Kali Kedua

Kali Kedua
JANE-CERITA MASALALU (1)


__ADS_3

Aku dan Ken menikmati makan disebuah warung makan dekat rumah sakit, terlihat sederhana namun terasa menyenangkan. Aku tidak menyangka jika pria sekelas Ken bisa diajak makan di tempat sederhana ini. Ku kira dia tidak akan berselera jika di ajak makan disini, ternyata berbanding sangat terbalik. Ken begitu lahap menyantap makanannya, aku tidak sadar kenapa aku senang memandanginya saat ini.


Aku memang tidak pernah masalah dengan segala kesederhanaan walaupun aku diperlakukan bak tuan putri oleh kedua orang tuaku selama ini. Aku biasa saja ketika makan di tempat-tempat sederhana selama makanan yang disediakan sehat dan sesuai di lidahku. Karena hal itulah aku sangat cocok dengan Grace, dia juga mempunyai sifat hampir sama denganku. Siapa yang akan menyangka jika dia adalah anak tunggal presdir Eiregin Corp? Dia bahkan terbiasa makan jajanan di pinggir jalan, dia kadang memang terlihat konyol sama dengan diriku.


Aku dan Ken menghabiskan semua makanan kami hingga tak bersisa. Ken mengelus-elus perutnya yang kekenyangan sambil tertawa, ternyata dia juga bisa bersikap konyol seperti itu di depanku. Aku hanya tertawa melihat sikapnya, percayalah sikapnya ini sangat berbeda 360 derajat dengan karakter pertama yang kutangkap saat pertama kali bertemu dengannya. Bahkan dia terlihat selalu bersikap dingin dan tegas dengan para karyawan kantor. Entah kenapa dia memperlihatkan sifat aslinya kepadaku.


Setelah membayar kami akhirnya berpisah dan pulang ke tempat masing-masing. Aku melajukan mobilku menuju apartemen, ingin segera sampai dan menjenguk Grace sebentar. Aku ingin melihat keadaannya, kuharap anak itu sudah sehat sekarang. Bagaimanapun hal yang kulakukan terasa tidak menyenangkan jika tanpanya.


Aku secepat kilat menuju apartemen Grace, aku berteriak memanggil-manggil namanya dan menggedor-gedor pintu apartemennya. Aku takut dia kenapa-kenapa karena lama tidak membukakan pintu. Ceklek pintu terbuka dan aku langsung masuk kedalam. Aku bertanya tentang kesehatannya, ternyata dia baik-baik saja walaupun kulihat dia tampak berkeringat seperti orang yang sedang gugup, mungkin efek dari pemulihan sakitnya.


Aku meninggalkan apartemen Grace setelah yakin bahwa dia baik-baik saja. Aku membuka pintu apartemenku dan segera masuk kedalam kamar. Aku segera mandi, mengguyur tubuhku dengan air hangat membuat rasa letih perlahan menguap. Aku keluar dari kamar mandi dan segera memakai piyama tidurku, aku melompat ke atas tempat tidur. Aku menggerakan kedua tangan dan kakiku seperti berenang di atas tempat tidur, oh kasur aku sangat merindukanmu.


Aku teringat akan cerita Ken saat aku mabuk, tentang bagaimana aku memakinya dan menganggapnya sebagai Liam. Pikiranku tiba-tiba terbang kemasalalu, ke masa saat aku masih bersama Liam.


Pria itu adalah seseorang yang pertama kali mengisi hatiku, dia datang dengan cinta kepadaku. Bertahun lamanya kami bersama-sama, menjalin hubungan dengan cinta yang semakin hari semakin besar. Aku sangat bahagia saat itu, memiliki kekasih yang menjadikan aku ratu di kehidupannya. Namun kebahagiaan memang tidak selalu berpihak pada kita selama-lamanya.


Aku harus menerima kenyataan terpahit dihidupku ketika Liam tiba-tiba mengumumkan pertunangannya dengan Margareta, gadis polos anak dari sahabat orang tuanya. Aku mengetahuinya dari Grace, dia menceritakan semuanya padaku bagaimana acara pertunangan itu berlangsung. Grace mengetahuinya karena ayahnya adalah salah satu orang penting yang di undang di acara itu.


Aku merasa seperti di sambar petir di siang bolong, tak ada angin tak ada hujan namun badai datang menerjang diriku. Badanku merosot kelantai, bagaimana bisa Liam bertunangan dengan gadis itu tanpa memberitahuku sama sekali, bahkan tanpa memberikan kejelasan pada hubungan kami. Sejenak aku hampir tidak percaya dengan apa yang terjadi, namun itu sungguh nyata, sama sekali bukan mimpi.


Setelah beberapa waktu aku menenangkan diri akhirnya aku menemui Liam. Ingin membereskan semua hal yang saat itu simpang siur dalam hubungan kami. Aku harus menyelesaikan semuanya hingga tuntas, bagaimanapun aku adalah salah satu pihak yang tidak diuntungkan sama sekali pada keadaan ini.


"Jane." Liam menggenggam tanganku di atas meja.


"Ya?" Aku berusaha berbicara dengan setenang mungkin.


"Dengarkan aku."


"Silahkan." Aku mempersilahkannya untuk menjelaskan semuanya.

__ADS_1


"Aku dijodohkan dengannya, aku tidak bisa menolaknya."


"Terus?" Aku berusaha mengendalikan hatiku yang tiba-tiba terasa sakit.


"Aku tidak mencintainya, aku terpaksa."


"Kenapa?" Aku memaksakan menatap wajahnya walaupun yang ku lihat hanyalah luka.


"Ayahku akan memberikan seluruh aset pada adikku jika aku menolak perjodohan ini?" Liam menatap mataku dengan sayu, aku melihat masih ada cinta dimatanya.


"Jadi apakah hanya karena harta?"


"Tidak, ini untuk masa depan kita, Jane." Cih aku benar-benar ingin muntah mendengarnya, tidak akan ada masa depan untuk kita lagi setelah ini Liam.


"Aku ingin kita tetap bersama, aku tidak ingin kehilanganmu."


"Apa kau akan mengorbankan banyak orang demi ambisimu terhadap harta?" Aku masih berbicara dengan tenang.


"Lalu apa?" Aku menguatkan diri untuk tetap terlihat tenang.


"Sangat sulit untuk menjelaskannya saat ini padamu."


"Jelaskan saja semuanya, kurasa tidak ada yang sulit."


"Jane, aku menerima perjodohan itu dan aku akan menikah dengannya. Setelah aku mendapatkan seluruh aset perusahaan orang tuaku aku akan segera menceraikannya. Kita akan menikah setelah itu, Jane."


"Apa kau pikir semudah itu, Liam? Mempermainkan hati seorang wanita hanya demi aset yang bahkan bisa kau cari sendiri tanpa bergantung pada orang tuamu?" Aku masih berbicara dengan intonasi datar, menyembunyikan segala emosi yang sedari tadi sudah hampir meledak.


"Ku mohon Jane, tetaplah bersamaku. Ini hanya sebentar, pernikahan ini hanyalah sebuah status." Liam menggenggam tanganku dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Aku hanya akan memberi dua pilihan untukmu, Liam."


"Apa itu?"


"Aku atau pernikahan itu? Jika kau memilihku dan menolak pernikahan itu, kita akan tetap bersama-sama. Tapi jika kau memilih pernikahan itu, kupastikan kita tidak akan pernah bertemu lagi." Dengan segala kekuatan hati ku ucapkan kata-kata itu.


"Jane, aku tidak bisa menolak pernikahan itu. Aku akan kehilangan segalanya, itu akan berdampak pada masa depan kita."


"Liam, kau bisa memulainya dari awal, dengan senang hati aku akan membantumu, aku akan ada disampingmu jika kau mau berusaha sedikit saja."


"Pencapaianku saat ini sudah hampir di puncak, Jane. Aku tidak ingin semua itu sia-sia hanya karena aku menolak perjodohan ini."


"Baiklah, jika itu kemauanmu aku takkan memaksa." Aku menarik tanganku dari genggamannya.


"Apa kau setuju, Jane? Kita akan terus bersama-sama sampai saat itu tiba." Liam mengira aku menyetujui ide gilanya itu.


"Jangan pernah bermimpi, Liam." Aku menyunggingkan senyumku padanya.


"Jane, ke..kenapa?"


"Apa kau pikir aku adalah wanita yang tergila-gila dengan harta yang kau miliki? Apa kau pikir aku akan menunggu hingga kau mendapatkan seluruh harta warisan orang tuamu itu? Sudah kubilang jangan pernah bermimpi, Liam!" Aku menekankan setiap kata-kataku.


"Jane, ku mohon."


"Tepat saat ini hubungan kita telah berakhir, lakukanlah sesukamu apa yang ingin kau lakukan."


"Jane, aku sungguh-sungguh tidak ingin kehilanganmu."


"Jangan pernah mengucapkan kata itu lagi di depanku, karena saat ini kau sudah kehilanganku."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2