
Iwabe datang ke kantor dengan wajah merengut.
Kobayashi melihatnya hingga ia menghela napas pelan. "Apalagi? Kau bertengkar dengan Ibumu lagi?" Ia melipat tangan di depan dada.
Iwabe tak sanggup bicara dan hanya menunduk.
"Bukankah tadi kamu keluar izin makan siang dengan Nasti? Kenapa sekarang malah pulang-pulang habis bertengkar dengan ibumu? Hindari saja ibumu, apa kamu tidak bisa?"
"Tidak bisa." Iwabe merengut. "Seakan saat ia tidak suka dengan apa yang kukerjakan, ia akan menghantuiku terus."
Kobayashi tergelak walaupun Iwabe tambah mengerucutkan mulutnya. "Ya sudah, sekarang stop dulu saja kerjanya dan kita main-main keluar."
Iwabe melongo. "Main-main? Tapi 'kan katanya mau periksa kantor-kantor yang di Eropa?"
Kobayashi berdiri dan menarik Iwabe keluar. "Kerja itu harus fokus. Kalau tidak, percuma. Kau bekerja tapi hatimu tidak di sana, itu sama saja dengan menguras otak 2 kali lipat tapi hasilnya tidak memuaskan."
"Lalu kita ke mana, Pak?"
"Ke Mall. Temani aku nonton."
Diluar dugaan, mood (suasana hati) Iwabe membaik. Bahkan ia bisa, ternyata menikmatinya. Bisa banyak tertawa bersama pria paruh baya itu yang tidak pernah diduga Kobayashi sebelumnya. Iwabe semakin akrab dengannya.
"Pak, Bapak mau tambah minumnya?"
"Tidak usah."
"Popcorn-nya sudah mau habis, Pak. Bapak mau lagi?"
"Tidak. Kau beli saja untuk dirimu."
"Ya sudah." Iwabe meneguk kolanya.
Setelah nonton film mereka melanjutkan makan di restoran yang berada di dalam bioskop.
"Kau hanya pesan roti bakar?" tanya Kobayashi heran.
"Tadi sudah banyak makan popcorn jadi tak begitu lapar. Aku makan itu saja."
"Tapi sebentar lagi jam makan malam, Iwabe."
"Iya, tapi masih kenyang."
Akhirnya mereka memesan makanan.
"Maaf, Pak. Saya sholat dulu."
__ADS_1
"Mmh." Kobayashi melirik salah satu bodyguard-nya untuk menjaga Iwabe. Sampai Iwabe kembali, ia tengah makan.
"Oh, maaf lama." Iwabe merapatkan kursinya.
"Mmh." Pria paruh baya itu menggulung spageti dengan garpunya. "Aku memikirkan hubunganmu dengan Ibumu dan aku pikir, sudah saatnya kamu mandiri. Bagaimana kalau kau tinggal di apartemen saja? Aku bisa membantumu."
"Mmh, tidak bisa, Pak." Iwabe menggeleng dengan mimik serius. "Aku sudah janji kembali ke rumah, masa aku menjilat ludah sendiri?"
"Tapi kau tidak nyaman dengan itu 'kan? Kenapa dipertahankan? Itu hanya bisa menyiksa dirimu sendiri."
"Ada orang-orang yang butuh aku bertahan seperti itu."
"Saudara tirimu itu? Kenapa kamu harus menderita sementara dia bahagia?"
"Dia tidak bahagia, Pak. Perusahaan ayah angkatnya bangkrut. Karena itu ia mencari ayah kandungnya minta bantuan, tapi ternyata yang memiliki perusahaan adalah ibu sekarang dan aku menawarkan solusi untuk bekerja saja pada ibu daripada mendanai perusahaannya yang bangkrut itu.
Lagipula tidak ada jaminan perusahaan bangkit lagi kalau dibantu dan itu dananya tidak sedikit. Aku rasa ibu takkan mau membantunya. Jadi aku menyuruhnya menjual saja perusahaan yang sudah bangkrut itu."
Kobayashi menyatukan tangannya di depan wajah. "Kalau aku bantu saudara tirimu itu, apa kau mau ke Jepang?"
"Apa?" Iwabe yang baru saja mengambil roti bakarnya, terkejut.
"Aku bisa membeli perusahaannya agar ia bisa bangkit lagi."
"Aku bisa membantunya sampai bisa ber-di-ri sen-di-ri." Kobayashi mengejanya dengan setengah berbisik. "Jadi kau tidak punya beban untuk pergi dari Ibumu. Atau ... kalian berdua bisa ikut aku kerja di Jepang. Bagaimana?"
"Eh, bukan itu masalahnya. Aku harus menyelesaikan masalahku dengan ibu, bukan lari darinya."
Kobayashi bersandar ke belakang dengan menghela napas. Susah sekali membujuknya. Kobayashi sampai kehabisan akal. "Padahal kau tahu Ibumu sumber masalahmu, tapi kenapa kau terus berada disisinya?"
"Karena dia ibuku. Aku lahir darinya. Itu tak terbantahkan."
Kobayashi mengeratkan geraham. Sedikit menyesal kenapa ia dulu membiarkan Iwabe pergi bersama Maiko karena kini sulit membawanya kembali. Sulit saat ia ingin waktu kembali dan mengubah keputusannya dulu. Sekarang, apa yang harus kulakukan? Kembali ke Jepang sendirian?
---------+++----------
Iwabe baru saja pulang dan melihat ibu di ruang tengah. Ia bergegas ke arah tangga, menghindar.
"Abe!"
"Iya, Bu." Iwabe terpaksa mendatangi ibunya di meja makan.
"Bagaimana kabar tentang penggantimu itu?"
"Oh, belum ada, Bu. Yang tadi aku serahkan ditolak semua jadi aku harus cari lagi."
__ADS_1
"Mmh, bosmu orang seperti apa?" Ibu yang sedang mengupas mangga mendengarkan.
"Baik. Orangnya baik walau sedikit galak. Oh iya pria Jepang ...."
"Ibu hanya memberimu waktu satu minggu. Iya, satu minggu untuk kerja dengan pria itu. Selebihnya, ia cari sendiri penggantinya."
"Ibu tidak bisa begitu, Bu," protes Iwabe seketika.
Ibu menghentikan kegiatan mengupasnya dan menatap anaknya. "Kau sudah menandatangani kontrak dengannya?"
"Eh, belum, Bu." Iwabe menyadarinya.
"Kalau begitu, kalau kamu berhenti tanpa memberitahunya juga tidak apa-apa. Kamu 'kan belum resmi jadi pegawainya? Dia tidak bisa menuntutmu jika tiba-tiba meninggalkan perusahaan karena kamu bukan karyawannya." Ibu kembali mengupas mangga.
"Tapi rasanya tidak sopan," ucap Iwabe dengan suara rendah.
"Kalau begitu beri tahu saja karena dia tidak punya hak menahanmu." Maiko melirik anaknya. "Menurut ibu, sepertinya ia mencari-cari alasan untuk menahanmu." Wanita paruh baya itu menatap tajam pada Iwabe. "Jadi jangan bodoh!"
"Ibu ...."
"Jangan banyak alasan, Abe. Namamu sudah ibu masukkan dalam daftar tugas minggu depan jadi jangan bertele-tele dengannya. Ibu tidak peduli bosmu itu orang baik atau tidak, yang penting ia tahu, jangan pernah menahan-nahanmu karena ia tidak punya wewenang untuk itu. Mengerti?" Wanita itu kembali menyorot wajah Iwabe.
"Eh, mengerti, Bu." Iwabe benar-benar tak berkutik. Semua yang dikatakan ibunya benar jadi bagaimana cara membujuk ibu kalau sudah begini? Dengan pelan ia menuju ke arah tangga.
Dipikir-pikir, ia memang sebaiknya memilih tinggal dengan ibunya dan meninggalkan Kobayashi. Bekerja dengan Kobayashi menimbulkan banyak konflik sedang ia sekarang sedang ingin berdamai dengan sang ibu agar bisa membujuknya memberi izin menikahi Nasti. Ia yakin, bila ia tak terlalu banyak menentang sang ibu, wanita itu akan luluh dan mengizinkannya menikah dengan kekasihnya itu.
Memang bekerja dengan orang seperti Kobayashi adalah impiannya tapi ia harus mengorbankan impian ini demi bersama Nasti. Lagipula, Nasti pernah bilang bahwa kalau ia benar berjodoh dengan Kobayashi, pasti mereka akan bertemu lagi. Iwabe akhirnya menetapkan hatinya untuk mundur.
"Halo, Sayang. Kamu sedang apa?" tanya Iwabe. Ia tersenyum mendengar cerita Nasti tentang harinya hari itu.
------------+++--------
"Apa?" Kobayashi tercengang dengan keputusan Iwabe pagi itu. "Seminggu?"
"Mmh, karena itu aku buru-buru menelepon temanku yang berada di luar negri untuk mencarikan kandidat yang sesuai. Pastinya dari teman-teman orang Indonesia dan sekarang saja aku sudah mendapat 3 kandidat. Bapak bisa melihatnya kalau butuh meng-interview mereka segera. Mereka semua ada di Indonesia," ucap pria muda itu sambil menatap laptopnya. Ia melirik Kobayashi.
"Eh, kumpulkan saja dulu, nanti akan aku periksa sore."
"Ok." Iwabe kembali fokus pada layar laptopnya.
Kobayashi ke dapur. Ia mengambil bir kaleng dingin dari lemari es yang sudah lama tak disentuhnya. Ia membuka tutup dengan menarik besi pengait dan meminumnya.
Hah! Kenapa wanita ini masih saja mau merebut kebahagiaan kecilnya, ia tidak mengerti. Padahal ia baru saja menemukan kebahagiaan dengan berada dekat dengan anaknya. Ia bahkan masih tetap memegang janjinya karena Iwabe tidak tahu siapa dirinya tapi wanita itu serakah! Bahkan untuk bersama Iwabe saja, ia tidak biarkan.
Kobayashi meremukkan minuman kaleng dalam genggaman hingga bir itu tumpah keluar dari kaleng itu. Ia sampai merapatkan geraham karena geram. Hanya dengan begitu ia bisa melampiaskan kemarahan pada Maiko.
__ADS_1