Kali Kedua

Kali Kedua
Dasar Dicky !


__ADS_3

Riuh kicauan burung menyambut bangunnya matahari dari tidurnya yang lelap, kabut dingin yang menyelimuti pagi itu perlahan hilang, berganti dengan sapuan hangat matahari yang mulai mengeluarkan sinarnya.


Setelah sholat subuh tadi, Nara tidak kembali tidur, melainkan mengganti baju piyamanya dengan setelan baju olahraga berwarna merah muda dengan garis merah di bagian lengannya yang panjang, dan garis merah yang sama di bagian samping celana yang menutup sampai lutut berwarna senada dengan bajunya. Tidak lupa dia menguncir kuda rambutnya dan sedikit merapikan poni pinggir untuk menghalangi keningnya yang sedikit lebar.


" Nara jogging sebentar ya Yah, Assalamualaikum." tanpa menunggu jawaban, Nara langsung berlari kecil setelah memastikan tali sepatu sportnya terikat sempurna.


Pemandangan pagi disini sangat indah, udara sejuk khas pegunungan, hamparan kebun teh, kicauan suara burung, dan suara aliran air sungai menambah kesan tenang daerah tersebut. Setelah beberapa puluh menit berlalu, Nara mulai merasa lelah, dengan handuk kecilnya Nara mengelap keringat yang bercucuran di wajahnya, dia memutuskan untuk duduk di pinggir jalan, meluruskan kakinya, seraya melihat pemandangan sekitar, jalanan masih terasa sepi, hanya ada beberapa motor milik pegawai perkebunan teh yang melintas disana. Setelah dirasa lelahnya berkurang, Nara memutuskan untuk pulang mengingat perkataan sang Ayah yang mengatakan kalau hari ini harus pergi ke suatu tempat, dan Nara harus menunggu di rumah. Perlahan Nara berjalan menyusuri jalan yang kini mulai ramai oleh kendaraan seiring dengan naiknya matahari. Nara terus berjalan di barengi dengan senandung kecil yang lolos begitu saja dari mulutnya, namun langkah tiba-tiba berhenti di depan rumah yang terhalang 2 rumah lain dari rumahnya. Dia berhenti karena melihat seorang anak laki-laki seumuran dengannya sedang duduk di teras rumah, dia nampak serius membaca buku komik di tangannya, saking seriusnya anak itu sampai tidak menyadari Nara membuka pintu pagar dan kini sudah berada tepat di samping anak remaja itu.


" Dor !!." seru Nara, membuat anak itu berjingkat kaget, reflek melempar komiknya dan tepat mengenai wajah Nara, membuat gadis itu mengaduh memegang hidungnya.


" Aduh sakit Ky !." Pekik Nara


" Lagian suruh siapa ngagetin ! " ujar lelaki yang bernama Dicky itu seraya mengambil buku komik yang jatuh di lantai tadi, " Untung komikku gak apa-apa !" timpal Dicky lalu kembali duduk di kursinya tadi.


" Sialan, aku yang sakit Ky, malah khawatir sama buku ! " kesal Nara yang ikut duduk di kursi yang terhalang meja bundar dari kursi yang di duduki Dicky.


" Ya salah sendiri pake ngagetin orang ! " Ujar Dicky acuh, melanjutkan kembali kegiatan membacanya yang sempat terganggu karena ulah Nara tadi. Merasa kesal di acuhkan, Nara merebut komik itu dan menyembunyikannya di balik punggung, Dicky hanya mendelik kesal tanpa berkata apapun.


" Ada temen dateng tuh sambut, bukan di cuekin ! " Ujar Nara


" Cih, temen ? " tersenyum sinis " udah anggep aku temen lagi sekarang ? " Ya, Dicky adalah teman baik Nara disana, saat pertama kali Nara mengantarkan ayahnya pindahan ke daerah ini, Dicky adalah orang yang pertama di kenal Nara, karena karakter mereka yang sama-sama supel, membuat mereka cepat akrab dan dekat, namun setelah Nara mengenal Ikbal, entah apa yang dikatakan pria itu, tiba-tiba Nara menjauh dari Dicky, jangankan menghabiskan waktu bersama seperti sebelumnya, hanya sekedar menyapa pun Nara seolah menghindarinya, dan setelah sekian lama sekarang Nara datang lagi tanpa rasa bersalah.


" Kamu marah ky,? maaf " ujar Nara memelas


" Biasa aja tuh ! " jawabnya acuh dengan mata lurus ke depan


" Maaf deh ky, aku tahu aku salah, mengorbankan pertemanan kita, aku nyesel "


" Bodo amat ! " Ujarnya dengan kesal sambil sesekali melirik dengan ekor matanya, sebenarnya Dicky tidak tega melihat sahabatnya sedih seperti itu, tapi dia juga kesal pada Nara karena menjauhinya hanya karena Ikbal.


" Maafin aku Ky, please " mohon Nara dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca


" Ya udah aku maafin ! " akhirnya luluh


" Yeay, asyik, makasih Dicky.!" seru Nara senang seraya menghapus air mata yang sempat hampir menetes tadi.


Cih, air mata buaya !


Tiba-tiba sebuah ide muncul di otak Dicky. " Tapi ada syaratnya ! " ujar Dicky dengan seringai tipis menata Nara, membuat bulu kuduk Nara merinding melihat seringai itu tertuju padanya.


Kok perasaanku jadi gak enak gini ya ?!!

__ADS_1


" Apa ? " Tanya Nara lantang menyembunyikan ketakutannya.


Dicky hanya tersenyum penuh arti, dia langsung menarik tangan Nara berlari kecil menuju ke suatu tempat. Nara hanya bisa pasrah mengikuti langkah Dicky yang semakin cepat tanpa melepas genggaman tangannya. Nara semakin bingung saat Dicky melewati rumahnya begitu saja dan terus berlari menuju sebuah kebun nanas.


" Kita mau ngapain kesini Ky,? " tanya Nara sambil melihat hamparan kebun nanas yang tidak terlalu luas, terlihat banyak buah nanas yang masih kecil dan belum siap panen.


" Ya ngambil nanas lah " jawab Dicky santai


" Emang ini kebun nanas siapa ? "


" Kebunnya Ikbal "


" Serius ? " jawab Nara kaget


" Kenapa ? kalo kamu mau kita baikan, kamu harus ambilin aku nanas disini " menyeringai lalu tergelak saat melihat Nara hanya berdiri mematung dengan tatapan bingung. Namun sedetik kemudian Dicky tersentak kaget saat melihat Nara mulai mencari nanas yang sudah matang dan tidak perlu waktu lama nanas itu sudah ada di tangan Nara, Dicky tadinya hanya ingin memastikan kalau Nara bersungguh-sungguh atas permintaan maafnya, mengingat bagaimana Nara begitu menyukai Ikbal, dan Nara pasti tidak akan melakukan sesuatu yang merugikan Ikbal meskipun hanya mengambil satu nanas yang mungkin tidak akan Ikbal sadari, tadinya Dicky hanya ingin mempermainkan Nara, karena sesungguhnya tanpa di minta pun, Dicky sudah memaafkan Nara, karena Dicky tahu, ketika kita merasa menyukai seseorang, kita akan melakukan apapun untuk mendapatkannya.


" Nih Ky, !" Ujar Nara dengan mata berbinar, sesekali dia menelan ludahnya kasar, seakan merasai bagaimana segarnya nanas tersebut.


Dicky menerimanya dengan bingung dan kaget, dia terus diam memperhatikan buah nanas itu tanpa berkedip.


" Ky ? kok bengong ?


" I-ini beneran Ra, ? "


" Di rumah aku aja ya makannya ! " ajak Nara, Dicky hanya mengangguk mengikuti langkah Nara, tak terasa sudah sampai di rumah, Nara membuka pagar dan bergegas masuk, Vespa kuno milik ayah yang selalu terparkir di halaman depan tidak terlihat sekarang, menandakan ayah sudah pergi dan tidak ada di rumah. Nara masuk sendiri meninggalkan Dicky yang masih menatap bingung buah nanas hasil curian Nara tadi, tak berselang lama Nara kembali keluar membawa pisau, piring, dan keresek plastik bekas untuk membuang kulit nanas.


" Buka nanasnya Ky " ujar Nara memberikan pisau tajam untuk mengupas kulit nanas pada Dicky, dia menerimanya, perlahan Dicky membuka nanasnya, membersihkannya, lalu memotong kecil-kecil buah tersebut tanpa berkata apapun, setelah selesai memotong, Nara menaburkan sedikit garam untuk mengurangi rasa asam dari nanas itu.


" Selamat makan ! " ujar Nara, sambil memasukkan satu potong buah nanas ke mulutnya, badannya merinding merasakan sensasi asam di mulutnya " segernya !! ayo dong Ky makan, katanya tadi mau ! timpal Nara saat melihat Dicky hanya diam saja.


" Iya ini mau makan " ujarnya mengambil satu potong lalu memasukan dalam mulut " Kamu gak takut Ikbal marah, terus jadi ga suka sama kamu ? " tanya Dicky


" Bodo amat ah, ga peduli ! " jawab Nara terus memasukan potongan nanas pada mulutnya


" Kamu yakin ? "


" Yakinlah, aku gak suka dia sekarang ! "


" Baguslah kalo gitu ! "


" Bagus ? kamu suka aku jomblo ? "

__ADS_1


" Bukan gitu, kalian itu gak cocok ! "


" Kenapa ? Karena aku terlalu cantik ya buat dia " ujar Nara tergelak sambil menarik turunkan kedua alisnya.


" Bukan ! tapi karena dia itu alim, baik, jauh sama kamu yang barbar hahaha " ucap Dicky yang berhasil membuat Nara kesal dan melemparkan garpu yang dia pakai untuk memakan buah tepat mengenai kepala Dicky.


Namun bukannya marah, Dicky malah tertawa, membuat Nara ikut tertawa senang, hal ini adalah kebiasaan mereka dulu yang sudah lama tidak mereka lakukan sejak Nara dekat dengan Ikbal, dan sekarang mereka kembali merasakan kebersamaan ini lagi.


" Eh...Ra, tapi ini kita makan nanas haram ga ya ? " Tanya Dicky polos setelah nanas itu habis


" Telat nanya ! sejak kapan hasil curian halal Ky ! " gerutu Nara


" Hehe... yah gimana dong, dosa lho Ra ! "


" Ya mau gimana lagi udah terlanjur, tapi tadi aku udah bilang permisi pas ngambil, jadi gak haram kali ya ! " ujar Nara sambil cekikikan


" Emang bisa begitu ? " cibir Dicky


" Bisa lah Ky, ya udah lah Ky gini aja, kalau setelah ini kamu sakit perut, berarti haram di perut kamu, kalo nggak ya anggep aja itu halal, oke ! " Ujar Nara santai


" Mana bisa begitu ! " protes Dicky


" Ya udah sih Ky, udah terlanjur ini, udah ah pulang sana, aku mau mandi " perintah Nara, mendorong tubuh Dicky keluar dari rumahnya.


" Oke, nanti sore aku kesini ya, kita main ular tangga kayak dulu ! "


" Oke ! " jawab Nara sambil mengaitkan kunci pagar lalu berbalik menuju rumah, namun belum lama setelah berbalik terdengar suara motor berhenti, dan suara yang tak asing sedang menyapa Dicky di luar sana.


" Hey Ky, dari mana ? "


Deg, deg, deg


Nara terdiam, tubuhnya membeku, aliran darahnya terasa berhenti, hanya detak jantungnya yang berdetak lebih cepat, tiba-tiba waktu terasa berhenti, hanya suara itu yang terdengar, suara yang asing yang selalu mengucap kata cinta di mimpinya. Dan sedetik kemudian kesadaran Nara kembali, dia bergegas berbalik untuk melihat asal suara itu.


Namun sudah terlambat, Nara hanya bisa melihat punggung seorang pria yang terus menjauh menaiki motornya, Nara terus memandang hingga punggung itu tidak terlihat lagi, Nara menggeleng kepalanya mengusir pikiran tentang suara itu.


Sepertinya aku sudah gila karena terlalu sering bermimpi yang sama !


Lebih baik aku mandi dan nonton TV sambil menunggu ayah kembali . batin Nara


Nara pun masuk untuk membersihkan diri, dan menonton tv seperti rencananya tadi, di tv tidak ada acara menarik, Nara terus memindahkan Chanel TV secara acak, matanya fokus tertuju pada benda kotak besar tersebut, namun pikirannya masih terpaku pada suara itu, suara yang selalu datang dalam mimpinya, Nara terus berfikir hingga lelah dan tak sadar tertidur di sofa depan tv.

__ADS_1


Bersambung.....


Maaf kalo masih ada typo di mana-mana, di tunggu komen, like, dan vote nya ya readers, terimakasih 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2