
Oh God, dia ada disini, sekretaris Ken menatap kearahku dengan tersenyum. Itu benar-benar sekretaris Ken kan? Sangat jelas benar, karena yang bentukannya seperti itu hanyalah sekretaris Ken seorang. Aku hanya melongo menatap wajah tampannya, entah bagaimana caranya dia bisa berada disini sekarang.
“Ke..Ken?” Aku terbata
“Kau disini? Aku mencarimu kemana-mana.” Dia tersenyum lebar.
“Ken?” Aku masih melongo.
“Hei, kau pengantin pria itu? Kau sangat tampan.” Ken menatap Liam
“Siapa kau?” Liam terlihat bingung, dia tidak mengenali sama sekali pria yang sok akrab itu.
“Perkenalkan, aku Ken, kekasih Jane.” Ken memaksa menyalami tangan liam.
“Apa?”
“Kau dengan mempelai wanita terlihat sangat cocok tadi, aku dan Jane juga berencana akan menyusul beberapa bulan kedepan.” Ken berbicara banyak.
“Benarkah, Jane?” Liam menatapku meminta kejelasan, aku hanya diam tak bisa menjawab apapun.
“Sebenarnya aku ingin cepat-cepat menikahi Jane, namun kata Jane kami harus mempersiapkan semuanya terlebih dahulu. Ya kan sayang?" Oh God, Ken merangkul pinggangku.
“A..aku..” Apa yang harus kukatakan sekarang?
“Sayang, kau selalu gugup setiap berada disampingku.” Ken tersenyum kearahku.
“Jane, benarkah ini semua?” Raut kecewa tercetak jelas diwajahnya.
“Ya." Akhirnya aku mengangguk, tidak ada jalan lain selain mengikuti skenario sekretaris konyol ini.
“Liam.” Suara lembut seorang wanita menyentuh pendengaran kami.
Kami semua menatap kearah wanita bergaun pengantin itu. Raut wajahnya terlihat seperti bingung bercampur sedih. Aku tidak tahu sejak kapan dia berada disana, aku tidak tahu apakah dia juga mendengar percakapan kami.
“Hei mempelai wanita, apa kau mencari suamimu, kami sedang berbincang disini." Ken tersenyum lebar ke arah Margareta
"Liam, Margaret, sedang apa kalian disini?" Kami menoleh kembali ke arah suara, ternyata kedua orang tua Liam juga datang kesini.
"Ibu?" Liam menatap ibu dan ayahnya.
"Hei, gadis ini apa kau juga datang ke pernikahan Liam?" Ayah Liam mendekati Jane.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau berusaha menggoda anakku agar kembali padamu?" Ibu Liam tersenyum sinis.
"Tidak." Jane tersenyum tenang.
"Lalu apa yang kau lakukan disini jika tidak bertujuan untuk menggoda Liam?" Ibu Liam menyeringai
"Silahkan tanyakan pada anak nyonya sendiri." Jane tersenyum.
"Aku menanyakannya padamu, jawab saja!" Ibu Liam mencekal tangan Jane.
__ADS_1
"Nyonya, lepaskan tangan anda dari kekasih saya." Ken mengisyaratkan agar ibu Liam melepaskan tangan Jane.
"Siapa kau?" Ibu Liam menatap sinis pada Ken.
"Saya Ken, kekasih Jane." Ken tersenyum dan meraih tangan Jane, Ken menggenggam jemari Jane dengan lembut.
"Bilang pada kekasihmu ini untuk tidak mengganggu Liam lagi." Ibu Liam menunjuk wajah Jane.
"Saya rasa bukan kekasih saya yang mengganggu anak anda, tapi anak anda yang masih mengejar kekasih saya." Ken tersenyum.
"Kau bercanda?" Ibu Liam tertawa kecil.
"Cukup ibu, akulah yang mengejar Jane, aku masih sangat menyayanginya." Liam berucap lemah.
"Diam Liam, kau jangan bohong." Ayah Liam meninggikan suaranya.
"Aku tidak bohong." Liam berucap yakin.
"Kau apakan anakku hingga dia menjadi begini?" Ibu Liam mencengkram bahu Jane.
"Nyonya, sekali lagi lepaskan tangan anda dari kekasih saya." Ken mulai merasa kesal.
"Wanita ****** ini ingin menghancurkan pernikahan anakku." Ibu Liam meninggikan suaranya.
"Siapa yang ******?" Oh God, Ayahku berjalan ke arahku dengan raut wajah marah diikuti oleh Ibu, Darren dan Kai.
"Tuan Austin?" Ibu Liam melembutkan suaranya seketika.
"Apa yang terjadi disini?"
"Siapa yang kau panggil ******?" Austin mengernyitkan kedua alisnya.
"Gadis ini, mantan kekasih Liam tuan, dia berusaha menggoda anak saya kembali." Ibu Liam menunjuk ke arahku.
"Benarkah?"
"Tidak seperti itu tuan, Jane sama sekali tidak menggodanya." Ken menyela pembicaraan mereka.
"Siapa kau?" Austin menatap Ken.
"Saya kekasih Jane." Ken tersenyum tanpa dosa, aku mengulum senyum melihat tingkahnya, Ken pasti tidak mengenali ayahku.
"Oh ya? Jadi apa yang sebenarnya terjadi?" Ayah menatap Ken.
"Sebaiknya kau menjelaskannya sekarang Liam, agar semuanya tidak salah paham." Ken menatap Liam.
"Aku yang menghampiri Jane kesini, aku memintanya untuk kembali padaku." Liam sangat jujur kali ini, kedua orang tuanya hanya tertegun, mereka tidak bisa berkata apa-apa dihadapan kedua orang tuaku.
"Benarkah itu?" Margareta yang sedari tadi hanya diam akhirnya membuka mulutnya, aku melihat matanya berkaca-kaca, siap meneteskan air mata.
"Ya." Liam mengangguk.
__ADS_1
"Sudah jelas nyonya? Anda sudah mendengar sendiri kata-kata yang keluar dari mulut anak anda." Ken tersenyum puas. Kedua orang tua Liam hanya diam seribu bahasa, tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Liam, kau menyakitiku." Margareta terlihat meneteskan air matanya.
Margareta berpaling dan langsung meninggalkan kami semua, dia berlari kecil sambil mengangkat gaun pengantinnya. Sepertinya dia sangat bersedih, aku merasa tidak tega melihatnya menangis di hari bahagianya ini. Kedua orang tua Liam segera mengejar Margareta, mereka jelas tidak ingin kehilangan menantu kaya raya yang akan menjadi ladang harta untuk mereka.
"Pergilah Liam, kejar Margareta, dia benar-benar tulus kepadamu." Aku membuka mulutku.
"Tapi Jane."
"Jika kau terus disini, aku tidak akan pernah memaafkanmu selamanya."
Akhirnya Liam menuruti kata-kataku, dia berlalu menyusul Margareta dan kedua orang tuanya. Sekarang tinggal aku, Ken dan keluargaku disini. Sejenak kami saling bertukar pandang kebingungan dengan keadaan yang baru saja terjadi.
"Jane, apa kau tidak apa-apa?" Darren menyentuh pipiku.
"Maaf tuan, anda jangan seenaknya menyentuh kekasih saya." Ken menyingkirkan tangan Darren dari wajahku. Aku berusaha menahan tawaku melihat tingkah Ken kali ini.
"Kau sungguh kekasih Jane?" Darren menatap Ken.
"Ya, karena itu saya tidak ingin siapapun menyentuhnya sembarangan."
"Apa kau benar-benar tulus pada adikku?" Darren terus menatap Ken.
"Adik? Jane, apa dia kakakmu?" Ken berbisik ditelinga Jane.
"Ya." Jane mengangguk.
"Oh Tuhan, maaf kakak ipar aku tidak tahu." Ken menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa kau juga tidak mengenaliku?" Seketika ayahku bertanya pada Ken.
"Ya, tuan siapa?"
"Aku ayah Jane."
"Sungguh?" Ken terbelalak.
"Ya."Ayah mengangguk.
"Maafkan saya ayah mertua, saya tidak mengenali anda." Ken membungkukkan badannya beberapa kali.
"Ken, ini ibuku." Aku memperkenalkan ibu kepada Ken.
"Senang berjumpa denganmu ibu mertua." Ken membungkukkan badannya kembali, ibu hanya mengangguk dan tersenyum.
"Dan ini Kai, calon istri Darren." Aku memeluk lengan Kai.
"Salam kenal, kakak ipar."
"Ya salam kenal, Ken." Kai tersenyum
__ADS_1
Aku sungguh ingin tertawa terbahak-bahak kali ini, aku ingin menertawakan tingkah sekretaris Ken yang tidak mengenali anggota keluargaku. Dia bahkan memperkenalkan diri sebagai kekasihku dihadapan mereka semua. Oh sekretaris Ken, kau sungguh konyol.
...****************...