Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Polisi


__ADS_3

Mereka masih menunggu gilirannya di depan sebuah gerobak penjual rujak. Pembeli masih mengerumuni gerobak itu.


"Ini giliran siapa?" tanya Iwabe pada penjual yang sedang mengulek kuah rujak.


"Oh, punya Bapak." Penjual itu menunjuk dengan ibu jari ke arah pria Jepang itu.


"Oh, saya ya?" Iwabe melirik ke arah buah potong yang telah disiapkan dan ia mengambil sepotong mangga. Ia mencolek kuah rujak itu dengan mangga yang ada di tangan dan mencobanya. "Mmh, enak lho!"


Nasti menepuk tangan pria itu. "Ih, jangan dimakan, itu pesanan Presdir!" Wanita itu merengut.


Iwabe tertawa tanpa suara. Aku 'kan anaknya. "Cuma coba sedikit aja kok! Dia gak bakal tahu kalau cuma diambil satu potong saja."


Wanita itu masih memperlihatkan wajah sebalnya.


Setelah mendapatkannya, mereka berdua kembali ke kantor.


"Ini Bu." Nasti memberikan rujak buah pesanan presdir pada Sarah.


Sarah memberikan uang pengganti.


"Eh, bukan saya, Bu yang beli. Pak Iwabe."


"Ya, sudah. Berikan saja padanya."


"Eh, iya." Nasti menerimanya.


Sepeninggal Nasti, Sarah, di ruangannya yang tertutup itu, mengeluarkan sebuah botol kecil dari laci mejanya. Bungkusan buah itu dibuka. Ia menuangkan sedikit bubuk itu ke atas potongan buah lalu membungkusnya kembali. Ia tersenyum.


--------------+++-----------


Kantor dibuat panik karena Presdir tiba-tiba sakit. Ia harus bolak-balik ke toilet karena terus-terusan sakit perut hingga akhirnya harus mendatangkan ambulan ke kantor untuk membawa Presdir ke rumah sakit. Di saat itulah, akhirnya para pegawai tahu siapa Iwabe sebenarnya.


Pria itu tergesa-gesa masuk ke kantor dan melihat Presdir berada di brankar yang didorong para medis keluar dari lift. "Ayah!"


Para pegawai di sana terkejut.


Iwabe mendekati brankar yang sedang didorong para medis dan menggenggam tangan Presdir. "Ayah, kenapa Ayah? Ayah salah makan?" Wajah pria itu terlihat khawatir.


"Abe, sepertinya sudah waktunya kamu mengambil alih perusahaan. Ayah istirahat dulu perut Ayah sakit, karena sudah beberapa kali ke toilet."


"Ayah, jangan khawatir. Aku akan mengurus perusahaan selama Ayah dirawat."


Pria paruh baya yang wajahnya sedikit pucat itu mengangguk, senang.


Bertepatan dengan itu, rombongan polisi datang.

__ADS_1


Iwabe terkejut. "Ada apa, Pak?"


"Oh, inikah Presdir yang keracunan itu?" tanya salah seorang polisi mendekat.


"Keracunan?" Iwabe mengerut dahi. Pria itu menoleh pada ayahnya yang terbaring lemah di atas brankar. "Ayah keracunan? Siapa yang menelepon itu? Bukankah Ayah diare? Ayah makan apa?"


"Terakhir Ayah makan rujak yang dibawa Sarah. Katanya dibeli bawahannya yang bernama Nasti."


"Apa?"


Polisi bergerak cepat. "Di mana ruang Presdir, biar kami periksa sisa makanannya, kalau ada."


Seorang pegawai memberanikan diri membantu menunjuk jalan. "Lewat sini, Pak." Beberapa polisi mengikuti pegawai itu.


"Tapi itu tidak mungkin. Makanan itu saya yang beli, bukan Nasti. Saya juga sempat mencoba rujak itu dan perut saya tidak bermasalah," terang Iwabe pada polisi.


"Nanti akan dibuktikan setelah makanan diperiksa ya?" Polisi tak mau gegabah.


Iwabe terpaksa mengantar Ayahnya dulu sampai ke ambulan dan berusaha berpikir tenang. Ini aneh. Siapa yang telah melapor bahwa Ayah keracunan, karena aku pikir Ayah hanya diare biasa. Aku tahu gejala keracunan seperti apa karena kemarin pegawai pabrik keracunan makanan jadi Ayah pasti tidak keracunan. Seseorang sepertinya sedang memancing di air keruh. Ia mengerutkan dahi.


Di kantor, berita tentang Iwabe yang merupakan anak Presdir menyebar luas hingga ke telinga Nasti dan Sarah. Keduanya terkejut dengan kenyataan ini.


Tak lama, Nasti dan Sarah keluar bersama polisi. Mereka akan dibawa ke kantor polisi untuk diminta keterangan. Rujak yang tersisa pun dibawa polisi.


Iwabe mendatangi polisi. "Boleh saya tahu, siapa yang telah menelepon polisi?"


"Ok, aku akan minta sekretaris Presdir untuk mem-follow up kasus ini karena ini melibatkan 2 pegawai saya. Tidak apa-apa 'kan?"


"Oh, tidak apa-apa. Silahkan saja."


Iwabe hanya mampu memandangi Nasti yang pergi bersama polisi. Ia harus mengurus perusahaan yang ditinggal ayahnya, karena itu ia tidak bisa mengikuti wanita itu.


Saat ia berbalik, semua pegawai di belakang sedang memandanginya. Karuan saja mereka segera membubarkan diri dan pura-pura sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


Di kantor, Iwabe segera membuat perubahan. Ia memanggil beberapa orang di pabrik untuk mencari pengganti posisinya sebagai pengawas pabrik. Juga supir bus karyawan. Kemudian ia mencari tahu tentang kejadian ayahnya sakit pada sekretarisnya.


Tak lama sekretarisnya memberi tahu Iwabe, Nasti dan Sarah ditahan dan ini mengejutkan pria itu. Sebelum ia sempat bertindak, ternyata ia mendapat kabar dari sekretarisnya lagi bahwa mantan suami Nasti menjamin Nasti hingga bisa keluar dari tahanan sedang Sarah dijamin keluarganya yang kaya. Pria itu bernapas lega.


---------+++--------


"Apa kau ingin pulang?" tawar Gerald pada Nasti di mobil.


"Aku masih ada pekerjaan di kantor. Antarkan saja aku ke kantor."


"Mmh." Pria itu melirik wanita itu kembali. Ia merapikan duduknya dan berdehem sebentar. "Apa kamu punya kekasih?"

__ADS_1


Nasti menatap Gerald dengan wajah aneh. Apa urusannya dia menanyakan aku punya kekasih atau tidak?


"Kau berteman dengan sopir itu?"


"Oh, Pak Iwabe. Dia anak pemilik perusahaan."


Gerald terkejut. "Anak pemilik perusahaan? Lalu kenapa dia mau jadi supir bus karyawan?"


Nasti mengangkat bahu.


Mobil akhirnya sampai di kantor tempat Nasti bekerja. Wanita itu bersiap-siap turun. "Terima kasih, Gerald kamu sudah menjaminku tapi sebaiknya kamu tak usah lagi antar jemput aku ke kantor, karena teman-temanku akan menggosipkanku yang tidak-tidak."


"Tidak perlu kau dengarkan kata orang, Nasti."


"Tidak bisa, Gerald karena kini semua orang tahu di kantor, kamu suami orang." Nasti membuka pintu.


"Aku seorang duda yang bebas sekarang, Nasti."


Wanita itu keluar dari mobil mewah Gerald dan kembali mengintip ke dalam mobil. "Kalau begitu, cari wanita yang membutuhkanmu." Ia menutup pintu dan berbalik lalu berlari ke dalam kantornya.


Gerald hanya bisa menghela napas pelan.


-----------+++--------


Iwabe heran melihat Nasti bolak-balik di depan pintu utama kantor, sedang pegawai yang lain melewati pintu itu untuk pulang karena sudah waktunya jam pulang kantor. Ia mendekati wanita itu. "Nasti!"


Wanita itu terkejut. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya dengan hormat. "Maaf, Pak. Maaf aku sering mengganggu Bapak," ucapnya sedikit malu.


"Apa karena itu kamu ke sini?"


"Eh?" Bola mata wanita itu seperti bingung. "Oh, eh ... aku hanya, eh ... nanti saja pulangnya. Bapak silahkan pulang ...." Ia mengayun tangannya ke arah luar dan memberi jalan.


"Mmh." Walau sedikit bingung, Iwabe melangkah ke luar kantor tapi kemudian matanya yang jeli menangkap sesuatu di luar sana. Sebuah mobil mewah. Apa karena itu ia terlihat bingung?


Iwabe berjalan mundur membuat Nasti kebingungan. "Kamu menghindari seseorang ya?"


"Eh? Mmh ...."


"Nasti, aku ini temanmu. Kenapa kamu sungkan padaku?" omel pria itu.


Nasti yang masih membulatkan matanya, terlihat ragu. Iwabe langsung menggandeng tangan tangan wanita itu dan menariknya keluar. "Ayo, pulang bersamaku!"


____________________________________________


Masih terus baca novel ini kan? Terus dukung author dengan memberi like, vote, komen, atau hadiah. Ini visual Iwabe menggantikan posisi ayahnya sebagai Presdir. Salam, ingflora. 💋

__ADS_1



__ADS_2