
Iwahara pusing melihat Bian berlarian di jam makan malam. "Iwabe, tidak bisakah kau suruh anak itu duduk makan dengan tanpa berlari-lari? Aku pusing melihatnya."
Iwabe tertawa. "Aku juga dulu begitu, Otousan, tapi lama-lama akhirnya terbiasa, jadi biasa saja melihatnya. Ini hanya masalah kebiasaan saja. Coba Otousan menikmatinya."
"Menikmati katamu?" Pria itu duduk mirip sambil mengambil serbet, membersihkan ujung jari dan melemparnya.
Nasti yang merasa tak langsung sedang dimarahi, terpaksa berdiri dan hendak mengambil anaknya, tapi tangan Iwabe menahannya.
"Tidak usah." Iwabe lalu menoleh pada ayahnya. "Bian bisa kok duduk diam asal dibelikan kursinya. Dia bahkan bisa makan sendiri. Nanti biar aku belikan kursinya."
"Mmh." Iwahara terdiam dan meneruskan makannya, tapi kemudian dilihatnya Nasti masih berdiri. "Kenapa kau masih berdiri? Apa makanannya tidak enak?"
"Oh, tidak." Wanita itu segera duduk dan mengambil sendoknya, tapi masih bingung bagaimana bersikap. Ia masih belum mengenal mertuanya dengan baik.
"Kalau kau tak suka makanannya kau tinggal bilang pada kepala pelayan. Oh ya, kalian belum bisa bahasa Jepang ya?" Ia kemudian melirik kepada seorang pelayan yang berjaga di sana dan memerintahkannya membawa seseorang. Tak lama, seorang pelayan wanita datang bersamanya.
"Ini namanya Arum, pelayanku yang memang orang Indonesia. Kau bisa mencarinya kalau butuh sesuatu, menterjemahkan atau ingin pergi jalan-jalan."
Wanita muda berkulit sawo matang dengan rambut panjang yang dikuncir ke belakang itu membungkukkan badannya ke arah Iwabe dan Nasti.
"Tapi nanti aku juga akan mengundang guru bahasa Jepang juga buat kalian bertiga jadi kalian aku harap bisa cepat beradaptasi."
"Terima kasih, Otousan," sahut Nasti.
"Tidak perlu berterima kasih karena kau adalah menantuku."
Awalnya Nasti sedikit bingung dengan sifat mertuanya itu melihat kejadian di atas pesawat tadi tapi kemudian ia bersyukur ternyata pria itu cukup baik padanya.
"Iwabe, karena besok Senin kita mulai bekerja, kau bisa pergi jalan-jalan dengan istrimu malam ini."
"Apa aku tidak boleh pergi bulan madu?" protes pria muda itu.
Di luar dugaan, Iwahara membolehkan. "Boleh saja. Memangnya kau mau pergi ke mana?"
"Eh, belum tahu, Otousan." Iwabe menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan melirik istrinya. "Nasti kamu mau pergi ke mana?"
__ADS_1
"Kita nikah saja secara mendadak jadi aku belum punya rencana mau pergi ke mana." Wanita itu juga tidak ada bayangan untuk bulan madu ke mana karena sebelumnya ia hampir dinikahi Gerald kembali. Menikah dengan Iwabe secara mendadak itu saja sudah suatu keberuntungan.
"Ya sudah, pikirkan pelan-pelan sementara suamimu bekerja dulu di sini. Katakan saja kalau kau sudah mendapat ide untuk bulan madu, karena dia bisa pergi kapan saja. Tidak ada masalah," ucap Iwahara pada menantunya. Ternyata Nasti mendapatkan mertua yang sangat pengertian. "Kau tinggal di rumah 'kan, mengurus Bian?"
"Oh, i-iya," Namun tetap saja, Nasti masih canggung bila bersama mertua barunya.
"Kalau kau berniat bekerja, kau bisa bilang padaku. Kau bisa ikut bekerja di perusahaan atau punya usaha sendiri. Nanti aku bisa modali. Bagaimana?"
Nasti melirik suaminya yang hanya diam saja saat sang istri mendapat tawaran dari ayahnya. "Bagaimana?"
"Terserah kamu saja. Aku tak masalah," sahut pria itu mengendikkan bahu.
Wanita itu beralih pada Iwahara. "Terima kasih. Saat ini, aku hanya ingin jadi ibu rumah tangga saja."
"Ya, sudah. Tidak apa-apa." Pria paruh baya itu meneruskan makannya.
Makan malam itu terasa menyenangkan karena disisipi obrolan dari orang-orang yang saling tenggang rasa dan saling mendengarkan. Kehidupan baru mereka baru saja dimulai.
----------+++----------
Ada seperangkat kain sholat dan Al Qur'an, bahan pakaian yang cukup mahal, pudding, keranjang buah, daging sapi mentah premium dan satu set perhiasan mewah. Ini lebih mirip barang-barang untuk melamar ....
"Kami sebagai salah satu orang tua Iwabe malu kalau sampai anak kami menikah dengan asal-asalan seperti itu, karena itu kami mengirimkan barang-barang untuk melengkapi pernikahan anak kami tersebut. Aku minta Ibu mau menerima barang-barang lamaran yang sudah telat datangnya ini," ucap Maiko pada ibu Nasti.
Barang-barang itu dibawa supirnya masuk ke dalam rumah, ayah Nasti juga ikut melongo melihat dari dalam rumah, banyaknya barang yang diantar.
Maiko bukan menerima tapi terpaksa menerima karena mereka sudah berbesan kini dan ia juga harus menyelamatkan wajah Iwabe karena menikah tanpa memberikan apa pun pada pihak keluarga Nasti. Ia juga ingin meminta tolong, karena hanya merekalah yang mampu menolongnya.
"Eh, silahkan masuk, Bu," ajak ibu Nasti ramah. Ia tak menyangka Ibu pria itu akhirnya mau menerima anak mereka sebagai menantunya.
Maiko dan Sastra masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu. Sebagian barang-barang bahkan harus diletakkan di lantai di rumah berukuran sedang itu karena saking banyaknya.
"Ini salah satunya dalam dolar." Maiko menyodorkan sebuah amplop pada Ibu Nasti.
Ibu mengambilnya. "Aduh, banyak sekali pemberiannya padahal kami tidak punya sesuatu apa pun untuk membalasnya."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, ini kewajiban kami," sahut wanita Jepang itu lagi.
"Tapi rasanya tidak nyaman. Ah, berikan saja alamat ibu agar saya juga bisa mengirimkan balasannya," sahut ibu Nasti dengan ramah. Ia tidak bisa menerima pemberian itu tanpa membalasnya.
"Oh, kalau itu tidak perlu. Hanya saja kami hanya ingin meminta bantuan dari kalian, seandainya kalian bersedia dan untuk itu pemberian ini dianggap impas."
"Eh, maksudnya bagaimana, Bu?" sela ayah Nasti."
"Bisakah kalian menghubungi anak kalian? Aku ingin berbicara dengan Abe," pinta Maiko dengan wajah sedih. "Aku ingin mendengar suara Abe-ku," ucapnya memohon. Ia sengaja berpura-pura agar mereka mau membantu.
"Maksudmu Iwabe?"
"Iya."
Walaupun ayah Nasti bingung karena tak tahu harus bagaimana, ibu Nasti sebaliknya tahu ibu Iwabe sedang berpura-pura. Meskipun begitu, wanita itu iba karena Maiko kehilangan anaknya karena dibawa lari sang mantan suami. "Biar aku hubungi saja ya?" Ia menoleh pada suaminya.
Ayah Nasti bimbang, ia tak tahu apa ini bisa menimbulkan masalah atau tidak.
Ibu Nasti menghubungi anaknya. Saat itu, Nasti masih berada di meja makan menyelesaikan makan malam bersama Iwabe, Iwahara dan Bian. "Oh, ada telepon dari Ibu," sahutnya pada sang suami.
"Mmh, angkat saja," kata pria itu pelan. Ia masih menyuap makanannya.
"Halo, Bu."
"Nasti, kau sudah sampai?"
"Sudah, Bu, 2 jam yang lalu, sekarang kami sedang makan malam bersama."
Di rumah Nasti, Maiko memberi kode agar wanita itu bicara dengan Iwabe sehingga ibu menanyakannya.
Nasti menyerahkan HP-nya tanpa curiga pada Iwabe. "Iwabe, ibu mau bicara."
"Aku?" Pria itu terkejut. Ia kemudian mengambil HP istrinya dan mulai bicara. "Halo?"
Saat itu Maiko meminta ponsel ibu Nasti. Ia menyodorkan tangannya. Ibu Nasti dengan suka rela memberikan handphone itu pada wanita itu.
__ADS_1
"Halo, Abe. Ini Ibu."