Kali Kedua

Kali Kedua
JANE-HARI PERNIKAHAN LIAM


__ADS_3

Aku sedang bersiap-siap dikamarku, mematut diriku dengan polesan make up natural serta memakai gaun simpel yang nyaman dipakai. Aku menuruni tangga dengan pelan, diruang tamu sudah menunggu Ayah, ibu, Darren dan juga Kai. Mereka semua langsung menoleh kepadaku saat aku tiba disana.


“Hei, kenapa semuanya menatap kearahku?”


“Tuan putri sudah turun rupanya.” Ayah terkekeh.


“Ya, kau terlihat cantik sekali.” Ucapan ibu membuat aku tersipu.


“Apa ini ajang balas dendam kepada mantan kekasihmu? Kau terlihat sangat cantik.” Darren tersenyum ke arahku.


“Apa ini berlebihan?” Aku memegang kedua pipiku.


“Tidak, kau hanya terlihat sangat cantik.” Ayah juga memujiku.


“Kakak ipar, apa make up ku terlalu tebal?” Aku menatap Kai yang sejak tadi hanya tersenyum.


“Tidak, Jane. Kau sungguh sangat cantik.” Kai tersenyum lembut.


“Hei, kenapa semuanya memujiku? Apa kalian ingin menghiburku karena hari ini pernikahan mantan kekasihku?” Aku mengerucutkan bibirku


“Tidak Jane, kami sungguh-sungguh.” Darren tiba-tiba merangkul bahuku.


“Hei, kau mencurigakan Darren.”


“Adikku sangat cantik kan Kai?” Darren menatap Kai.


“Ya, sangat.” Kai mengangguk-angguk.


“Baiklah, ayo kita berangkat.” Ayah mengajak kami semua untuk segera berangkat.


Kurang dari dua puluh menit kami sampai di tempat tujuan, kami semua turun dari mobil, kami diharuskan menunjukkan undangan kepada para penjaga. Kami memasuki gedung tempat pernikahan Liam, kesan mewah sangat terlihat dalam ruangan ini. Dekorasi bunga berdiri anggun disetiap sudut tempat ini. Cahaya lampu yang telah disesuaikan dengan ruangan menambah kesan romantis didalam ruangan.


Aku tidak merasakan apapun hari ini, tak ada perasaan sedih ataupun perasaan lainnya saat memasuki tempat ini. Aku juga tidak merasakan perasaan marah ataupun benci seperti saat pertama mengetahui pertunangan Liam waktu itu. Aku telah membuktikan bahwa aku memang benar-benar tidak mempunyai perasaan apapun lagi kepada Liam.


Aku dan keluargaku dipersilahkan duduk disalah satu tempat duduk untuk tamu vip sesuai dengan kartu undangan yang kami tunjukan. Ayahku salah seorang yang berpengaruh dalam dunia bisnis, dia juga salah seorang pemegang saham yang lumayan besar diperusahaan keluarga Liam. Sangat wajar jika keluarga kami mendapatkan undangan vip dari keluarga Liam.


“Jane, kau tidak apa-apa?” Ayah berucap kepadaku, seketika ibu, Darren dan Kai juga menatapku.


“Hei, jangan menatapku seperti itu, aku tidak apa-apa.”

__ADS_1


“Kau yakin?” Ayah mengusap lembut bahuku.


“Ya ayah, kau tidak perlu khawatir.” Aku meyakinkan ayah, dia akhirnya mengangguk.


Aku tahu ayahku juga sangat mengkhawatirkan perasaanku, dari awal dia tahu hubunganku dengan Liam. Ayah mengangguminya walaupun aku tidak memperbolehkannya bertemu dengan Liam, aku masih tidak ingin Liam mengetahui statusku sebagai keluarga Austin, aku ingin melihat ketulusannya terlebih dahulu. Aku berencana untuk memberitahukan semuanya saat aku yakin bahwa Liam sungguh-sungguh menerima aku apa adanya.


Ayah menyukai Liam karena dia adalah pria yang terlihat sangat menyayangiku dulu. Namun setelah tahu Liam meninggalkanku hanya karena silau akan harta, ayah menarik semua kekagumannya pada pria itu. Ayah jelas marah padanya, tapi aku melarang ayah untuk melakukan apapun kepadanya. Aku meyakinkan ayah bahwa aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri.


Akhirnya yang ditunggu-tunggu telah tiba, kedua mempelai berjalan melewati para tamu menuju altar. Aku melihat senyum tulus dari Margareta, gadis itu terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin indah yang membalut tubuhnya. Berbeda dengan Liam, dia tersenyum namun terlihat dipaksakan. Mata Liam seakan tidak tenang, sepertinya dia mencari-cari sesuatu.


Aku tersenyum menatap mereka, aku bahkan berangan-angan dapat berjalan disana bersama sekretaris Ken nanti. Hei otak! berhenti berpikir yang tidak-tidak, kenapa aku membayangkan sekretaris Ken disaat seperti ini. Aku tersenyum sendiri karena pikiran konyolku tentang sekretaris Ken, maafkan aku sudah menghayalkanmu wahai sekretaris Ken yang tampan.


Liam tiba-tiba menatapku, mataku bertemu dengan matanya. Selama beberapa detik dia tidak berpaling dan terus menatapku, aku tidak bisa mengartikan arti pandangannya. Hanya saja aku merasakan sesuatu yang berbeda, seperti perasaan ambisi menyeruak dari matanya.


Kedua mempelai akhirnya mengikat janji suci pernikahan, mereka bergantian saling menautkan cincin ke jari pasangan mereka. Margareta tersenyum sangat bahagia saat itu. Berbeda dengan Liam yang terlihat gelisah, dia seperti tidak fokus dengan acara pernikahannya sendiri. Tamu satu persatu mulai menhampiri mereka, memberikan selamat dan berfoto bersama dengan raut wajah yang gembira.


Acara berjalan dengan lancar hingga acara dihentikan sementara agar pengantin bisa beristirahat. Margareta di tuntun oleh asisten pengantin menuju ruangan istirahat sedangkan Liam telah pergi dari sana entah kemana aku tidak terlalu memperhatikan. Ayah dan ibuku sibuk berbincang dengan Darren dan Kai, mereka membicarakan tentang pernikahan Kai dengan Darren yang akan dilaksanakan beberapa bulan lagi.


Aku mendengar ponselku berdering, aku melihat nama yang tertera disana, sekretaris Ken, aku tersenyum menatapnya. Aku minta izin kepada keluargaku untuk keluar dari ruangan karena tidak memungkinkan menerima telepon diruangan ini, terlalu bising. Aku berjalan keluar dari gedung menuju taman disamping gedung, aku duduk disalah satu kursi yang ada disana.


“Halo.”


“Jane?”


“Kau sedang apa?”


“Aku sedang berada di acara pernikahan Liam.”


“Kenapa terdengar sepi?”


“Aku sedang berada di luar gedung.”


“Kenapa?”


“Di dalam sangat bising.” Aku tersenyum


“Jane!" Aku terkejut mendengar suara Liam memanggilku.


Liam tiba-tiba sudah berada didepanku. Liam menarik tanganku hingga tak sengaja aku menjatuhkan ponselku. Liam memelukku dengan erat, aku berusaha melepaskannya namun Liam seakan tidak ingin melepaskanku.

__ADS_1


“Liam lepaskan aku.” Aku mendorong tubuhnya dengan keras hingga akhirnya pelukannya terlepas.


“Jane, aku sangat merindukanmu.” Suara serak Liam terdengar ditelingaku.


“Cukup Liam! apa kau ingin menghancurkan pesta pernikahanmu sendiri dengan sikapmu itu?” Rasa kesalku seketika muncul namun aku berusaha bersikap dengan tenang.


“Aku tidak lagi peduli dengan pernikahan ini Jane, saat ini aku hanya ingin bersamamu.” Liam mendekatiku, aku mundur selangkah darinya.


“Liam, dengarkan aku, semuanya telah berakhir diantara kita, cobalah untuk menerimanya.”


“Tidak, aku tidak mau.” Liam meraih kedua tanganku dan menggenggamnya.


“Liam...”


“Ku mohon Jane, aku tidak lagi peduli dengan pernikahan ini, aku tidak lagi peduli dengan harta atau apapun itu. Aku sadar aku hanya membutuhkan dirimu, ku mohon kembalilah padaku, mari kita mulai semuanya kembali.” Liam meneteskan air matanya, dia berlutut sambil terus menggenggam tanganku, saat ini aku melihat ketulusan di matanya.


“Liam, bangkitlah.” Aku merasa sedih melihatnya seperti ini, aku menarik tangannya agar kembali berdiri.


“Aku mohon, aku sungguh sangat mencintaimu.” Liam menatap wajahku.


“Liam, tenanglah.” Aku mengusap air matanya dengan tanganku.


“Jane, aku mohon kembalilah padaku.”


Aku terdiam idak bisa berkata apapun, aku benar-benar melihat ketulusan di mata pria ini. Namun aku tidak merasakan apapun lagi, dihatiku hanya ada sedikit rasa kasihan kepadanya. Liam terlihat tidak peduli lagi dengan harga dirinya, dia terus memohon kepadaku.


“Jane?” Liam menyadarkan aku.


“Liam, ku mohon hentikan. Margareta telah menunggumu didalam sana, kembalilah kepadanya.” Aku berkata dengan tenang, berharap Liam bisa mengerti.


“Aku tidak mau, Jane.”


“Liam, aku tidak memiliki perasaan apapun lagi kepadamu.” Akhirnya aku mengatakannya.


“Kita akan memulainya dari awal, aku akan membuatmu kembali mencintaiku.” Sepertinya Liam tidak ingin menyerah, aku kehabisan kata-kata untuk menjawabnya.


“Jane?” Suara yang sangat familiar memanggilku, seketika aku dan Liam menoleh ke arah sumber suara itu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2