
Jam dinding menunjukkan waktu pukul delapan malam, setelah makan malam Nara berpamitan untuk istirahat lebih dulu di kamar, Nara pun langsung mengambil ponselnya yang berada di atas meja, lalu menekan beberapa tombol untuk melakukan sebuah panggilan sambil membaringkan tubuhnya di kasur yang empuk.
Tut....Tut... Tut..
" Hallo Ra ! ya ampun kamu kemana aja !" suara Winda terdengar riang di sebrang sana
" Maaf Win aku baru ngabarin, aku mau cerita sesuatu sama kamu "
" Cerita apaan ? masalah Ikbal ? "
" Dih bukan !, kamu masih inget kan soal mimpiku yang selalu aku ceritain ke kamu "
" Iya inget, kenapa emang ? kamu ketemu dia gitu, di dunia nyata ? " tanya Winda mencibir
" Iya Win tadi aku ketemu dia ! dia nyata Win ! " ujar Nara senang
" Serius kamu Ra ? cepet tidur gih biar kamu istirahat, kayaknya kamu sakit, jadi ngaco gini " Ujar Winda khawatir
" Ih aku serius Win, aku ketemu dia, dia benar ada, tapi..... "
" Tapi apa ? tapi cuma mimpi gitu !, udahlah Ra, mimpi itu cuma bunga tidur, jangan dianggap serius, jadi gila kan kamu sekarang ? "
" Ih jahatnya bilang aku gila, aku serius, aku ketemu dia, tapi aku lupa tanya namanya " sesal Nara
" Ra, mending kamu tidur deh, beneran udah gila kamu ! " Winda masih belum percaya
" Ih.... ya udah kalo kamu ga percaya, aku Matin teleponnya ! " kesal Nara
" Ehh...ehh.. jadi ini beneran Ra, kamu gak lagi ngehayal ! terus gimana tadi pas kalian ketemu ? ngobrol ga ? " akhirnya percaya
" Belum sempet, aku kaget tadi jadi gak sempet nanya-nanya "
" Yah sayang banget !, terus rencananya kamu mau gimana sekarang setelah tahu orang yang ada di mimpi kamu itu ternyata ada ? " tanya Winda
" Entahlah Win ! " percakapan mereka pun terus berlanjut, membicarakan banyak hal kesana kemari, Winda pun menceritakan soal dia yang kini sudah resmi jadian dengan Alvin, kakak kelas yang pernah menolaknya kemarin, Nara pun ikut senang dengan kabar bahagia sahabatnya itu. Setelah selesai bercerita, Nara pun mengakhiri teleponnya, meletakan sembarangan ponselnya di kasur.
Bibirnya terus melengkungkan senyuman, matanya berbinar melihat langit-langit kamar, terbayang wajah yang selama ini selalu hadir di mimpinya.
Dia nyata, benar-benar nyata, ya ampun dia memang nyata, haaaaa ya ampun !. Batin Nara, dia terus tersenyum, sesekali dia menggelengkan kepalanya, dan memeluk erat gulingnya, perasaannya terasa bahagia saat ini, pikirannya di penuhi wajah lelaki itu, sampai akhirnya terdengar suara nada pesan dari ponselnya membuyarkan khayalannya, dengan malas dia meraba kasurnya, mencari ponsel miliknya, dengan malas dia melihat lalu mengernyit melihat nomor tak di kenal mengirimnya pesan.
08xxxxxxxx :
Selamat malam Nara !
Dih siapa nih, males. batin Nara, dia pun mengabaikan pesan itu, mematikan lampu, menggantinya dengan lampu tidur, lalu memejamkan mata, namun baru beberapa detik terlelap, suara pesan mengganggunya lagi.
08xxxxxxxx :
Hai Nara, ini aku yang tadi bertemu di rumah Dicky, kamu ingat ?
Membaca itu mata Nara membulat sempurna, rasa kantuk yang tadi menggelayuti matanya, lenyap seketika, dengan cepat dia membalas pesannya.
**Nara :
Iya ingat, ada apa ?
08xxxxxxxx :
Hanya ingin mengenal, apa aku mengganggu ?
Nara :
Tidak !
08xxxxxxxx :
Baguslah, perkenalkan namaku Yudha !
Nara :
Iya kak, salam kenal !
08xxxxxxxx :
Oke !
Ya sudah, ini sudah malam, selamat tidur Nara !
Nara :
Iya, selamat tidur juga kak** !
Ya ampun dia mengirim pesan, namanya Yudha.
Aaaaaa jantungku rasanya mau meledak !
🎈🎈🎈🎈🎈🎈🎈
Sementara di tempat lain.
Ruangan bernuansa hitam dan abu itu terlihat terang, lampu di ruang itu menyala, menandakan ada seseorang disana, di sebuah sofa panjang, yang di kelilingi alat musik, Yudha membaringkan tubuhnya disana, menggunakan tangan kiri sebagai bantalan kepalanya. Lelaki itu sedang tersenyum melihat layar ponsel yang memperlihatkan pesan dari Nara beberapa waktu lalu.
Bibirnya terus tersenyum, ada rasa hangat di hatinya, pikirannya menerawang, bayangan wajah Nara memenuhi kepalanya.
Dia memang ada, dia nyata.
__ADS_1
Dia lebih cantik dan manis dari yang ada dalam mimpi. batin Yudha, dia terus tersenyum mengingat wajah Nara yang terlihat kaget saat tadi bertemu dengannya, ekspresi Nara terlihat menggemaskan di mata Yudha, dia terus tersenyum seperti orang hilang akal saat ini, namun sedetik kemudian kesadarannya kembali, saat dia melihat bingkai foto dirinya bersama Lily yang sedang duduk di pangkuannya sambil tersenyum, sedangkan dirinya meletakan wajahnya di pundak Lily, sedangkan tangannya melingkar di pinggang Lily secara posesif, foto itu terlihat sangat manis dan romantis.
Lalu dia melihat kalung yang melingkari di lehernya, ada liontin lempengan berbentuk oval, bertuliskan inisial namanya dan Lyli.
Jangan gila Yudha, ingat kamu sudah punya Lily, dan apa ini ?
kamu mengirimnya pesan lebih dulu ?
ayolah Yudha, ini bukan dirimu
gadis-gadis itu yang lebih dulu mengemis nomor ponselmu, tapi ini ?
Ayolah lupakan gadis kecil itu.
Yudha mengusap wajahnya kasar, hati dan pikirannya sedang berperang saat ini, membuatnya semakin gusar, wajah Nara dan Lily melintas di pikirannya, dia tidak tahan, dia mengambil gitar, dan memainkannya dengan memejamkan mata.
Namun wajah Nara masih terlintas di pikirannya, tanpa sadar dia memainkan melodi yang dia buat berdasarkan mimpinya, melodi yang tercipta belum sempurna, dan belum ada lirik di dalamnya, namun kini melodi itu terdengar lebih indah dan merdu, bayangan Nara semakin terasa nyata di benaknya, rangkaian kata-kata melintas begitu saja, merangkai sebuah bait indah namun menyayat, dia perlahan membuka mata, pandangannya langsung tertuju pada bingkai fotonya dan Lily, membuatnya tersadar dari bayangan Nara.
Ahhhhhh. teriaknya frustasi mengacak rambutnya, dia pun memutuskan untuk tidur, mencoba menghindar dari otak dan hatinya yang sedang berlainan arah.
🎈🎈🎈🎈🎈🎈🎈
Pagi hari di studio Yudha.
Suara adzan subuh membangunkannya, berulangkali dia mengerjapkan mata, lalu meregangkan otot-ototnya yang terasa pegal karena tidur di sofa, dia mencari ponselnya untuk melihat jam, setengah lima subuh saat itu, dia kembali memijat tombol yang menampakan banyak pesan dari Lily, dan beberapa pesan dari Alena adiknya, yang menyuruhnya pulang, karena neneknya khawatir.
Dengan sigap Yudha memakai jaketnya, berlari kecil menuju keluar menghampiri motornya, tangannya masuk ke salah satu saku jaketnya untuk mengambil kunci, segera dia hidupkan motornya dan pergi menuju rumah neneknya, baru lima menit perjalanan, dia melambatkan laju motornya, memperhatikan sebuah rumah sederhana yang terlihat masih gelap, namun lampu kamar yang berada di bagian depan terlihat sudah menyala, menandakan penghuni kamar itu sudah terbangun, dan itu adalah rumah Nara, tanpa sadar dia tersenyum, ada sesuatu yang menggelitik hatinya, tak lama dia sampai di rumah neneknya, terlihat sang nenek tengah melaksanakan sholat saat Yudha menghampiri kamar neneknya, dia pun memutuskan untuk masuk kamar miliknya yang tepat berada di samping kamar sang nenek.
Dia merebahkan tubuhnya di kasur, lalu mengambil ponsel dan mengetik sebuah pesan.
Yudha :
Pagi Nara, kamu sudah bangun ?
setelah beberapa saat
Gadis kecil :
**Selamat pagi juga kak, sudah
Yudha :
Baguslah, sedang apa ?
Gadis kecil :
Sedang menulis puisi, kalau kakak ?
Yudha :
Gadis kecil :
hanya iseng kak, hehe
kakak belum menjawab pertanyaanku !
Yudha :
Pertanyaan yang mana ?
Gadis kecil :
Kakak sedang apa ?
Yudha :
Oh itu hehe
Aku sedang memikirkan mu !
Gadis kecil :
Eh ?
Yudha :
Lupakan Ra..!
Ya sudah selamat menulis ya !
Gadis kecil :
Iya kak, terimakasih**
Dasar bodoh kamu Yudha !
Apa itu tadi ? sedang memikirkan mu ? yang benar saja !!
sepertinya aku sudah gila. batin Yudha menggerutu, mengusap wajahnya kasar, lalu melemparkan ponselnya ke sembarang arah.
Aaaaaaaaaaaa. erangnya frustrasi.
Sementara di kamar Nara.
Senyuman Nara terlihat lebih cerah dari biasanya, mengalahkan dinginnya udara pagi yang menusuk tulang. Dia berguling-guling di atas kasurnya, mendekap erat ponsel di dadanya, jantungnya berdetak sangat kencang, dia lupa dengan kegiatan menulisnya, rasa kantuk yang menyerangnya saat menulis tadi menguap tanpa sisa.
__ADS_1
Kepalanya yang tadi terasa pusing karena kurang tidur semalam kini tidak terasa lagi.
seperti halnya pesan Yudha semalam yang membuatnya tidak bisa tidur, pesan pagi ini pun seperti memberinya energi lebih untuk menjalani aktivitas pagi hari yang jarang dia lakukan karena alasan malas, pagi ini dia melakukan pekerjaan rumah dan memasak, sesekali senandung kecil lolos dari mulutnya, sang ayah hanya bisa tersenyum menggeleng kepalanya pelan melihat tingkah anaknya yang tidak biasa ini, meskipun saat bersama ibunya, Nara di haruskan bangun pagi membersihkan rumah. Namun di rumah sang ayah, Nara selalu berleha-leha terlebih sang ayah sangat memanjakannnya, jadi Nara menggunakan momen di rumah sang ayah untuk benar-benar berlibur, berdiam seperti tuan putri.
" Ayo, makan dulu yah !." ajak Nara ketika sudah selesai menyiapkan sarapan, tanpa berkata sang ayah hanya tersenyum dan duduk di depan Nara, memperhatikan senyuman Nara yang sangat ceria dan berbeda hari ini, kebahagiaan terlihat membuncah di matanya.
Hal apa yang membuatmu begitu bahagia sayang ?
Apapun itu, ayah harap ini bukan kebahagiaan sesaat, semoga Alloh terus memberimu bahagia sayang, Amin. doa ayah lirih dalam hati.
Matahari sudah tinggi sekarang, berada tepat di tengah kepala, panasnya terasa membakar kulit, saat ini Nara tengah asyik bermain ular tangga bersama Dicky di teras depan rumah.
" Haaa kamu kalah lagi Ky !." Ujar Nara tergelak melihat ekspresi Dicky menahan kesal, pasalnya sudah sepuluh kali putaran, Dicky selalu kalah
" Kamu pasti curang ! " Ujar Dicky kesal
" Dih, kalah mah kalah aja kali gak usah nuduh orang ! " ujar Nara mencebikkan bibirnya meledek
" Udah ah males ! " tukas Dicky mengacak permainan ular tangga karena kesal
" Hahahaha " tertawa puas " Eh Ky, aku boleh nanya ? "
" Apaan ? " jawab Dicky ketus
" Kak Yudha itu, asli orang sini ? "
" Iya ! " jawabnya singkat
" Kok aku kemaren-kemaren gak pernah liat dia disini "
" Soalnya kemaren-kemaren dia pergi buat cari kerja di ibu kota, tapi sepertinya tidak berhasil, makanya dia balik lagi kesini."
" Oh gitu, terus sek____ " ucapannya terpotong saat dia mendengar suara cempreng khas ibu-ibu berteriak.
" Dicky !!! kamu kemanain uang ini " teriak ibu itu yang tak lain adalah ibunya Dicky
" Kamu nyuri uang ibu kami Ky ? tanya Nara
" Enggak Ra ! " jawab Dicky dengan nada cemas dan takut
" Tuh kata ibu kamu tadi "
" Sumpah Ra, aku gak nyuri, aku cuma ambil gak pake bilang "
" Sama aja bodoh ! doyan banget sama yang haram-haram "
" Bodo amat, aku harus pergi, jangan bilang sama ibu, aku mau ke rumah Agus ya " Ujar Dicky sambil bergegas pergi, Nara hanya memandang dengan jengah, tak lama ibu Dicky menghampiri Nara.
" Ra, lihat Dicky ga ?" tanya ibu Dicky dengan nafas terengah-engah
" Lihat Tante, dia ke rumah Agus !"
" Huh, dasar anak itu, awas aja ! " dengan emosi Ibu Dicky pergi ke rumah Agus yang hanya terhalang satu rumah dari rumah Nara.
Sorry Ky, bohong sama ibu-ibu itu dosa.batin Nara sambil cekikikan
Nara pun membereskan permainan ular tangganya, dan pergi ke depan hendak menutup pagar, saat dia akan mengaitkan kunci, dia melihat ke arah jalan, bertepatan dengan melintasnya motor Yudha di depannya, tatapan mereka bertemu sesaat, tatapan Nara masih memperhatikan Yudha yang berhenti tepat di depan rumah Agus, Yudha menepikan motornya, sebelum masuk ke rumah Agus, Yudha memberikan senyuman singkat pada Nara lalu bergegas masuk.
Ya ampun ganteng banget. gumam Nara
Nara pun bergegas masuk ke rumah, langsung menuju kamar dengan senyum yang terus terukir di bibirnya, dan melewati sang ayah yang sedang menonton televisi begitu saja.
saat sampai di kamar, dia melihat ponselnya yang terlihat menyala, ternyata ada pesan baru yang masuk.
Yudha :
Tunggu aku Nara, aku akan ke rumahmu malam ini.
Tangan Nara bergetar, rasa bahagia membuncah kemana-mana
**Nara :
Malam ini kak ?
Yudha :
Iya, gak boleh ya ?
Nara :
Boleh kak !
Yudha :
Ya sudah, sampai bertemu nanti malam !
Nara :
Iya kak** !
Aaaaaaaaa aku senang, aku senang. batin Nara seraya menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, wajahnya merona, tiba-tiba merasa malu. tapi dia sangat bahagia, dan tak sabar malam ingin segera tiba.
Bersambung.....
Like, komen, dan vote ya guys, semoga suka...
__ADS_1
Jujur aku gemeteran nulis part ini..haaaaa