Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Kencan?


__ADS_3

Iwabe benar-benar gemas. Sudah 5 menit berlalu, wanita itu masih berbicara dengan mantan suaminya karena ingin naik bus hingga bus pun jadi tertahan. Ia mau tak mau harus turun tangan. Ia membuka kaca mobil dan mengeluarkan kepalanya. "Bisa tidak dipercepat pembicaraannya, karena kita semua bisa telat!" hardik Iwabe pada Nasti dan Gerald.


Keduanya terkejut, dan menoleh. Gerald geram diteriaki seperti itu. Ia mendatangi mobil Iwabe. "Hei! Enak saja kamu ...."


"Nasti, cepat naik ke mobil! Kita semua bisa telat gara-gara kamu!" perintah Iwabe yang memotong ucapan Gerald.


Nasti tergopoh-gopoh berlari ke arah mobil pria Jepang itu sambil menggendong Bian. Ia naik mobil Iwabe.


"Nasti!"


Namun terlambat. Nasti sudah menumpang mobil Iwabe dan mobil itu pergi dengan lewat di depan pria bule itu. Setelah itu bus mengikuti dari belakang.


Bukan main geramnya Gerald.


Di mobil, Iwabe tampak serius. Ia tidak bicara sedikitpun membuat Nasti tegang. Wanita itu merasa bersalah.


Iwabe menyempatkan diri mengantar Bian ke rumah Nasti, di mana Ibu Nasti terkejut melihat mobil yang dikendarai Iwabe.


Ibu memperhatikan mobil mewah yang dikendarai Iwabe dengan melongo. "Eh, itu ...."


"Mobilnya. Ia ternyata anak presdir," terang Nasti.


Ibu melirik Nasti. Kenapa anakku ditakdirkan selalu dikelilingi pria-pria kaya yang rumit?


Setelah menyerahkan Bian, Nasti mencium tangan ibunya. "Pergi dulu ya, Bu. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Dengan Iwabe, Ibu hanya menganggukkan kepala membalas anggukkannya. Nasti menaiki mobil itu yang kemudian bergerak mengarah ke jalan raya.


Mereka kembali diam hingga tiba di kantor.


"Eh, Pak. Maaf, masalah pribadi saya ...." Nasti mencoba meminta maaf.


"Nasti, kita sudah sampai kantor. Aku ada rapat dengan staf HRD pagi ini, jadi aku tidak bisa mendengarkan ceritamu sekarang." Pria Jepang itu segera membuka seatbelt-nya lalu keluar.


Nasti makin merasa bersalah. "Eh, iya, Pak." Ia buru-buru keluar dari mobil.


Iwabe mengunci mobilnya dari luar dengan remote mobil dan segera masuk ke dalam gedung. Nasti mengekor dari belakang.


---------+++---------


"Ck, Sarah. Apa Nasti berpacaran dengan anak Presdir itu?" tanya Gerald di telepon selulernya.


"Rasanya tidak, Pak tapi mereka memang dekat."


"Berarti setiap saat mereka bisa jadi PACAR 'kan?!!" teriak Gerald kesal.


"Eh, tenang, Pak tenang. Aku akan bantu memisahkan mereka."


"Mmh, kenapa sampai sekarang Nasti belum juga keluar dari perusahaan itu?"

__ADS_1


"Ini bergantung dari proses di kepolisian. Mungkin sebentar lagi akan ada kabar beritanya."


"Ok, baik. Aku tunggu!" Pria itu segera mematikan ponselnya. Ia sempat menggebrak meja kantor melampiaskan amarahnya karena makin hari, Nasti makin sulit didekati.


----------------+++-------------


Iwabe mengangkat HP-nya. "Ayah, bagaimana Yah?"


"Ayah mau holiday(libur) dulu setelah pulang dari rumah sakit."


"Ayah ... jangan macam-macam ...," keluh pria Jepang itu.


"Tidak ada yang urgent(penting) di perusahaan, karena itu Ayah mau santai dulu ditemani Ibu di rumah. Kau belajarlah mengelola perusahaan."


"Ayah, aku malas. Aku jadi asisten Ayah saja, bagaimana? Aku jadi tidak bebas melakukan apapun di sini."


"Eh, umurmu sudah berapa, Abe. Sudah waktunya kamu bisa mengelola perusahaan ini. Bagaimana kalau umur Ayah pendek?"


"Ah, Ayah. Jangan ngomong begitu dong, seperti orang sakit keras saja," omel Iwabe.


Suara bariton pria di ujung sana tertawa. "Karena itu, mumpung masih ada Ayah, coba jalankan perusahaan ini dengan kemampuanmu, jadi kalau kesulitan masih ada Ayah tempat kamu bertanya."


"Ck, iya. Cuma ...."


"Apa lagi?"


"Jangan suruh aku potong rambut ya?"


"Mmh."


"Ngomong-ngomong, apa hubungan kamu dengan Nasti hanya berteman saja?"


"Kenapa?"


"Abe, setahu Ayah, Nasti itu umurnya lebih tua dari kamu. Ia juga janda."


"Lalu?"


"Jangan tertarik padanya. Cari pasangan yang seumuran, Abe yang bisa mendukung bisnismu."


"Iya, iya. Pasti Ayah dipengaruhi Ibu lagi ya?"


Ayah kembali tertawa. "Ya, tidak apa-apa kalau pendapat Ibu benar."


"Ya sudah, Abe kerja dulu." Pria itu malas berpanjang-panjang membahas mengenai pasangan.


Baru saja Iwabe menutup teleponnya terdengar ketukan di pintu. Sarah dan Nathan muncul dari balik pintu.


"Bapak memanggil kami?" tanya Sarah.


"Oh, iya. Silahkan masuk."

__ADS_1


Keduanya menghadap Iwabe dengan sedikit rasa takut sebab keduanya pernah meremehkan pria itu karena posisinya di kantor.


"Eh, maaf sebelumnya, Pak kalau saya pernah berkata kasar terhadap Bapak. Aku tidak akan berlaku tidak sopan seperti itu bila tahu Bapak adalah anak Presdir."


"Oh, tentu saja," ledek Iwabe.


"Sekali lagi, maafkan Saya, Pak." CEO itu sudah membayangkan dirinya akan dipecat secara tidak hormat bila Iwabe sakit hati.


"Sudah. Aku meminta kalian ke sini bukan karena masalah itu. Nathan, bagaimana dengan proses pembelian mesin baru untuk pengalengan? Sudah sampai mana?" Iwabe menyatukan jemarinya di depan mulut.


Sarah dan Nathan lega, ternyata Iwabe tidak memperkarakan mereka, padahal Sarah sudah bersiap-siap akan melakukan jalur lain bila Iwabe menendangnya dari perusahaan.


Nathan memberikan laporannya. Iwabe juga menanyakan kemajuan penjualan pada Sarah dan rencana promosi produk baru. Sarah memberi masukan pada rencana promosi berikutnya.


Setelah memberikan laporan, Nathan pamit tapi Sarah seperti menunggu waktu berdua dengan Iwabe. Nathan melirik kesal pada wanita itu karena selama ini, ia berusaha mendekati Sarah tapi wanita itu seakan mengantung statusnya. Wanita itu hanya datang saat butuh.


Pria itu tahu, Sarah pasti berusaha mendekati Iwabe karena pria itu anak orang kaya yang tampan dan lagi muda. Bukan tidak mungkin, standar pacar Sarah adalah orang kaya.


Setelah Nathan pergi, Sarah mulai mendekati Iwabe.


"Ada apa?" tanya pria Jepang itu.


"Bapak 'kan dulu pernah bertanya apa saya mau berkencan dengan Bapak. Apa itu masih berlaku?"


"Maksudnya?" Iwabe sebenarnya tahu maksud perkataan Sarah, tapi ia butuh jeda untuk berpikir.


"Apa Bapak masih menginginkannya?"


Iwabe menatap wanita cantik di hadapannya. Saat ini, ia sedang berpikir tentang permintaan orang tua yang memintanya berkencan dengan wanita yang lebih muda. Sarah seumuran dengannya dan masalah Nasti, ia harus menjauhi wanita ini.


Nasti punya masalah rumit dengan mantan suaminya dan ia tidak bisa terus-terusan hadir menolong wanita itu karena itu di luar kemampuannya. Untuk itu, ia harus punya pasangan. "Kamu serius?"


"Pak, saya sangat serius. Saya sebenarnya terus memikirkan Bapak tapi kesempatan untuk bicara dengan Bapak sangat sulit." Ia mengucapkan kalimat penyesalan itu dengan sedikit manja.


Entah kenapa, setelah memutuskan apa yang ingin dilakukan, kepala pria itu serasa pusing. "Iya, eh, nanti saja ya? Aku ada pekerjaan yang harus dilakukan." Ia segera berdiri dan berpura-pura melihat rak buku.


"Eh, iya, Pak," ujar wanita itu dengan gembira. "Jadi nanti, makan siang bersama ya?"


Pria itu menoleh. "Eh, iya."


Wanita itu pun pamit keluar. Iwabe memijit keningnya karena bingung.


Makan siang, Iwabe pergi dengan Sarah dan Nasti yang baru sampai dari bertemu klien di luar bersama Lia melihatnya.


"Pak Iwabe pacaran dengan Ibu Sarah ya?" tanya Lia yang baru keluar dari mobil.


"Aku gak tau." Nasti mengangkat bahu.


Iwabe pun sebenarnya sudah melihat mobil yang membawa Lia dan Nasti datang tapi ia berusaha untuk abai. Ia menatap Sarah yang terlihat senang pergi dengannya.


Mobil kemudian dijalankan dan keluar perparkiran.

__ADS_1


Akhirnya, ia mendapatkan Sarah, batin Nasti.


__ADS_2