
Aku baru selesai berolahraga di hari minggu yang sangat cerah ini. Sejak pagi aku sudah mengayuh sepedaku berkeliling dan kemudian singgah di taman kota. Aku memarkirkan sepeda dan berlari kecil mengelilingi lapangan yang ada di taman dan kembali kerumah saat matahari sudah mulai meninggi.
Aku duduk di gazebo taman belakang, hari ini sebagian bunga mawar sudah mulai mekar. Rasanya tenang sekali menatap dan menghirup aroma bunga yang menenangkan. Aku selalu berada disini menikmati keindahan kelopak mawar yang bermekaran sebelum nanti dipetik oleh para pelayan untuk dikirim ke toko bunga.
Aku duduk sambil menikmati susu hangat yang tadi dibawakan oleh pelayan. Setelah puas memandangi bunga-bunga itu, aku menyandarkan diri di kursi dan menatap ke atas meja. Tak sengaja aku melihat ponselku tergeletak disana, entah kenapa tiba-tiba aku teringat dengan Nayra yang meneleponku kemarin.
Nayra, nama wanita itu tidak akan mungkin aku lupakan. Ayra, biasa aku memanggilnya, panggilan kesukaanku padanya, dulu. Aku sudah menceritakan sekilas tentang hubunganku dengannya beberapa waktu yang lalu bukan? Cinta pertama sekaligus luka pertama. Menyakitkan? Tentu saja! Aku pernah terluka dalam waktu yang panjang.
Ku akui aku pernah menjadi pria penuh luka hanya karena cinta. Terdengar cupu, namun itulah kenyataannya. Jika bercerita tentang masa dulu, takkan ada habisnya. Aku memang tidak terluka lagi, namun menurutku kenangan bersifat statis dan manusia bersifat dinamis. Kenangan akan tetap tinggal, tapi manusia bisa berubah-ubah. Itulah kata yang bisa menggambarkan antara masalalu dengan keadaanku saat ini.
Dalam arti lain kenangan akan selalu menetap dan akan selalu di ingat namun aku sudah berubah, bukan Ken yang dulu lagi. Terkadang kita yang memutuskan tentang kenangan, untuk menjadi pelajaran atau mungkin untuk digenggam kembali. Pada dasarnya sedikit banyak kenangan akan mempengaruhi kehidupan kita saat ini. Seperti aku sekarang, baru saja Nayra menyapa namun sudah membuat aku berpikir keras.
Jelas bukan karena aku masih mencintainya tapi karena aku memikirkan tentang Jane. Aku takut hal-hal yang tak kuinginkan akan terjadi nantinya jika Nayra dan Jane bertemu. Aku takut Jane salah paham, aku juga sebenarnya belum menceritakan satu hal pada Jane, tentang hubunganku dengan Nayra dulu.
Kemarin aku merasa itu bukan hal penting untuk diceritakan pada Jane karena Jane juga tidak menanyakan tentang masalaluku dan aku terlalu yakin bahwa masalalu tidak akan kembali ke kehidupanku. Tapi ternyata aku salah, masalalu benar-benar kembali. Sekarang rasanya itu menjadi hal penting dan aku bingung bagaimana caranya mengatakan pada Jane saat Nayra datang kembali.
Aku merutuki diriku kenapa kemarin aku harus mengangkat telepon dari nomor tidak dikenal itu. Aku juga merutuki rasa peduli yang selalu ada dalam diriku ini, dalam artian rasa peduli bukan hanya untuk Nayra saja tapi pada semua orang yang memerlukan pertolongan. Nayra meminta bantuan untuk dicarikan tempat tinggal karena dia tidak mengenal siapapun disini selain aku dan aku tidak bisa mengatakan tidak.
"Ah, kenapa kau harus bekerja disini, Nayra?" Kepalaku terasa nyeri memikirkan hal yang sebenarnya sangat tidak penting namun bisa saja berpengaruh pada kehidupanku kedepan.
Satu lagi yang membuatku merasa sedikit aneh, setelah kejadian waktu itu kenapa sekarang Nayra terdengar biasa saja menyapaku. Tidakkah dia merasa sedikit bersalah atau sedikit merasa canggung meminta bantuanku setelah melukai perasaanku? Atau dia sudah lupa dengan perlakuannya padaku dulu? Atau karena dia tahu bahwa aku tidak pernah bisa menolak permintaan tolong dari siapa saja?
Huh, apa mungkin aku yang terlalu overthinking? Semoga saja Nayra hanya meminta bantuan, setelah itu dia tak lagi menggangguku. Ah semoga saja, aku tidak boleh berpikiran buruk terlebih dahulu. Berpikir positif akan membuat perasaanku lebih baik.
Hari sudah menjelang tengah hari, aku meraih ponsel dan menghubungi Jane. Aku menelepon beberapa kali namun tak di jawab, hingga telepon yang kesekian kali barulah aku mendengar suara lirih Jane diseberang sana. Tentu saja aku tersenyum, mendengar sedikit suaranya saja sudah membuat perasaanku kembali sehat.
"Jane?"
"Mmm, Ken? apa itu kau?" Suara sedikit serak dan seperti bergumam, pastilah gadis ini masih mengumpulkan nyawanya.
"Kau baru saja bangun?" Aku terkekeh.
"Mmm, ya, tepatnya tidak ingin bangun." Masih dengan bergumam tidak jelas.
"Ini hari minggu, apa kau tidak ingin bertemu denganku?"
"Mau, tapi aku masih mengantuk." Aku mendengar Jane menarik dan menghembuskan napasnya pelan.
__ADS_1
"Bangunlah, sudah siang, kau selalu melewatkan sarapan di hari libur."
"Mmm." Hanya terdengar gumaman malas.
"Jane bangunlah, aku akan ke tempatmu."
"Mmm, ya ya."
Aku memutuskan sambungan telepon, aku tersenyum menatap ponselku. Teringat Jane, gadisku yang sangat rajin bekerja namun sangat malas di hari libur. Aku sangat merindukannya hari ini, jelas saja aku ingin segera menemuinya.
Aku bergegas pergi ke kamar, bersiap untuk pergi ke apartemen Jane. Aku melajukan mobil, ingin segera sampai ditempatnya dan bertemu gadis itu. Aku teringat tentang Jane yang baru bangun, tentu saja dia belum makan. Aku memutuskan singgah di supermarket untuk membeli beberapa bahan makanan. Setelah kurasa cukup berbelanja aku segera menuju apartemen Jane.
Di depan pintu apartemen Jane aku memencet bel berulang kali. Tapi tak ada tanda-tanda bahwa gadis itu akan membukakan pintu. Cukup lama hingga aku memutuskan untuk meneleponnya kembali namun tak diangkat sama sekali. Jane apa kau kembali tidur? Aku akhirnya menghubungi Grace, hanya dia yang bisa di mintai bantuan saat ini.
"Grace?"
"Ken? Ada apa?"
"Kau dimana?"
"Di apartemen."
"Tentang Jane?"
"Kau hebat menebak sekarang." Aku terkekeh.
"Ya, karena aku tahu kau hanya akan menghubungiku jika menyangkut tentang Jane."
"Ya, ya maafkan aku merepotkan, tapi aku memang sangat perlu bantuanmu sekarang."
"Apa yang kau perlukan?"
"Bisakah kau membukakan pintu apartemen Jane? Aku membawakannya bahan makanan tapi dia tidak membukakan pintu, sepertinya tidur."
"Baiklah, aku akan turun, tunggu sebentar."
"Terima kasih."
__ADS_1
Aku menunggu sekitar lima belas menit dan Grace akhirnya datang menemuiku. Dia membukakan pintu apartemen Jane menggunakan kartu akses, sepertinya duplikat milik Jane. Tentu saja aku sangat berterima kasih dengan Grace yang selalu membantuku.
"Masuklah."
"Apa kau tidak ikut masuk?" Aku bertanya pada Grace yang akan melangkah pergi.
"Aku akan kembali ke atas, banyak yang harus ku kerjakan. Masuk saja, bangunkan Jane, anak itu pasti sedang mendengkur di tempat tidurnya." Grace terkekeh mengejek sahabatnya sendiri.
"Apa tak apa aku masuk sendirian saat anak itu tidur?"
"Hei, aku percaya padamu Ken, kuyakin kau tidak akan mencuri ataupun berbuat jahat pada Jane." Grace tertawa kecil.
"Tentu saja, aku bukan maling apalagi penjahat."
"Ada apa dengan hari ini? kenapa kau repot-repot sekali?" Grace tersenyum menatap kantong belanja yang ku bawa.
"Aku khawatir dengan kesehatan sahabatmu itu, sepertinya dia melewatkan sarapan setiap hari libur."
"Tentu saja, itu sudah menjadi kebiasaannya." Grace kembali tertawa. "Masuklah, aku akan kembali sekarang." Grace melangkah pergi meninggalkanku.
"Terima kasih Grace."
"Ya." Grace menjawab dari kejauhan.
Aku masuk ke apartemen Jane dengan canggung, ah rasanya aku seperti maling, masuk tanpa sepengetahuan yang punya tempat. Aku berjalan pelan mencari dapur, aku memang pernah sekali kesini tapi hanya di ruang tamu saja sehingga tidak tahu seluk beluk apartemen ini. Tidak sulit mencarinya ternyata, karena apartemen ini tidak terlalu besar. Aku meletakkan bahan makanan di atas meja dan kembali keruang tengah mencari kamar Jane.
Ada dua kamar di apartemen ini, aku menebak nebak yang mana kamar Jane. Aku mengetuk salah satu pintu namun tak ada jawaban sama sekali. Akhirnya aku membuka pintu kamar namun tak ada siapapun disana, hanya terdapat beberapa lemari baju, sepertinya kamar itu dijadikan ruang ganti oleh Jane.
Aku mengetuk pintu kedua, juga sama tak ada jawaban. Aku membuka pintu dan mendapati kamar yang sangat gelap. Sepertinya pemilik kamar tidak membiarkan sedikitpun cahaya matahari masuk ke dalam. Aku berjalan pelan menuju jendela, membuka gorden-gorden tebal itu hingga cahaya matahari menyeruak masuk menyorot wajah gadis cantik yang tidur menyamping mengahadap jendela.
"Grace, kebiasaan sekali kau selalu mengganggu tidurku dihari libur." Jane bergumam tanpa membuka mata, dia menarik selimutnya menutupi kepala.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah Jane, sepertinya dia mengira bahwa aku adalah Grace. Aku berjalan pelan mendekatinya, duduk di tepi tempat tidur dan mengusap kepala Jane yang tertutup selimut.
"Jane, bangun."
Jane menyingkap selimut dan menyembulkan kepalanya. Mengerjapkan mata beberapa kali dan menatapku. Dia kembali mengusap-usap matanya dengan tangan, memastikan sekali lagi apa yang dilihatnya. Aku tersenyum menatap wajah polosnya saat bangun tidur, sangat menggemaskan.
__ADS_1
"Ken?" Jane langsung bangun dan duduk, sepertinya rasa kantuknya sudah hilang.
...****************...