Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Datang


__ADS_3

"'Kan kamu yang mulai? Saat aku terbawa, kamunya malah bingung." Wanita itu merengut dengan manja.


Pria itu menggaruk-garuk kepalanya. "Eh, iya, maaf. Aku sekarang kadang tidak bisa mengontrol diri sendiri bila ada di dekatmu, sejak malam panas kita semalam. Aku ingin mengulanginya lagi dan lagi dan lagi. Huh!" Iwabe menggeleng-gelengkan kepala seakan ingin membuyarkan angan yang kadang timbul seketika. "Ternyata tidur denganmu membuatku candu."


Wanita itu mendekat dan mengalungkan tangannya ke leher sang suami. "Aku 'kan gak ke mana-mana. Jadi tetapkan saja waktu yang tepat dan bersabar. Dengan bersabar, hasilnya pasti akan bagus."


Iwabe memeluk istrinya dan kembali mengecup keningnya. "Mmh, ya. Kau benar. Ok, sekarang aku coba bajunya dulu." Pria itu melepas pelukan dan mulai melihat baju pilihan sang istri.


Hari itu mereka sibuk berbelanja. Karena sudah mencoba beberapa potong pakaian, selanjutnya mereka tinggal menunjuk saja pakaian yang ingin dibeli.


Bian juga tak luput dengan belanjaannya yang banyak sebab bocah itu juga dibelikan mainan oleh Iwahara. Tak tanggung-tanggung, pria itu membelikan mainan kereta api dan jalur rel serta lintasannya. Juga lembah dan gunung seperti jalur kereta sungguhan.


"Ah, ini 'kan miniatur," ujar Nasti takjub.


"Tidak apa-apa," sahut pria paruh baya itu. "Aku sudah menyediakan satu kamar khusus untuk tempat meletakkan mainan Bian agar nanti koleksi mainannya bertambah dan ia bisa main di sana."


"Terima kasih, Otousan." Nasti terharu. Mertuanya sangat baik sekali, dan memanjakan Bian.


Iwahara menoleh pada wanita itu. "Kau tak usah berterima kasih padaku. Asal Iwabe bahagia, itu sudah cukup bagiku."


Nasti menitikkan air mata. Ia memeluk leher Iwahara saking bahagianya.


"Owh!" Pria terkejut dengan pelukan menantunya yang tiba-tiba tapi kemudian ia merasa sejuk. Ia menepuk-nepuk punggung wanita itu.


Nasti kemudian sadar dan malu telah memeluk mertuanya. Ia segera melepas pelukan dan menundukkan kepala. "Tapi tetap saja, terima kasih kau mau menerimaku sebagai menantumu," ujar Nasti dengan suara serak. Ia menghapus air matanya.


Iwahara hanya menarik kedua sudut bibirnya datar. Sebenarnya ialah yang ingin berterima kasih pada Nasti karena keberadaan wanita itu, Iwabe mau tinggal bersama dan hidupnya kini tak lagi sepi. Ada anak dan menantu yang kini menemani.

__ADS_1


Iwabe tersenyum melihat keduanya sambil menoleh ke arah Bian di sampingnya. Ternyata ayahnya tidak hanya pura-pura menerima Nasti tapi memang benar-benar menerimanya sebagai menantu, sepenuh hati.


Ia bangga pada ayahnya yang biar pun berwajah galak tapi baik hati. Iwabe sudah membuktikan berkali-kali bahwa lelaki itu memang tak segalak wajahnya, hingga ia bertanya-tanya dalam hati kenapa Iwahara dulu bisa berpisah dengan Ibu padahal ayah angkatnya juga sama baiknya.


Para bodyguard Iwahara harus bolak balik mengambil belanjaan dan memasukkan ke dalam mobil karena banyaknya belanjaan mereka hari itu. Bahkan membuatnya menjadi tontonan keramaian, karena tangan beberapa bodyguard selalu penuh dengan turun naik eskalator, tapi pria paruh baya itu tak peduli. Ia sudah sering menjadi tontonan publik sehingga ia menganggapnya hal biasa.


Berbeda dengan Nasti dan Iwabe yang belum pernah diekspos, mereka merasa aneh saat diperhatikan orang banyak.


"Kenapa? Mereka hanya melihat karena punya mata, selebihnya tidak ada yang menarik. Mereka hanya penasaran melihat pemandangan yang tak biasa," ujar Iwahara mengajarkan keduanya agar tak peduli.


"Tetapi tetap saja, diperhatikan seperti itu serasa ada yang salah, apalagi kalau benar-benar ada yang salah," terang Iwabe


"Terus, kenapa kalau ada yang salah?"


"Memalukan atau serasa bagai seorang kriminal, Otousan."


Iwahara tertawa. "Bagaimana kau akan jadi pemimpin di perusahaanku Iwabe? Dunia melihatmu dan melihat semua tingkah lakumu. Kau buang sampah, mereka perhatikan, bahkan kau bicara dalam mabuk pun mereka maklumi. Mereka merasa apapun yang kau lakukan dalam hidupmu itulah yang membuat kamu sukses. Padahal bisa saja 'kan sebuah keberuntungan?"


Iwahara tertawa. "Apa kau tak lihat bagaimana banyaknya orang bekerja keras di seluruh dunia, tapi kenapa hanya segelintir kecil saja yang bisa kaya? Itu karena faktor keberuntungan, Iwabe. Sekeras apa pun kau bekerja, kau tetap membutuhkan itu. Faktor keberuntungan."


"Masa iya?"


"Betul. Seperti bertemu dengan pasangan yang tepat, perusahaan juga butuh pasar yang tepat, momen yang tepat dan berinvestasi di tempat yang tepat juga, hingga ia mendapatkan keberuntungan ini."


Iwabe menoleh pada Nasti yang tengah menggendong Bian. "Iya, benar. Pasangan yang tepat hingga membawa keberuntungan."


Setelah usai berbelanja, mereka makan malam di sebuah restoran yang terlihat sangat elegan tapi restoran itu terlihat sepi dan tidak banyak pelanggannya padahal pelanggannya semua terlihat seperti orang kaya.

__ADS_1


"Restoran apa ini, Otousan," tanya Iwabe heran.


"Salah satu restoran paling mahal di Tokyo ini. Tidak sembarang orang bisa makan di sini karena harganya yang mahal itu."


Ruang di dalam restoran itu sedikit temaram dengan lampu di atas meja berderet di beberapa titik terlihat seperti tempat makan keluarga yang hangat dan nyaman. Memberi kesan seolah berada dalam pesta api unggun malam di tepi pantai. Lampu yang berada di atas meja yang berwarna kemerahan mempertegas suasana itu.


Mereka kemudian duduk mengelilingi meja dan melihat menu. Tentu saja Iwabe dan Nasti tak tahu menu apa itu karena ditulis dalam bahasa Jepang, tapi melihat foto gambar makanan itu mereka bisa menebak-nebak.


"Terlihat enak, tapi halal gak, Otousan?" tanya Iwabe.


"Halal? Ck!" Wajah pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu, mengeluh. Kemudian ia mencarikan menu makanan yang bisa di makan Nasti dan Iwabe. Mereka kemudian memesan makanan.


Namun mereka harus mempercepat makan malamnya karena Bian mulai mengantuk. Bocah itu akhirnya tertidur dalam pangkuan ibunya saat semua orang selesai makan.


"Ck, anak-anak," keluh Iwahara.


"Maaf, Otousan," sahut Nasti.


"Tidak apa-apa," sela Iwabe. Pria itu malah mengambil Bian dari pangkuan Nasti.


"Iwabe." Wanita itu terlambat menahan dan pria itu malah menggandeng tangannya.


"Ayuk, gandeng aku, kita pulang." Dan meninggalkan Iwahara di belakang. Iwabe menoleh ketika pria itu ternyata tak bersamanya. Ia masih berada di belakang. "Otousan!"


"Iya, iya." Pria itu tiba-tiba merasakan sesuatu di dada. Ia berusaha menahan hingga langkahnya terhenti. Beberapa bodyguard-nya berusaha mendekat di belakang tapi ia memberi isyarat sebaliknya. Ia tak ingin Iwabe tahu. Kemudian ia meneruskan langkahnya.


Di dalam mobil Limosin, pria paruh baya itu menerima telepon dari seseorang. Ia menjawab beberapa kata kemudian menutupnya.

__ADS_1


Ia menatap Iwabe yang begitu bahagia bersama anak istrinya hingga Bian pun dipeluk anaknya erat di pangkuan. Pria itu tersenyum menatap potret indah di hadapan.


Kau akhirnya datang, Maiko. Datanglah! Aku menunggu saat-saat ini, saat di mana kita menentukan siapa yang akan menang di antara kita berdua, kali ini. Dan aku pastikan, aku takkan mengalah. Tak akan! Lihat saja, Maiko. Kau akan kalah!


__ADS_2