
"Oh, kamu mau fotomu juga? Minta aja sama Refan," sahut Iwabe.
Saat itu terbersit keinginan Faza untuk berfoto bersama Iwabe, tapi pria itu kini bersama pacarnya di sana. Ia tak berani memintanya. "Eh ...."
"Kasih aja nomor teleponmu, nanti kukirim," sela Refan.
Faza menyebutkan nomor teleponnya pada Refan sedang Iwabe sibuk mengobrol dengan Nasti.
"Sayang, kamu mau pergi ke mana lagi?"
Nasti menepuk tangan pria Jepang itu dengan cemberut. "Jangan panggil 'sayang-sayang' ah, ini di kantor."
Iwabe tertawa lepas. "Kamu ke sini mau apa?"
"Mau cek stok aja, sih."
"Sebentar lagi Jum'atan. Makan siang bareng, yuk?"
"Mmh, boleh."
"Aku boleh ikut gak?" sela Refan.
Keduanya mengerut kening.
Pria itu menoleh pada Faza. "Kamu ikut ya, biar Nasti ada temannya. 'Kan aku berdua Iwabe Jum'atan."
Faza melirik mereka bertiga yang menatap ke arahnya. " Memangnya aku boleh ikut?"
Kini Faza dan Refan menatap ke arah Nasti dan Iwabe.
"Oh, boleh saja. Iya 'kan, Nas?" tanya Iwabe pada Nasti.
Nasti mengangguk. "Kenapa enggak, ayo, tapi habis mengecek stok dulu ya?" Ia kemudian menjalankan tugasnya dan kembali ke kantor.
Refan mengirimkan foto pada Iwabe dan Faza. Saat itulah Faza baru sadar bahwa ia tadi berfoto berdua dengan Refan.
Nasti kemudian kembali dan mereka berempat naik mobil Iwabe.
-----------+++---------
"Apa kamu mau pesan makanan?" tanya Nasti pada Faza.
Wanita bercadar itu menggeleng. "Nanti saja, tunggu mereka kembali."
"Atau mau pesan minuman?"
"Mmh, apa ya?"
"Aku mau pesan, es teh manis."
"Boleh juga. Aku juga deh."
Mereka kemudian memesan minuman.
Nasti memandangi Faza.
"Kenapa?"
"Eh, maaf. Aku baru kali ini bisa dekat dengan orang bercadar. Ada rasa misteriusnya, gitu."
Faza tertawa. "Masa sih? Aku merasa biasa-biasa saja."
__ADS_1
"Mungkin karena orang yang memakai cadar itu sedikit ya, aku jadi merasa aneh saat bertemu dengan salah satunya."
"Apa aku terlihat semisterius itu?"
"Maaf, tapi iya," sahut Nasti lagi.
Faza kembali tertawa. "Kamu itu lucu juga ya? Apa karena itu, Iwabe suka padamu?"
"Love is a mystery(cinta itu misteri). Kadang kita tidak pernah tahu kapan datangnya, tapi tiba-tiba saja kami berdua jadi saling bergantung satu sama lain, sesudahnya.
Aku bukan orang yang sempurna, Za. Pernah menikah, punya anak, dan banyak yang harus dipikirkan kalau menikah lagi, tapi Iwabe meyakinkan aku kalau yang dia butuhkan hanya hatiku."
"Oh, Mbak Nasti sudah pernah menikah ya? Punya anak juga?"
"Iya, Za." Nasti menjawab sambil tersenyum. "Rumit 'kan, orang seperti aku ini."
"Tidak rumit kalau yang pria ingin menjalani."
"Aku kadang kasihan sama Iwabe, mencintai wanita seperti aku ini. Harusnya 'kan Iwabe mencintai wanita seperti kamu ini misalnya, yang jelas-jelas masih muda dan sendiri."
Faza tertawa kecil. Rupanya Iwabe memang tergila-gila pada Nasti ya? Bahagianya jadi Nasti. Cinta memang misteri. Mungkin karena pemberian Ilahi, kita tak bisa menuntut. Hanya bisa menjalani.
Curahan hati Nasti malah membuat Faza mengerti bagaimana kedua hati anak manusia itu bisa saling terhubung. Cinta mereka saling menguatkan tanpa perlu ada sebab. Mengalir apa adanya.
Tak lama, banyak pria memasuki restoran itu termasuk Refan dan Iwabe.
"Lho kok belum pesan?" tanya Iwabe.
"Ya sama-sama saja," sahut Nasti.
Iwabe kemudian duduk bersama Refan. Mereka memesan makanan.
---------+++---------
Pria Jepang itu melirik Refan dan tertawa. "Ya ... ketagihan. Eh, besok 'kan Sabtu?"
"Maksudku, nanti hari Senin. Masa begitu saja tidak tahu. Ck! Biar aku bisa punya waktu sama Faza lagi!"
"Iya, iya, tapi itu 'kan rame-rame, Kak. Kalau mau mendekati wanita tuh harus langsung. Jangan rame-rame begitu."
"Iya, tapi, aku gak tau caranya."
"Kakak 'kan punya mobil. Antar aja dia pulang, Kak, biar bisa lebih dekat dengannya."
"Kadang dia sedikit ... apa ya? Ngatur." Refan berterus terang.
Iwabe kembali tertawa. "Terus Kakak mau berhenti menyukainya atau gimana?"
"Rasa suka tidak bisa hilang karena itu, Iwabe."
"Nah, makanya. Nasti juga sama. Ada kalanya dia sangat-sangat galak, tapi itu bagus untuk mengenal karakter masing-masing. Dengan begitu wanita juga berpikir kamu bukan pria yang gampang menyerah. Cari jalan untuk bisa berdua, Kak. Usaha. Jangan ikut aku terus, nanti gak maju-maju usahanya."
Refan menghela napas pelan.
---------+++-----------
Pagi yang cerah, tapi kita tidak tahu akan ada apa di detik berikutnya karena waktu tak selamanya sama. Hanya berjalan, begitu juga takdir.
Iwabe turun dari lantai atas dengan telah berganti pakaian menuju ruang makan. Ada ibu dan ayah memperhatikan pakaian Iwabe yang terlihat santai.
"Kamu mau ke mana, pagi-pagi begini?" tanya ayah.
__ADS_1
"Mau ke tempat Nasti, Yah," jawab Iwabe terus terang seraya menarik kursinya.
"Abe, ibu sudah bi—"
"Ibu, jangan ganggu selera makanku, Bu. Aku ingin menikmati makan di sini," potong Iwabe yang terpaku menatap wanita paruh baya itu.
"Abe ...."
Iwabe tak jadi meneruskan duduknya. Ia mendorong kembali kursinya dan pergi. "Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam," sahut ayah. Ia melirik Maiko yang mengerucutkan mulutnya karena kesal. Pria itu hanya bisa menghela napas kasar.
Iwabe langsung pergi ke mess. Nasti terkejut karena Iwabe datang lebih pagi dari yang dijanjikan.
"Buatkan aku sarapan dong, Sayang." Mulut pria itu langsung mengerucut.
"Bertengkar dengan ibumu lagi?"
"Tidak ... aku justru menghindari pertengkaran, karena itu aku pergi."
"Om!" teriak Bian yang sudah memanggilnya berkali-kali. Ternyata Iwabe saking kesalnya tidak mendengar teriakan bocah itu di dekat kakinya.
"Apa Bian? Aduh, maaf, Om gak dengar." Pria itu menggendong bocah itu.
Nasti dan Bian yang baru saja dari gedung serba guna, terpaksa harus kembali ke sana. Wanita itu memasakkan nasi goreng untuk Iwabe sementara pria itu mengobrol bersama Bian.
"Nanti kamu mau makan apa?" tanya Iwabe.
"Udah Om."
"Oh, iya. Mau Om belikan mainan?"
Bocah itu berpikir sejenak. "Mmh, udah banyak."
"Mmh, bagaimana dengan buku?"
"Buku apa?"
"Buku cerita."
"Cerita apa?"
Pria itu tersenyum sambil mengusap kepala bocah itu. "Kamu 'kan, mau sekolah. Harus bisa baca. Nanti Om ajari baca ya?"
"Baca apa?"
Kembali Iwabe tersenyum dan mengecup kening bocah itu. "Nanti kalau kamu lihat, kamu akan tahu. Ya?"
Bian mengangguk. Tak lama Nasti datang dengan sepiring nasi goreng dan segelas air mineral buat Iwabe.
Pria itu makan dengan lahap. "Mmh, Nasti. Kamu dan Bian mandi saja. Nanti piring dan gelasnya, aku yang cuci. 'Kan katanya mau pergi ke rumahmu, pagi ini."
"Ya sudah. Ayo Bian." Wanita itu menggandeng bocah itu keluar gedung.
Seusai sarapan, Iwabe mendatangi kamar Nasti. Ternyata wanita itu tengah bersiap-siap. Bian yang tengah memasang sendiri kaus kakinya, melihat Iwabe datang karena pintu kamar mereka terbuka.
"Om!"
"Wah, pintar. Bisa pasang sendiri?" tanya pria itu.
"Bisa." Bian berusaha menarik kaus kaki itu menutup kaki, setelah jarinya masuk. Ia menarik hingga sampai jatuh terbalik ke belakang dengan keseimbangan yang ada. Untung ia mengenakannya di lantai membuat Iwabe tertawa geli.
__ADS_1