Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Kencan Dengan Bian?


__ADS_3

Pintu diketuk. Nasti terkejut saat membuka pintu, ada Iwabe di sana. "Ada apa ya, Pak?"


Iwabe salah tingkah. "Eh, aku boleh pinjam Bian sebentar?"


Wanita itu mengerut kening. "Untuk apa?"


"Eh, aku ingin jalan-jalan sebentar ke depan."


"Terus?"


"Eh, aku ingin pergi dengan Bian."


Nasti masih mengerut kening. Apa maksudnya ini?


"Boleh 'kan?"


"Tidak, maaf." Wanita itu segera menutup pintu.


Iwabe kesal dan kembali ke kamarnya. Ia duduk di atas tempat tidur dan gemas sendiri. Heh, wanita ini! Dia pikir aku naksir dia apa, dengan pura-pura meminjam Bian? Pria itu mengepalkan kedua tangannya.


Ia pun terdiam sambil memeluk kedua kakinya. Tapi kalau dipikir-pikir benar juga sih. Aku terlihat seperti ingin lebih dekat dengannya dengan pura-pura meminjam Bian padahal aku cuma memenuhi janjiku saja pada anak itu.


Pria itu menghela napas. Apa aku bicara terus terang saja padanya?


Sejurus kemudian, Iwabe kembali berdiri di depan pintu Nasti dan wanita itu membuka pintu. "Eh, ada yang perlu kau tahu tentang Bian."


Wanita itu kembali mengerut dahi. "Apa?"


Akhirnya Iwabe bercerita tentang malam itu di mana gara-gara menemukan Bian, ia mengetahui siapa yang telah mencuri produk pabrik yang hilang setiap harinya dan wanita itu terkejut mendengar kenyataan ini. Bian yang menghampiri kemudian, disambut usapan lembut oleh Nasti di kepalanya.


"Anak Mama ternyata pintar ya?" ucap Nasti bangga pada putranya.


"Jadi, boleh?"


"Mmh?" Wanita itu menoleh pada Bian. "Kamu mau jalan-jalan sama Om ini?"


"Sama Mama!"

__ADS_1


Nasti tertawa kecil mendengar jawaban Bian, tapi memang bocah itu tidak pernah pergi ke mana-mana selain dengan ibunya. Bahkan dengan kakek-neneknya saja belum pernah!


Nasti bingung dan melirik Iwabe yang canggung.


Tak lama, mereka bertiga keluar. Nasti berusaha fokus pada anaknya, sementara pria itu masih canggung dan bingung. Kenapa ceritanya jadi begini?


Angin malam bertiup lembut, membuat saat itu menjadi waktu yang tepat untuk sekedar jalan kaki di luar mess.


"Kita mau ke mana?" tanya Nasti sambil melirik pria tampan berambut gondrong itu.


"Mama, itu!" teriak Bian menunjuk ke arah depan.


Di depan terlihat arena taman hiburan kampung yang bulan itu kebetulan mampir di tanah lapang di depan mereka. Ya, daerah mess yang berada di pinggir kota menyebabkan mereka jauh dari tempat hiburan dan hanya hiburan seperti taman hiburan kampung inilah penyemarak daerah tersebut.


Di depan mereka terlihat jelas sebuah bianglala besar yang dikelilingi oleh pasar malam dan arena permainan lainnya. Lampunya yang banyak menarik perhatian dari kejauhan.


Sudah lama arena taman bermain itu ada dan Nasti sempat berniat membawa Bian kecil ke sana tapi ia tak pernah berani kalau harus pergi sendiri.


"Oh, Bian mau ke sana? Ayo!" ajak Iwabe. Pria itu memang sejak awal ingin mengajak bocah kecil itu ke sana.


Mereka melewati pasar malam yang menjual berbagai macam barang seperti makanan, pakaian serta mainan. Mereka melihat-lihat barang yang disusun di lapak para pedagang.


"Mama, itu apa?" Bian kecil terheran-heran melihat bianglala yang sangat besar itu. Lampu-lampu yang menghiasi bianglala itu membuat benda itu terlihat sangat menarik di malam yang tanpa bintang itu.


"Itu namanya bianglala. Mau naik?" ajak pria itu.


"Ah, tidak usah." Wanita itu sedikit malu. Pasalnya, kalau anaknya naik itu, berarti ia dan pria itu juga ikut masuk dan ia tidak mau membebani pria itu dengan kehadirannya.


"Bian?" Pria itu bertanya pada bocah itu.


Bocah itu mengangguk.


"Ayo!"


"Tapi, Pak—" Nasti tak kuasa menolak karena Bian dengan gembira mengikuti pria itu dengan bergandengan tangan. Wanita itu terpaksa mengekor di belakang.


Iwabe membeli tiket dan mereka mengantri untuk mendapat giliran. Saat giliran mereka mendapat tempat duduk, Nasti duduk di samping anaknya dan pria itu di depannya sendirian. Suasana canggung kembali meliputi mereka berdua.

__ADS_1


Bianglala itu berputar pelan-pelan sambil mengisi penumpang. Ketika tempat mereka mulai naik, pemandangan terlihat indah di sekeliling. Nasti terlihat takjub dengan pemandangan dari atas di malam hari. Rumah-rumah terlihat kecil. Mess mereka juga, ia baru tahu bentuknya dari atas seperti apa.


Diam-diam Iwabe memperhatikan wanita yang duduk di depannya ini dengan teliti. Jilbabnya yang sedikit panjang berwarna putih, melambai pelan ditiup angin. Wajahnya yang tersenyum menatap Bian dan pemandangan di sekeliling menambah manis raut wajahnya. Raut wajah tegasnya hanya pada sosok keibuan yang menambah lembut wajah asianya. Pria itu baru mengetahui sekarang, wajah terbaik wanita itu.


Tak sengaja Nasti menatap pria itu dan menyadari pria itu tengah menatapnya juga.


Iwabe segera memalingkan wajahnya ke arah lain. "Eh, mmh, sepertinya kamu baru naik ini ya?" Ia mengusap belakang lehernya.


"Eh, iya. Sungguh memalukan." Nasti menunduk dengan pipi merona merah.


"Eh, tadi aku lihat, kamu pergi dengan Aldi ya? Bukannya kamu tugas dengan Lia?" Kalimat itu meluncur begitu saja, saat pria itu ingin memulai percakapan, padahal ... itu bukan urusannya dan ia tidak berniat juga untuk menanyakannya. Kenapa mulutku begitu bodoh! Ingin saat itu ia memukul mulutnya.


"Oh, tadi? Aku tadi menolong Aldi karena katanya kliennya sangat cerewet. Untung saja, saat diajak bicara, semuanya berjalan lancar."


"O-oh, begitu." Pria itu tersenyum senang. Ia sendiri bingung kenapa harus memikirkan itu seharian. Ia seperti seorang yang sedang ... ah, sudahlah itu tak mungkin. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kenapa?" Nasti melihat pria itu menggeleng-gelengkan kepala.


"Eh, apa? Oh, tidak." Sekilas pria itu melihat Bian mulai menaiki kursinya dan itu luput dari pengawasan Nasti. "Eh, Bian. Bahaya!" Ia segera berdiri dan meraih pinggang bocah itu tapi pada kesempatan yang sama, Nasti mendengar teriakan pria itu dan meraih tubuh anaknya sehingga pria itu tertarik ke arahnya. Demi menjaga keseimbangan agar tak jatuh, pria itu berpegang pada sandaran besi di belakang wanita itu.


Kejadiannya sangat cepat dan tahu-tahu pria itu sudah berada di atas Nasti dengan jarak wajah yang sangat dekat hingga keduanya terkejut. Iwade dengan susah payah menelan salivanya memandang wajah ayu di depan mata, sedang Nasti, pipinya semakin merona merah. Keduanya tiba-tiba terhanyut dalam debar irama jantung yang sama.


Kursi yang Nasti duduki bergoyang-goyang membuat pria itu seakan ingin mendekatkan wajah mereka, padahal Iwabe berusaha menjaga jarak.


"Eh ...." Nasti seperti sulit bernapas, karena wajah tampan pria Jepang itu tepat berada di atasnya.


Hanya tawa Bianlah yang berada di tengah-tengah mereka yang akhirnya bisa mengakhiri kecanggungan mereka. Iwabe segera menyingkir dan kembali ke tempat duduknya. Ia berdehem sebentar.


"Anak nakal!" Nasti mencubit lembut pipi anaknya yang masih saja tertawa. Pipinya masih memerah dengan debar di dada yang belum tahu kapan berakhirnya.


Mereka kembali terdiam beberapa saat. Nasti berusaha mengimbangi kecanggungan dengan menikmati sepoi angin dan pemandangan di sekelilingnya seraya menggendong Bian.


Iwabe masih bingung dengan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Eh, maaf tadi ya?"


"Eh, tidak apa-apa. Terima kasih."


____________________________________________

__ADS_1


Bagaimana dengan novel baru ini?



__ADS_2