
"Sebenarnya aku masih ragu dengan hubungan kita mau ke mana arahnya karena aku masih bingung dengan mantan suamiku."
Iwabe mengeratkan genggaman. "Jangan bilang kamu akan kembali padanya!" Iwabe benar-benar panik.
"Tapi Bian butuh orang tua yang utuh agar bisa jadi tempat ia berlindung."
"Aku bisa jadi orang tuanya, Nasti. Ayahnya. 'Kan Bian sendiri juga sampai sekarang tidak mau bila bersama Gerald."
"Itu karena Bian belum mengenal Gerald, ayahnya. Gerald adalah pria yang sangat protektif pada orang-orang yang disayangnya, jadi pasti mereka bisa saling melengkapi dan saling menyayangi karena mereka ayah dan anak. Iya 'kan?
Apalagi memulai sesuatu yang baru dengan orang lain, rasanya sulit. Keluargamu juga tidak mendukung ini. Karena itu, aku masih ragu. Begitu banyak persoalan dan yang terlihat mengarah kepada kembalinya aku pada mantan suami agar kehidupanmu tenang dan Bian pun punya keluarga utuh selayaknya orang lain."
"Nasti ...." Pria itu menatap wanita itu lekat. Apa yang ditakutkan orang tuanya kini lambat laun terlihat. Perlahan Iwabe melepas genggamannya dan menunduk. "Apa kau akan meninggalkanku?" Sesuatu di dalam dadanya serasa berguncang hebat saat mengatakan itu.
"Ya ... tidak. Aku 'kan temanmu?" Nasti menyentuh bahu pria itu. "Aku akan membantumu."
Iwabe berusaha ikhlas. Tidak ada gunanya memaksakan cinta itu sekarang karena ada hal yang lebih pelik lainnya yang harus ia selesaikan. Setelah itu, ia akan mengejar Nasti lagi, saat ia sudah berdiri di kaki sendiri.
"Sebenarnya kau tidak boleh lari dari rumah seperti ini. Kau 'kan bisa menanyakan duduk persoalan yang sebenarnya pada kedua orang tuamu, baru kemudian kau putuskan apa yang kamu inginkan, bukan seperti ini. Cerita yang sepotong-sepotong hingga kamu memutuskan sendiri apa yang ingin kau pilih. Bagaimana kalau cerita sebenarnya berbeda?" Nasti menasehatinya dengan suara lembut.
"Aku kalut, Nasti, dan kecewa. Orang-orang yang begitu aku percaya ternyata menyimpan kebohongan tentang hidupku, Nasti. Hidupku. Mereka tidak tahu betapa aku sangat kecewa ketika omongan orang lain tentang kejahatan keluargaku itu benar."
"Sebuah cerita itu selalu punya dua sisi yang berbeda. Tergantung siapa yang bercerita dan kepentingannya. Kita tidak bisa bilang, yang satu jujur dan yang satu tidak karena setiap cerita yang dihembuskan juga punya cerita lagi di belakangnya. Tinggal kamu mencari faktanya."
"Kebenaran itu satu, Nasti. Tidak bisa diubah."
"Tapi akan berbeda jika kamu tahu sebabnya, fakta di belakangnya."
"Nasti, aku bingung denganmu." Pria itu meluruskan tubuhnya dan bersandar ke belakang.
Wanita itu menghela napas pelan dan ikut bersandar. "Jadi sekarang kau mau bagaimana?"
"Aku ingin memperbaiki hidupku. Aku ingin hidup sesuai dengan keinginanku."
"Apa yang ingin kau kerjakan sekarang?"
"Mmh ... mencari kerja." Ia menoleh pada wanita di sampingnya. Pertama-tama, aku ingin mencari tempat tinggal dulu. Tolong bantu aku."
__ADS_1
"Apa kamu punya cukup uang untuk menyewa tempat tinggal atau kos-kosan?"
"Mmh, aku punya uang yang cukup."
"Mencari kerja seperti mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Jika beruntung, kau akan segera dapat pekerjaan, jika tidak, bisa berbulan-bulan."
"Jadi saranmu?"
"Kau mau tinggal di rumahku?"
------------+++-----------
"Jadi bagaimana, Ayah?" Refan menatap pria di depannya dengan penuh harap.
"Kau yang menyebabkan semua kekacauan ini. Karena itu, kaulah yang harus menyelesaikannya. Temukan adikmu, Iwabe dan bujuk dia kembali. Suka atau tidak suka, dia adalah adikmu. Aku takkan melakukan apapun tanpa dia ada di sini karena untuk memutuskan itu, harus ada ibumu, istriku, Iwabe dan kau duduk bersama dalam satu meja. Mengerti?"
Refan dengan susah payah menelan salivanya. "Tidak bisakah ...." tanyanya pelan sambil menunduk.
"Tidak. Tidak ada pengecualian. Kau yang berbuat kau juga yang bertanggung jawab. Kalau kau ingin cepat, segera saja laksanakan agar kau bisa segera pula menikmati hasilnya. Kau tahu di mana pintu keluarnya 'kan?"
Dengan lemas, ia berjalan di koridor.
----------+++-----------
"Tolong bujuk dia naik sepeda ini, Bu. Masa, naik saja tidak mau," Gerald bicara dengan Ibu Nasti yang duduk di hadapannya bersama Bian.
Bocah itu hanya mau duduk di samping neneknya dan bahkan tidak mau berada dekat dengan Gerald. Ia memandangi pria itu sambil bersandar pada neneknya.
"Oh, iya. Ayo, Bian. Naik sepeda. Papamu tuh sudah berusaha menyempatkan diri datang ke sini hanya untuk membawakanmu sepeda. Ayo, naik, nenek temani." Ibu menarik Bian yang hanya memandangi sepeda roda tiga yang terlihat mahal itu dari tempatnya duduk.
Bocah itu mengekor neneknya. Ia kemudian naik sepeda itu tapi kemudian turun ketika Gerald mendekatinya.
Ibu tertawa. "Lho, kenapa takut? Itu kan Papamu sendiri, Bian."
Namun Bian bergeming.
Ibu kembali membujuknya naik sepeda itu hingga dikayuh sampai ke halaman, tapi Bian tetap tak mau jauh-jauh dari neneknya.
__ADS_1
Gerald cukup puas bisa melihat Bian mau memainkan sepeda pemberiannya. Dengan tiba-tiba, pria itu mendekati Bian dan mencium keningnya membuat bocah itu menangis seketika.
Ibu kembali tertawa. "Kenapa nangis? Itu 'kan Papamu, Bian?"
Bian masih menangis dan mengulurkan tangannya minta digendong pada ibu hingga menerbitkan senyum di bibir Gerald.
Pria itu mengusap kepala bocah itu ketika bocah itu telah digendong ibu Nasti.
Bocah itu telah berhenti menangis dan diam dengan wajah tegang saat tangan Gerald menyentuh kepalanya. Ibu hanya bisa tersenyum.
"Anak Papa. Nanti papa main ke sini lagi ya?" katanya pada Bian. Ia kemudian pamit pada ibu.
Keduanya melihat saja pria itu naik ke mobilnya, dan ibu membantu mengangkat tangan Bian untuk melambai pada Gerald saat mobil itu pergi.
Gerald begitu senang. Ia berharap bisa kembali dekat dengan Nasti melalui anak mereka. Tidak aneh kalau ia terlihat sangat bahagia karena bila ia bisa mendekati Bian, bukan tidak mungkin ia bisa mendapatkan hati Nasti kembali dan ia mendapatkan kedua-duanya. Nasti dan Bian. Bukankah itu tujuannya sejak awal?
Ia memang sengaja mengganti strateginya mendekati mantan istrinya itu karena pasti Nasti tak akan menolak bila permintaan itu datang dari mulut Bian. Ia berharap bisa menaklukkan Bian secepatnya.
----------+++----------
Sehabis makan di restoran, Nasti mengantar Iwabe ke rumah. Bukan main senangnya Bian ketika mengetahui Iwabe datang ke sana. Ia meloncat-loncat dan mengelilingi pria itu.
Ibu juga memberi tahu kedatangan Gerald pada Nasti membuat Nasti mulai percaya keseriusan pria itu pada anak mereka.
Nasti kemudian meminta izin ibu menitipkan Iwabe menumpang tinggal di sana sampai ia mendapatkan pekerjaan.
Seketika, ibu tahu, pria itu sedang bermasalah dengan keluarganya. Ia curiga kalau ini berhubungan dengan hubungan keduanya yang mungkin tidak direstui oleh orang tua pria itu, tapi ia berusaha menerima keputusan Nasti yang menitipkan pria itu di rumah.
"Nanti aku akan bilang pada ayah, Bu," terang Nasti pada ibu.
"Ya sudah. Ibu bereskan dulu kamarnya ya?"
__________________________________________
Yuk intip novel teman author yang satu ini.
__ADS_1