
"I--i-ibu?" Iwabe kaget. Tentu saja ia mengenal suara ibunya.
Seketika ia menoleh pada Iwahara. Pria paruh baya itu kemudian mengerti, siapa yang ia panggil 'ibu' itu.
"Kenapa kamu tidak bilang ibu saat pergi, Nak? Kenapa tidak beri tahu ibu kau sudah menikah? Jadi ibumu ini apa bagimu?" tanya Maiko pada anaknya.
"Iwabe! Berikan HP itu padaku!" Iwahara berdiri dengan wajah garang seraya menyodorkan tangan.
Iwabe berdiri tapi menjauh seraya membalikkan tubuhnya. Ia berbicara dengan nada suara rendah agar tak terlalu terdengar percakapannya. "Ibu maaf, aku tidak bermaksud begitu pada ibu, tapi situasiku sulit, Bu. Ayah sudah banyak membantuku. Ia menikahkan aku pada Nasti, Bu."
Saat itu Iwahara sudah berada di belakang anaknya dan merebut handphone itu. Sebelum Iwabe sempat protes, ia telah membanting ponsel itu ke lantai.
"Otousan! Itu HP ...."
Nasti segera menyentuh tangan suaminya. Saat Iwabe menoleh, wanita itu memberi tahu dengan menggeleng.
"Kalau benar rusak, aku akan menggantinya," ucap pria paruh baya itu dengan wajah datar.
Tiba-tiba Bian datang menghampiri. Ia berjongkok di depan handphone yang tergeletak di lantai. "Punya Mama." Tunjuknya pada HP itu dan menoleh pada Iwahara.
Pria paruh baya itu segera memungut HP itu dan mengantonginya. Ia juga menggendong Bian dan melambungkannya di udara membuat bocah itu berteriak kegirangan. "Di kolam ikan di belakang, ada banyak ikan koi. Ayo, kita lihat ikannya sama kakek di sana," ucapnya senang. Hanya bocah itu yang mampu mengembalikan mood-nya saat sedang kesal. Ia menggendong bocah itu pergi.
"Nasti, maaf. HP-mu sepertinya bakal disita Otousan." Iwabe seketika murung karena keduanya kini tak punya handphone. "Harusnya tadi aku tidak menyuruhmu mengangkat telepon itu," keluhnya menghela napas pelan.
"Sudahlah. Segala sesuatu butuh pengorbanan. Yang pasti kita tidak kehilangan hal-hal yang penting sekarang ini, 'kan? Nanti kita akan cari cara bagaimana membujuk ayahmu, tapi sekarang kita tenangkan pikiran kita dahulu."
Iwabe melingkarkan lengannya pada pinggang sang istri membuat raut wajahnya sedikit membaik. "Sekarang kamu mau ke mana, Sayang? Jalan-jalan cari hiburan, atau mengelilingi rumah atau mungkin mengelilingi aku di kamar?" Ia tersenyum nakal.
Nasti menyentuh hidung pria itu dengan manja. "Kalau berduaan, nanti saja kalau Bian sudah tidur. Sekarang aku ingin melihat-lihat rumah ini saja sambil nanti bergabung dengan Otousan di taman belakang. Apa kau pernah ke sini, sebelumnya? 'Kan belum. Bagaimana kau bisa menunjukkan rumah ini padaku?"
Iwabe tertawa. "Oh, iya ya? Aku belum pernah ke sini sebelumnya. Minta tolong sama siapa ya, mengenal rumah ini?"
Keduanya saling berpandangan. "Arum!" seru keduanya.
Sementara itu di rumah Nasti, Maiko mengembalikan HP ibu Nasti pelan. "Maaf, tapi sepertinya, HP Nasti pun ikut disita mantan suami saya, tapi jangan khawatir. Nasti pasti akan menghubungi kalian, begitu ada kesempatan.
Ayah dan ibu Nasti terlihat bingung tapi akhirnya pasrah. Kedua orang tua Iwabe kemudian pamit pulang.
Di mobil, Maiko mulai bicara. " Mas, kita harus ke Jepang. Aku harus membawa Iwabe pulang."
__ADS_1
"Tapi bagaimana caranya? Banyak yang harus dipersiapkan, seperti bodyguard, misalnya." Pria itu menatap istrinya.
"Aku sangat mengenal Iwahara dengan baik. Kalau kita bawa bodyguard, itu berarti kita mengajaknya perang karena kita terlihat seperti ancaman baginya."
"Jadi, kita seperti ini saja saat datang padanya?" Sastra hampir tak percaya.
"Iya, sambil membujuknya."
"Menurutmu kau bisa?" Pria itu memiringkan kepalanya.
"Dengan pertolongan Abe," kata wanita itu, dengan menerawang memikirkan sesuatu.
"Mmh, bagaimana caranya?"
"Itu kita pikirkan nanti. Sekarang, karena kita akan meninggalkan Indonesia, kita harus menitipkan perusahaan pada Refan dan Faza.
Refan kurang cerdas walaupun sudah punya pengalaman sedang Faza kebalikannya. Ia cerdas tapi tak punya pengalaman. Aku harap mereka bisa saling membantu dalam menjalankan perusahaan selama kita pergi."
"Ok. Kita akan bicara ini pada mereka, besok di kantor."
----------+++----------
Nasti, bukanlah kriteria wanita yang diidam-idamkannya. Ia pemuja wanita cantik tapi selalu ditolak karena ia sendiri tengah menyamar jadi pria miskin.
Entah sejak kapan saat bersama Nasti, kriteria itu telah berubah. Dari hanya sekedar teman, terlibat kehidupan pribadi wanita itu yang memusingkan hingga menyadari ia telah jatuh cinta pada wanita ini. Ini benar-benar di luar dugaan. Cinta adalah misteri.
Nasti terbangun dan melihat pria itu belum juga tidur. "Kenapa Iwabe? Kamu belum juga mengantuk?" ucapnya dengan suara berat dan mata yang sudah menyipit.
"Tidak. Eh, mungkin iya."
"Maksudmu apa?" Wanita itu memperhatikan lagi wajah prianya.
Iwabe tertawa pelan. "Entahlah. Bersama kamu, semua terlihat baik-baik saja. Selalu. Makanya aku selalu bertanya padamu. Aku pikir, kata-katamulah yang menyebabkan aku baik-baik saja tapi ternyata tidak. Keberadaan kamulah yang membuat aku baik-baik saja.
Aku mencintaimu. Sekarang dan hingga nanti. Karena itu, apa pun yang terjadi, jangan pernah tinggalkan aku ya? Aku akan rapuh dan bahkan sangat-sangat rapuh kalau kau tak ada di sampingku."
Nasti mencubit dagu sang suami. "Iya, Sayang tapi sekarang tidur ya? Kalau kamu masih mengoceh, aku bisa pindah ke kamar sebelah."
"Oh, iya, Sayang." Pria itu buru-buru menarik selimutnya ke atas. "Aku akan tidur. Jangan pindah ya, Sayang nanti aku kesepian."
__ADS_1
Nasti tak bicara. Ia bergesek mendekat sambil meletakkan kepalanya pada dada bidang pria itu seraya kembali memeluknya. Kehangatan yang kemudian membawa pria itu ke dalam alam mimpi dengan cepat. Sebentar kemudian, terdengar suara dengkuran halus dari mulut Iwabe. Ia telah tertidur.
----------+++------------
Pagi yang cerah. Di awal musim semi ini pemandangan begitu indah saat Nasti membuka gorden jendela yang mengarah pada taman belakang. Ada beberapa pohon sakura yang berbunga lebih awal di halaman rumah itu. Wanita itu asyik memandanginya.
"Nasti."
Wanita itu menoleh. Suaminya telah menantinya di pintu.
"Ayo, kita cek Bian. Katanya tidur dengan Otousan."
"Oh, iya." Wanita itu berlari-lari kecil menghampiri pria berdarah Jepang itu. Pria itu menggandengnya turun.
Di meja makan hanya ada Iwahara sarapan sendirian.
"Otousan, Bian mana?" tanya Iwabe.
"Masih tidur di kamarku."
"Oh, aku lihat dulu." Iwabe kemudian melangkah ke kamar ayahnya.
Tinggal Nasti yang datang menghampiri meja makan. "Apa Bian tidak mengganggu Otousan, maaf."
"Mmh, tidak. Sudah lama aku tak punya teman tidur. Dia senang sekali berlari-lari di kamar."
"Oh, maaf." Nasti menundukkan kepala. Ia melihat teh Iwahara berkurang. "Oh, mau tehnya lagi?" Ia mengambil teko teh dan menuangkannya ke dalam cangkir milik pria itu.
"Terima kasih. Lain kali, kau yang ambil anakmu, jangan Iwabe." Pria itu mengingatkan.
"Eh, ma-maaf. Bukan begitu. Aku tak berani masuk kamarmu." Nasti kembali menundukkan kepala.
"Ya sudah." Pria itu mengangkat cangkir dan menyeruput sedikit tehnya. Ia melirik menantunya yang masih berdiri. "Kenapa kau tak makan?"
"Aku menunggu Iwabe, Otousan."
"Kalau begitu temani aku makan."
"Mmh? Oh iya, baiklah." Nasti menarik kursi di hadapannya.
__ADS_1