Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Lagi


__ADS_3

Malam itu, kembali terdengar suara yang mengusik pria Jepang itu hingga harus kembali terduduk di atas tempat tidur. Siapa lagi sih, ini? Apa anak kecil itu lagi?


Iwabe dengan malasnya berdiri dan mengambil senter. Ia beranjak keluar kamar dan menoleh pada kamar Nasti di samping. Dilihatnya pintu itu hanya dirapatkan. Pria itu menghela napas. Pasti dia lupa mengunci pintu kamarnya lagi, huh!


Pria itu bergerak menuju gedung serba guna yang kemudian ia dapati pintunya telah terbuka. Perlahan ia memasukkan kepala melihat keadaan di dalam.


Lampu di dalam ruangan telah dimatikan sehingga ia bisa dengan mudah mengendap-endap masuk menuju ke dapur. ia menajamkan telinga.


Terdengar suara yang berasal dari gudang penyimpanan barang. Tempat itu jarang dimasuki karena hanya berisi sebagian besar barang pecah belah.


Iwabe mendorong pintu yang telah terbuka dengan pelan. Terlihat sosok anak kecil yang ia yakini adalah anak Nasti. Segera ia menyorotnya dengan senter. "Nah, anak nakal! Mau apa kamu di sini?"


Bocah kecil itu terkejut. Wajahnya terlihat bingung tapi lama-lama seperti ingin menangis karena pria itu menggertaknya.


Buru-buru Iwabe merubah nada suaranya. Ia berjongkok di hadapan anak kecil itu. "Eh, Om cuma tanya kok. Cuma bercanda." Pria itu membuka kedua tangan, memanggilnya.


Walaupun mulutnya sudah mengerucut hendak menangis, pelan tapi pasti bocah itu mendatangi Iwabe. "Sini, Sayang. Om gak marah kok." Pria itu meraih tubuh anak itu dan memeluknya lembut. "Kenapa sih kamu keluar malam-malam? Kasihan 'kan, nanti Mamamu bangun mencarimu."


"Mmh."


Pria itu melepas pelukan. "Ayo, sekarang kamu kembali ke kamar ya, mmh?" Iwabe mengusap pucuk kepala bocah itu. Ia berdiri tapi seketika ia terkejut. Di depannya ada lemari es besar yang sudah lama tidak dipakai. Lemari es itu kini tengah dihidupkan.


Kenapa lemari es ini dihidupkan? Biasanya hanya saat ada acara besar saja, lemari es ini dihidupkan karena bisa menampung banyak bahan makanan yang tidak awet di sana.


Iwabe mendekat dan membuka lemari es itu. Ia kembali dikejutkan dengan isi lemari es itu. Ternyata itu adalah produk perusahaannya yang selama ini menghilang dan kini tersimpan rapi di dalam lemari es itu dan masih terbungkus utuh dalam kotak.


Siapa yang menaruhnya di sini? Untuk tujuan apa ia menaruh barang-barang itu di sini? Pria itu mengerut dahi.


Tiba-tiba terdengar suara langkah orang di luar. Iwabe segera menarik bocah itu untuk bersembunyi di dalam tumpukan barang di samping yang tertutup kain. "Ayo kita main," bisiknya pada bocah kecil itu. "Siapa yang bisa diam paling lama dia yang menang. Yang menang akan Om belikan apa saja yang dia mau. Setuju?" Iwabe menyodorkan kelingkingnya.


Bocah itu tak mengerti ketika Iwabe menyodorinya jari. Ketika ia mencoba menirunya, pria itu mengaitkan jari mereka. Bian tersenyum lebar.


Seseorang masuk ke ruangan itu dan ia tidak sendirian. Iwabe segera meletakkan jarinya di depan mulut agar bocah itu mulai diam.

__ADS_1


Ia mulai memperhatikan kedua pria itu dari tempat persembunyian dan ternyata keduanya adalah orang yang ia kenal. Salah satunya adalah pegawai pabrik dan satunya lagi adalah ... Udin sopir bus antara jemput pegawai.


"Terima kasih, Pak. Bapak membawakan barang-barang ini ke sini. Sekarang karena barangnya sudah terkumpul semua, Bapak harus bantu kami lagi untuk mengirimnya ke alamat ini. Kirim barang ini setelah mengantar pegawai kerja besok pagi, setelah itu baru aku akan membayarmu," ujar pegawai pabrik itu dengan menyerahkan selembar kartu nama.


"Tapi aku tidak bisa terus-terusan membantumu, karena takut ketahuan," sahut Udin mulai ragu.


"Jangan takut, Pak. Kalau sama Saya pasti aman," janji karyawan pabrik itu. "Saya hanya mengambilnya sedikit-sedikit dan mereka tidak akan tahu. Hanya pegawai di bagian pengepakan yang baru itu saja kini bikin masalah, tapi tak apa. Aku tetap bisa mengambilnya dari tempat produksi tanpa ketahuan. Lagipula untungnya lumayan, karena aku menjualnya setengah dari harga pasar."


Huh, dasar pencuri! Dia tak sadar telah merugikan orang lain.


"Penjaga mess saja, aku curi kunci gedung ini, ia tak berani lapor dan itu menguntungkan kita. Kita bisa mondar-mandir ke sini saat sepi tanpa ketahuan."


Oh, itu yang terjadi? Untung saja karena kesibukan, aku belum sempat menanyakan lagi pada penjaga gerbang mess itu, kenapa ia lupa mengunci gedung ini, tapi kenapa pria ini juga tidak ingat bahwa ia tidak memegang kunci gedung ini bersamanya? Ia malah meninggalkannya di pintu kemarin dan sekarang kunci itu ada padaku.


Pegawai pabrik itu menutup pintu lemari es dan bersama Udin, ia melangkah keluar ruangan. Pelan-pelan Iwabe keluar dari tempat persembunyian bersama Bian.


"Kamu menang. Besok, kamu bisa minta apa saja pada Om, pasti Om belikan."


Bian hanya menatap pria itu dengan wajah datar. Entah ia mengerti, entah tidak.


Udin. Padahal aku percaya padamu, kau orang yang jujur tapi kenapa kamu malah terlibat pencurian ini, sesal Iwabe dalam hati. Besok, aku akan melaporkan kalian berdua dan entah siapa lagi yang terlibat dalam hal ini, ke polisi.


Pencurian adalah kejahatan yang tidak bisa ditolerir walaupun itu hanya dalam jumlah sedikit dan mungkin tidak akan merugikan perusahaan karena pencurian adalah perbuatan tercela.


Pria itu mengantar bocah itu ke pintu kamar tapi tanpa diduga bocah itu malah menarik tangan pria itu untuk masuk ke kamarnya.


"Eh, jangan. Mamamu sedang tidur," bisik pria itu.


Bocah itu menunjuk ibunya yang tengah tertidur pada pria itu. "Mama."


Iwabe terpana. Untuk pertama kalinya ia melihat wajah Nasti tanpa jilbab. Wanita itu terlihat sangat manis bahkan saat sedang tidur. Pria itu terdiam sejenak sebelum sentuhan tangan Bian menyadarkannya.


"Mama." Bocah itu kembali menunjuk ibunya.

__ADS_1


"Eh, ssstt." Kembali Iwabe meletakkan jari telunjuknya di depan bibir agar Bian tak berisik. "Cepat tidur. Nanti Mamamu marah kalau tahu kau belum tidur. Ayo, tidur sana," usir pria itu agar bocah itu naik ke tempat tidur.


Bocah itu menurut. Ia menatap Iwabe yang melangkah ke arah pintu dan melambaikan tangan sebelum menutup pintu.


"Mmh, Bian. Kamu belum tidur?" Nasti terbangun dan mendapati bocah itu duduk di atas tempat tidur. "Ayo, sini, Nak. Tidur lagi sama Mama."


Bocah itu mendekati ibunya dan tidur dalam dekapan.


------------+++-----------


Siang itu tersiar kabar penangkapan pegawai pabrik oleh polisi, yang menghebohkan. Setelah kasus keracunan, perusahaan kini berhadapan dengan kasus pencurian yang melibatkan orang dalam. Kejadian ini menjadi gosip hangat di kantor.


"Waduh, ada-ada saja," ujar Lia santai.


"Mana Mang Udin yang terlibat lagi! Padahal dia kelihatan seperti orang baik-baik." Ulfa menimpali.


"Mungkin punya kebutuhan kali, mana kita tau," komentar Lia.


"Memang kalau terpaksa, kamu mau mencuri?"


Lia mengangkat bahu.


Nasti berdiri dan melangkah ke pantry.


Aldi mengejarnya, mensejajarkan langkah. "Mbak, bisa temani aku ke klien gak, Mbak?"


"A cie, Aldiii," ledek Lia.


"Ini bener, Mbak. Aku minta tolong. Kliennya rewel," pinta pria itu pada Nasti.


___________________________________________


Yuk, intip karya author yang satu ini.

__ADS_1



__ADS_2