
"Aku 'kan tidak bisa pindah begitu saja karena aku bekerja di perusahaan besar dengan posisi yang tidak remeh. Untuk mendapatkan posisi ini pun melalui seleksi yang ketat dan sulit. Bisa dibayangkan kecewanya mereka ketika aku sudah terpilih dan bekerja lalu tiba-tiba mengundurkan diri. Pasti sulit, Yah," terang Iwabe pada ayah.
"Ya, sudah. Lakukan dengan caramu, yang penting kau harus keluar dari perusahaan itu."
"Mungkin tidak bisa secepat itu. Mungkin menunggu sampai ada penggantinya."
"Mmh. Kalau hari ini tidak ada lagi yang kamu kerjakan, sebaiknya kamu pindah dan pulang ke rumah."
"Aku ingin bertemu Nasti."
"Dia sedang bekerja. Jangan diganggu."
"Ck, Ayah ...." Iwabe mengerucutkan mulutnya.
"Apa kau bawa mobil? Coba tolong antar ibu pulang."
"Iya."
Iwabe sempat bertemu Nasti di lantai bawah. "Nas, aku akan pulang ke rumah."
Nasti menganggukkan kepala pada ibu Iwabe dengan sopan dan dibalas ibu dengan sopan pula. "Baguslah."
"Aku harus melakukannya hari ini," ucap pria itu pelan. "Mmh, nanti aku bicara lagi." Ada banyak hal yang ia ingin ceritakan pada Nasti tapi tidak di hadapan ibunya. Ia kemudian turun membawa ibu sampai ke mobil.
"Mobil siapa ini, Be?" Ibu tak mengenali mobil yang dipakai Iwabe.
"Mobil sewaan. Perusahaan itu sudah banyak berinvestasi padaku, Bu. Rasanya tak enak secepat itu keluar dari perusahaan."
"Kalau bisa secepatnya keluar, kenapa tidak?"
"Aku tidak bisa membayangkan, bos besar itu pasti akan marah padaku, Bu."
"Ceritakan padanya bahwa sebenarnya kau sudah punya perusahaan yang sebenarnya menunggu untuk dipimpin," terang ibu seraya masuk ke dalam mobil. "Aku rasa ia akan mengerti kenapa kamu mengundurkan diri."
"Tapi sebenarnya aku masih ingin kerja di sana, Bu. Lagipula, masih 2 tahun lagi aku mendapatkan perusahaan kita, jadi kenapa tidak saat itu saja aku memimpin. Selagi bekerja di tempat lain aku bisa mengembangkan diriku, dan belajar lagi cara mengelola perusahaan dari sudut pandang berbeda. Apalagi perusahaan ini perusahaan besar. Aku bisa belajar banyak dari perusahaan ini."
"Memangnya itu perusahaan apa?"
"Traks."
"Traks?"
__ADS_1
"Perusahaan itu ber—"
"Aku pernah bekerja di perusahaan yang lebih besar dari itu. Kalau kamu mau akan ibu ajari. Ibu yang mengajari ayahmu dulu hingga perusahaan itu bangkit kembali, tapi karena ibu lebih memikirkan membesarkanmu, makanya ibu tinggal di rumah. Ibu bisa kerja di kantor dan mengajarkanmu membesarkan perusahaan yang sekarang. Bahkan bisa lebih besar dari perusahaan Traks yang kamu banggakan itu."
Iwabe melongo. "I-ibu pernah bekerja?" Ia hampir tak percaya mendengarnya, ibu yang selalu lembut padanya di rumah, pernah bekerja di perusahaan besar, bahkan mengajari ayah cara mengurus perusahaan. Apa benar ibunya sehebat itu? "Pe-perusahaan besar?" Ia sampai tergagap.
"Iya, di Jepang."
"Berarti ibu kenal ...."
Ibu menepuk bahu pria itu. "Kau mungkin tak percaya tapi kalau kau butuh, ibu akan ajarkan. Rencananya sih ibu memang ingin bekerja lagi di perusahaan kita, karena itu ibu ingin kau juga ada di sana dan kita akan membesarkan perusahaan itu bersama-sama."
Tak sepatah kata pun keluar dari mulut pria itu. Ia kemudian memakai seatbelt dan menjalankan mobilnya.
--------+++---------
Bian menangis. Iwabe pusing mendiamkannya. Bocah itu melihat pria itu mengosongkan lemari pakaian dan meletakkan ke dalam koper hingga saat itu juga bocah itu menangis tanpa bicara apa-apa.
"Bian ...." Iwabe menghela napas pelan. Ia mendekati bocah itu dan berjongkok di depannya.
Bian menarik baju pria itu sambil menangis. "Om, ke mana, huahh ... Om ke mana, huuu."
"Om gak ke mana-mana. Om cuma pulang ke rumah Om, tapi nanti Om main ke sini lagi kok."
Tak tega, Iwabe menggendong bocah itu dan memeluknya.
Segera tangis bocah itu terhenti, tapi Bian masih mencengkram baju Iwabe dengan kuat. Ia menyelesaikan isak dengan bersandar pada dada bidang pria itu.
"Bian," ucap Iwabe pelan. Ia mengusap punggung bocah itu menenangkannya.
"Om jangan ... pergi," ujar bocah itu disela isak.
Iwabe kembali menghela napas. Ia membawa bocah bule itu ke beranda. Di sana ia duduk sambil memangku bocah itu dengan bersandar. Ia mengusap-usap punggung bocah itu yang bersandar di dadanya. Dengan bantuan angin yang bertiup lembut, Bian tertidur.
Kadang ada hal yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata, seperti ... berpisah.
Setelah bocah itu tertidur, ia meletakkan Bian di atas tempat tidur di kamar Nasti.
"Mmh, mulai rewel kalau ditinggal." Ibu Nasti tersenyum simpul di depan pintu.
"Maaf, Bu, merepotkan. Aku mau pulang ke rumah, Bu. Ibu saya ingin saya segera pulang."
__ADS_1
Ibu mengangguk. Setelah membereskan pakaian dalam koper dan memasukkan barang-barang ke dalam mobil, Iwabe pamit pada ibu.
Sejam kemudian, Bian terbangun. Ia mencari pria itu tapi tak menemukannya. Bocah itu kembali menangis membuat ibu harus bekerja keras mendiamkannya. Butuh setengah jam untuk ibu mendiamkan bocah itu, setelah itu bersiap untuk pulang bersama Nasti.
-----------+++---------
Pagi itu Iwabe yang telah rapi dengan pakaian kantor, turun ke lantai bawah dengan membawa tas ransel. Ayah dan Ibu terkejut melihat pakaian kantor Iwabe yang sangat berkelas dan terlihat profesional.
"Kau bekerja seperti ini?" tanya ayah menunjuk putra angkatnya.
"Iya."
"Kau beli pakaian ini ...."
"Oh, dia yang meminta aku berpakaian seperti ini saat kerja dan itu dia yang modali dan pilihkan, jadi aku tinggal pakaian saja. Kenapa? Berlebihan ya? Iya aku sudah bilang padanya tapi ia tetap memaksa, jadi ... ya sudah. Pakai saja."
"Ini ...."
"Bagus," sahut ibu. "Kalau dalam bekerja, kalau ingin dihargai, pakai pakaian sesuai kebutuhan. Ini Ibu rasa bagus. Pakaian kerjamu yang paling bagus yang pernah ibu lihat."
"Begitu?" Iwabe terkejut dengan reaksi ibu.
"Memangnya pekerjaanmu apa?" tanya ayah lagi.
"Tadinya perantara untuk dua perusahaan tapi kemudian aku ditarik salah satu perusahaan dan bekerja jadi asisten direkturnya."
"Mmh, kau beruntung. Melihat pengalaman kerjamu yang sebelumnya, kamu beruntung bisa diposisi ini karena hampir mustahil dengan pengalaman kerjamu itu, kamu bisa mendapatkan posisi seperti itu."
"Makanya Yah, aku ingin belajar banyak di perusahaan itu, mumpung direkturnya khilaf."
"Tidak. Ibu tetap ingin kau bekerja di perusahaan kita karena aku sanggup membuatmu jadi yang terbaik di perusahaan. Jadi coba bicarakan itu pada bosmu," sela ibu.
"Mmh ...." Iwabe mengerucutkan mulutnya. Ia meletakkan tas ranselnya di kursi sebelah dan menarik kursi di depannya untuk sarapan bersama. Kembali tas ransel itu kini menjadi perhatian kedua orang tuanya.
"Bawa tas ransel?" Kini ibu yang bertanya.
"Oh iya, Bu, aku lupa bilang. Hari ini aku menginap di rumah bosku karena lembur," kata Iwabe berbohong. Ia malas menerangkan bilang berkata jujur.
"Hari Sabtu?" Ibu menautkan alisnya.
"Eh, kalau cepat selesai, aku pulang kok, Bu."
__ADS_1
"Memangnya kamu sering begitu dengan bosmu?"
"Baru kali ini sih." Iwabe mengambil roti dan mengolesnya dengan selai coklat.