagi.


Tidak lama datanglah prngantin wanita yang disusul oleh kedua orang tua Liam. Mereka terlihat terkejut melihat kami disini, orang tua Liam mendekati Jane dan aku mendengar mereka mengata-ngatai Jane. Kupingku terasa sangat panas mendengarnya, Ibu Liam juga menyentuh Jane seenaknya. Aku tentu saja membela Jane dan memerintahkan agar ibu Liam menyingkirkan tangannya dari Jane. Aku tidak ingin Jane terluka barang sedikitpun.


"Siapa yang ******?" Seketika aku menatap ke arah sumber suara, pria yang tadi satu meja dengan Jane diikuti oleh yang lainnya menuju ke arah kami.


"Tuan Austin?" Ibu Liam melembutkan suaranya. Sepertinya pria yang dipanggil tuan Austin ini adalah seseorang yang berpengaruh hingga membuat ibu Liam langsung mengubah nada suaranya. Cih dasar penjilat.


"Apa yang terjadi disini?" Pria yang dipanggil tuan Austin itu berkata dengan raut wajah yang tidak menyenangkan.


"Tidak ada tuan, hanya terjadi sedikit kekacauan yang tidak penting." Ibu Liam berkata sangat lembut.


"Siapa yang kau panggil ******?" tuan Austin kembali bertanya.


"Gadis ini, mantan kekasih Liam tuan, dia berusaha menggoda anak saya kembali." Ibu Liam menunjuk ke arah Jane.


"Benarkah?"

__ADS_1


"Tidak seperti itu tuan, Jane sama sekali tidak menggodanya." Aku menyela perkataan mereka, jelas saja aku akan membela Jane yang sebenarnya tidak melakukan kesalahan apapun.


"Siapa kau?" tuan Austin menatapku.


"Saya kekasih Jane." Aku mengatakannya dengan tersenyum seakan Jane benar-benar kekasihku.


"Oh ya? Jadi apa yang sebenarnya terjadi?" Entah kenapa pria itu penasaran dengan apa yang terjadi.


"Sebaiknya kau menjelaskannya sekarang Liam, agar semuanya tidak salah paham." Aku menyuruh Liam untuk mengatakan semuanya.


"Aku yang menghampiri Jane kesini, aku memintanya untuk kembali padaku." Liam berkata jujur membuat kedua orang tuanya terperangah tanpa bisa berkata apa-apa lagi.


"Benarkah itu?" Mempelai wanita terlihat bersedih.


Wanita itu berlari meninggalkan kami dan di kejar oleh kedua orang tua Liam. Jane menyuruh Liam untuk mengejar wanita itu, awalnya dia menolak namun Jane mengancam tidak akan memaafkan Liam. Dengan terpaksa Liam pergi mengejar wanita yang telah menjdi istrinya itu. Entahlah, sepertinya Liam masih sangat mencintai Jane.


Kini hanya tersisa aku, Jane, tuan Austin dan ketiga orang lainnya. Aku tidak mengenali mereka sama sekali, entah kenapa mereka kesini dan ada urusan apa aku tidak tahu. Tiba-tiba mataku menangkap pergerakan dari seorang pria muda yang tadi diam menyaksikan. Dengan santainya dia menyentuh pipi Jane, tentu saja aku merasa panas dan langsung menyuruhnya untuk tidak lagi melakukannya.


Maaf tuan, anda jangan seenaknya menyentuh kekasih saya." Aku menyingkirkan tangan Darren dari wajah Jane, bisa-bisanya pria ini menyentuh Jane dihadapanku.


"Kau sungguh kekasih Jane?" Darren menatap Ken.


"Ya, karena itu saya tidak ingin siapapun menyentuhnya sembarangan." Aku menjawab dengan mantap.


"Apa kau benar-benar tulus pada adikku?" Pria itu tiba-tiba mengucapkan kata yang membuatku sangat bingung.


"Adik? Jane, apa dia kakakmu?" Aku berbisik ditelinga Jane.


"Ya." Jane mengangguk. Oh Tuhan matilah aku! Aku sudah mengaku-ngaku sebagai kekasih Jane di hadapan mereka semua.


Aku sungguh terlihat sangat konyol sekarang, bisa-bisanya aku tidak mengenali nggota keluarga Jane. Aku merasa salah tingkah tapi aku berusaha tetap bersikap tenang dan meminta maaf kepada semuanya. Aku membungkukan badanku beberapa kali kepada orang tua Jane. Konyolnya lagi aku memanggil mereka dengan sebutan ayah mertua dan ibu mertua. Ken, kau benar-benar bodoh, Aku merutuki diriku sendiri dalam hati.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2