Kali Kedua

Kali Kedua
KEMBALI TERSENYUM


__ADS_3

Pagi itu Adel bangun dengan mata yang masih terlihat sembab, kantung matanya tampak sedikit menghitam. Matanya terasa sedikit perih ketika menatap matahari pagi yang masuk dari gorden jendela yang sedikit tersingkap. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya dan menatap sekeliling kamar yang jelas bukan kamarnya.


"Oh ya, aku lupa bahwa aku sedang menginap dirumah Daniel." Adel bergumam pelan.


Adel turun dari tempat tidur dan membuka kopernya, dia mengambil setelan baju ganti. Adel masuk ke kamar mandi dan merendam tubuhnya sebentar. Segalanya yang terjadi kemarin bagai mimpi bagi Adel. Bagaimana bisa dia dihianati berulang kali oleh seseorang yang benar-benar di perjuangkannya.


Adel keluar dari kamar mandi, badannya terasa sedikit lebih segar. Dia duduk di meja rias dan mulai mematut dirinya sebentar. Adel menatap pantulan bayangan dirinya sendiri di cermin, wajah sayu dan mata sembab terlihat jelas disana. Pikiran Adel tiba-tiba mulai melayang entah kemana.


Adel teringat kembali awal perkenalannya dengan Ansel, pria yang bersamanya selama beberapa tahun ini. Hubungan mereka memang salah dari awal, bukan kesalahan Adel tapi jelas kesalahan Ansel. Ansel menjadikannya kekasih saat Ansel masih memiliki hubungan dengan wanita lain. Adel tentunya tidak mengetahuinya sama sekali hingga wanita itu melabrak dan memaki Adel.


Karena hal itu Adel memutuskan hubungannya dengan Ansel, bagaimanapun dia bukan gadis jahat yang suka merebut kekasih orang walaupun dia sangat menyayangi Ansel. Adel menjauh, benar-benar menjauh dari kehidupan Ansel. Namun Ansel terus datang kepadanya, Ansel mengatakan bahwa dia tidak lagi berhubungan dengan wanita itu.


Awalnya Adel menolak, namun keseriusan yang ditunjukan oleh Ansel membuat hatinya luluh. Adel kembali kepelukan Ansel, namun ternyata Ansel tidak berubah. Dia menyimpan banyak rahasia, dia menyimpan wanita lain di hatinya. Berulang kali Adel mengetahuinya dan berulang kali pula Adel memaafkan.


Hingga suatu hari Adel dijodohkan dengan anak sahabat orang tuanya yang sama sekali tidak dikenalnya. Saat itu sahabat orang tuanya datang melamar Adel untuk anaknya. Adel jelas saja menolak dan memberontak, dia memiliki Ansel dan dia tidak ingin menikah dengan orang lain. Adel bahkan lari dari rumah hingga menggelandang dijalanan, dia tidak ingin orang tuanya menemukannya.


Saat itulah Adel bertemu dengan Dafa, Ken dan Brian. Awalnya Adel mengira mereka adalah laki-laki mesum yang ingin menculik dan menjamahnya. Namun ternyata tiga pria tampan itu justru menolongnya dan memberikannya tumpangan hidup sementara tanpa meminta imbalan apapun.


Dafa bahkan dapat meyakinkan kedua orang tuanya agar mereka tidak meneruskan perjodohan itu. Kedua orang tua Adel yang sangat menyayanginya mengiyakan permintaan Dafa. Hal itu juga dilandasi rasa percaya mereka pada Dafa karena pria itu ternyata salah seorang yang sangat berpengaruh.


Adel dengan senang hati kembali kerumah dan tentunya kembali bersama Ansel. Hingga suatu hari Ansel marah pada Adel karena kedekatannya dengan tiga pria tampan yang menyelamatkan hidupnya dan kini menjadi sahabatnya. Ansel benar-benar marah saat itu, Adel bahkan menerima perlakuan kasar dari Ansel. Pertama kalinya Adel disakiti, kedua orang tuanya pun tidak pernah memukulnya. Namun Ansel sangat keterlaluan saat itu, dia menampar pipi Adel hingga berbekas. Mungkin bekas tamparan itu tidak terlalu berasa untuknya, namun sakit hati yang dirasakannya benar-benar kuat.


Dafa, Ken dan Brian yang mengetahuinya jelas saja marah. Satu bogem mentah mendarat di pipi Ansel, hadiah dari Dafa. Tendangan perut hadiah dari Brian, dan tamparan berulang kali hadiah dari Ken. Ketiga pria itu benar-benar tidak terima dengan apa yang dilakukan Ansel, terlebih kepada Adel seorang wanita yang bahkan memperjuangkannya dan menolak perjodohan demi dirinya.


Namun entah kenapa Adel terus kembali bersama Ansel. Seperti tidak terjadi apapun Adel dengan keringanan hati menerima permintaan maaf Ansel. Dan Ansel dengan segala kebodohan yang bertingkat-tingkat terus saja tidak berubah.


"Bodoh." Satu kata dari Ken yang menggambarkan hubungan dua anak manusia itu.


"Lebih dari bodoh." Sahut Dafa.


"Gila sih." Sahutan dari Brian.


Persahabatan mereka gonjang-ganjing hanya gara-gara Ansel, pria itu tidak berhenti cemburu. Hingga akhirnya trio tampan itu memutuskan untuk tidak menemui Adel sementara waktu. Mereka tidak ingin terus meladeni pria yang menurut mereka otaknya kurang setengah itu. Pria itu sangat cemburuan, sedangkan dia dengan mudahnya mendua dengan wanita lain. Bukankah itu namanya egois?

__ADS_1


Sekarang Ansel kembali menyakitinya untuk yang kesekian kalinya. Adel sudah memutuskan untuk melepaskan, dia tidak ingin lagi terluka untuk seterusnya. Memiliki Ansel sudah seperti menggenggam erat mata pisau, dia akan terluka terus menerus. Adel mengusap air matanya mengenangkan perjuanganny selama bertahun-tahun menunggu pria itu untuk jadi miliknya seutuhnya. Nyatanya pria itu takkan pernah menjadi miliknya. Semakin hari, pria itu semakin tak tergapai olehnya.


"Del?"


Adel tersentak dari pikirannya sendiri saat dia mendengar suara seseorang memanggilnya. Dia mengusap air mata yang semakin deras menetes di sudut matanya. Dia menoleh ke arah pintu, menatap Daniel yang juga sedang menatapnya.


"Daniel? Sejak kapan kau berdiri disana?"


"Sejak tadi."


"Benarkah? Aku tidak sadar."


"Ya, aku mengetuk pintu beberapa kali tapi kau tidak menyahut. Jadi aku memutuskan untuk membukanya, maaf."


"Tak apa." Adel mengangguk.


"Ayo sarapan."


"Baiklah." Adel beranjak dari duduknya dan mengikuti langkah Daniel.


"Makanlah." Daniel tersenyum.


"Baiklah." Adel tersenyum lebih ceria, dia senang dengan makanan.


Mereka makan bersama-sama hingga tidak terasa semua makanan yang ada di meja sudah habis tak bersisa. Adel dengan malu-malu mengusap mulutnya yang berlepotan dengan tisu. Daniel hanya terkekeh melihat tingkahnya.


"Ini semua kau yang masak?" Adel bertanya.


"Ya." Daniel tersenyum.


"Kau sangat pandai memasak." Adel mengacungkan kedua jempol tangannya.


"Terima kasih untuk pujianmu lagi." Daniel terkekeh.

__ADS_1


"Niel, maafkan aku dulu sering mengejekmu." Adel berkata tulus.


"Tidak apa."


"Dulu aku benar-benar tidak tahu caranya mengkritik seseorang dengan baik, sehingga apa yang keluar dari mulutku hanyalah berbentuk ejekan dan hinaan."


"Tidak masalah, kata-kata pedasmu itu yang akhirnya membuatku berhasil menjadi seperti ini." Daniel terkekeh.


"Itu pasti karena kerja kerasmu sendiri untuk menjadi lebih baik."


"Bagaimana denganmu? Aku juga mau mencoba makanan hasil tanganmu itu." Daniel tersenyum.


"Ya, nanti aku akan memasak untukmu."


"Baiklah, apa yang akan kau lakukan hari ini?"


"Tidak tahu." Adel menggeleng.


"Kau tidak mau pulang?"


"Apa kau mengusirku?" Wajah Adel berubah suram.


"Hei, aku hanya bertanya." Daniel terkekeh.


"Tapi pertanyaanmu seakan menyuruhku untuk pergi -dari sini." Adel mengerucutkan bibirnya cemberut.


"Tidak begitu, cantik. Aku ingin mengajakmu jalan-jalan jika kau tidak ingin pulang." Daniel tertawa kecil.


"Sungguh?" Adel tersenyum senang mendengar kata jalan-jalan.


"Ya." Daniel mengangguk.


"Baiklah, aku mau."

__ADS_1


Daniel dan Adel akhirnya berjalan-jalan sepanjang hari. Adel yang terluka perlahan mulai melupakan sedikit demi sedikit kesedihannya karena dihibur oleh sosok Daniel yang menyenangkan. Daniel benar-benar paham bagaimana caranya membuat seorang Adel kembali tersenyum cerah hari itu.


...****************...


__ADS_2