
"Aduh, kenapa Bian kasih tau tempat persembunyianku sih? Aduh, Bian ...." keluh Nasti yang segera bergerak mencari tempat persembunyian lain.
Karena pria itu tak bisa melihat dengan jelas tempat yang ditunjuk Bian karena keramaian, ia menggendong Bian dan melangkah ke arah tempat itu.
Bertepatan dengan itu, HP Nasti berbunyi. "Halo?" bisik wanita itu yang masih bergerak mencari tempat teraman untuk menghindar.
Iwabe berbicara di ujung sana. "Nasti, aku sebentar lagi sampai. Aku ...."
"Pak, jangan masuk."
"Apa?"
"Jangan masuk!" ucap wanita itu setengah berbisik.
Ada apa ini?
"Tolong bawa mobil ke depan pintu masuk."
"Kenapa?"
"Tolong, Pak. Aku mohon."
"I-iya, iya." Walaupun bingung pria Jepang itu mengiyakan.
Sementara itu, pria bule yang menggendong Bian sudah sampai di tempat yang ditunjuk bocah itu tapi ia tidak menemukan siapapun. Sedang Nasti sudah berputar mengelilingi toko itu dan tepat berada di belakang pria itu. Ia memberi kode anaknya untuk segera turun dari gendongan pria itu.
Bian berusaha menggerak-gerakkan tubuhnya sementara pria itu masih mencari hingga pria itu menurunkan Bian yang gelisah. "Di mana orang tuamu?"
Baru saja, bocah itu diturunkan, Nasti menyambar bocah itu dan berlari menuju pintu masuk Mal.
Pria itu sampai melongo melihat wanita itu yang sedang berlari membawa bocah kecil yang ditemukannya. Itu pasti Nasti 'kan? Itu pasti Nasti. Pria bule itu mengejar wanita berjilbab itu.
Nasti yang sudah berada di luar Mal, menemukan mobil Iwabe dan segera masuk. "Ayo, segera berangkat."
"Eh?"
"Ayo, Pak. Aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya!" ucap wanita itu setengah berteriak.
"Oh, iya iya." Walau pikiran masih bertanya-tanya, pria itu menjalankan mobilnya keluar dari sana.
Iwabe melihat dari cermin di atasnya ada pria bule yang berlari keluar gedung dan melihat ke arah mobilnya. Apa pria itu yang dihindari Nasti? Siapa dia? Apa itu ... mantan suaminya?
Pria itu melirik wanita di sampingnya. Wajah wanita itu terlihat pucat pasi. Ia juga tak membawa belanjaan apapun. "Kau tak jadi belanja?"
Wanita itu hanya menggeleng. Suara napasnya terdengar tak beraturan.
Iwabe kemudian melajukan kendaraannya lebih kencang.
-------------+++--------------
Sesampainya di mess, Nasti langsung turun membawa Bian.
"Eh ...."
__ADS_1
"Maaf, Pak tapi aku sedang tak mood bicara." Wanita itu melangkah ke arah kamarnya.
Iwabe jelas kesal. Sepanjang perjalanan wanita itu tak bicara dan kini wanita itu juga tak mau memberikan penjelasan apa-apa padahal tadi ia sudah berjanji akan menjelaskannya membuat pria itu makin penasaran. Kalau itu benar mantan suaminya 'kan, kenapa harus lari? Mereka bisa saling sapa atau pergi saja tanpa harus lari. Mantan suaminya juga aneh, kenapa mengejarnya? "huhh!" Pria itu bersandar pada mobilnya.
-----------+++------------
Pintu dibuka. Wanita paruh baya itu terkejut melihat siapa yang datang, tapi ia tahu, suatu saat pasti pria itu akan datang menanyakan sebuah kejelasan.
"Boleh aku masuk?" tanya pria bule itu ramah.
"Eh, silahkan."
-------------+++-------------
Pagi itu seperti biasa, seluruh penumpang telah penuh di dalam bus dan Iwabe membawa bus itu melalui jalur yang biasa. Tiba di depan rumah Nasti, bus berhenti dan wanita itu turun bersama anaknya, tapi saat wanita itu mencapai pagar, ibu wanita itu berjalan dengan sedikit malas.
"Ibu tidak apa-apa. Ibu sakit?" tanya Nasti khawatir.
"Eh ...."
"Nasti!"
Suara bariton itu mengejutkan Nasti. Ia menoleh. Seorang pria dengan jas lengkap berwarna hijau tua mendatanginya dari arah samping rumah. Ia tengah mengancingi kancing teratas jasnya dengan wajah samar karena terkena silaunya sinar mentari, tapi Nasti tahu siapa pria itu, bahkan sangat tahu. Ia segera menggendong Bian dan mendekapnya erat.
Orang-orang di dalam bus bergerak ke jendela di samping Nasti. Berbeda dengan wanita itu, mereka bisa melihat wajah pria itu dengan jelas dan itulah yang membuat seluruh penghuni bus riuh dan berbisik.
"Itu pasti mantan suaminya 'kan? Wajahnya mirip sekali dengan Bian," celetuk salah seorang penumpang bus.
Iwabe berusaha untuk duduk di kursinya dan melihat lewat cermin di atas bahwa seluruh penumpang begitu ingin tahu drama apa yang akan terjadi selanjutnya.
Nasti terlihat pasrah. Ia memang sudah memikirkan ini sejak semalam dan ia bertekad untuk menghadapinya.
Iwabe membuka pintu bus dan keluar. "Nasti, kamu mau naik atau tidak?"
"Tinggalkan kami," putus wanita itu.
Saat itulah Iwabe bisa melihat pria bule itu dengan jelas. Iya, benar. Pria itu sangat mirip dengan Bian dan sekali melirik pun orang tahu bahwa itu pasti ayah Bian, tapi entah kisah apa yang terjadi hingga keduanya berpisah dan itu bukan urusannya, karena Iwabe bisa melihat cara memandang keduanya berbeda. Walaupun saling pandang tapi keduanya menunjukkan emosi yang berbeda yang entah ada apa. "Eh, ok."
Pria itu segera menaiki bus dan menjalankannya.
"Eh, Pak. Jangan buru-buru. Lagi seru ini," protes salah satu penumpang.
"Eh, gak boleh. Itu urusan pribadi."
"Yaaa." Banyak yang kompak menyayangkan. Bahkan Pria itu juga sebenarnya dalam hati ingin menyetujuinya, tapi apa daya. Itu bukan urusannya. Diam-diam ia masih mengintip lewat cermin di atasnya dan melihat kedua orang dewasa itu masuk ke dalam rumah Nasti.
-------------+++------------
Keduanya kini duduk berhadapan di kursi sofa ruang tamu. Nasti memangku Bian.
Kedua orang tua Nasti ada menunggu di ruang tengah Ayah sengaja tidak bekerja hari itu agar bisa menengahi mereka bila terjadi pertengkaran.
Pria itu mulai melihat wanita itu dengan lembut dan mencoba memulai percakapan. "Apa kabarmu?"
__ADS_1
"Baik," ucap wanita itu tanpa senyum dan menunduk.
"Kamu tahu 'kan kedatanganku untuk apa?"
Kini, wanita itu memandang pria itu dengan berani. "Untuk apa?"
"Nasti ...." Pria itu mengembangkan kedua tangannya. "Kenapa kemarin kau lari?" Ia bicara langsung ke intinya.
Wanita itu mengangkat bahunya dan kembali menunduk. "Aku mungkin belum siap bertemu denganmu."
"Atau kau ingin menyembunyikan ini?" Pria itu menunjuk Bian dengan dagunya.
Bian masih duduk tenang dengan memeluk tangan ibunya dan bersandar di tubuhnya.
"Dia darah dagingku, 'kan?"
Nasti mengusap pucuk kepala bocah itu. "Untuk apa kamu bertanya? Bukankah kamu telah memilihnya?" Ia merujuk pada wanita yang bersama mantan suaminya itu.
"Tapi aku berhak tahu, karena dia darah dagingku."
"Lalu apa? Kau ingin kembali padaku?"
"Iya."
Nasti terkejut mendengar penjelasan pria di depannya.
"Look(dengar), a-aku pernah salah di masa lalu. Itu benar, tapi aku kini benar-benar menyesalinya. Sudah lama aku memikirkan ini, dan ingin datang padamu tapi aku ragu-ragu. Aku benar-benar ingin kembali padamu, Nasti. Sungguh."
Nasti tidak menyangka kalau Gerald datang untuk meminta maaf padanya dan ingin kembali. Ini di luar perkiraan sebab ia menyangka pria itu datang hanya ingin tahu kebenaran soal Bian dan ingin mengambil bocah ini dari tangannya, dan ucapan pria itu barusan sungguh membuatnya bingung harus berbuat apa. "Gerald, bukankah kau sudah punya istri?" tanya wanita itu heran.
"Oh, dia. Aku hanya menikah siri dengannya. Lagipula, aku akan menceraikannya bila kau merasa terganggu dengan kehadirannya," ujar pria itu dengan santai.
Apa? Dengan mudahnya dia mengucapkan kata cerai pada wanita itu semudah ia dulu melakukannya pada dirinya? Apa dia pikir wanita itu hanya boneka yang hanya dipilih dan tak boleh memilih? Picik sekali pemikirannya.
"Bagaimana? Dia anakku 'kan?" tanya pria bule itu.
"Bagaimana kalau tidak?"
"Apa?"
__________________________________________
Halo reader. Masih semangat baca 'kan? Jangan lupa kasih semangat authornya juga dong! Beri like, vote, komen atau hadiah pada novel ini agar author lebih semangat menulisnya. Ini visual Gerald Liman, ayah Bian. Salam, ingflora. 💋
Yuk kepoin novel bagus ini.
Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
Author: Alinatasya21
Tsamirah Zahrana Az Zahra adalah seorang gadis Desa berparas Ayu penuh dengan pesona yang mampu membius kaum Adam bertekuk lutut di hadapannya dan berlomba-lomba untuk memantaskan diri mendapatkan Cinta dari Seorang Zahrana. Satu persatu kaum Adam datang silih berganti dalam kehidupan Zahrana, berawal dari ia duduk dibangku SMP. Sampai akhirnya ia lulus pendidikan SMK akhir dan memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahnya, ia memilih bekerja dan mencari Jati dirinya.Ia berjuang untuk bisa menjadi seorang Muslimah yang di Ridhoi Allah, namun siapa sangka di tengah proses Hijrahnya dia jatuh hati dengan seorang laki-laki bernama Muhammad Zaid Arkana, hingga ia terjerat dalam lumpur dosa yg tak berkesudahan dan melemahkan biduk iman dan kesucian hati Zahrana. Akankah Zahrana berjodoh dengan Muhammad Zaid Arkana atau akan hadir sosok Pria lain yang akan menjadi sosok Cinta Sejati Zahrana? mari simak kisahnya dalam novel Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas!
__ADS_1