Kali Kedua

Kali Kedua
SEHARI BERSAMAMU (2)


__ADS_3

Hari sudah menjelang sore, Dafa mengantar Grace pulang ke apartemennya setelah membereskan semua urusan dirumah sakit. Mereka menuju apartemen Grace sambil berbincang, Grace juga menunjukkan letak apartemen Jane kepada Dafa. Tak lama mereka sampai didepan pintu apartemen Grace.


“Ini tempat tinggalku.” Grace menunjuk pintu.


“Mmm.” Dafa mengangguk.


“Terima kasih sudah mengantarku dan mengurus semua keperluanku.” Grace tersenyum.


“Ya, ayo masuk, buka pintunya.”


“Ma..masuk? Grace melongo.


“Ya, apa kau tidak membiarkan tamu kehormatan masuk?” Dafa menunjuk wajahnya sendiri.


“Ta..tapi.” Grace kehilangan kata-katanya.


“Tapi apa? Apa kau menyembunyikan sesuatu didalam?”


“Tidak.”


“Apa ada barang haram didalam? Atau jangan-jangan kau menyembunyikan seorang pria disana?” Dafa menunjuk pintu.


“Hei, tidak! Jangan berpikir macam-macam. Aku tidak pernah membawa masuk pria manapun tahu.” Grace terlihat kesal.


“Terus, kenapa kau melarangku masuk?”


“Apa kata Jane nanti jika tahu kau ada di apartemen bersamaku.”


“Bukankah tidak apa-apa? Aku juga tidak akan melakukan apapun terhadapmu.”


“Baiklah.” Grace membuka pintu sambil mengerucutkan bibirnya, dia tidak pernah menang jika berdebat dengan pria satu ini.


Kau terlihat dingin dalam setiap keadaan, tapi kau sangat cerewet terhadapku. Grace


Dafa melangkah masuk lebih dulu kedalam apartemen Grace, matanya menyapu setiap sudut ruang tamu. Berbagai barang dengan motif bunga anyelir menghiasi ruangan tersebut, barang-barang ditata dengan baik sehingga sangat nyaman dipandang mata. Dafa duduk di sofa tanpa dipersilahkan, dia menyandarkan tubuhnya disandaran kursi.


“Apa kau suka bunga anyelir?” Dafa menunjuk vas berisi bunga anyelir artificial berwarna merah muda di atas meja


“Ya, ibuku sangat menyukainya, jadi aku juga menyukainya.”


“Apa kau tahu makna dari bunga anyelir.” Dafa menatap Grace.


“Tentu saja.”


“Apa?”


“Bunga anyelir adalah salah satu bunga yang menandakan cinta dan kasih sayang.” Grace


tersenyum.


“Bunga anyelir warna apa yang paling kau suka?”


“Merah muda.” Grace menatap vas bunga di atas meja.


“Mmm.” Dafa mengangguk-angguk. Dia beranjak dari duduknya dan berjalan menyusuri apartemen Grace.


“Hei, benda apa itu warna-warni?” Dafa menunjuk sebuah ruangan yang pintunya terbuka.


Grace berlari dengan panik dan langsung menutup pintu ruangan tersebut, wajahnya memerah karena malu. Bisa-bisanya Dafa menunjuk-nunjuk jemuran pakaian dalamnya tanpa merasa bersalah pikir Grace. Dafa hanya tertawa melihat tingkah Grace yang terlihat semakin jengah.


“Tuan Dafa, apakah kau tidak berencana untuk pulang saja.” Grace bicara dengan logat dimanis-maniskan.


“Tidak.”


Apa-apaan? Apa yang akan kau lakukan di apartemen seorang gadis hah? Grace.


“Baiklah, jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?”


“Apa kau tidak mendengar kata dokter tadi?” Dafa menatap wajah Grace.

__ADS_1


“Apa?”


“Tuan Dafa, anda harus menemani istri anda.” Dafa meniru kata-kata yang diucapkan dokter.


“Tapi kan aku bukan istrimu.” Grace mendengus.


“Kita akan bermain peran sebagai suami istri.”


“Tidak!” Grace menggeleng.


Ide konyol darimana itu bermain peran sebagai suami istri. Grace.


“Baiklah, sebaiknya kau mandi dan ganti bajumu sekarang Grace, aku akan menunggu disini.” Dafa duduk di sofa ruang tengah.


Grace mengalah dan menuruti apa yang dikatakan oleh Dafa, dia masuk ke kamarnya dan segera mandi. Grace merendam tubuhnya dengan air hangat, perasaan lelahnya perlahan menguap. Setelah puas berendam Grace dan membenahi diri dia keluar dari kamar, matanya menyapu seluruh ruangan namun tidak terlihat sosok Dafa.


“Apakah dia sudah pulang?” Grace bergumam lirih.


Entah kenapa tiba-tiba dia merasa kesepian, dia menjatuhkan dirinya di sofa ruang tengah tempat Dafa duduk tadi. Grace memejamkan matanya sebentar, terhanyut dalam pikirannya sendiri. Dia tidak menyangka akan merasa kehilangan saat Dafa pergi dari apartemennya.


“Grace.” Grace terkesiap dan langsung menoleh ke sumber suara, dia melihat Dafa keluar dari kamar tamu yang berada di seberang kamarnya. Rambutnya terlihat basah, sepertinya dia baru saja mandi. Sepersekian detik mata mereka bertemu, Grace mengerjap-ngerjapkan matanya menatap pria tampan yang dikiranya sudah pergi dari apartemennya.


“A..apa kau baru saja mandi?”


“Ya, kenapa?”


“Aku akan mengambilkan handuk untuk rambutmu.” Grace beranjak menuju kamarnya, dia kembali dengan membawa handuk ditangannya. Grace memberikan handuknya pada Dafa, tapi Dafa malah menundukkan kepalanya memberi isyarat agar Grace mengeringkan rambutnya.


“Ke..kenapa?”


“Keringkan rambutku.” Dafa menunjuk rambutnya yang basah.


“Kenapa harus aku?”


“Aku sudah merawatmu kemarin, sekarang waktunya kau balas budi.” Dafa terkekeh.


Grace menaruh handuk ke kepala Dafa dengan malas dan mengeringkannya. Grace mendongak dan tak sengaja mata mereka kembali bertemu. Dafa menatap mata Grace dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh Grace. Grace bisa merasakan hembusan nafas pria itu di wajahnya. Dafa semakin mendekatkan wajahnya kepada Grace membuat gadis itu menutup matanya. Grace merasakan hembusan nafas Dafa terasa semakin dekat diwajahnya.


Ke..kenapa ini? Mau apa dia? Kenapa aku malah menutup mata? Mengapa aku tidak bisa bergerak. Grace


“Graceee.” Suara lolongan dan gebrakan pintu membuat grace kelabakan. Dia mendorong Dafa agar masuk kembali ke kamar tamu dan segera menutupnya. Grace membuka pintu, Jane masuk dan langsung mencecar Grace dengan berbagai pertanyaan.


“Grace, apa kau sudah sehat?”


“Ya.”


“Kenapa kau tidak memberitahuku, Grace?”


“Aku baru saja ingin memberitahumu, Jane.”


“Kau tahu tadi aku kerumah sakit menjengukmu, Grace. Kata perawat kau sudah pulang.”


“Ya,ya, maafkan aku Jane. Kau istirahatlah, terima kasih sudah menghawatirkan aku.”


“Baiklah, aku akan pulang ke apartemenku sekarang.” Jane melangkah ke arah pintu.


“Ya, ya.” Grace mengangguk-angguk.


“Apa benar kau baik-baik saja?” Jane menengok kembali ke arah Grace.


“Benar, Jane.” Grace mengangguk


“Haruskah aku menginap disini saja?.” Mata Jane menyipit


“Tidak-tidak, kau istirahat saja, kau sudah lelah seharian bekerja.”


“Baiklah.” Jane melambai dan pergi dari apartemen Grace. Grace menutup pintu dan mengelus-elus dadanya.


“Apa itu tadi Jane?” Dafa berucap tepat dibelakang Grace dan membuat gadis itu terlonjak kaget.

__ADS_1


“Kau mengagetkanku!.” Grace terkejut karena Dafa tiba-tiba berada di belakangnya.


“Hei, lihat wajahmu, kau seperti seseorang yang sedang menyembunyikan selingkuhan di apartemenmu.” Dafa tertawa.


“Itu karena kau.” Grace memasang wajah kesal


“Kenapa aku?”


“Kau berada di apartemenku.”


“Memangnya kenapa?”


“Sudah kubilang aku tidak pernah dan tidak terbiasa membawa seorang pria ketempat tinggalku.” Grace mendengus.


“Aku kan suamimu.”


“Itu hanya peran palsumu saja.” Grace berjalan dan duduk di sofa ruang tengah, dia mengambil remot dan menyalakan televisi.


“Aku akan berperan menjadi suamimu selama kau sakit.” Dafa duduk seenaknya di samping Grace.


“Daf, aku sudah sembuh sekarang, kau pulanglah.” Grace menghembuskan nafasnya kesal.


“Tidak.”


“Ada apa denganmu? Aku bahkan bukan siapa-siapamu.”


“Hmmm.” Dafa hanya berdehem.


“Pulanglah, kau sudah seharian menjagaku, sudah malam kau juga harus istirahat.” Grace sedikit melembutkan suaranya agar Dafa tidak merasa bahwa dia telah diusir secara halus.


“Hmmm.” Dafa beranjak dari duduknya dan keluar dari apartemen Grace tanpa mengatakan apapun, Grace hanya menatap kepergian Dafa dengan diam.


Apakah dia marah padaku? Grace bertanya dalam hati. Grace merasa kesepian kembali, dia menonton televisi hingga merasa bosan. Suara ketukan dipintu membuyarkan lamunan Grace, dia beranjak dengan malas menuju pintu.


“Kenapa Jane ketempatku malam-malam begini?.” Grace bergumam sambil membuka pintu.


Seketika matanya membulat sempurna melihat sosok di depan pintu. Dafa masuk tanpa permisi pada Grace, dia berjalan melewati Grace dengan membawa beberapa kantong belanja di tangannya. Grace menutup pintu dan berjalan cepat menyusul Dafa.


“Hei, hei kenapa kau kembali lagi?”


“Memang kenapa?” Dafa bertanya kembali.


“Kenapa kau bertanya kembali?”


“Karena aku mau.”


“Kenapa jawabanmu selalu begitu, hah?” Grace mendengus kesal


“Aku hanya pergi untuk membeli makanan.” Dafa sibuk mengeluarkan kotak-kotak makanan dari dalam kantong belanja.


“A..apa?” Grace melongo.


“Apa kau pikir bisa mengusirku dengan mudah?” Dafa tersenyum meremehkan.


“Dasar aneh.”


“Sudah diam, apa kau tidak lapar? Ini makanlah.” Dafa menyodorkan kotak makanan yang aromanya benar-benar membuat cacing berebut ingin segera menikmatinya.


Grace tidak lagi bertanya atau mendebat Dafa, dia memilih untuk menikmati makan malam karena perutnya sudah terasa sangat lapar. Grace memakan makanannya hingga habis tak bersisa bahkan lebih cepat daripada Dafa. Pria itu baru menghabiskan setengah makanannya.


“Hei, lihat. Apa kau benar-benar kelaparan? Dafa menunjuk kotak makanan milik Grace yang telah kosong.


“Ya, aku sangat kelaparan.” Grace mendengus.


“Kenapa wajahmu selalu terlihat kesal hah?” Dafa beralih menunjuk wajah Grace.


“Wajahku memang selalu begini.” Grace mengerucutkan bibirnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2